
Rae bermimpi, dia melihat malaikat cantik, sesaat setelah dia terjatuh, saat rasa sakit melumuhkannya. Apakah akhirnya dia mati, mati itu menyakitkan, Apakah anak kucingnya akan selamat, pikir Rae menyesal, sebelum dia tenggelam dalam kegelapan dan rasa sakit yang sangat parah.
Ketika kesadarannya kembali dia merasakan tangannya tak bisa bergerak. Tidak mungkin, pikir Rae panik. Para penculiknya berhasil menangkapnya. Ia mencoba untuk kabur lagi, mencoba berlari, tapi mereka terus membayangi. Tidak jangan, jangan… Rae mohon. Dia tak ingin dibawa ke tempat master. Siapapun dia Rae mohon.
Mereka menyeret Rae. Sementara Rae mencakar, menjejak. Rae menangis dengan keras. Memohon mereka untuk melepaskannya.
“Aku mohon… Tolong!!! Jangan!” teriak Rae. Dia tersentak bangun.
Dia menatap sekeliling dan merasa asing. Dia tak lagi berada di dasar tebing dimana ia meloncat, tempat terakhir yang ia ingat sebelum rasa sakit memenuhi tubuhnya, dia telah berpindah ke sebuah kamar yang nyaman. Sejenak ia berpikir bahwa mereka telah berhasil menangkapnya dan membawanya ketempat tujuannya. Kucingnya melompat dan duduk di dekapannya ketika dia mendengar teriakan Rae.
Rae menatapnya sambil mengelus kepalanya. Sesaat kemudian kucing itu mendesis. Dan Rae mendongkak kearah pintu. Seorang wanita yang sangat cantik berdiri di depan pintu, Rae menatapnya dengan ketakutan bahwa dia benar-benar telah di bawa ke tempat sang master. Apalagi wanita itu mengenakan sebuah rantai panjang yang mengikat kedua tangannya, mungkinkah dia akan berakhir seperti wanita cantik itu, dirantai seperti seorang budak? Tidak! dia tak mau.
Wanita itu mendekat membawa sebuah nampan berisi makanan. Kalau bukan makananan, itu adalah sesuatu yang baunya membuat perut Rae berbunyi dan nampan itu mengepul asap. “Dia tak mengijinkanku mendekatimu,” kata wanita itu dengan suara merdu. Nada suaranya sangat indah. Seakan sedang bernyanyi ketika bersuara.
“Aku mohon, bebaskan aku? Ijinkan aku pulang,” kata Rae ketakutan. Beringsut menjauh.
“Stttsss…. jangan khawatir nak, kau aman sekarang,” kata wanita itu ramah, ia berhati-hati menaruh nampannya dihadapan Rae.
“Kau bukan salah satu dari mereka?” tanya Rae waspada.
“Aku tak tahu siapa yang kau maksud nak, tapi kau aman sekarang, Aku Kaltaria,” wanita itu mengulangi kata-katanya, dari wajahnya Rae tak dapat menebak umur wanita itu, tapi yang pasti wanita itu tidak cocok memanggilnya nak.
“Dimana aku?”
“Kau berada di pondokku sekarang, makanlah.” Wanita itu menangguk pada nampan di depan Rae. “Kau lama tak sadarkan diri. Apa kau masih merasakan sakit?” tanya wanita itu, dia duduk di atas ranjang.
“Tidak,” Rae menggeleng, “Hanya lelah. Berapa lama aku pingsang?” tanya Rae.
“Beberapa hari. Siapa nama mu nak?” tanya wanita itu.
“Namaku Rae, uh… tujuh belas tahun bagaimana aku bisa ada disini?”
“Aku memelihatmu jatuh dari tebing dan membawamu kemari,” kata seorang wanita lain. Rae mendongkak. Dia melihat malaikat dalam mimpinya berdiri di hadapannya. Dia memilik struktur wajah dan telinga yang runcing, rambutnya panjang berwarna pirang putih, rambutnya bercahaya seperti tubuhnya. Dia adalah elf, dia benar-benar terlihat seperti elf yang ada di dalam film. Telinga runcing yang panjang, dan dia bergerak seperti melayang, dan kulitnya sangat putih hampir trasparan.
Dia sangat cantik, seperti di mimpinya. Atau mungkin itu bukan mimpi. Mungkin dia benar-benar mati, tapi apakah saat mati dia tetap merasakan rasa lapar? Jika ini nyata maka mereka tidak bohong, elf benar-benar ada, meskipun Rae masih sulit mempercayainya.
“Kau bukan salah satu orang-orang itu?” tanya Rae lagi, dia tak yakin apakah dia benar-benar aman.
