Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Master Azura


__ADS_3

Rae berdiri selama beberapa saat di depan pintu. Sebelum akhirnya mengetuk pintu kantor Mounchi dengan perlahan.


Pintu mengayun terbuka, seorang pria paruh baya berdiri di balik pintu. Penampilan pria itu terlihat mutahir dengan balutan jubah resmi seperti para penyihir ada umumnya. Senyumnya ramah, tapi Rae tidak merasakan kehangatan di sana. Rae mengangguk memberi salam. Pria itu menatap Rae beberapa saat, kemudian mempersilahkan Rae masuk.


“Terimakasih,” ucap Rae sopan, Master Mounchi duduk di belakang mejanya seperti sebelumnya, Pria itu keluar dan menutup pintu di belakangnya.


Mounchi tersenyum ramah, “duduklah Rae, sangat tepat waktu,” pujinya. “Okey, kita mulai saja ku rasa.” Lalu menyerahkan bulu padanya. “Kita bisa mulai dengan menerbangkan bulu ini,” katanya sederhana.  Master Mounchi memberinya sebuah mantra sederhana.


Ketika Rae mengucapkan mantra tersebut, tak terjadi apapun.


Master Mounchi membuka lacinya dan mengambil sebuah tongkat. Dia mempraktikan sebuah gerakan sebelum akhirnya memberikan tongkat itu pada Rae.


Rae mengikutinya, tak terjadi apapun juga.


“Mungkin kau terlalu gelisah Rae. Ayo kita coba beberapa kali, rasakan energimu dan raih. Gunakan energi itu untuk mengerakan bulu ini.”


Rae memejamkan matanya dan mulai merapalkan mantra, seperti yang dia lakukan di Celestia dengan Rae. Rae mencoba merasakan energi bulu di hadapannya, bulu itu mencual terbang.

__ADS_1


“Bagus Rae,” Mounchi bertepuk tangan. Rae menatapnya skeptic.


“Tak seperti yang kita harapkan, tapi kau punya potensi. Dan sepertinya kau hanya sedikit kesulitan dalam mempelajari sihir. Kita akan mulai dari dasar. Mari kita temui Master Azura.” Master Mounchi berdiri, Rae mengikutinya keluar ruangan. Menyusuri lorong snitchopalace yang sepi, suara langkah kaki mereka bergema memecah kesunyian.


Sebelum mereka berbelok ke kanan, Master Mounchi berkata, “Master Azura, adalah salah satu penyihir terbaik kami,” Master Mounchi menceritakan berbagai perghargaan yang sudah di pernah di dapat Master Azura, di ujung lorong, setelah melalui tiga pintu Master Mounchi berhenti di sebuah pintu kayu. Pintu-pintu itu terlihat sama. Rae bertanya-tanya bagaimana dia bisa membedakannya nanti, dan tidak tersesat.


Master Mounchi mengetuk pelan pintu didepannya, pintu itu mengayun terbuka. Seorang wanita muda dengan jubah panjang berwarna hijau tua tengah berdiri di ujung ruangan, dia membawa buku di tangan kirinya, rambutnya di gelung kecang dengan sangat rapi.


“Selamat siang Master Azura,” sapa Master Mounchi dengan ramah.


“Selamat siang, Master Mounchi,” jawab wanita itu datar sedikit kaku. “Dan apa yang membawa anda berkunjung ke kantorku yang sederhana ini Master?” mata Rae menjelajah ruangan itu. Dindingnya memiliki banyak sekali piagam yang di panjang dengan rapi. “Penyihir terbaik di bidang Rapalan, penyihir terbaik di bidang incatation, penghargaan di bidang ke pandaian. Dan berapa penghargaan lain. Rae tak tahu bahwa di tempat ini ada hal-hal semacam itu, dan Master Mounchi benar Master Azura mendapatkan banyak penghargaan, yah dinding nya sudah banyak bercerita.


“Salam Master,” ucap Rae.


Wanita itu mengangguk pelan. “Tentu Master,” jawabnya singkat. Dia menaruh bukunya, kemudian menatap Rae sejenak dengan sedikit raut heran di wajahnya.


“Baiklah, Rae aku akan meninggalkanmu disini. Aku harap kau belajar dengan baik. Master Azura adalah penyihir yang hebat. Kau pasti mampu belajar dengan cepat,” kata Master Mounchi. Dia kemudian mengundurkan diri meninggalkan Rae bersama Master Azura.

__ADS_1


“Rae?” Rae menangguk. “Mari kita lihat seberapa mahir sihirmu.” Lalu dia melakukan serangkaian tes pada Rae. Memilih beberapa mantra sederhana untuk di rapalkan oleh Rae.


Beberapa mantra itu tak menghasilkan sihir yang terbaik ketika Rae merapalkannya. menjelang makan siang Master Azura telah terlihat sangat frustasi. Dia membuka laci  mejanya dan mengambil sebuah buku tebal. Lalu menyerahkannya pada Rae.


“Kau bahkan tidak mengetahui mantra-mantra sederhana,” Master Azura tidak mengatakannya tapi dari wajahnya Rae bisa membacanya. Yang membuat Rae kagum Master Azura juga tak menanyakan bagaimana bisa Rae dengan umurnya yang tidak bisa di bilang muda tidak mampu melakukan mantra-mantra dasar.


“Kau harus menghapalkan 5 mantra setiap harinya, pelajaran kita akan dimulai setiap jam 8 pagi,” tanpa banyak bicara Master Azura menyuruhnya untuk pergi.


Rae antara sedikit shock dan heran dia keluar ruangan Master Azura membawa sebuah buku besar di tangannya. Dia merasa gagal.


Dengan sedikit melamun. Dia menatap bukunya. “Mantra dasar untuk pemula.” Tanpa sadar kakinya telah membawanya kembali ke kamar. Fhire tak terlihat di manapun, dia melepaskan tasnya, dan berbaring di ranjang. Lalu mulai membuka bukunya. Selama beberapa saat Rae membacanya sebelum akhirnya menyerah dan menaruh buku itu. Buku itu seperti kamus, dingin dan tak menarik. Rae menghela nafas. Dia menatap kamarnya, sejenak keluar Fhire keluar dari salah satu pintu. Semalam dia belum sempat menjelajah kamarnya. Dan pagi ini dia terlalu tergesa-gesa untuk menemui Mounchi. Fhire mengosok kepalanya ke kaki Rae. Rae meraupnya sambil mengelus kepala kucing itu berjalan ke arah datang nya si kucing.


Rae menemukan sebuah perpustakaan kecil di sana. Seperti ruang kerja. Rae menelusuri rak buku di dinding ruangan dengan buku-buku tua berjejer disana. Fhire mengeliat dan Rae membiarkannya meluncur turun. Jemarinya yang panjang menelusuri buku-buku tua di hadapannya satu persatu. Hingga dia menemukan sebuah buku yang menarik hatinya.


Sihir, hanya itu judulnya, terukir di atas punggung buku. Buku itu di sampul kulit tebal, berwarna merah bata. Rae menariknya, dan di sampulnya terlihat sebuah pentagram dengan simbol-simbol rumit terembos indah di sampul depan. Ketika jemarinya menelusurinya dan menyentuh symbol pentagram itu, sejenak Rae melihat pentagram itu berkilat. Begitu cepat sehingga membuat Rae tak yakin dia benar-benar melihatnya.


Rae membukanya, dan seakan terbius buku itu menarik dirinya. Rae tanpa sadar membawa kakinya duduk di kursi di belakang meja kerja, dan melupakan waktu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2