
Dia tahu ini adalah saat yang tepat untuk mengambil kembali gadisnya, Sebelum gadis itu lebih mahir lagi dalam mengunakan sihir. Sial baginya Putra Mahkota Svártálfar juga tertarik padanya, yah dia tak bisa menyalahkannya untuk itu. Siapapun yang melihat gadis itu pasti menginginkannya. Dia sudah tak sabar lagi. Dia menginginkannya kembali.
***
“Bisakah kau menenangkannya! Aku sudah mencoba memasangkannya sejak tadi tapi dia tak mau diam.”
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Rae dia menemukan Frya tengah bergelut dengan Fhire di lantai kamar. Tangan kirinya memegang sebuah hiasan kepala dari perak.
“Bagus,” celutuk Rae lalu memegangi kepala Fhire. Sepanjang musim panas ini kucingnya telah tumbuh sangat besar, sebesar beruang kutup, Rae bertanya-tanya apa kucingnya akan bisa lebih besar lagi. Fhire mengelak ketika Rae memeganginya.
“Ini bagus Fhir, liat!” celuntuk Rae. “Apa kau pikir ini akan menghilangkan kemachoanmu?” Rae mengeluarkan suara decakan.
“Lihat! Ini akan membuat kepalamu terlihat seperti mengunakan pelindung kepala. Dan motifnya saja bukan motif cewek ini motif kesatria. Kau akan terlihat seperti kesatria yang akan maju perang jika mengunakan,” kata Rae menjelaskan.
Frya memutar matanya mendengar ocehan Rae. Tapi begitu dia mencoba memasang kembali hias kepala itu Fhire tak lagi mengelak. Hiasan kepala itu menutup hampir sebagian besar kepala Fhire, melingkari temurung kepala, menutupi setengah hidungnya, dan membiarkan telinga Fhire mencuat. Mata Frya melebar tak percaya.
“Liat betapa gagahnya dirimu sekarang,” Fhire mengeong lalu menjulurkan lidahnya untuk mejilat Rae. Rae tertawa dan memeluk kucingnya.
“Aku juga buat anting untukmu,” kata Frya. “Ini satu seri dengan hiasan kepala Fhire, dan aku juga punya,” Frya memperlihatkan sepasang anting pada Rae. Sepasang anting itu memiliki bentuk yang berbeda tapi ada kesamaan motif di sana. “Ini, aku pakai satu, kau pakai satu,” Frya mengulurkan salah satu antingnya, benda itu tidak terlihat seperti anting sebenarnya, justru terlihat seperti pin bermotif sulur merambat, dengan beberapa bunga kecil.
“Bagaimana cara mengunakan?” tanya Rae.
“Tempelkan saja ke daun telingamu,” lalu Frya memperlihatkan cara mengunakannya. Begitu menempel di telinga anting itu berubah seperti jarum, lalu menusuk telinganya seperti pohon rambat melingkari tiang, Rae tersentak melihatnya. Rasanya pasti sakit sekali. Frya hanya sedikit meringis. Lalu begitu tusukan, terakhir selesaikan antingnya mekar, dan terlihat indah di telinga Frya yang runcing.
“Sepertinya sakit sekali. Walaupun anting ini bagus tapi sepertinya ini tidak sepadan dengan rasa sakit yang harus ditangung,” kata Rae dengan ragu.
“Aku hanya tau cara ini saja, yang paling efektif untuk membuat mantranya bekerja dengan benar.”
“Mantra?” tanya Rae.
“Anting ini akan membuat kita berdua mampu mengetahui pikiran masing-masing sampai pada batas tertentu. Jadi kita bisa komunikasi satu sama lain walau berjauhan,” kata Frya.
“Benarkah?” kata Rae antusias, tanpa banyak bicara dia mengikuti jejak Frya. “Kau pasti, ouch,” Rasa sakit menyengat Rae hingga dia jatuh terjongkok, dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dia tak bisa bernafas.
