Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Membobol Pintu


__ADS_3

Tanpa menoleh pun Rae sudah tahu siapa yang sedang berbicara dengan suara tegas. Master Azura berderap dengan cepat menuju ke arah mereka, dari dalam kastil.


“Tak pernah sekalipun dalam hidupku sebagai seorang pengajar,” Master Azura kehabisan kata-kata. Dengan mata menatap Rae sengit, “Mengapa kau selalu membawa pengaruh buruk bagi kawan-kawanmu?”


Eh itu tak adil, pikir Rae muram. Pangeran kegelapan yang mulai duluan, dia bukan satu-satunya yang terlibat, tapi hanya dia yang disalahkan, Rae mendesah pasrah.


“Berkelahi lagi Rae?” tanya Mounchi kalem, dia muncul engah dari mana, tiba-tiba telah berdiri di samping Master Azura.


“Pangeran Herados yang mulai Master,” Rae merengek sambil menujuk Herados.


“Biar saya yang menangani ini Master,” kata Master Mounchi tak mengubris Rae. “Sarungkan pedangmu Pangeran! Putri Frya jelas takkan membiarkanmu melukai temannya, dan anda juga putri!”


Herados mematuhi Master Mounchi, “Cuma sedikit bercanda Master,” kilahnya sambil tersenyum tanpa rasa bersalah, membuat Rae ingin memukulnya. Ya, sedikit bercanda, yang benar saja, Rae hampir mati ditebasnya. Sedetik yang lalu Rae sempat percaya Herados memang berniat melakukannya, hanya untuk bercanda, jelas itu tak lucu. Frya mengikuti gerakan Herados, menyarungkan pedangnya dengan santai.


“Tentu saja Master Mounchi, kau harus menghukum anak ini, dia terus saja berulah,” kata Master Azura, Rae pikir Master Azura sudah tidak membencinya, karena sekarang dia sudah lumayan menguasai sihir. Tapi sepertinya ia salah.


“Ikut aku ke kantorku sekarang Rae!” Seketika Rae merasa darah menghilang dari wajahnya, mendengar nada menyalahkan dari Master Mounchi. Master Mounchi berbalik dan kembali berjalan ke arah kastil tanpa melihat apakah Rae mengikutinya.


Rae mengikutinya di belakang, dengan kecewa. Dia tahu dia akan mendapat masalah karenanya, sebagai siswa dengan status social yang paling rendah di antara Frya dan Herados, menjadikannya sebagai tersangka utama yang mendapat hukuman jika mereka terlibat masalah, apalagi status Frya adalah pengajar di Snitchopalace, tak mungkin dia mendapat masalah karena hal seperti ini. Dan mengapa Herados harus mendapat hukuman, dia adalah seorang pangeran, Rae tak tahu apa statusnya di Snitchopalace yang jelas dia bukan commoner seperti Rae.


Rae menghela nafas, begitu masuk ke kantor Rae dan menutup pintunya di belakang. Master Mounchi duduk di depan meja kerjannya dan menujuk kursi di depannya.


“Duduk!” Rae menurut.


“Rae! Tidakkah hukuman yang telah aku berikan padamu memberimu gambaran tentang putra makhota kerajaan Svártálfar?” tanya Master Mounchi tajam.


“Sungguh Master, Pangeran Herados yang memulainya lebih dahulu Master, dia yang mendekati saya, Saya sudah akan pergi jika saja dia tak menyerang saya. Apakah saya harus membiarkan pangeran kegelapan menebas kepala saya?” cerocos Rae dramatis.


Master Mounchi melepaskan kacamatanya, kemudian tangan yang lain memijat kulit di antara matanya dalam gerakan frustasi. “Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan padamu,” katanya lelah. “Kau harus menghindar darinya Rae.”


“Saya tahu Master. Dan saya sudah melakukannya, selama beberapa saat, tapi ….” Rae menghela nafas, “itu sulit jika Pangeran Heradoslah yang berniat menemukan saya,” keluh Rae.


Master Mounchi menatapnya dari balik kacamata dengan pandangan menilai seakan berpikir keras.


“Master Azura berpikir kau tak terlalu mahir dalam menguasai mantra,” kata Master Mounchi beberapa saat kemudian, perubahan topik pembicaraan membuat Rae bingung.


