
Setelah menjabarkan jadwal pelajaran Rae, dan permintaan pada Pangeran Zeine dan Denzel untuk membimbing Rae, master Mounchi melepaskan mereka.
Latihan pedang dan latihan memanah, wow… Rae tak menyangka itu bagian dari jadwal hariannya.
Frya dan Fhire menunggunya di depan Ruangan, Fhire yang semula tengah mondar mandir di lorong langsung berlari kerah Rae dan menubruknya begitu melihatnya keluar dari ruangan. Rae terjatuh. Fhire menindih badannya dan menjilati wajahnya dengan antusias.
“Cukup Fhire,” katanya geli, menjauhkan kepala Fhire dari wajahnya.
“Dia gelisah sekali,” kata Frya.
“Kau tau aku diserang iya kan? Kau pasti khawatir sekali.” Sambil mengelus kedua telinga Fhire.
“Biarkan aku berdiri.” Fhire turun, ketika Rae berdiri dia tak membiarkan jauh. Terus mengesek kepalanya ke tubuh Rae. Dia semakin besar saja.
“Kau masih di sini Frya?” tanya Denzel.
“Iya,” jawab Frya singkat. “Ayo Rae,” mereka berlalu meninggalkan Denzel dan Zeine di belakang. Sementar Herados tak terlihat di manapun setelahnya.
***
“Mengapa kau tak bilang bahwa Denzel adalah sepupu Herados?” tanya Rae begitu ia kembali ke kamarnya. Frya milih duduk di kursi di bawah jendela, mulai membuat perhiasan dari logam. Rae duduk di sampingnya, diikuti Fhire duduk di sebelahnya dengan posisi terlentang tidak wajar. Kaki di atas perutnya terbuka tanda ia ingin perutnya di usap. Sementara kepalanya setengah berada di luar kursi. Matanya terpejam. Itu merupakan posisi favorit Fhire saat tidur akhir-akhir ini.
“Hanya tidak ada kesempatan untuk mengatakannya saja,” jawab Frya sambil lalu.
Rae mengangkat Fhire yang ternyata semakin berat dan mendudukannya di pangkuan. Sambil mengelus kepalannya. Fhire hanya menatap Rae sebentar dan kembali tidur.
“Apa kau tidak mau menjelaskannya padaku?” tanya Rae.
“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya Frya datar.
“Ah kau ini, Denzel…! Bagaimana bisa dia jadi sepupu Herados?” kata Rae tak sabar.
“Menurut rumor yang beredar ayah Denzel adalah pangeran Holgafar, adik kandung raja Bolgerfar, Raja Svartálfar yang juga merupakan ayah Herados. Tapi pangeran Horgafar tidak pernah mengakui hubungan mereka, tapi juga tidak pernah menyangkal. Jadi itu sudah jadi rahasia umum yang semua orang tahu, tapi tak mau mengakuinya. Sementara Denzel dan Herados sepertinya menjadikannya sebagai olok-olokan.”
“Wow, jadi Denzel itu setengah Svartálfar setengah Ljósálfar? Wow… padahal Herados bilang Svartálfar dan Ljósalfar tak bisa bersatu,” gerutu Rae.
“Dan bukankah memang seperti itu, Svartálfar dan Ljósálfar tidak bisa bersatu buktinya mereka tidak bersama sekarang. Dan Denz tidak di akui ayahnya.” Jadi Denzel tidak memiliki orang tua yang utuh, pikir benak Rae.
“Eh tapi Denzel terlihat sama manusianya dengan pangeran Zeine dan aku,” kata Rae yang sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut perihal hubungan pribadi orang tua Denzel karena merasa tak nyaman menanyakan pertanyaan pribadi seseorang. Elf tidak begitu suka membicarakan hal pribadi mereka.
“Karena dia memang bukan hanya setengah Ljósálfar setengah Svartálfar. Tapi dia juga memiliki darah manusia.”
Rae termenung mendengarnya. “Jadi ayah Denzel setengah manusia?” tanya Rae semakin penasaran.
__ADS_1
“Tidak, tidak,” kata Frya. “Ayahnya adalah bangsawan Svartálfar murni. Ibunyalah yang setengah Ljós.”
“Lalu bagaimana dia bisa menjadi sepupumu?” tanya Rae tak sabar.
“Ibunya satu ibu dengan ibuku.”
“Lalu darimana dia mendapatkan darah manusiannya?”