“Rae, kau tak apa?” tanya Frya khawatir. Dia berjongkok di samping Rae. Lalu menyanyikan lagu penyembuhan. Nafas Rae mulai teratur, setelah beberapa saat sakitnya menghilang.
“Kau tak bilang rasanya sakit sekali,” tuduh Rae. Frya berhenti bernyanyi. Begitu Frya terdiam, telinga Rae kembali berdenyut sebentar.
“Maaf kan aku, sepertinya batas toleransi rasa sakitmu lebih rendah dariku, aku tidak memikirkannya,” kata Frya khawatir.
“Sudah tidak apa-apa kok,” kata Rae sambil nyengir menenangkan, dia bangkit menuju cermin, memantulkan dirinya, “wow, ini bagus sekali di telingaku, apa ini yang kau buat selama ini,”
__ADS_1
“Bagaimana cara kerjanya?” cerocos Rae sambil meraba telinganya.
Frya tersenyum “Limplǽcan, itu mantra untuk mengaktifkannya” kata Frya. Kau tak perlu mengucapkanya keras keras, kau cukup memikirkannya, dan kita bisa terhubung. Rae mendengar suara Frya tapi bibir elf itu tidak bergerak dingantikan dengan senyum puas. Dan jika kau ingin memutuskan hubungan ucapkan “Ánglimplǽcan” Frya mengucapkan kata terakhir.
“Limplǽcan,” kata Rae. Kau bisa mendengarku?
Tentu saja, kata Frya.
Wow, mata Rae melebar.
“Ánglimplǽcan. Ini keren. Benarkan Fhire,” kata Rae. Frya hanya tersenyum. Sementara Fhire kucingnya mengeloyor pergi tanpa memperdulikannya. Rae berdecak pada kucingnya yang mengabaikannya.
“Aku harus kembali ke Celestia selama beberapa hari,” kata Frya.
“Uh… untuk apa?” tanya Rae.
“Aku harus melaporkan perkembangan diplomasi yang sedang aku bangun, dan meminta bantuan dari para tetua,” kata Frya dengan tidak puas.
“Masih tidak kunjung membaikkah?” tanya Rae.
“Sulit, konsolidasi ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa dukungan Ljósálfar. Mengapa mereka tidak mulai melihat masalah yang akan kita hadapi jika kita terus menarik diri,” kata Frya lelah. “Kau harus segera ke kelas,” Frya mengusirnya. “Aku akan kembali seminggu lagi. Jangan terlalu khawatir dan jauh-jauh dari Herados! Sana!”
***
“Kau mau kemana?” tanya Herados.
Rae mencelos, “bukan urusanmu.”
“Kenapa kau ada di sini,” Herados menarik tangannya dengan kasar saat satu kakinya mulai menaiki anak tangga. “Di mana pengasuhmu?”
“Aku tak punya pengasuh.” Rae mendelik.
“Kenapa kau mau naik ke menara timur?” segrahnya kasar. “Kau tak seharusnya ada di sini,”
“Lalu aku harusnya ada di mana pangeran,” tanya Rae bosan, dengan kasar Herados menariknya ke pintu yang ada di samping tangga. “Kenapa kau menarikku ke ruang sapu,” Rae berusaha melepaskan diri dari Herados.
“Lihat,” kata Herados. “Naik!” kata Herados lagi dengan nada memerintah. Membuat Rae bingung. “Berhenti menatapku seakan aku gila,” dia membuka pintu. Dan menarik Rae keluar, Rae melonggo ke anak tangga dan menemukan anak tangganya berubah turun. Herados menariknya lagi ke ruang sapu lagi. “Sekarang beritahu aku apa kau lakukan di sini,” sergrahnya kasar.
