
“Halo” sapa Rae ceria saat menaiki undakan untuk memasuki ruangan, Rae mendapati sebuah ruang keluarga yang hangat, penuh dengan kursi-kursi lembut, beberapa rak buku tergantung di dinding, meninggatkan Rae pada perpustakaan Master Callimachus. Ada beberapa orang diruang itu, tersebar dengan posisi siaga, Memandang Rae dengan waspada, dan terkejut.
Tidak seluruhnya, Pangeran Zeine kalau ingatan Rae tak salah, menatap dengan geli. Sementara Denzel terlihat ingin membunuh Rae.
“Frya!” seru Denzel sengah membentak setngah bertanya, kepala Frya menyembul disamping Rae. “apa yang kau lakukan disini sepupu?”
“hai Denz,” sapa Frya ceria.
“bagaimana kau bisa masuk?” tuntut salah seorang anak perempuan yang ada disana, dilihat dari telinganya dia keturunan elf, dia hybrid seperti Rae. “Denzel sudah menguncinya.” Denzel memandangnya dengan raut tak senang.
“Jadi…” Rae hendak bicara.
“Kalian tak boleh ada disini. Keluar sekarang!” kata Denzel tegas.
“Ak…”
“Sekarang!” tegas Denzel sebelum Rae bahkan menyelesaikan satu kata.
“Ups, salam pembuka yang salah,” bisiknya pada Frya.
“Sudah kubilang, seharusnya kau mengetuk saja,” kata Frya mengingatkan.
“Begini,” Rae mulai lagi.
“Kau tidak dengar kataku. Keluar!”
“Okey, aku minta maaf karena membobol mantra pelindung pintumu, tuan tak mau dengar!” kata Rae cepat sambil berteriak. Sebal kata-katanya dipotong Denzel. “Tapi kau!” Rae menujuk Denzel dengan tegas. “Dan temanmu Pangeran Zeine. Kalian harus menemui Mounchi, se... ka… rang!” Rae menekankan setiap suku kata. “Permisi,” Rae menarik Frya keluar.
“Tunggu,” kata sang pangeran. “Maafkan temanku, kita belum berkenalan dengan sopan,” kata anak laki-laki itu dengan sopan. Paras eloknya lebih terlihat geli daripada marah.
“Perkenalkan Aku Pangeran Zeine, tapi kau bolehkah aku tahu siapamu cantik. Aku tentu saja sudah mengenal anda putri, sepertinya kita pernah bertemu,” katanya ramah sambil mengulurkan tangan. Perayu ulung putus Rae sambil memutar bolamatanya. Tapi tetap menerima uluran tangannya. Sekilah Rae melirih Frya dan dia mengacuhkan Zeine.
“Rae, suatu kehormatan bisa bertemu denganmu. Maafkan aku soal pintunya. Sungguh aku tidak kuasa menahan keinginan untuk memamerkan diri. Maafkan aku,” kata Rae dengan nada dibuat-buat.
Pangeran Zeine nyengir. “Permintaan maaf diterima,” kata Zeine.
Sekilah Rae memperhatikan semua orang disini adalah manusia dari penampilan mereka. Eh tidak dalam ruangan ini ada empat orang, hanya empat dan hanya ada satu wanita, dan dia adalah satu-satunya Ljósálfar di ruangan ini. Tapi dia tidak bercahaya mungkinkah dia seorang svartálfar.
“Enak saja,” kata Denzel dan wanita itu bersamaan. Denzel terlihat sebal ketika mengetahui bahwa ia bicara dengan kata-kata dan waktu yang sama dengannya. Cewek itu segera tersenyum malu-malu memuakkan.
“Aku kan sudah minta maaf,” kata Rae membela diri. “Dan lagi Master Mounchi memanggilmu. Sekarang ingat,” desaknya.
Denzel seakan bersiap membentaknya, lalu menghembuskan nafas.
“Mengapa Mounchi memanggil kami,” katanya kasar.
“Mana aku tahu,” jawab Rae acuh. Denzel menatap Frya. Frya hanya mengangkat bahu dibawah tatapan memperingatkan Rae.
“Di mana kami bisa menemuinya?” tanya Denzel sabar. Rae tau dia berusaha keras untuk melakukannya.
__ADS_1
“Di mana lagi. Kalau bukan di kantornya,” jawab Rae dengan mencemooh tak tahan untuk tidak mengoda anak laki-laki itu. Denzel siap meledak.
“Anak ini,” gerutu Denzel.
“Sekarang,” Rae mengarah tangannya ke pintu dengan posisi mempersilahkan. Denzel keluar di ikuti Pangeran Zeine, Rae dan Frya membuntut di belakang.
“Aku tak mengerti bagaimana kau bisa berteman dengan orang seperti itu?” celuntuk Rae sengaja agar di Denzel.
Frya hanya tertawa mendengarnya. “Seharusnya kau mengikuti saranku. Hanya mengetuk pintu.”
“Bukannya membobol mantranya,” tambah Frya ketika Rae hendak membuka mulut. Dia siap bilang dia sudah mengetuk pintunya. Rae nyengir. Tahu benar bahwa Frya benar.
“Tidak bisa menahan diri,” jawab Rae. Frya mengeleng kepala.
“Kau tau sebenarnya kau sendiri yang cari masalah,” katanya.
“Sekali lagi hanya mampu berkata kalau aku tak bisa menahan diri,” kata Rae membela diri.
Mereka tiba di depan kantor Mounchi. Zeine mengetuk lalu membuka pintu dan masuk. Denzel yang mengikui di belakang hendak menutup pintu ketika suara mounci terdengar.
“Di mana Rae?”