“Dari ibunya, aku sudah bilang kan,” kata Frya. Rae mengerang frustasi. Elf itu benar-benar membuat Rae frustasi kadang-kadang. Rae sadar Elf memiliki kebiasaan tidak suka bercerita panjang lebar. Membuat keinginan bergosip Rae tak terpenuhi.
“Ibu Denzel adalah adik dari ibuku, Kakek ku meninggal tiga ratus tahun yang lalu setelah nenekku melahirkan ibuku. Kemudian nenekku bertemu dengan penyihir bernama Albertorn dan melahirkan ibu Denzel.”
“Ah, aku paham sekarang.”
“Bagaimana dengan Pangeran Zeine? Kau tak begitu menyukainya,”
“Sulit melupakan fakta bahwa Dia adalah penyebap Ratu kami meninggalkan tahta,” jawab Frya.
“Apa maksudmu?”
Frya menghela nafas. “Zeine adalah putra raja Ar’chismaytopia Erlyn saat ini. Sang raja meninggalkan Ratu kami demi Svartálfar yang tengah mengandung putranya. Mengkhianati Ratu kami.”
“Yang benar saja, jadi raja meninggalkan wanita yang dicintainya demi seorang svart?” tanya Rae.
“Jangan lupa demi seorang wanita svart yang sedang mengandung,” koreksi Rae.
“Svartálfar itu disumpah Rae, dengan sihir. Dia tak bisa berbohong. Lagi pula Zeine terlalu mirip dengan Erlyn,” jawab Frya.
Rae terdiam, butuh berapa lama sebelum Zeine lahir sejak perpisahan raja dan ratu Ljós. Pasti ratu sangat sedih sekali. Rae mendapati dirinya merasa sangat kasihan pada sang ratu, pasti sangat menyakitkan, tak heran dia menghilang.
“Frya berapa umurmu?” tanya Rae tanpa berfikir.
“Hampir seratus lima puluh tahun,” jawab Frya ringan.
“Aku tak berfikir kau setua itu, kau tak terlihat setua itu, kau bahkan terlihat seumuran denganku, mungkin setaun atau dua tahun lebih tua dari ku.”
“Elf Ljósálfar dan Svartálfar di karuniai umur panjang Rae. Dan jika aku seumuran denganmu sekarang, aku akan terlihat di usia sekitar tujuh tahun jika itu umur manusia. Kehidupan Ljósalfar sangat lambat,”
“Bagaimana dengan Herados apakah dia setua dirimu?” tanya Rae.
“Nae dia lahir seratus tahun yang lalu.”
“Dia sudah setua itu,”
__ADS_1
“Pangeran Zeine juga?’
“Nae, dia benar-benar seumuranmu,” kata Frya. Ah Rae ingat Frya pernah mengatakan Sang ratu turun tahta karena seorang Svartálfar mengandung anak raja. Pangeran Zeine adalah anak itu.
“Bagaimana dengan Denzel?” tanya Rae.
“Dia hampir berusia dua puluh lima tahun, tahun ini.”
“Masih muda aku pikir dia akan seumuran denganmu,” kata Rae.
“Nae dia hybrid. Hybrid tidak hidup selama elf. Walau mereka mungkin bisa berumur lebih lama dari pada manusia. Tak ada yang pasti. Bisa ribuan, bisa puluhan tahun.”
“Selama itu,” pikir Rae sejenak. “Dan berapa lama elf bisa hidup?” tanya Rae.
“Kami immortal,” jawab Frya singkat menjelaskan segalanya, yang artinya dia bisa hidup selamanya.
“Kau tak bisa mati?” tanya Rae.
“Tentu saja bisa, ada penyakit yang tak bisa di sembuhkan, penyakit daging, luka yang tak bisa di sembuhkan, kutukan mematikan, ada banyak cara membunuh kami. Tapi jika kami tak mengalami nasib seperti itu kami bisa hidup selamanya,” kata Frya.
Rae melihat Frya dengan cara berbeda malam itu.
Pembicaraan mereka membuat Rae berfikir. Semua orang mampu menelusuri asal muasal mereka, Frya, pangeran Zeine, Herados, bahkan Denzel yang sepertinya tak diakui oleh ayahnya. Mereka tau asal usul mereka. Semua kecuali Rae.
Rae menggenggam pendalnya. Frya tak mengijinkannya untuk memperlihatkan pendal itu pada siapapun sampai ia tahu siapa dirinya.
Tapi … Akankah ia tahu…. siapa dirinya?
__ADS_1