
“Di sini kau rupanya.” Rae mendongkak kaget, memandang sekeliling, dia kaget karena batu-batu bercahaya di ruangan itu telah menyala. Rae menatap keluar dan menemukan langit telah gelap.
“Apakah kau melewatkan makan siangmu?” tanya Frya.
Rae mengusap wajahnya, “aku rasa begitu,” jawab Rae.
“Apa yang membuatmu teralihkan Rae. Walau aku tidak disini Rae, kau harus tetap mengisi perutmu,” tegur Frya.
“Maaf kan aku, aku hanya terlalu asik membaca buku ini,” Rae tersenyum. Frya melangkah mendekati Rae.
“Apa yang kau baca?” tanyanya singkat.
Rae mengangkat buku yang sedang ia baca, memperlihatkan sampulnya pada Frya.
“Darimana kau mendapatkan buku itu? Apakah itu dari instrukturmu?” tanya Frya.
Rae mengeleng, “tidak aku mendapatkanya di sana?” sambil menunjuk rak buku tempat dia menemukan buku itu. “Maafkan aku apa aku tidak boleh membacanya? Buku ini lebih mudah dipahami dari pada buku yang Master Azura berikan,” tanya Rae khawatir.
Frya mengeleng singkat sambil menatap rak buku yang di tunjuk Rae. “tidak kau boleh mempelajarinya.”
“Master Mounchi memilih Master Azura sebagai tutormu?” Tanya Frya. Rae mengangguk. “Aku belum pernah mendengarnya namanya,” kata Frya singkat.
“Dia memiliki banyak pengharga, di pajang di dindingnya. Jadi aku pikir dia ada pasti penyihir yang cakap.” Frya hanya menangguk datar.
“Kau harus mengisi perutmu, ayo aku temani kau keruang makan.” Frya menemaninya ke ruang makan, ruangan itu sudah sepi ketika mereka sampai di sana. Rae bercerita tengan harinya. sementara Frya mendengarkan dengan tenan.
“Apa yang kaulakuan?” Tanya Rae di hujung ceritanya.
“Ini itu,” jawab Frya singkat. Rae menunggu sejenak hingga akhirnya dia menyadari Frya tak akan memberinya lebih banyak penjelasan, dan Rae memahaminya. Dia tak mendesak. Sedikit kecewa tapi ia sepenuhnya mengerti. Tidak dia cukup kecewa.
Setelah beberapa saat Rae mengerang. “Sial, aku belum menghapal lima mantra untuk besok.” Rae bergegas bangkit dari tempat duduknya. Lalu berlari kembali ke kamar. Tawa Frya berderai melihat kelakuannya. Frya mendapati Rae tertidur beberapa saat kemudian, dengan sebuah buku tergeletak di dadanya.
Dia memasuki ruang kerja di bilik kamar itu. Dan membuka buku yang sesaat lalu di baca Rae. Membukanya beberapa lambar halamannya. Sejenak kemudian ia letakan buku itu kembali sebagaimana Rae meletakannya semula. Lalu kembali ke bilik utama dia mengibaskan tangannya, seketika kota penutup batu bercahaya menutup. Dia mengibaskan tangan nya lagi, dan kotak batu bercahaya yang ada di bilik utama juga menutup. Meninggal cahaya remang dalam ruangan. Berkas cahaya bulan menyinari tempa Fhire bergelung di kaki Rae.
__ADS_1
Frya melangkah ke rajangnya. Dia menatap Rae yang tertidur untuk waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya di berbaring dan menutup matanya.
***
Semburat berkas matahari bersinar menerpa wajah Rae. Membuat gadis itu mengerang. Sial dia ketiduran dan belum menghapal satupun mantra. Rae terkesirap bangun membuat Fhire mengeyong protes. Frya tengah menganakan tunik longar.
“Rae, kau tetap harus melakukan perenggangan setiap hari,” katanya sebagai ucapan selamat pagi.
“Aku belum menghapal satupun mantra,” kata Rae.
“Aku akan membantumu, tapi mengolah fisikmu juga sama pentingnya dengan mempelajari sihir,” nada suara Frya tak ingin di bantah jadi Rae hanya menangguk.
Segera ia berpakaian ia mengikuti Frya, dia memasukan buku sihir untuk pemula ke dalam tasnya. Mereka menuju ke lapangan luas yang ada di belakang kastil, Fhire mengikuti mereka dengan menurut.
Di ujung lapangan Frya menyuruhnya menaruh semua bawanya kepingir lapangan, dan mulai melakukan perengangan tubuh. Fhire berbaring menunggu mereka di pingir di samping tas Rae, ari sudut mata Rae dia data melihat Fhire tengah berkelahi dengan selempang tasnya.
Selama satu jam Rae melakukan gerakan yoga. Di setiap gerakan Frya akan mengucapkan sebuah mantra dan meminta Rae mengulangi mantra yang ia ucapkan. Gerakan itu terlihat tak membutuhkan banyak tenaga dan hanya membutuhkan keseimbangan serta konsentrasi. Tapi ketika mereka selesai tubuh Rae bergetar seakan seluruh energinya terkuras.
“Kau akan bangun lebih awal mulai besok, kita akan melakukan perengangan di pagi hari selama satu jam, sebelum kau mengikuti latihan sihir dengan Master Azura.” Rae mengangguk. Frya menjentikan jari, dan satu keranjang roti, dua botol susu, serta sekeranjang buah-buahan muncul entah dari mana. Fhire mengendusnya, kemudian disampingnya muncul sek mangkuk susu yang dengan segera di jilati oleh Fhire.