“Tapi aku lihat kau mampu merapalkan mantra perlindungan dengan baik.” Detik berlalu dengan sangat lambat, setelah Master Mounchi mengucapkannya dia terdiam, terus menatap Rae dengan tantapan menilai. Membuat Rae gelisah. Tentu saja Rae gelisah, mata biru Master Mounchi selalu membuatnya gelisah, mata itu seakan mampu melihat jauh ke dalam pikiran Rae yang terdalam. Melihat siapa Rae sebenarnya, yang bahkan Rae pun tak tahu siapa itu.


“Aku terbukti salah menilaimu,” tatapan Master Mounchi menghujam Rae.


“Apa maksud Master?” tanya Rae.


“Selama beberapa minggu aku mendengar keluhan Master Azura tentang bagaimana kau tak mampu menguasai pelajaran mantra yang ia ajarkan. Dan aku mempercayainya, akan tetapi hari ini terbukti aku salah, Kau bisa dikatakan cukup mampu melakukan sihir. Aku memperhatikan perkelahianmu dan Herados yang, Ya Rae… aku memperhatikan,” Rae menyeringai mendengar ucapan Master Mounchi.


“Tidak hanya sekali tapi beberapa kali. Kau berhasil membuat barrier sempurna untuk menangkal serangan Herados,” Master Mounchi diam sesaat membiarkan kata-katanya mengambang. “Walaupun barrier itu belum cukup kuat untuk bisa menangkal semua serangan Herados.”


“Dan itu membuktikan kau mampu melakukan sihir, Tapi apakah itu menunjukan Master Azura salah, apakah dia bukan Master yang handal?” tanya Master Mounchi.


“Tidak,” jawab Rae memecah keheningan. Master Mounchi tersenyum puas mendengar jawaban Rae. “Saya memahami sihir dengan cara berbeda,”


“Tepat sekali,” kata Master Mounchi dengan cepat.


“Master Azura berpegang pada penghafalan dan pelafalan mantra, yang semula aku pikir merupakan cara yang tercepat untukmu dalam menguasai sihir. Tapi kau berpegang pada pemahaman dan makna, disitulah letak kesalahannya, itulah sebapnya sihir tak bekerja untukmu di kelas Master Azura.”

__ADS_1


“Putri Frya benar ketika mengatakan kau butuh guru penganti, dan Kelas khusus adalah jawaban yang tepat untuk itu. Dan kelas ini bagus untuk melindungimu dari Pangeran Herados. Putri Frya tak bisa menjagamu setiap saat karena tugas diplomasinya, aku rasa ketika dia menyeretmu kemari dia tak mengira kau akan menarik perhatian Pangeran Herados tentunya. Dan sekali lagi kelas khusus ini adalah jawaban yang tepat untuk permasalahan itu.”


“Eh,”


“Pergilah ke menara timur, dan kembalilah ke sini bersama Denzel serta Zeine,” kata Master Mounchi sesaat kemudian, dengan ketegasaan yang meragukan seakan dia sudah menemukan sebuah resolusi untuk permasalahan ini, tapi tak yakin apakah keputusannya sudah benar.


“Maaf Master?” tanya Rae terkejut.


“Kau tidak mendengarku Rae?” tanya Master Mounchi.


“Tidak, ya…” kata Rae cepat, bergegas keluar. Sedetik yang lalu dia berfikir Master Mounchi akan menhukumnya dengan melakukan sesuatu, tapi dia tak menyangka dia hanya di suruh mencari Denzel dan Pangeran Zeine. Samar-samar dia ingat anak laki-laki yang dia temui ketika pertamakali datang ke snitchoplace, yang melihatnya dihajar Herados beberapa waktu lalu, sial.


Rae menemukan Frya di depan pintu.


“Kau di sini? Pangeran kegelapan sudah pergi?” Rae celingukan mencari Herados.


“Dia sudah pergi,”


“Dia suka sekali membuatku kena masalah,” gerutu Rae.


“Kau mau ke mana Rae” tanya Frya ketika Rae tak berbelok ke arah sayap kanan tempat asrama mereka berada.


