Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Pedang Ljósáflar


__ADS_3

Master Mounchi memindahkan kelas mereka ke danau, mereka membutuhkan banyak air untuk latihan mereka hari ini. Rae merasa tatapan Denzel berulang kali terarah padanya.


Mereka mencoba membentuk air, menjadikannya berbagai macam bentuk. Teman-teman berhasil membuat berbagai bentuk hewan, Zeine berhasil dengan detail membuat angsa cantik, feorox membuat kupu-kupu yang terbang indah. Sement doccione seekor harimau yang gagah, sementara Rae. Rae hanya mampu membuat bentuk bulat tak beraturan.


“Fokus Rae!” kata Mounchi tegas. Memang Mounchi pikir apa yang sedang ia lakukan, pikir Rae sebal.


“Sebenarnya kau ingin mengubah air itu jadi apa Rae?” cemooh Denzel yang dengan sombongnya memamerkan elang pada Rae.


Rae mengabaikannya. Denzel membuat elangnya mengitari bola air Rae. Hal itu membuat konsentrasi Rae pecah, bola airnya yang sudah berbentuk tak beraturan semakin bergetar dan pecah. Rae memandang Denzel dengan tatapan sebal. Lalu mengayunkan tangannya tanpa melihat. Tiba-tiba elang Denzel hancur oleh cipratan air setajam pisau yang muncul tiba-tiba. Air meluncur turun cepat dan membasahi mereka berdua.


“Denzel! jangan ganggu Rae!” kata Mounchi tegas.


“Baik Master,” jawab Denzel ringan mulai membuat bentuk-bentuk lain. Sementara matanya memberi tatapan mencemooh.


Rae mencoba lagi dan gagal, frustasi Rae melihat kelinci Denzel melompat-lompat dengan cara yang menyebalkan. Rae membentuk gulungan air dan menengelamkan kelinci itu. kelinci itu tetap bergeming ketika air surut, Denzel tersenyum pada Rae dengan senyum pongah yang membuat Rae sebal. Sihir adalah manipulasi energy. Rae tahu teorinya, manipulasi energy itu yang menahan air sehingga membuat sebuah bentuk seperti yang penyihir inginkan. Dan mereka memiliki kelemahan. Denzel membuat kelinci itu melompat sangat tinggi dan membeku di sana. Sementara Rae menahannya.


Rae mencari titik terlemah yang ada pada kelinci Denzel yang menyebalkan, melubanginya dan menarik keluar air hingga membentuk tali sepanjang lima centi sebelum akhirnya Rae tak bisa lagi mempertahankan energy penahannya. Air meluncur turun kembali ke danau dalam cipratan kecil. Air dari kelinci Denzel mulai menyurut turun, dari telinga terus ke bawah.


Ketika air terakhir meluncur Denzel mengubahnya menjadi ribuan kupu-kupu yang bertebaran. Rae menembak setiap kupu-kupu dengan batu kerikil mengunakan sihir sehingga tepat sasaran. Satu persatu kupu-kupu Denzel hancur. Rae nyengir menantang pada Denzel.


Denzel memunculkan seekor singa yang meraung ganas, tepat di hadapan Rae, suaranya mengetarkan benda-benda di sekitarnya termasuk Rae. Singa itu melompat hendak menerjang Rae, membuat Rae kalut mulai membuat perisai air dengan tergesa. Singa itu menghantam perisai Rae dan menghentikannya sebelum menerjang Rae, tapi kuatnya benturan menimbulkan cipratan air yang menhujani Rae hingga basah.


Denzel nyengir puas. Sementara Rae merengut dengan air menetes di tubuhnya. Rae menciptakan cipratan air besar dan menghapus cengiran Denzel.


“Kenapa kalian malah bermain-main bukannya berlatih dengan benar!” tegur Master Mounchi, tak benar-benar serius dengan tegurannya.


“Maaf Master, aku takkan mengulanginya lagi,” kata Rae datar.


