Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Snitchopalace (part 2)


__ADS_3

Master Mounchi melambaikan tangan lagi dan sebuah mangkuk muncul dari ketiadaan, susu yang mengempul terlihat berkilauan di dasarnya. Susu itu terbang mendarat di hadapan Fhire, yang dengan lahap menjilatinya.


“Silahkan,” kata Master Mounchi, tersenyum melihat.  Menuangkan teh untuk dirinya. Rae dan Frya menyeruput teh mereka.  Frya meletakan cangkir tehnya.


“Kami telah terlalu lama menarik diri Master, banyak hal terjadi di archismaytopia. Isu tentang kami terus berkembang luas kearah yang buruk, menyebarkan ketakutan daratan Ar’chismaytopia. Harus kami akui ini bukan tidakan yang menguntungkan bangsa Ljósaflar sepertinya,” kata Frya.


“Dengan sangat menyesal saya harus akui, putri. Bahwa saya setuju dengan anda putri,” kata Master Mounchi.


“Kerajaan Ljósaflar telah menyadari kesalahan kami. Untuk itu aku datang kemari. Untuk menjalin kembali kerja sama dengan setiap ras di Ar’chismaytopia. Di samping itu aku berharap Rae bisa belajar di sini,” kata Frya. "Saya rasa anda sudah menyadari bahwa Rae adalah seorang hybrid.” Rae menatap Master Mounchi. Mata birunya memandang Rae dengan tatapan menyelidik. Mata itu seakan bisa menelanjangi Rae.


“Sebagai hybrid, dia terlahir dengan ciri sihir yang berbeda, tidak ada hybrid di celestia sehingga kami mengalami beberapa kesulitan mengajarkan sihir. Itulah alasanku membawanya ke Snitchopalace dan berharap dengan banyaknya Master di sini,  dapat membantu Rae belajar sihir dengan baik.”


Setelah beberapa saat Master Mounchi berkata “Hybrid memang menjadi kasus khusus.” Master Mounchi tersenyum seraya menyeruput tehnya. Dia meletakkan cangkirnya ke atas tatakan seraya berkat. “Setiap hybrid terlahir dengan kemampuan sihir yang tak bisa di prediksi sebelumnya. Biasanya mereka mengambil sisi elf untuk fisik, dan manusia untuk kemampuan sihir. Tapi aku mengenal seseorang yang terlahir dengan sisi sihir elf dan fisik manusia. Kalian adalah jenis yang sangat jarang. Hanya satu orang yang aku ketahui dan berhasil selamat. Karena biasanya hybrid yang terlahir dengan sihir elf dan fisik manusia, tubuhnya tidak akan mampu untuk menampung sihir elf yang sangat kuat.”


“Ya, itu juga yang membuat kami merasa Rae lebih baik untuk belajar sihir di sini dari pada di Celestia,”kata Frya.


“Kita bisa mulai besok untuk melihat jenis sihirmu.” Rae menganguk lemah, kedua tangannya saling mengengam dengan erat. “Jangan terlalu nervous Rae. Ini hanya tes sederhana, seperti yang aku katakan sebelumnya, lebih untuk menentukan metode belajarmu nanti.” Rae menangguk lagi.


“Kalau begitu sampai jumpa besok di ruanganku. Aku perlu bicara dengan putri Frya sebenar. Tunggulah di luar sebentar?”  Rae mengangguk kemudian berdiri meninggalkan ruangan, Fhire mengikutinya dibelakang, menutup pintu dibelakangnya, dia menunggu di koridor, sambil memandang keluar halaman dari balik jendela. Cahaya langit telah menghilang di gantikan, bulan dan bintang yang bertaburan.


Sementara di halaman, beberapa batu bercahaya di pasang di atas tiang-tiang tinggi, mereka memiliki bentuk berbeda dengan architektur celestia. Lampu-lampu itu memiliki bentuk tegas dan sederhana. Rae dapat melihat beberapa makluk berkeliaran di halaman, bergegas menuju ke arah kastil. Seekor ataupun seorang centaurs wanita berderap dengan buku di tangannya. Gerakannya terlihat tidak anggun. Fhire dengan manja mengelus kepalanya di kaki Rae.


