Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Busur Tanpa Anak Panah


__ADS_3

Mereka makan siang dengan tenang. Tak berapa lama Rae mendapati Fhire berjalan kearahnya. Dia duduk di samping Rae sambil menjilati tangannya dengan puas.


“Sepertinya kau sudah mendapatkan makan siangmu,” celuntuknya, mengulurkan tangan dan mengelus kepala Fhire sebentar. Kucingnya cepat sekali tumbuh, Rae menyadarinya ketika dia menepuk kepalanya.


Frya mengajaknya berjalan ke bagian belakang snitcopalace, keluar dari gerbang ke belakang menuju perbukitan, pepohonan menjulang lebat di sana. Mereka terus melangkah masuk, menelusuri jalan setapak.


“Kemana kita?” Tanya Rae.


“Melatih fisikmu,” jawab Frya singkat. Pemandangan di luar sangat menakjubkan, mereka berjalan dalam diam, Rae karena matanya terlalu sibuk mengamati sekeliling, sementara Frya yang entah apa yang elf itu sedang pikirkan, dia memang tak banyak bicara. Dan Fhire yang dengan keingintahuan menjelajah hutan. Sesekali Rae melihat kelebat gerakannya.


Tak ada urgensi, tak ada ketakutan, mereka hanya menikmati hutan, setelah hampir satu jam berjalan jalurnya mulia menanjak, Fhire kembali ke rombongan, dengan lincah meloncoati bebatuan di depan, begitu juga dengan Frya. Elf itu bergerak dengan gesit dan anggun.  Sementara Rae kehabisan nafas.


“Kau baik-baik saja?” tanya Frya ketika Rae tersandung dan sedikit oleng ketika berjalan.


“Hu uh,” jawab Rae. Mereka terus berjalan melintasi hutan.

__ADS_1


“Ayo berhenti di sini,” satu jam kemudian Frya berhenti di pingir mata air kecil yang bening, karena sangat jernih Rae bisa melihat dasarnya ada ikan ikan kecil berenang di sana. Di sebelanya teradapat  tanah yang cukup lapang, Frya mengambil air dengan sihir dan meneguknya. Rae yang belum terlalu bisa mengunakan sihir meraupnya dengan tangan. Air segar mengalir di tenggorokannya. Di sampingnya Fhire minum dengan suara berisik. Rae duduk di pingir batu sementara mengamati gerakan Frya.


Frya mendekat pada sebuah pohon yew tua, mengambil sebuah ranting yang patah di bawahnya. Ranting itu tak lebih panjang dari lengannya. Frya mulai bernanyi dan ranting itu seakan hidup. Dia memanjang, melengkung, tumbuh menjadi sebuah busur panjang, yang panjangnya hampir dua meter.


Frya mendekati segerombol semak tanaman berbunga violet, dia berlutut kemudian meraup segengam tanaman berdaun runcing itu, dengan terus bernyanyi, semak di gengamnya terpotong rapi seakan ada gunting tak tampak yang memotongnya. Seketika semak di genggamannya mengering berubah menjadi juntaian serat halus dalam waktu yang cepat, Rae seperti melihat sebuah times lapse video.


Frya menempelkan ujungnya ke ujung busur, secara ajaib sulur memilin membentuk sebuah tali, kemudian membentuk simpul, mengikatkan dirinya pada ujung busur. Frya menempatkan busurnya di antara kedua kaki, lalu dengan ditumpukan pada betis kaki kanannya Frya melengkungkan busurnya dan mengaitkan ujung busur dengan tali di tangan kirinya.


“Hua…” Rae bertepuk tangan terpesona.


“Coba ini,” kata Frya memberikan busur itu pada Rae.


Rae menerimanya “tanpa anak panah?” tapi tetap mencobanya, berat, tapi dia berhasil menariknya.


“Nae, nanti.” Dari sudut mata Rae ia melihat Frya bergerak ke arah pohon hazel sambil bernyanyi, meraih beberapa batang muda, memotongnya menjadi panjang tiga puluh inch. Frya mengambil sebuah batu di tepi mata air. Dia melemparkannya ke batu yang lain, dan batu itu terbelah membentuk serpihan serpiah kecil berbentuk segitiga kecil-kecil. Frya kembali mendekati semak-semak flax, mengambil satu batang lain yang seketika berubah menjadi tali-tapi tipis. Selama proses itu Frya tak henti-hentinya bernyanyi. Beberapa saat kemudian dua angsa muncul mendarat di hadapan Frya. Kedua angsa itu mengoyangkan pantatnya dengan cara yang mengemaskan, membuat beberapa helai bulu putih jatuh, mereka kemudian terbang kembali. Frya mengambilnya, satu persatu Frya merakit anak panahnya dengan sihir.

__ADS_1


Dia menyerahkan ke tiga anak panahnya pada Rae. Rae mencobanya. Frya membuat sebuah papan target. “Dua meter cukup untuk awalan,” katanya.


“Perhatikan posisimu berdiri, rentangkan sedikit kakimu, Frya membetulkan posisi kakinya, “Gunakan tiga jari untuk mengait talinya, lemaskan. Pergelangan tangan juga. Bawa kesadaranmu pada siku bukan pada tanganmu. Bukan tanganmu yang mengarik talinya tapi gunakan sikumu. Tarik hingga jari tengahmu tepat menyentuh sisi wajahmu. Cari Angkor pointmu” Suara kayu di rentangkan terdengar, “Relax, lepaskan… lepaskan Rae.” Suara lecutan terdengar, panah Rae meluncur membelah udaran dan menancap. Tiga puluh centi lebih tinggi dari target.


“Ketika kau membidik kau harus membidik lebih rendah dari targetmu, karena Angkor point kita ketika memanah selalu berada di bawah mata kita. Coba lagi.”


Rae memanah nya kali ini dia menanah cukup dekat dengan target.


“Ulangi,” perintah Frya. Rae nembakan anak panah terakhirnya. Masih sama, dia belum memanah tepat sasaran. Sekali lagi suara kayu di rentangankan dan menyusul suara lecutan membela kesunyian.


“Konsistensi, dan relax Rae. Itu kunci memanah. Ulangi!” kata Frya. Rae mengambil anak panahnya dan mulai lagi.


“Kau perlu melatih ototmu,” kata Frya satu jam kemudian mengakhir latihan mereka. Mereka kembali ke kastil setelahnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2