Mounchi memberi pandangan tidak percaya. Kemudian melihat ke jam tangannya, “Sudah waktunya. Sepertinya kelas kita sudah usai. Kalian semua bisa berhenti, dan kembali ke kelas. Lanjutkan latihan kalian terutama kau Rae. Dan keringkan tubuhmu.”


“Baik Master,” jawab Rae. Teman-temannya berjalan kembali ke kastil, Ferorox dan Doccione masih mengabaikan Rae, Rae sendiri tidak juga berusaha mendekatkan diri pada mereka. Setengah harga diri Rae terluka karenanya, tapi Rae tak mau mengakui, dia memilih mengangap mereka pajangan saja. Denzel sudah mengeringkan bajunya dengan sihir. Rae tidak akan melakukannya, dia sadar kemampuan sihirnya sangat payah. Jadi Rae memilih menganti bajunya dari pada harus keluyuran tanpa baju.


“Kau mau aku mengeringkanmu Rae?” tanya Denzel dengan cengiran mengancam.


“Dalam mimpimu,” celutuk Rae yang langsung melesat pergi setelah mengatakannya.


Rae tengah melintasi halaman ketika melihat Herados tengah melamun di salah satu pohon, kemarin Herados menghajarnya habis-habisan. Dan Rae masih marah padanya karena itu. Rae benci saat pertama mereka bertemu setelah Svartálfar itu pergi. Seakan Herados membutuh dirinya untuk melampiaskan sesuatu. Dia belum melihat Rae. Biasanya Rae memiliki sedikit akal sehat, tapi sulit untuk tidak membalas semua perbuatan Herados selama latihan karena walaupun kemampuan Rae maju pesat kemampuan Herados jauh di atasnya. Dan Rae sangat menyadari setiap kali Herados pergi kemampuannya juga semakin baik.


Rae melihat kesempatan, dia tidak bisa membentuk sesuatu, tapi dia bisa memanipulasi agar hawa panas berkumpul pada Herados, setidaknya dia bisa melatih itu pada Heraods tanpa takut sihirnya akan melukai dirinya sendiri. Rae tersenyum dan mulai merapalkan mantra, pusaran energy meliputi Rae. Tiba-tiba Herados mendongkak dan tatapannya menghujam Rae. Rae terdiam. Pusaran energy yang meliputinya buyar dan menghilang menjadi hembusan angin yang menerbangkan anak-anak rambut Rae yang setengah kering. Herados melesat mendekat dan pada detik selanjutnya telah berdiri dihadapan Rae.


“Mengapa kau begitu basah,” katanya lembut.


“Air,” jawab Rae acuh tahu bahwa kesempatannya telah hilang. Rae berbalik ingin pergi tapi Herados menahan pergelangan tangan kirinya.


“Apa? Aku masih ada kelas,” kata Rae dingin.


“Kau akan sakit jika membiarkan tubuhmu basah Rae.”


“Aku hendak ganti baju,” kata Rae mengeliat mencoba melepaskan tangannya.

__ADS_1


Herados tersenyum mempesona pada Rae. “Kau penyihir Rae kenapa tidak mengeringkannya saja dengan sihir dari pada berlari ke asrama?” Rae merengut pada Herados. Herados merapalkan mantra dan mengeringkan baju Rae. “Sudah, kau tidak perlu menganti bajumu.”


“Terima kasih,” kata Rae acuh. “Lepaskan, aku masih ada kelas.”


Herados tidak melepaskannya, dengan tak acuh mengandeng Rae melintasi halaman. Rae mengeliat melepaskan diri. Herados tidak melepasknnya.


“Tidakkah kau pikir ini memalukan Herados?” tanya Rae.


“Apa yang memalukan?” tanya Herados acuh.


“Ini, kau dan aku?” Rae mengangkat tangan yang digandeng Herados.


“Kita?” Herados mengangkat alisnya dengan jenaka.


“Tidak ada kita,” bentak Rae.


“Tidak, tidak memalukan sama sekali. Kenapa harus begitu?” tanya Herados acuh.


