
“Apa kau akan pernah berhenti membuatku kesal!” bentak sang raja. Rapat dewan telah usai, dan sang raja menahannya di hall bersama pamannya.
“Entahlah ayah,” jawab herados enteng, membuat wajah sang raja berkedut. Anaknya satu-satunya.
Pewarisnya...
Entah mengapa sepertinya telah memutuskan bahwa mempersulit hidupnya sebagai tujuan hidup. Dia menyerah, dia sudah tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan pada anaknya.
Sang raja menghela nafas.
“Ikuti aku!” perintahnya singkat. “Kau juga Holgafar,” kemudian berdiri dan melangkah ketengah hall, menunggu herados dan pamannya mengikuti.
Dia mengetukan tongkat tahtanya ke lantai beberapa kali. Beberapa saat kemudian suara rangkaian mekanik terdengar memenuhi ruangan. Simbol yang berada tepat di bawah mereka merekah membuka. Lantai di tengah ruangan bergerak turun. Membawa mereka turun ke ruang bawah tanah. Debu-debu berkelip ketika tertimpa cahaya.
Pintu itu membawa mereka ke dalam ruangan besar yang kosong dengan sebuah pintu usang di salah satu sisi ruangan.
***
Herados mengikuti ayahnya bersama sang paman. Labirin yang mereka lalui sangat panjang dan memiliki banyak persimpangan. Mereka terus berjalan hingga mereka berakhir di depan sebuah pintu kayu biasa. Sangat biasa, tapi Herados dapat merasakan bahwa pintu itu terkunci dengan sihir. Dari pancaran energinya Herados tahu bahwa segel sihirnya sangat kuat.
“Kalian berdua harus membuat janji sihir, sebelum kita masuk kedalam. Apapun yang kalian ketahui dari dalam ruang ini tidak akan pernah keluar dari ruangan ini,” kata sang Raja.
Sang Raja bersikap misterius. Herados penasaran tapi ia hanya memandang ayahnya acuh tak acuh. Dia sama sekali tak tertarik pada rahasia apapun yang ada dibalik kamar itu. Pamannya juga menunjukan tampang tak peduli, tapi dia lebih baik dari Herados, setidaknya pamannya mengulurkan tangan.
Ayahnya memandang tajam, hingga akhirnya Herados
mau tidak mau juga mengulurkan tangan. Begitu tangannya terjalin dengan sang paman, raja mulai mengucapkan mantra perjanjian. Suaranya yang dalam mengelegar di dalam ruangan.
“Dalam tangan yang saling terikat, kata memengukuhkan jalinan, Maka perjanjian pun kami buat. Hingga waktunya tiba, apapun yang ada dalam ruang ini harus tetap berada di dalamnya.”
Dari tangan mereka yang terjalin, Herados merasakan aliran energy merambat dan melingkar sepanjang lengan dari ujung jari hingga ke pangkal lengan. Dan menusuk jantungnya.
“Bagus,” kata sang raja kemudian membuka pintu itu, di dalamnya hanya ada sebuah ruang kosong. Dindingnya berupa batu bata polos. Dengan diagram bertuliskan nama, membentuk pohon keluarga. Saat Herados mendekat dia dapat membaca nama-nama leluhurnya.
__ADS_1
Herados mendengus. Jika hanya nama leluhurnya semua orang juga sudah tahu, tanpa perlu dia bicarakan, sungguh perjanjian sihir yang sia-sia, mengapa ayahnya harus membuatnya terasa seperti hal itu sangat rahasia.
Raja mengabaikan dengusan Herados, dia berdiri di depan silsilah keluarga kerajaan Svartálfar lalu mengetuk dalam urutan tertentu di setiap nama. Seketika dinding itu melipat, membuka sebuah lubang mengangah di tembok, di iringi getaran di kaki Herados. Seketika batu-batu cahaya menyala secara berurutan sampai ke ujung lorong. Mereka bertiga menelusuri lorong yang berakhir pada sebuah aula lebar. Aula itu kosong. Raja melintasi ruangan hingga sampai di tengah-tengah, kemudian berjongkok dan mengetuk lantai dengan tangannya, satu kali. Seketika lantai bergetar, dan lantai turun membentuk sebuah lubang kotak yang mengangah, batu-batu dibawah memposisikan diri membentuk sebuah tangga. Memberi aktraksi mengagumkan.
“Wow,” celuntuk Herados.
Mereka mengikuti raja menelusuri tangga melingkar. Di bawah ada sebuah ruangan yang berisi berbagai macam senjata. Tempat ini seperti sebuah tempat harta karun.
“Ayah aku sudah tahu kita memiliki banyak sekali senjata kuno. Dan semua orang juga sudah berspekulasi tentang hal ini. mengapa pula kita harus bersumpah. Konyol, aku juga tak mungkin menceritakan ruang rahasia ini kepada orang lain. Apa aku terlihat begitu bodoh, sehingga mau menujukan ruang hartaku pada pencuri, sekalian saja aku menjamu mereka di sini,” celuntuk Herados. Ayahnya kembali mengabaikannya. Lalu mengetuk dinding lain di salah satu sisi. Buku jarinya menyentuh beberapa tempat tertentu.
Ruangan itu bergetar, dan sebuah celah besar merekah dalam dinding.
Di dalamnya hanya ada satu meja batu, dengan bantal di atasnya. Bantal itu terbuat dari beludru berwarna merah. Dan Sebuah pedang tergeletak di sana, disinari oleh cahaya tanpa asal, yang menyorot dari atas langit-langit. Herados terpesona pada pedang itu.
“Wow, ayah. Ini baru yang namanya pedang yang sangat bagus,” celuntuk Herados.
