
Rae tak bisa tidur, ia berguling resah di tempat tidur terlalu gelisah untuk bisa tertidur. Besok master mounchi akan menguji kemampuan sihirnya. Dan dia tak memiliki gambaran sama sekali tentangnya.
“Kau tak bisa tidur?” tanya Frya setelah beberapa saat.
“Eh, apa aku menganggumu?” tanya Rae.
“Tidak,” jawab Frya. Dia bangun dan membuka penutup batu bercahaya di samping tempat tidurnya. Membiarkan cahaya menerangi kamar.
Rae bangun dari tempat tidurnya. Dan meneguk segelas air dari piala yang ada di meja di samping tempat tidurnya.
“Ada yang salah Rae?” tanya Frya.
Rae menghela nafas, “tak ada hanya terlalu tegang saja,” jawab Rae. Ia terdiam dan memainkan gelasnya. “Bagaimana jika besok aku mengacau?” kata Rae sesaat kemudian.
“Kau pasti bisa, jangan khawatir,” jawab Frya santai.
Rae menaruh pialanya, lalu berjalan menuju jendela. Dia duduk di kusen jendela dan menyenderkan kepalanya ke kaca, matanya nanar menatap keluar.
Rae menatap ke luar jendela, kamar mereka menghadap ke sebuah taman. Taman itu mengingatkan Rae pada Celestia. Pohon besar tumbuh lebat di tengah ruangan, pohon itu memiliki dahan yang sejajar dengan jendela kamarnya yang ada di lantai tiga.
Sesuatu di dahan itu menarik perhatian Rae. Seorang elf tengah bertenger disana. Tubuhnya yang semampai bersandar ke pohon, sementara tangannya dilipat. Elf, pikir Rae. Bukan Ljósálfar, dia tidak mengeluarkan cahaya seperti Frya dalam gelap. Tapi Rae dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia tampan bukan main, seperti malaikat yang menyembunyikan setan di dalamnya. Matanya menatap menerawang. Sedetik kemudian mata mereka bersirobok dan Rae tersentak. Matanya gelap, Rae tak yakin ada bola mata sehitam itu, tapi seperti itulah matanya terlihat sekelam langit malam, menelanjangi jiwa Rae.
“Apa yang kau lihat?” tanya Frya penasaran. Dia berdiri di samping Rae dan menatap ke arah mata Rae tertujuh. “Ah, Herados. Bukankah dia sangat tampan?” kata Frya datar.
__ADS_1
Rae mendengus, “kau mengenalnya?”
“Ya, dan tidak…. Dia putra raja kegelapan,” kata Frya dramatis.
“Eh..?”
“Pangeran kegelapan, putra raja Svartálfar, elf kegelapan?” jawab Frya.
“Ya dia tampan dan kau cantik, kalian seharusnya bersama untuk menguatkan kerajaan kalian,” celuntuk Rae.
“Yeah… dia memang tampan luar biasa, tapi kau tidak bisa mempercayai seorang Svartálfar Rae! ingat itu,” kata Frya santai bersadar ke jendela menghadap kesisi sebaliknya.
“Kenapa?” seakan Svartálfar itu mendengaran apa yang mereka bicarakan dia terus menghujankan tatapan tajamnya pada Rae. Lama mereka bersitatap. Sampai akhirnya Svartálfar itu meloncat turun dari tempatnya bertengger dan meninggalkan taman itu.
“Sudah sifat alami mereka untuk berkhianat dan membuat onar.”
“Kau terlalu mudah percaya Rae. Akan sangat menarik melihatmu memilah mana yang baik dan buruk nanti.” Frya menantap Rae yang masih tertegun memandang keluar. Frya menoleh kearah Herados tadinya berdiri, kemudian tersenyum pada Rae, menepuk bahunya.
“Kenapa kau terdengar seperti mendoakan ku disakiti?” tanya Rae. Jawaban dari Frya hanyalah derai tawa.
“Tentu saja tidak. Tidurlah, besok adalah hari panjang untukmu,” kata Frya sambil menutup batu bercahaya.
Lama Rae duduk di sana. Sebelum akhirnya dia kembali berbaring di ranjangnya, dan menatap langit-langit kamarnya dalam waktu yang lama.