“Kau dan aku bahkan bisa dibilang teman untuk bisa berjalan bersama, tidak tau kah kau?” tanya Rae.


“Kita,” koreksi Herados, akhir-akhir ini dia sering sekali mengkoreksi panggilan Rae. Rae mengabaikannya.


“Kau milikku,” jawab Herados santai. Rae berdecak tak percaya.


“Dan bagaimana bisa begitu?” tanya Rae sinis.


“Aku… bukan… milik siapapun!” kata Rae sambil menujuk dada herados dengan jari telunjuknya di setiap katanya. Herados mengabaikannya. Terus mengandengnya hingga mereka sampai di bawah tangga menara timur. Herados meninggalkannya di sana.


Denzel terkejut melihatnya sudah berada di ruang kelas tapi tak mengatakan apapun. Sambil menunggu makan siang Rae membuka buku mantranya. Pura-pura membaca.


Frya apa kau sibuk?


Nae kau baik-baik saja? tanya Frya.


Iya, apa kau tahu tentang pedang Afha’am? Herados memojokanku hari ini, dan menyebut-nyebut tentang itu. Rae membuka bukunya.


Kenapa dia bisa menyebut-nyebut pedang itu padamu


Dia ingin aku tidak menyentuhnya.


Oh itu bisa menjelaskan perilakunya.


Memang ada apa dengan pedang itu?


Pedang itu pedang legendari Rae. Pedang paling legendaris di Ar’chismaytopia.


Benarkah? Rae membalik lagi lembaran baru. Mata Rae membelalak melihat lembar baru yang baru saja dia buka, Rae tak ingat lembar itu ada di dalam grimoirenya sebelumnya.


Frya kau takkan percaya ini,

__ADS_1


Ada apa.


Buku itu, aku tak ingat lembaran ini pernah ada di sana sebelumnya.


Apa maksudmu.


Pedang Afha’am dan Alfe’am


Pedang Afha’am diberikan pada ratu Ar’chismaytopia yang pertama, Ratu Maida, karena jasanya membawa perdamaian ke Ar’chismaytopia.


Bangsa elf, Ljósáflar dan Svartálfar, terus saja bersebrangan, menyebapkan sering  terjadi perang hampir saja memusnahkan baik Ljósáflar maupun Svartálfar. Pada tahun pertama masa pemerintahan Raja Blagadirfar Raja Ljósáflar ke sembilan belas penyihir datang. Menyebapkan permusuhan lama antara Ljósáflar dan Svartálfar semakin meruncing hingga perang besar pecah. 


Tahun-tahun kegelapan dan perang melingkupi daratan Ar’chismaytopia. Hingga Ratu Maida dan raja Feeorin muncul, mereka mengikat bangsa Svartálfar dan Ljósáflar ke dalam dirinya mengunakan sihir kuno. Mengikat dalam perjanjian perdamaian.


Sebagai balasan untuk mereka bangsa Ljósáflar membuat sepasang pedang di mana para elf memberi separuh kekuatan mereka. Ratu maida memiliki pedang Afha’am sementara raja Feeorin memegang Afhe’am.


Bagaimana bisa lembaran itu ada di sini? tanya Rae dengan heran.


Aku bahkan lebih heran bagaimana buku itu bisa ada di kamar kita?


Eh apa maksudmu?


Tak apa, ya yang jelas siapapun yang memiliki kedua pedang itu mereka berhak atas tahta kerajaan Ar’chismaytopia.


“Rae!” Rae mendongkak dari bukunya, dan melihat Denzel berjalan ke arahnya. Dia cepat-cepat menutup bukunya.


Aku bicara denganmu lagi nanti.


“Ya?” Rae mengucapkannya bersamaan dengan memikirkannya, Rae sendiri kagum dengan kemampuannya memikirkan dua hal secara bersamaan.


“Kita akan berlatih atau kau akan terus melamunkan sepupuku?” tanyanya ketus. Rae tak menjawabnya. Hanya menaruh bukunya ke dalam tas dan mengambil pedang untuk latihan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2