Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Bayangan


__ADS_3

Herados terjungkal tak jauh di belakang.


“Kau tak apa?” tanya Rae bangkit dari tempat duduknya dengan kaget dan menghampiri sang pangeran kegelapan.


“Cis…,” sang pangeran kegelapan mengumpat. “Ternyata kau penyihir yang cukup lihai,” dia bangkit. Mengabaikan Rae. Andai saja dia tahu.


Sang pangeran kegelapan menghirup udara dalam dalam. Gerakannya sangat dramatis. “bukan manusia rupanya. Aku salah.” Nada mencemooh mengisi suaranya ketika dia berbicara. Rae memandang Herados dengan pandangan takjub.


“Reflek yang bagus hybrid. Bagiamana jika Kita lihat apa kau juga mampu menangkis seranganku yang lain,” celuntuk Herados. Apa yang salah dengan dirinya pikir Rae bingung. Menatap sang pangeran kegelapan dengan takjub.


“Apa aku lihat kau sedang menyerang temanku pangeran?” tanya Frya. Dia telah berdiri di belakang Rae.


“Kau terlambat datang untuk melihat apa yang temanmu lakukan padaku putri. Jika saja kau datang lebih cepat kau akan melihat siapa yang menyerang siapa.” Rae melonggo. Pangeran kegelapan mengucapkan kebohongan tanpa bergeming sedikitpun. Suaranya datar seperti dia tak sedang menfitnah dirinya. Rae hendak mengucapkan sesuatu ketika Frya bersuara.


“Aku meragukannya pangeran, karena aku tahu kemampuannya yang sekarang takkan bisa ia gunakan untuk mengalahkanmu,” kata Frya kalem, “untuk saat ini,” tambah Frya kalem. “Dan aku tau benar dia tak bodoh.”


“Tentu saja, Putri. Jangan mempercayaiku,” kata Herados dengan nada terluka. Dia bangkit sambil memegang dadanya dengan lagak terluka. Frya mendecakan lidahnya. “Sampai jumpa lagi hybrid.” Pangeran Kegelapan mengeluyur pergi.


“Apa itu tadi?” tanya Rae shock.


“Entahlah,” kata Frya acuh “Kau harus hati-hati dengan nya. Bagaimana hari ini?” tanya Frya.


Rae mengeleng, “satu-satunya sihir yang berhasil aku lakukan hanyalah membuat Pangeran Kegelapan terlempar,” kata Rae lelah.


Frya menatapnya sesaat lalu mulai berjalan ke arah buffee. Rae kembali ketempat duduknya, dia menatap bukunya. Buku ini ternyata cukup berguna. Ah tidak buku ini sangat berguna.

__ADS_1


“Kenapa kau tersenyum?” tanya Frya, duduk di depannya. Jemarinya yang panjang mulai merobek roti di piringnya. Dia mencelupkan kedalam saus keju sebelum memasukan ke dalam mulutnya. Bibirnya yang berwarna merah bergerak pelan.


“Tak apa,” jawab Rae. Ia tersenyum pada Frya.


“Apa kau sudah selesai dengan pelajaran sihirmu hari ini?”


“Sudah,” jawab Rae singkat.


“Bagus, aku akan melatih mu memanah setelah kita selasai makan,” kata Frya dengan ringan.


***


“Kenapa tak ada dari kalian yang pernah mengatakan padaku bahwa dia seorang hybrid? BODOH!” raung Master, Dia melemparkan seluruh anak buah kapalnya hingga terjatuh dengan sihir. Sang kapten dan dua anak buahnya terpental ke tiga tempat berbeda. Sang kapten menubruk tembok di belakangnya. Anak buahnya si pria bertubuh gempal menabrak lemari hingga patah. Si pria kurus terjungkal dan menabrak meja kursi hingga remuk di bahwanya.


Gadis itu sangat cocok untuk menjadi mainan sang Master. Penakut, seharusnya dia tahu lebih baik, gadis itu menyembunyikan sesuatu. Dia tak terlihat seperti gadis gadis lainnya yang ia bawa. Sial baginya sekarang gadis itu menghilang.


“Lalu mengapa aku diberitahu bahwa gadis yang seharusnya di janjikan padaku saat ini sedang berjalan-jalan di Snitchopalace!” raung sang Master, mengembalikan perhatian sang kapten. “Dan dia sedang mempelajari sihir disana!”


“Kami tak tahu Master. Kami telah mencari ditempat terakhir keretanya ditemukan, tapi mereka menghilang begitu saja. Seperti di telan bumi,” anak buahnya menjawab si pria bertubuh kecil. Darah mengalir dari bibirnya. Dia mengosok dadanya. Sepertinya ada tulang yang patah.


“Tak ada hal seperti itu, kalian semua bodoh.” Master mondar-mandir di ruang pengap di belakang rumah bodir madam Joilante. Masalahnya jadi rumit sekarang, karena gadis itu berada di bawah pengawasan Putri Frya.


“Kami akan menculiknya untuk anda, Master,” kata si tubuh gempal berbicara.


“Dasar bodoh! Dia sekarang peliharan si putri Ljósaflar. Bagaimana mungkin kita membawanya kemari tanpa menarik perhatian ijosalfar pada kita.”

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan kalau begitu Master,” tanya sang Kapten.


“Aku akan mencari cara dan waktu yang tepat, dia tak terlalu pandai menghafal mantra. Aku harap aku bisa mengambilnya sebelum dia memampu melakukan apapun dengan sihirnya. Kalian diam saja dan temukan pengantinya. Aku akan membunuh gadis itu jika aku tidak bisa mendapatkannya. Pastikan tempat ini rapi sebelum kalian meninggalkan ruang ini.”


Pintu belakang pub itu terbuka dengan sendirinya dan sang Master keluar ke lorong pengap yang berbau pesing, menuju kegelapan malam. Sekarang dia harus berpura-pura mengajari anak itu sihir. Dia harus memikirkan sesuatu.


Sial untuknya gadis itu memang sangat cantik, dia sepadan dengan segala resikonya yang akan dia terima hanya agar bisa memiliki gadis itu di tangannya.  Tapi dia takkan mengorbankan segalanya dengan gegabah. Selalu ada cara untuk memiliki ke inginannya. Dan dia orang yang sabar. Dia hanya harus memastikan orang-orang itu segera mengirimkan penganti untuk meredakan hasratnya.


Sekarang dia harus kembali ke Snitchopalace sebelum ada seseorang yang mengetahui kepergiannya. Kibasan jubahnya menghilang di kegelapan malam, tergantikan udara kosong.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2