“Orang-orang yang mati tak jauh dari tempatmu meloncat dari tebing?” tanya gadis itu. Dia masih sangat muda jika dilihat dari wajahnya. Dia terlihat satu atau dua tahun lebih tua dari Rae. Terlihat lebih muda dari dari wanita itu. Tapi tak banyak. Wanita itu mungkin berumul dua puluhan. Sementara Rae sekarang berumur tujuh belas tahun.
__ADS_1
Rae mengangguk.
“Bukan,” dia mendekat dan berdiri tak jauh dari ranjang Rae. Matanya yang memandang Rae tak dapat di tebak. “Kau tak perlu khawatir. Kau aman disini. Mereka takkan dapat menemukanmu di sini.”
“kau yakin?” tanya Rae mencari kebohongan di balik mata gadis itu.
Gadis itu mengangguk. “Ya jangan khawatir. Kau aman sekarang.”
“Kau bukan manusia,” bisik Rae, menatap gadis itu dengan pandangan takut.
“Kau juga bukan,” balasnya sambil tersenyum geli melihat Rae terpana.
“Makanlah nak. Dan kau bisa menanyakan sejuta pertanyaanmu. Kami juga akan melakukan hal yang sama,” kata Kaltaria, rae mempelajari wajahnya. Dia memiliki penampilan seperti manusia, tapi Rae menjadi tak begitu yakin sekarang, kecantikannya tidak terlalu manusiawi, dia bisa dibilang sangat cantik.
Rae mulai menyuap makanan ke mulut. Wanita itu menhidangkan sup daging yang lembut untuknya dan kentang tumbuk. Makanannya terasa enak seperti baunya. “Apa anda manusia?”
“Hampir bisa di bilang begitu,” katanya. Rae memandang si gadis elf dengan padangan bertanya. “Siapa nama anda?”
“Aku frya, dan… bukan, aku bukan manusia. Aku Ljósálfar,” suara si elf itu lebih merdu dari suara Kaltaria. “Kau bukan dari tempat ini bukan?” tanya frya. Rae menangguk. “Apa yang terjadi padamu?”
“Aku pikir kemungkinannya lebih besar, karena mereka bisa melakukan sihir. Jadi aku mencari kesempatan, ketika salah satu dari orang itu mulai mengatakan bahwa tempat ini menakutkan. Aku tau kami telah sampai di hutan reokwood. Aku memaksa mereka berhenti.” Gadis itu terdiam, dia tak lagi bisa bercerita. Emosi menguasahi dirinya.
“Kami bisa membayangkan apa yang terjadi Rae. Kami bersyukur kau bisa selamat dari mereka,” kata frya menghentikan gadis itu bercerita lebih lanjut.
“Tempat apa ini, kau seharusnya tidak ada, kau seharusnya hanyalah sebuah mitos,” katanya pelan sambil menujuk ke pada si gadis elf dengan tangan.
“Tidak di sini Rae, ini adalah Ar’chismaytopia, di sinilah semua makluk sihir di bumi hidup. Seperti yang kaulihat. Apakah kau mau bercerita tentang apa yang terjadi di hutan itu Rae?”
Rae mengangguk, “ketika mereka hampir menangkapku. Tiba-tiba Induk harimau Siberia putih itu muncul. Dia bertempur melawan kedua penyihir yang bertugas mengirimku ketempat master. Dia berhasil membunuh mereka, tapi dia terluka parah, dia sekarat. Lalu aku mendengar suara, seakan harimau itu berbicara di kepalaku. Dia yang terikat padamu, nyawa yang separuhnya menjaga nyawamu. Kau berhutang padanya sebuah kehidupan. Maka nyawamulah taruhannya. Jaga dia dan dia akan menjaga kehidupanmu.” Rae meniru suara di kepalanya dengan sama persis.
“Ketika suaranya berhenti menghilang, tiba-tiba saja induknya menghilang, terburai seperti debu yang berterbangan. Lalu hewan-hewan berteriak menakutkan, Aku ketakutan, dan saat itu lah aku berlari. Aku terlambat menyadari tebing di hadapku.”
“Hewan-hewan di Reokwood akan berduka jika ada makhluk sihir yang meninggal di hutan ini,” kata Kaltaria, menambah rasa bersalah rae.
“Aku melihat mu saat kau meloncat” kata frya. “Kau bersimbah darah, dan kucing itu tak membiarkanku menolongmu.”
__ADS_1
“Aku yakin aku akan mati saat itu,” kata Rae lirih.
“Kucing itu akan menjaga nyawamu, selama dia hidup kau juga akan hidup,” kata frya. “Kau terikat adanya, seperti dia terikat padamu.”