“Kenapa aku harus?” tanya Rae. Herados mendorongnya ke dinding. “Haruskah Rae,” ancamnya. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Rae, Rae balas menatapnya dengan sengit. Walau Rae benci Putra Mahkota kegelapan itu, tapi dia harus akui bahwa dia sangat tampan, apa lagi jika dilihat dari jarak sedekat ini.
“Ini ruang kelasku,” jawab Rae cepat.
__ADS_1
“Kau masuk kelas khusus?” bentaknya, terlihat gusar.
“Ya apa lagi,” Rae mendorongnya dan senang melihat ke gusaran Herados.
“Bagaimana kau bisa masuk ke kelas itu?” tanya Herados.
“Terimakasih, berkatmu,” jawab Rae dramatis senyum puas mengembang di wajahnya.
“Apa maksudmu,” dia menarik lengan Rae dengan kasar. Rae berkelit membebaskan diri. Ruangan ini sangat sempit.
“Ingat terakhir kali kau mencoba membunuhku,” jawab Rae.
“Aku tak pernah mencoba membunuhmu hybrid,” bentak Herados. Rae hanya memandangnya tak percaya. Herados mengacak rambutnya dengan frustasi. “Aku hanya ingin mengecheck apakah pengasuhmu sudah mengajarimu dengan baik. Dan aku terbukti salah. Kau masih selemah semut.”
“Frya bukan pengasuhku,” bentak Rae.
Herados tak mengubrisnya, “lalu apa hubungannya itu dengan kau masuk kelas khusus?”
“Yah, berkatmu, Master Mounchi berpikir aku cukup tangguh untuk masuk kelas itu,” Herados menatapnya tak percaya. “Dan dia berpikir kelas khusus ini bisa membantuku menjauhimu, yang sebenarnya cukup berhasil, sampai kau berkeliaran di sekitar sini, ngapain sih kau berkeliaran di sini,” gerutu Rae.
“Karena aku tak bisa menemukanmu selama berberapa hari,” bentak Herados menatap Rae dengan frustasi. “Aku akan membereskannya. Dengar Rae!” dia meraih kedua lengan Rae menariknya dengan kuat hingga wajah mereka berhadapan. “Apapun yang terjadi kau tak boleh menyentuh pedang Afha’am, kau mengerti. Apapun yang terjadi, kau mengerti!” Rae hanya menatap Herados dengan tatapan kosong. “Kau harus berjanji!” dia menguncang Rae.
“Hentikan, aku tak perlu berjanji apapun padamu! Lepaskan aku! Aku harus ke kelas.”
“Beberapa hari lagi aku akan membebaskanmu dari kelas itu. Jangan pernah menyentuh pedang itu Rae! Karena jika kau menjadi pemilik pedang, aku akan benar-benar jadi musuhmu.” tanpa menunggu jawaban Rae Herados membuka pintu. Lalu mendorong Rae keluar sebelum menutupnya.
“Apa-apaan sih dia,” gerutu Rae, tapi dia penasaran apa Herados masih di dalam, ketika dia membukanya Herados sudah tak ada di dalamnya.
“Ada kemungkinan pedang itu ada gunung kelabu,” kata denzel.
“Aku khawatir permasalahannya sebenarnya adalah siapa pemilik sebenarnya, kau tau propercy-nyakan,” kata Zeine. “Sehingga walaupun kita berhasil menemukannya, kita tetap tak bisa memilikinya.”
“Tapi tetap saja kita layak untuk men...” kata-kata Denzel terhenti di tengah jalan, mereka kaget melihat kepala Rae melongo ke dalam ruang sapu.
“Rae! Apa yang sedang kau lakukan di sini!” tanya Denzel.
“Tak ada,” Rae menutup pintu ruang sapu. Membuat raut wajahnya terlihat sedatar mungkin. Lalu perlahan mengeluyur pergi menuju ke pintu masuk kelas. Rae bisa merasakan pandangan Denzel mengikuti di belakang pungungnya.
__ADS_1