__ADS_1
***
Hawa dingin merayap di pundaknya, walaupum Musim dingin telah berlalu, malam musim semi telah tiba dan udara mulai menghangat, tapi tak cukup hangat untuk menghilangkan udara dingin malam ini. Entah mengapa ia duduk di sini dalam keheningan. Herados menyukai kegelapan yang melingkupinya. Kegelapan yang menenangkan hasratnya. Dia merindukan pedangnya, pedang itu terus saja menghantui pikiran-pikirannya, seperti kekasih yang di cintai. Herados menghela nafas. Taman ini terlalu kecil untuk terasa seperti hutan, tak cukup untuk membuat jiwanya merasa bebas, tetapi setidaknya ada pohon disini, dia ingin berlari di hutan. Bergelung di pepohonan, dan mendengar nyanyian malam. Untuk sementara dia akan di sini dan ini cukup baginya, tak masalah pikirnya masam.
Untuk kesekian kalinya pikiran kembali melantur, ke ruang penyimpanan ayahnya dimana pedangnya tergeletak sendirian. Sejak kapan dia memikirkan pedang yang sendirian, ah, apa dia sudah mulai gila. Dia benar-benar ingin mengambilnya, merasa tak lengkap tanpa pedang itu. Dulu dia tidak merasakannya tapi sekarang seakan dia tahu ada lubang aneh di tubuhnya yang hanya bisa di isi oleh pedang itu. Membuatnya merasa ngeri. Pedang itu membuatnya terobsesi, dan Herados membenci perasaan itu.
Kembali ke snitchopalace tidak membuat perasaan itu memudar, sudah hampir satu minggu dia kembali ke asrama ini, ikut kegiatan seperti para Svartálfar anak-anak lainnya. Kegiatan itu tidak mengalihkan pikirannya pada pedang Svartálfar . Itu hanya sebuah pedang, pikir Herados masam.
Dia ingin pulang dan menyentuh pedangnya, tapi ayahnya akan marah jika ia melakukannya, sial untuknya, sial untuk dunia disekitarnya, begitu dia memiliki pedang itu, takkan ada yang bisa memisahkannya dengan pedang itu. Herados menghela nafas, apa yang sedang ia pikirkan.
Lalu perasaan itu menerpanya, merayap mengelitik kulitnya, seseorang sedang mengawasinya. Herados mendongkak, dan di sanalah ia. Mata mereka bersitatap. Gadis manusia, pikirnya.
Jantung Herados seperti berhenti berdetak, mata gadis itu membiusnya. Sejenak Herados berhenti bernafas. Mengapa ia tinggal di salah satu asrama untuk para elf. Seharusnya dia tinggal dengan para penyihir tengih. Apa mereka sudah kekurangan ruangan untuk menampunya. Asrama Ljósálfar, Herados menyadarinya. Sudah lama tak ada yang tinggal disana. Siapa gadis itu.
Apa yang sedang dilakukan manusia itu disana. Dia berbicara dengan seseorang, tapi mata mereka tidak lepas. Herados ingin mendekat. Dia seperti tersihir olehnya. Herados mampu mengenali siluet wajahnya. Keuntungan menjadi seorang Svartálfar adalah dia memiliki mata yang tajam, mampu menembus kegelapan. Dan melintasi jarak. Apakah gadis manusia itu juga mampu melakukannya? Dia berbicara dengan seseorang, tapi matanya tak beralih darinya.
Orang yang di ajak bicara itu mendekat ke jendela. Ah… sang putri cahaya Frya. Dia sudah mau keluar dari hutannya yang aman rupanya. Apa yang dilakukan gadis itu bersama sang putri.
Ah, mungkin dia manusia peliharaan sang putri. Bukankah dia senang bergaul dengan manusia. Masih juga mencoba melihat kebaikan. Betapa idealisnya sang putri.
Tapi gadis itu memang menarik, mata gadis itu mengingatkanya pada kayu di hutanya. Coklat gelap dengan semburat warna merah, dia adalah milikku, milikku. Kau miliki. Pikir Herados lalu tersenyum pada gadis itu. Gadis itu menoleh pada sang putri cahaya. Saatnya untuk pergi pikir Herados.
Dia akan mencari tahu siapa gadis itu, tapi nanti. Untuk saat ini sebaiknya dia kembali ke dalam kastil. Hawa dingin sudah mulai menusuk-nusuknya. Herados merasa ringan. Tanpa ia sadari dia tak lagi memikirkan pedangnya.
__ADS_1