“Di sini Master,” Rae menyelinap masuk membiarkan Denzel tetap memegang pintu sehingga dia harus menutupnya untuk Rae. “Terimakasih,” kata Rae ceria. Frya tetap di luar.
“Bagus kalian di sini sekarang,” kata Mounchi.
“Duduk-duduk,” Master Mounchi melambaikan tangan dan sebuah kursi tambahan muncul. Rae mengambil tempat duduk terjauh.
“Tentu Master,” kata Rae ceria. Mounchi memandang Rae curiga. Rae memasang wajah tak bersalah.
“Apa yang baru saja kau lakukan Rae?” tanya Master Mounchi kalem.
“Tak ada,” jawab Rae terlalu cepat.
“Kenapa Master memanggil kami?” tanya Pangeran Zeine.
“Aku ingin memperkenalkan anggota baru di kelas kalian,” kata Mounchi.
“Rae –Master Mounchi mengibaskan tangannya pada Rae, akan bergabung dengan kalian mulai senen ini, jadi aku berharap kalian bisa membantunya menyesuaikan diri.”
Ah sungguh tampang murka Denzel merupakan hiburan yang sangat menarik. Zeine tertawa dan Mounchi terlihat binggung.
“Kau sungguh mengerjai kami,” kata Pangeran Zeine disela tawanya. Rae nyengir membalasnya.
“Apa yang dia lakukan sampai membuat Denzel begitu marah?” tanya Mounchi.
“Tidak ada Master sungguh,” kata Rae menyakinkan.
“Aku akan duduk saja Master kalau boleh, biar Pangeran Zeine yang menjelaskan,” tanpa menunggu jawaban Denzel melipat tangannya dan bersandar dengan santai, walaupun posturnya santai tapi raut mukanya memperlihatkan bahwa dia sedang marah.
__ADS_1
“Rae,” Zeine menujuk Rae. “Membobol mantra pengunci yang selalu Denzel letakkan di pintu Menara timur. Dan hanya memberitahukan kami kalau kami di panggil tanpa memberi tahu kami detail lainnya seperti alasan mengapa kami dipanggil ataupun keterlibatannya dalam hal itu.”
“Ah, aku mengerti sekarang. Sungguh bukan hal bijak menjadikan calon teman sekelasmu sebagai musuh Rae,” desah Mounchi. Rae diam saja.
“Bagaimana gadis ini bisa lulus seleksi kelas khsusus sementara ujian seleksi baru akan diadakan beberapa bulan lagi Master,” tanya Denzel akhirnya.
“Dengan mencoba membunuh seorang svartálfar,” celuntuk Rae.
Mounchi memandang Rae mengancam, “Apa kau belum menyadari kemampuannya Denzel. Setelah dia membobol mantramu?” tanya Mounchi. Keheningan menyusul setelah pernyataan Master Mounchi. Rae dapat melihat pengertian memasuki benak Denzel.
“Ah…” tiba-tiba Pangeran Zeine menuding Rae. “Aku tahu sekarang. Kau adalah gadis yang selalu berkelahi dengan sepupu Denzel.” Sepupu? Rae melihat Denzel memandang sebal pada Pangeran Zeine tapi diam saja.
“Kau,” Rae menujuk ke Denzel. “Sepupu Herados. Pantas saja kau bertemperamen sama seperti dia,” tuduh Rae.
“Sudah,” tegas Mounchi. Lalu tertawa geli, “Sampai kapan kau akan mengacaukannya Rae?” tanya Mounchi pada Rae. “Mantra apa yang kau gunakan untuk mengunci pintu Denzel?” Mounchi berbalik pada Denzel.
Denzel tidak menjawab dia hanya melengos tak acuh. Rae ingin bertepuk tangan untuk kelakuannya. Rae saja walaupun sangat suka membuat Mounchi marah tidak berani mengabaikan Masternya seperti itu.
Mounchi tidak mendesak. “Dan kau Rae, mantra apa yang kau gunakan untuk membuka pintu itu,” tanya Mounchi pada Rae.
“Api pemusnah sihir,” jawab Rae singkat. Sekarang perhatian Denzel terfokus pada Rae.
“Dan… darimana kau mempelajarinya jika kau baru satu tahun ini mempelajari sihir?” lanjut Mounchi.
“Sebuah buku yang saya baca di perpustakaan Snitchopalace beberapa waktu yang lalu,” jawab Rae hati-hati.
“Dan berapa kali kau melatihnya?” tanya Mounchi lagi.
“Baru mencoba tadi,” jawab Rae. Tampang Mounchi terlihat puas saja seakan jawaban Rae sudah menjelaskan segalanya.
“Jadi kau mewarisi tubuh manusia dan kekuatan sihir elf?” tanya Pangeran Zeine. Rae mengangkat bahu. Tidak menjawab ya ataupun tidak.
“Dan bagaimana itu menjadikan saya memiliki kualifikasi Master?” tanya Rae.
“Api pemusnah sihir adalah sihir yang sangat kuno, ya Rae kau mengunakan mantra kuno yang jarang di pakai, aku menyadarinya dan aku juga menyadarinya ketika kau berkelahi dengan Pangeran Herados, Mantra kuno merupakan Mantra yang paling sederhana tapi membutuhkan tekat yang kuat, pemahaman akan energi di sekitar dan energi sihir itu sendiri. Kau, Rae! Walaupun mampu melakukannya dengan baik membutuhkan guru yang tepat untuk mengembangkannya,” ketika mengatakan ini Master Mounchi menatap Denzel, dia melihat Denzel melengos. Tapi tak membantahnya.
“Aku takut kau akan mempelajarinya sendiri dan yang aku takutkan tanpa bimbingan yang tepat kau akan berjalan kearah yang salah.”
__ADS_1