“Syukurlah kau seorang hybrid Rae. Jika tidak kau mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk bisa pulih.”
“Apa itu hybrid?” tanya Rae bingung.
Kaltaria menghela nafas. “Apa kau tak tahu bahwa kau bukan manusia seutuhnya?” tanyanya.
“Kau salah. Aku sepenuhnya manusia,” kata Rae tegas.
“Lihatlah, sihir penyembuhan yang kau miliki sangat kuat,” dia merentangkan tangan Rae tak ada satupun luka di sana. “Manusia biasa akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkan luka-lukanya. Saat Frya membawamu kemari, seluruh luka-luka yang ada di tubuhmu sudah sembuh. Tulang-tulangmu menyatu dengan sempurna, seakan tak pernah patah, jika saja dia menyatu dalam posisi yang tepat. Aku harus mematahkannya kembali agar mereka menyambung dalam posisi yang tepat.” Kaltaria menghela nafas. “Dan ikatan kucing ini hanya akan menjagamu tetap hidup. Tapi tidak membantumu menyembuhkan luka-lukamu Rae,” tambahnya ketika Rae hendak membantah.
Rae memandang tak percaya pada si ahli ramuan. “Tapi aku manusia. Harimau putih itu yang mengubahku menjadi seperti ini. Dia pasti melakukan sesuatu ketika suara itu muncul,” katanya Rae.
“Ya… Dia memang mengikatmu dengan anaknya, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau bukan seutuhnya manusia sendari awal,” kata Kaltaria, wajahnya menatap Rae dengan perasaan kasihan. “Aku pernah melihat kejadian ini sebelumnya, dan hanya hybrid saja yang bisa melakukannya. Kau adalah separuh manusia. Kau adalah hybrid, dengan warisan, tubuh manusia, dan sihir elf,” kata Kaltaria.
“Tidak mungkin, aku rasa aku hanya memiliki kelainan. Aku cepat sembuh. Itu saja. Aku bahkan tak pernah mengenal sihir, sampai para perompak itu membawaku kemari.” Rae tak ingin percaya dengan penjelasan Kaltaria.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” potong frya, elf itu menatapnya dengan serius.
“Aku sangat yakin mereka manusia,” kata Rae tegas.
“Setiap makluk sihir memiliki getaran sihir mereka masing-masing. Apakah kau merasakan sesuatu saat menyentuhku?” tanya frya sambil mengengam tangan Rae. Rae mengangguk. Dia merasakan getarannya.
“Hanya orang yang memiliki sihir yang mampu merasakan getaran sihir, itu adalah salah satu indikasinya, bahwa kau bukan manusia biasa. Dan kemungkinan bahwa kau penyihir telah dihapuskan karena kekuatan penyembuh yang kau miliki. Kekuatan penyembuh seperti itu sama seperti kekuatan penyembuh yang dimiliki oleh elf. Jadi opsinya adalah kau seorang hybrid mengingat karakteristik tubuhmu yang sama seperti manusia. Dan ini yang menganggu pikiran, Kau seharusnya memiliki getaran energy yang hampir sama denganku. Tapi ketika aku menyentuhmu. Aku tidak merasakan apapun sama sekali. Seakan kau hanyalah manusia bisa.”
Sekarang Rae mengerti mengapa dia merasakan getaran pada beberapa orang tapi tidak pada orang lain. Wanita penjual teh di kota memiliki getaran seperti penyihir. Lalu seorang gelandangan tua yang pernah membantunya menghentikan anak-anak nakal yang menganggunya. Mereka adalah penyihir.
“Ada kemungkinan orang tuamu juga menyembunyikan getarannya sama seperti kau,” tungkas elf itu. “Aku melihatmu mengenakan pendal, darimana kau mendapatkannya?” tanya si elf.
“Aku tak tahu, sepertinya aku telah memakainya sepanjang hidupku,” Dia melepaskan pendalnya dan mengulurkannya pada si elf. Elf itu menerimanya dan mengamatinya dengan serius.
“Aku akan bicara pada ayahku mengenai ini Kaltaria. Aku yakin dia disembunyikan dengan alasan tertentu, dan sebelum kami mengetahui apa alasan itu, sebaiknya hal ini tetap menjadi rahasia,” Kaltaria menangguk.
“Apa maksudmu?” tanya Rae. “Sekarang, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya?” tanya Rae kalut.
“Kami akan mencari tahu, siapa kau sebenarnya Rae, dan kau tak perlu khawatir dengan keselamatanmu disini,” kata frya. “Aku akan menjamin keselamatanmu. Tak ada yang perlu kau resahkan.”
__ADS_1