Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Berlatih Tak Selalu Membuat Sempurna


__ADS_3

Hari berikutnya,


Rae kembali melakukan perengangan di pagi hari, belajar sihir dengan Master Azura yang sekali lagi tidak membuat banyak kemajuan pada kemampuan menyihir Rae. Dia makan siang sendirian, Rae mengatakan padanya hari ini dia tak bisa membantu melatih fisiknya, sehingga Rae harus berlatih sendiri, tapi dia tak mengijinkan Rae ke hutan sendirian, jadi Rae harus belajar memanah tanpa dirinya. Alhasil setelah makan siang dia hanya berlatih menarik busurnya tanpa mengunakan anak panah. Rae duduk bersila tengah-tengah lantai kamarnya Fhire sibuk bermain gulungan benang di sudut ruangan tak jauh darinya. Buku Sihirnya terbuka di pangkuan. Tangan memegang busur. Dia berlatih menarik busurnya hingga menjelang makan malam.


Frya kembali tak lama setelah makan malam. Dia mengajak Rae ke taman yang ada di luar kamarnya.


“Kita akan berlatih memanah?” tanya Rae, tangannya mengelus kepala Fhire yang tengah dia gendongnya.


“Nae, hari ini kau harus berlatih menguatkan kakimu, ayo.” Mereka berdiri di bawah pohon di tengah taman. Fhire meluncur turun dan mulai menjelajahinya.


“Seperti ini,” Frya membungkuk, kaki kirinya di tekuk hingga menyentuh tanah. Dia mendorong tubuhnya ke atas, tangan kanannya mengapai dahan pohon terdekat. Dia meluncur dengan mulus, dia mengunakan ranting untuk berputar, meloncat dengan mulus, dan mendarat dengan kaki kanan terlebih dahulu di atas dahan yang sama.


Rae menatapnya skeptic.


“Ayo, Rae!” bujuk Frya.


Rae melakukan seperti yang Frya contohkan, membungkuk dengan kaki ditekuk hingga menyentuh tanah. Rae meluncur, tapi sebelum tangannya menyentuh dahan pohon terdekat, daya dorongnya telah terkalahkan gravitasi. Rae terjatuh dan mendarat dengan tidak anggun di tanah.


“Bagaimana kau bisa melakukannya dan terlihat sangat mudah,” tanya Rae. setelah mencoba sekian kali dan tak berhasil.


“Berlatih,” jawab Frya singkat. Dia meluncur turun. Rae melemparkan pandangan skepticnya.


Frya menyodorkan tangannya, “Ayo kita ulangi lagi.”


“Sedang melatihnya menjadi monyet putri?” tanya Herados tiba-tiba muncul. Mendekati Rae dengan senyumnya yang memabukan. “dia memiliki tubuh manusia, lemah seperti semut, ototnya takkan mampu mendorong tubuhnya sampai ke dahan bahkan yang paling rendah sekali pun.” Herados merenggut tangan Rae. “mudah patah seperti ranting.” Fhire turun dari dahan tempat ia memanjat dan mendesis pada Herados. Untuk Sepersekian detik Rae percaya Herados mampu melakukannya dan akan melakukannya. Tapi Herados tersenyum dan melepaskan tangannya seketika. Rae menatap Frya dan melihat si elf cahaya tengah menatap Herados dengan waspada.


Rae berdiri, “tentu saja aku akan mampu melakukannya!” kata Rae tegas.


“Iya tentu saja, teruslah bermimpi hybrid,” kata si pangeran kegelapan. Seraya melambaikan tanggannya. Mengeloyor pergi.


Rae menatap kepergian pangeran kegelapan dengan takjub, “Apa-apaan tadi, selama sedetik aku hampir percaya dia akan benar-benar mematahkan tanganku.”

__ADS_1


“Perhatian pangeran kegelapan padamu mulai membuatku resah,” kata Frya singkat.


“Ah..” Rae menghela nafas kesal. “Akan aku buktikan bahwa aku bisa meraih dahan itu. dan dahan dahan setelahnya.” Rae menatap ke dahan pohon tempat mereka berlatih, tinggi dahan itu dua meter di atasnya, nyali Rae menciut melihatnya.


Rae membungkuk dan meluncur seperti yang Frya perintahkan. Lebih bertekat dari sebelumnya. Dia harus bisa mencapai dahan pertama. Sekali, dua kali, tiga kali Rae gagal melakukannya, dia jatuh terguling ditangan, kakinya terkilir, kulinya memar dan lecet. Dan setiap kali lukanya disembuhkan oleh sihirnya. Rasa sakit menghujam tubuhnya, tapi Rae terus menerus mencoba.


***


Hari berikutnya,


Rae kembali melakukan perengangan di pagi hari, belajar sihir dengan Master Azura yang sekali lagi tidak membuat banyak kemajuan pada kemampuan menyihir Rae lagi.


Setelah makan siang dia bersama Frya ke hutan untuk berlatih memanah.


Tak ada Herados, dan jarak tembaknya di tambah dua meter lebih panjang, dan dia semakin sering menembak tepat sasaran.


***


Rae kembali melakukan perengangan di pagi hari, belajar sihir dengan Master Azura yang sekali lagi tidak membuat banyak kemajuan pada kemampuan menyihir Rae lagi.


Waktu berulang, antara Rae berlatih memanah atau Frya hanya melatih kelincahan tubuhnya. Setidaknya ketika Rae berlatih dengan Frya dia mengalami banyak kemajuan.