“Apakah pedang ini pedang yang sama seperti yang ada dalam pikiranku?” tanya pamannya dengan suara tercekat. Sepertinya ia juga terpesona dengan pedang itu. “Benarkah ini, pedang Svartálfar yang ada dalam legenda itu. Aku tak mengira mereka tak berhasil membuatnya.”
“Dan kenapa kau memperlihatkan pedang ini kepadaku sekarang. Aku bukan penerus tahta kerajaanmu,” celuntuk Pangeran Holgafar.
“Kau memang bukan penerus kerjaan, tapi kau adalah penasehatku yang paling aku percaya. Aku merasa kau harus tahu tentang hal ini. Pedang ini dan pedang Ljósálfar. Mereka diciptakan di masa yang sama. Pedang Svartálfar diciptakan untuk menadingi kekuatan pedang Ljósálfar. Pedang ini adalah sejata terakhir kita. Jika pedang Ljósálfar tidak dapat kita kuasai, maka kita harus menghancurkannya dengan pedang ini. Selama pedang Ljósálfar tidak bersatu pedang Svartálfar bisa menghancurkannya.”
Pangeran Holgafar menganggukkan kepala. “Aku ingin kalian berdua mencoba pedang ini dan melihat apakah dia terikat pada salah satu dari kalian.”
Herados memandang pedang ini dengan perasaan aneh. Pedang ini seakan memanggilnya, menariknya untuk mendekat. Merayunya agar menyentuhnya. Herados melirik pamannya yang hanya terdiam.
“Dan bagaimana jika bukan salah satu dari kami yang terikat pada pedang itu?” tanya pamannya sesaat kemudian.
“Pedang ini hanya akan bereaksi pada anggota keluarga kerajaan Svartálfar. Jika bukan kalian, mungkin generasi setelah kalian. Kau coba dulu,” kata raja pada adiknya.
__ADS_1
Pangeran Holgafar diam sejenak, kemudian dengan tak acuh maju. Jemarinya yang panjang menyentuh pengangan pedang dengan mantab. “tidak terjadi apapun,” katanya lalu melepaskan pegangannya. “apa yang akan terjadi jika pedang ini menemukan pemiliknya?”
“Aku sendiri juga belum tahu,” kata sang Raja. “tapi pasti akan ada sesuatu yang terjadi ketika hal itu terjadi.”
“Baiklah, kini giliranku. Aku akan coba sekarang,” kata Herados ceria. Dia mengosok-gosokan kedua tangannya.
***
Sang raja terlihat tak terlalu berharap pada putranya. Sang adik walaupun dulu pernah mengecewakannya. Tapi sekarang dia telah membuktikan bahwa dirinya layak untuk dipercaya. Sungguh disayangkan ia menolak semua perjodohan yang disodorkan kepadanya. Jelas adiknya ini lebih menjanjikan daripada putranya yang suka bermain-main, dan yang sekarang ini terlihat sedang tersihir oleh pedang itu.
Sang Raja sendiri tidak pernah merasakan keinginan yang mendalam pada pedang itu. Dia percaya pedang itu memiliki kekuatan, tapi tidak pernah sekalipun terpesona seperti putranya saat ini. Mungkin itu berarti sesuatu.
Herados maju, jemarinya menelusuri mata pedang dengan santai, membelainya seperti seorang kekasih. Perlahan seakan menikmati momen itu tangan Herados mengengam pegangannya. Aliran energy merambat melalui jemarinya yang terjalin dipegangan pedang Svartálfar. Mengalir naik ke setiap senti tubuhnya, memenuhi dirinya dengan energy itu, membentuk selubung energy yang mengerakan udara di sekitar Herados. Anak rambut di sekitar wajah Herados berkibar. Dia nyengir pada ayahnya.
“Milikku ayah,” katanya puas. Sang raja menatap anaknya yang konyol itu dengan tatapan menilai. Lalu mengalihkan tatapan ke adiknya.
“Bagus Pangeran,” ucap Pangeran Holgafar, sambil tersenyum dan menepuk pundak Herados.
Sang raja mengeleng, jika memang anaknyalah yang ditakdirkan untuk membawa perubahan ini mungkin akan lebih baik. Walaupun sebenarnya dia lebih mempercayai adiknya.
“Bagus nak,” kata sang raja. Melihat pada anaknya yang tersihir kekhawatiran menghinggapi pikirannya. “Tapi kamu harus ingat, benda itu harus tetap disimpan disini, sampai kita tahu siapa yang terikat pada pedang Ljósálfar. Kau mengerti?” kata ayahnya.
Herados mencelos, dia tak ingin berpisah dengan mainan barunya. Dia menimang pedangnya dengan penuh kasih sayang. Dia tak mengerti mengapa pedang ini memilihnya, yang dia tahu pedang ini memanggilnya, dirinya.
“Tentu ayah,” kata Herados dengan berat hati.
“Segera setelah kita mengetahui siapa pemilik pedang Ljósálfar kita akan mengeluarkan, dan kau bisa benar-benar memiliki pedang itu lagi. saat waktunya telah tiba,” kata sang raja. Sang raja menatap wajah putranya yang terlihat mendamba. Jadi seperti itulah pedang itu mengikat seseorang, membuat orang yang terikat padanya tak ingin melepas pedang itu.
“Apa kau tahu artinya ini?” tanya sang raja sesaat kemudian. Herados mendongkak dan sebuah perasaan tak enak merambat di ulu hatinya. Dia tahu apa artinya ini, tanggung jawab mengulingkan kerajaan Ar’chismaytopia ada ditangannya. Pikiran itu membebaninya, bersama dengan terikatnya ia pada pedang Svartálfar itu juga berarti dia terikat pada tanggung jawab itu.
“Ya ayah,” jawabnya pelan.
__ADS_1