Tak berapa lama kemudian Frya keluar dari ruangan itu bersama Master Mounchi.

__ADS_1


“Ayo… kita harus membersihkan diri dan makan malam. Terimakasih untuk hari ini Master.”


Rae memberi anggukan pada Master Mounchi, dan mengikuti Frya melangkah menelusuri koridor.


“Kau pernah tinggal disini?” tanya Rae, dia memperhatikan Frya tahu benar kemana harus melangkah.


“Ya, Snitchopalace merupakan tempat penting bagi pemerintahan Ar’chismaytopia. Tempat ini merupakan basic pertahanan sekaligus pendidikan Archismaytopia.”


“Kau pernah belajar disini?” tanya Rae.


“Sesuatu seperti itu,” kata Frya tak benar-benar menjawab pertanyaan Rae.  mereka berhenti di sebuah pintu kayu, denan ornament sulur tanaman menghiasi pintu itu. Frya menaruh telapak tangannya disana, pintu itu mengayun terbuka dengan sendirinya.


“Sebaiknya kita membersihkan diri, setelah makan malam, baru kita bereskan barang-barang kita,” kata Frya begitu mereka masuk ke kamar.


Rae serasa di bawa kembali ke celestia begitu ia memasuki kamar mereka. Temboknya yang dari batu dirambati tanaman, mencuat dari dalam, dan kembali lagi masuk, mengeliling dinding membentuk ornament yang sangat indah. Hampir seperti dia kembali lagi ke Celestia. Tanaman merambat itu tumbuh dengan subur dan lebat meski di dalam ruangan. Raungan itu sendiri besar dan bersih, dua buah ranjang besar muat di tempat itu. Ranjang yang memiliki gaya elf. Beberapa koper berdiri berjajar di sana. Ada dua buah pintu masuk yang Rae tak yakin pintu itu menuju kemana. Dia akan menjelajahinya tapi nanti.


“Ya bagian sayap ini dibangun khusus untuk elf. Dan kamar ini di dekorasi khusus untuk Ljósálfar.”


“Ada berapa banyak Ljósálfar yang ada disini. Bukankah kau bilang kalian mengundurkan diri.’


“Sekarang ada satu yang menempati tempat ini,” kata Frya sambil tersenyum.


“Apa maks…?” tanya Rae.

__ADS_1


“Ayo kita makan malam,” Frya memotong pembicaraan mereka, dan mengajak Rae makan.


Mereka makan di sebuah aula besar yang di tata dengn sebuah buffee berisi banyak sekali macam-macam makanan. Berbeda dengan lorong yang mereka lalui semula tempat ini ramai dengan macam makhluk lain, tak hanya penyihir. Rae dapat melihat berbagai macam makluk penghuni archimaytopia.


Frya mengajaknya mengantri di buffe.


“Apa kau mencium sesuatu, Bíldr” tanya seorang kurcaci di depannya kepada temannya kurcaci lain saat mereka mengantri.


“Ya Dúfr, sudah lama kau tak mencium bau ini,” jawab si kurcaci yang di pangil Bildr.


“Aku hanya mencium bau apek tanah,” jawab Frya.


“Ah.. ternyata itu bau si hidung tegak. Kapan kau akan kembali kehutanmu kau mencemari udara dengan bau kesombongan,” kata si Dúfr.


“Dan kau seharusnya kembali ke liangmu, dan berhenti mencemari udara dengan bau kotoran,” kata Frya tak acuh.


“Mungkin sekali kali kau harus melihat kebawah, jangan sampai kau lupa pada tanah yang kau pijak,” kata Bíldr .


“Bukankah kalian yang selalu mendongkak keatas mengingat ukuran kalian,” kata Frya dingin. Rae mau tak mau tersenyum melihat muka kedua kurcaci itu memerah.


“Ayo Bíldr,  kita pergi, bau kesombongan ini bikin aku kehilangan napsu makan,” kata si kurcaci Dúfr.


“Kalian yang rugi,” kata Frya sambil melambaikan tangan pada si kurcaci dengan acuh. Rae tak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihatnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2