“Ke menara timur, Master Mounchi menyuruhku mencari temanmu ingat, denzel, dan pangeran Zeine. Terlalu banyak Pangeran di sini,” keluh Rae.


“Kenapa Master Mounchi menyuruhmu mencari denzel?” tanya Frya penasaran.


“Entahlah,” tiba-tiba Rae menyadari, dia tak memikirkannya sebelumnya. Dan sekarang dia memikirkannya. “Kenapa menurutmu?” tanya Rae.


Frya mendengus sebagai jawaban.


“Mereka ada di sana?” jawab Frya tenang.


“Bagaimana kau tau?” Frya kembali hanya mengangkat bahunya.


“Master Mounchi memasukanku ke kelas khusus,” kata Rae sambil lalu.


“Ah… itu menjelaskan mengapa kau disuruh mencari denzel.”


“Kenapa?”


“Denzel dan pangeran Zeine adalah salah satu anggota kelas khusus,” jawab Frya.


“Memang apa bedanya kelas khusus?”


“Sebenarnya aku tak berharap Mounchi memasukanmu ke kelas khusus, aku berharap kau akan di beri Master baru. Tapi kelas khusus, aku rasa bagus untukmu, itu kelas elit.”


“Benarkah?” tanya Rae berbinar.


“Ya ada seleksi khusus untuk bisa masuk. Banyak yang mendaftar dan tidak lolos,”


“Benarkah?” Rae merasa special. “Apa saja kualifikasinya?” tanya Rae.


“Aku tak yakin, tapi Denzel cukup mahir dalam semua hal, seni bermain pedang, memanah, sihir. Pangeran Zeine, aku rasa dia mendapat latihan khusus pula, aku belum mengenal anggota yang lain, jadi mungkin kualifikasinya sama.” Rae menatap Frya ngeri.

__ADS_1


“Kau yakin Master Mounchi menyuruhku masuk sana benar-benar hanya untuk menjauhkanku dari Herados.”


“Mungkin,” kata Frya nyengir. Sepertinya elf itu tidak tahan untuk tidak mengoda Rae.


Mereka tiba di menara utara, hanya ada dua pintu di menara utara, Frya menunjuk yang menghadap  ke tangga, Rae menatapnya dengan tak yakin.


“Kau yakin pintu ini?” tanya Rae. “Sepertinya anak tangganya cukup tinggi, sangat tinggi malahan.”


“Hanya ada satu ruangan di menara timur, di atas sana,” kata Frya sambil menunjuk ke atas. “Kau mau naik atau tidak?” tanya Frya tak sabar.


Rae menghela nafas, “ayo kita selesaikan,” lalu mulai menaiki tangga satu persatu.


“Astaga menara ini tinggi sekali,” Rae merasakan pahanya mulai panas. Frya hanya nyengir di sampingnya. Mereka berhenti di sebuah pintu terbuat dari kayu, terlihat sangat biasa dengan pegangan tangga berbentuk cincin besar. Rae meraihnya.


“Terkunci,” kata Rae ketika dia menariknya. “Dengan sihir,” tambah Rae dengan tertarik.


“Kau bisa mengetuknya,” saran Frya.


Rae mengeling pada Frya, “dan di mana letak keseruannya,” katanya jahil. Dia meletakkan tangannya ke pintu, dan mulai merapakan mantra. Menjentikan jari tengahnya dengan ibu jari di beberapa titik, meninggalkan nyala api biru di setiap jentikannya. Api itu merambat seakan ada lapisan minyak, membakar keseluruhan permukaan pintu dengan cepat, dan tanpa meninggalkan bekas terbakar.


Frya memandangnya dengan kagum, “di mana kau mempelajarinya?” tanyanya.


“Di buku sihir yang aku temukan di kamar,” kata Rae ringan.


“Ah…”


Rae mengetuk pintu tiga kali sebelum membukannya. Tangannya sedikit gemetar ketika melakukannya. Sihir yang dilakukannya memang ampuh, tapi tidak cukup


“Kau mengetuknya?” kata Frya tak percaya.


“Sopan santun,” jawab Rae sambil mendorong pegangan pintunya. Pintu itu mengayun terbuka.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2