
Rae dibangunkan oleh elf itu menjelang matahari terbit. Elf itu memembantu rae turun dan kemudian ia memanggil tunggangan yang lain. seekor kuda hitam dengan surai panjang warna coklat kemerahan. Dengan mata mengantuk mereka melanjutkan perjalanan.
Butuh seharian penuh untuk akhirnya mereka sampai ke kota Celestia, mereka hanya berhenti sejenak untuk makan siang. Lalu menjelang matahari terbenam Rae mulai melihat perubahan-perubahan di hutan yang mereka lalui, pepohonan lebih jarang, dan di beberapa tempat bentuk-bentuk pepohonan terlihat tak alami.
Akhirnya mereka bertemu sebuah gerbang lengkung, yang terbentuk dari pepohonan. Pepohonan berdiri menjulang saling memenjalin satu sama lain sehingga membentuk sebuah gerbang melengkung yang indah di sisi jalan yang mereka lalui. Gerbang itu terlihat megah, kuat tapi sekaligus lembut. Rae terpesona tanpa mampu mengalihkan tatapnya. Dia terus memandangnya, hingga akhirnya kepalanya tak lagi bisa melihat gerbang itu.
Begitu mereka melalui gerbang, Rae di suguhi pemandangan yang menakjubkan. Pepohonan besar yang tumbuh tinggi di manipulasi menjadi berbagai bentuk bangunan tempat tinggal. Berkas-berkas cahaya senja hampir tak mampu menembus rindangnya hutan Celestia. Menciptakan aura mistis yang terasa dimana-mana, mempesona akan tetapi disaat bersamaan terasa menakutkan bagi Rae. Aroma hutan yang segar terus membayanginya sejak dia memasuki hutan Reokwood, tapi di dalam gerbang Celestia wangi bunga samar samar tercium memberi perasaan tenang.
Rae harus berkedip dua kali untuk memastikan apa yang ia lihat ketika dia melintasi jalan setapak yang membelah kota Celestia, bunga pada pohon yang tumbuh di sepanjang bahu jalan mengeluarkan cahaya. Bunga itu cukup besar, hampir sebesar telapak tangan Rae, memberi pendar penerangan yang berwarna warni.
“Aku tak pernah tahu jika ada bunga yang bisa mengeluarkan cahaya seperti itu,” kata Rae menujuk salah satu bunga itu.
“Beberapa jenis bunga memang mampu menghasilkan cahaya, akan tetapi bunga itu bukan salah satunya. Cahaya itu berasal dari batu bercahaya yang di tempelkan dengan sihir. Pohon itu dimanupulasi agar bentuknya tidak berubah.” Seperti bonsai pikir Rae.
__ADS_1
Kota itu cukup sibuk, para elf berkeliaran melakukan urusan mereka masing-masing, tapi segera berhenti dari kegiatan mereka begitu Frya lewat, mereka membungku dan memberi salam, yang mana di balas Frya dengan angukan kepala. Rae harus terus menutupik kepalanya dengan baik dari waktu ke waktu. Memastikan tak satupun elf melihat telinganya. Seperti yang Frya katakan selama mereka tidak menyentuhnya dia akan baik-baik saja. Akan tetapi lebih aman bila ia tetap tidak di kenali.
Kota itu sendiri cukup besar, mereka terus berjalan semakin kedalam, hingga jalan yang mereka lalui berakhir, dihadapan mereka berdiri sebuah pohon raksasa yang membentuk istana, akar-akar besar membuka membentuk sebuah anak tangga, tembok beton menyatu dengan batang pohon itu secara natural, seakan mereka tumbu bersama. Sangat mempesona.
Di kegelapan malam batu bercahaya bersinar dalam warna kuning hangat. Berterbaran di seluruh penjuru pohon, memancarkan keindahan dan keagungan istana ini. Dari bawah batu-batu bercahaya itu terlihat seperti kacang kecil. Tapi bersinar sangat cerah.
Rae merasa terintimidasi dengan besarnya pohon raksasa itu. Rae merasa kecil di hadapannya.
Elf meluncur turun dari atas kuda dengan gerakan anggun, lalu membantu Rae menurunkan kucingnya. Rae turun dengan gerakan lebih kiku. Setelah menyerahkan kucingnya pada Rae elf itu mengebah kudanya.
Elf itu mengikuti arah padang Rae. “Dia akan kembali ke install, akan ada Ljósálfar yang mengurusnya.”
Frya membawa Rae ke sisi lain istana, ada sebuah jalan lain untuk masuk ke istana, sekali Frya meletakan tangannya di pintu, pintu itu segera mengayun terbuka. Mereka berjalan menelusuri lorong yang indah. Rae pikir di dalam pasti tidak akan ada banyak cahaya. Tapi tanpa disangka tempat ini bermandikan caaya, mengingat mereka sekarang berada di dalam sebuah pohon. Dan di luar atap daun yang tinggi menghalangi sinar matahari menyentuh tanah. Sulur sulur mawar putih merambat di dinding tembok, meski saat ini musim semi belum datang akan tetapi bunganya bermekaran menyebarkan aroma wangi keseluruh ruangan, mengelitik hidung Rae.
__ADS_1
“Frya mengapa kita ke istana?” tanya Rae. “aku pikir kita akan bertemu dengan orang tuamu.”
“Orang tuaku tinggal disini,” jawab Frya pendek. Rae merasakan perubahan pada diri Frya sejak mereka memasuki istana. Elf itu terlihat lebih tegang. Rae tak berani bertanya. Dia hanya mengikutnya dalam diam.
Lorong itu membawa mereka ke sebuah aula yang sangat mega, tempat ini benar-benar membuat Rae terngagah, melihat ke dalam hal yang seperti taman natural. Pohon ini benar-benar raksasa, tidak hanya besar. Di dalamnya ada seorang elf pria dengan makotha indah menghiasi rambutnya yang hampir putih. Dia duduk di singasana yang agung. Dia terlihat sangat agung saat duduk di singasana tersebut.
Beberapa saat kemudian Rae baru menyadari bahwa singasana itu tersambung dengan aulanya, benar-benar menyatu, seakan singasana itu tumbuh di sana dan membentuk sebuah singasana. Tidak hanya ada satu kursi di sana tapi ada tiga kursi di atas mimbar. Terlihat naturan dengan cara yang tak natural. Di belakangnya air terjun jatuh, dan daun-daun segar tumbuh, sementara bunga—bunga bermerkaran. Elf itu mengunakan tunik putih dengan aksen dari benang emas. Pakaian itu mengalar seperti air. Di sampingnya duduk seorang elf wanita, pakainya senada engan elf pira itu, dia juka mengunakan mahkota, tapi bentuknya lebih feminism. Sementara di sisi lain kursi tidak ada yang mendudukinya. Mereka berdua sama sama memiliki warna rambut pirang putih yang bersinar sangat terang. Ada aura keagungan mengalir dalam diri mereka, aura berkuasa memancar dari tubuh sang Raja. Tidak salah lagi mereka adalah raja dan ratu Ljósálfar. Rae yakin sekarang. Orang tua Frya adalahh seorang raja. Dia berteman dengan seorang putri dan dia baru menyadarinya sekarang.
Sepanjang lorong menuju ke singasana rRae mengamati, ada barisan kursi tingi. Frya membawanya semakin mendekat. Hingga akhirnya mereka berada dua meter jauhnya dari ketiga kursi sing asana. Mereka berhenti di sana.
__ADS_1