Dan begitulah waktu berlalu selama beberapa saat untuk Rae.


Berlatih sihir dengan Master Azura membuatnya frustasi, mantra itu tak bekerja untuk Rae. Entah bagaimana sihir yang ia hasilkan tidak sama dengan mantra yang ia ucapkan. Beberapa kali dia membuat ledakan yang menghanguskan baju Master Azura. Dan setiap hari Rae akan melihat rasa lelah dan kekecewaan di mata master Azura.


“Lafalan yang tepat menghasilkan sihir yang tepat pula,” itu yang selalu di ucapan Master Azura dengan kesal setiap kali Rae gagal melakukan sihir.


***


Rae selalu merasa frustasi setiap kali dia akan dan selesai berlatih sihir dengan Master Azura. Setiap pagi Rae mengetuk pintu kantornya dan mendapati wajah bosan Master Azura, Rae merasa Master Azura terbebani dengan pertemuan mereka. Rae juga berharap dia mampu melakukan sihir semudah merapalkan mantra dan bom… sihir terjadi. Setelah beberapa saat Rae berhenti bercerita pada Frya tenang kesulitannya mempelajari sihir dai Master Azura. Dia merasa tak adil jika di menyalahkan master Azura, karena Master Azura sangat ahli dalam sihir, papan-papan penghargaan yang tergantung di tembok belakang mejanya membuktikan.

__ADS_1


Tapi di sisi lain, Rae mampu menguasai sihir yang dia pelajari dari buku tuanya. Sihir ringan seperti barrier, walaupun sihir itu menguras tenaganya dia berhasil membuat barrier. Barrier yang cukup kuat. Dan beberapa kali dia bisa mencoba membentuk air, menjadi bentuk yang dia inginkan, atau memanipulasi udara agar bergerak sesuai keinginannya.


Hari ini adalah hari dimana Rae harus berlatih kelincahan, dia masih belum mampu melontarkan tubuhnya tinggi, tapi dia semakin hari semakin kuat. Setelah makan malam Rae mulai meloncat di bawah cabang pohon terendah. Frya belum kembali, dia sendirian di tampan itu.


Dia teringat kata kata Herados ketika pertama kali dia berlatih. “Dia memiliki tubuh manusia, lemah seperti semut, ototnya takkan mampu mendorong tubuhnya sampai ke dahan bahkan yang paling rendah sekali pun,” tanpa Daya dorong yang kuat tangannya takkan mencapai dahan terendah. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang.


Karena itu dia harus memberikan daya dorong lain, daya dorong di luar ototnya, karena dia manusia, karenanya dia harus menemukan cara, dia bisa memanipulasi udara di sekitarnya, menjadi tampolin untuk kakinya lalu dengan udara pula dia bisa mendorong tubuhnya. Tapi bagaimana caranya.


Rae mundur beberapa langkah.


“Udara ikuti perintah pikiranku,” bisiknya, Rae merasakan udara bergetar, Rae berlari, lalu membayangkan udara di titik dimana dia akan melompat menjadi elastis. Dengan terkejut Rae merasakan kakinya memantul begitu dia menjejak udara kosong, tubuhnya meluncur keatas, Rae membayangkan udara di sekitarnya mendorongnya semakin keatas, dan dia berhasil melompati dahan terendah terus keatas melampaui dua dahan. Tangannya mengapai dahan selanjutnya, lalu seperti yang Frya lakukan dia mengunakan dahan itu untuk berputar, dia berhasil, dia dapat merasakan nafasnya mulai tersengal. Kakinya menapak. Tidak!!! Rae dapat merasakan kakinya tergelincir dari dahan. Sial.


Dia bergulung dan membungkus tubuhnya dengan udara, mengurangi daya dorongnya. Dan meluncur tanpa kesakitan.


“RAE!” Rae menoleh. Frya berdiri di ambang gerbang pintu masuk ke taman, terlihat kaku seperti papan.


“Aku berhasil,” kata sambil nyengir, dia dapat merasakan tubuhnya sedikit tak bertenaga.


“Bukan itu tujuan latihan kita!” kata Frya tegas. Rae tersentak, dia baru menyadari bahwa Frya berteriak bukan karena khawatir tapi marah.


“A…”


“Tujuannya adalah agar tubuhmu lebih kuat, lebih lincah, mengunakan sihir tidak akan membantu menguatkan tubuhmu,” Frya benar benar marah, ini pertama kalinya Frya marah padanya. Bahkan kegagalannya tidak membuatnya marah. Rae merasa bersalah, sekaligus tidak.


“Tapi Fry, aku punya alasan. Lihatlah, aku… aku manusia, okey ak hybrid,” ralat lae ketika dia melihat mata Frya membulat. “Tapi tubuh ini,” Rae merentangkan tangan. “Tubuh ini adalah Manusia, Otot ini, tulang ini, ini adalah otot manusia.” Rae menepuk betisnya. “Kau tak bisa mengharapkan tubuhku sekuat dirimu atau Ljósaflar yang paling lemah sekalipun. Tanpa sihir aku hanyalah manusia, Dan aku tak pernah mendapatkan latihan apapun, aku baru berlatih beberapa minggu ini fry. Karenanya aku takkan mencapai dahan itu tanpa bantuan sihir sama sekali.”


Frya menghirup nafas dalam. Beberapa saat mereka berdua terdiam.


 


 

__ADS_1


__ADS_2