***
Rae bergegas ke ruangan Master Azura setelahnya, meninggalkan Fhire dan Frya di lapangan. Frya telah membantunya menghapalkan lima mantra untuk Master Azura, sehingga dia bisa merapalkan mantranya dengan benar.
Ketika Rae telah berada di ruangan Master Azura dia mendapati wanita itu telah membaca sebuah buku. Dia mempersilahkan Rae masuk. Master Azura mengarahkan ke bagian ruangan yang sedikit lengang. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu, seorang penyihir masuk, gadis itu jauh lebih muda dari Rae, mungkin tiga atau lima tahun di bawahnya. Rambutnya coklatnya pendek sebahu, matanya berwarna abu-abu bening mentap Rae dengan sedikit mengeyit, kemudian di susul penyihir lain, anak laki-laki dengan rambut warna hitam ke abuan, dia mentap Rae sejenak lalu mengacuhkannya.
“Bagus, semua sudah ada disini, Korien, Rafael, perkenalkan ini teman baru kalian Rae,”
“Halo” sapa Rae, dia mengulurkan tangan pada anak perempuan.
“Korien,” kata anak itu sambil tersenyum.
“Rae,”
__ADS_1
“Rae,” Rae mengulangi pada temannya yang satunya.
“Rafael,” gumam si anak laki-laki tak jelas.
“Kita mulai saja sekarang,”
“Rafael, Korien, kalian ucapkan mantra yang telah kalian hafalkan,” kedua anak itu serempak mengucapkan mantra-mantra yang mereka hafalkan. “Bagus, bagus sekali, kalian berdua berlatih mantra pertama di ujung aku akan kembali pada kalian nanti. sekarang Rae,” Master Azura berbalik pada Rae. “Kau ucapkan mantra yang sudah kau hafalkan,” Rae melakukannya, mengucapkan ke lima mantra yang telah ia hafalkan bersama Frya.
“Bagus-bagus, ini akan mudah. Rae kau coba mantra pertama”
Tak berhasil dia tetap tak mengalami kemajuan dalam melakukan sihir, mantra yang ia rapalkan tetap hanyalah sebuah rangkaian kata-kata kosong tak bermakna. Rae merasa frustasi karenanya. Begitu percobaan ke tiga tidak menghasilkan kemajuan yang Master Azura harapankan, expresi nya berubah.
Rafael dan Korien berhasil melakukan sihir dalam percobaan ke dua mantra mereka. Master Azura memuji mereka dengan sangat antusaia sementara melihat kegagalan Rae dia berubah menjadi dingin.
Rae sudah frustasi karena tak mampu melakukan sihir dengan benar. Master Azura terus mengucapkan ulangi, ulangi, dan ulangi setiap kali Rae gagal menghasilkan sihir dengan benar.
Tapi dia tetap tak mengalami kemajuan dalam melakukan sihir, mantra yang ia rapalkan seakan hanya sebuah kata-kata kosong tak bermakna. Rae merasa frustasi karenanya. Master Azura mengajarnya dengan dingin. Dia terus mengatakan ulangi, ulangi, setiap kali Rae tak berhasil melakukan sihir. Menjelang waktu makan siang Master Azura melepasnya.
“Besok di jam yang sama, mantra yang sama, kita kan mengulanginya sampai kau mampu menguasainya,” kata Master Azura, Rae dapat mendengar nada kecewa dalam suara Master Azura.
Rae berharap pelajaran mereka akan dilanjutkan setelah makan siang. Tapi sepertinya Master Azura tidak berpikir demikian. Dengan sedikit linglung dia keluar ruangan.
Rae berjalan menuju ruang makan, dia memenuhi baki makan siang nya, kemudian duduk di kursi yang menghadap jendala taman. Matahari bersinar terang di luar, bunga musim semi mulai menujukan diri di luar. Rae melihat sekelilingnya. Tempat ini menakjubkan di ujung ruangan diluar dia melihat segerombol cetaurus muda tengah berbincang bincang, di sisi lain Bíldr dan Dúfr duduk bersama beberapa beberapa kurcaci lainnya. Kursi yang mereka duduki lebih pendek dari kursi yang Rae duduki.
Rae mengobrak abrik tasnya untuk mengambil buku sihir yang ia temukan kemarin. Dalam ketergesaan dia masih ingat untuk memasukan buku itu kedalam tas. Setelah menemukan dia mulai membuka bukunya, tangan kanan memegang sendok, tangan kiri memulai membuka halaman demi halaman. Mulai membaca sementara mulutnya mengunyah makanan.
Tiba-tiba angina berhembus pelan membuat beberapa halaman terbuka.
“Sihir perlindungan,” Dia membaca judulnya. Ada sebuah catatan tangan di sana.
“Sihir pertama yang harus selalu diingat,”
Rae petunjuk nya, menaruh tangannya di dada sesuai dengan petunjuk yang ada di buku itu. Sihir perlindungan di bentuk dari manipulasi energi udara, menjadikannya kuat untuk menolak semua gangguan. Perapal harus menyadari keberadaan udara di sekitarnya, dan merapatkan energi itu. Rae menutup matanya, dan mencoba meraih udara di sekitarya, merapatkan molekul-molekul kecil yang tak rapat, tiba-tiba nafas Rae tersengal, punggungnya merasa tergelitik.
__ADS_1