
Rae hampir saja tertidur ketika tiba-tiba kucingnya berdiri dengan posisi tegang dan mendesis, suara langkah kaki terdengar gaduh, bergemuruh mendekati kamar mereka.
Frya dengan cepat menganti gaun tidurnya, lalu membantu Rae berpakaian dengan sihir. Sesaat kemudian pintu kamar mereka digedor dengan kasar.
“Keluar!” raung seorang diri luar.
Frya yang berdiri dan membuka pintu dengan kasar, amarah berkorbar di matanya. Rae tak akan mau menjadi siapapun yang ada di balik pintu itu.
“Ada urusan kalian!” katanya dengan suara dingin. Di balik pintu itu beberapa makhluk berdiri, seorang kurcaci, dua orang penyihir dekil dan seekor centaurus. Mereka berdiri dalam posisi menyerang. Bau alkohol menguar dari mulut mereka.
“Apa maumu datang di desa kami. Jika kau berniat untuk menyakiti salah satu penduduk kami. Kau harus melewati kami,” kata salah seorang dari penyihir.
Rae memandang gerombolan di depannya dengan wajah pura-pura berani.
“Aku lihat disini, kalian lah yang memiliki niat menyakiti kami,” kata Frya enteng.
Mereka kalah jumlah pikir Rae, berdiri disamping Frya seakan dia mampu melakukan sihir seperti halnya mereka. Dia belum bisa, itu lah masalahnya. Dan dia takut.
“Jangan bohong Ljó. Kalian pasti mempermainkan kami,” kata penyihir yang lain. tubuhnya yang gempal bergoyang ketika ia berbicara.
“Kami akan melindungi anak-anak kami,” kata si centaurus sambil menangkat kampaknya.
Si pemilik penginapan tergopoh-gopoh berlari di belakang.
“Kami hanya ingin menginap malam ini,” Frya tajam. “ dengan tenang.”
__ADS_1
“Maafkan kami miss,” katanya dengan nada gemetar.
“Apa yang kalian pikirkan,” bisiknya pada penduduk desa.
“Dia akan memakan anak-anak kita, kenapa kau membiarkan mereka menginap disini.” Frya memutar matanya.
“Diam, kau bodoh!” bentak si pemilik penginapan. “Cepat turun. Ayo!” dia mendorong rombongan di depan mereka.
“Maafkan kami Nona,” kata si pemilik penginapan pada mereka. “Cepat-cepat!” dia terus mendorong rombongan itu, yang dengan marah menolak untuk pergi.
Frya mengeleng kepala dan menutup pintu. Sekali lagi memantrainya dengan sihir.
Rae meraup kucingnya yang berdiri dihadapannya dengan posisi waspada, “Apa kita akan baik-baik saja?” tanya Rae sambil memandang pintu. Suara gaduh masih terdengar di luar.
***
Rae tak bisa tidur semalaman, dan suasana tak berubah ketika mereka sarapan, ketegangan menjangkit seluruh ruangan. Beberapa orang yang ada diruang makan terus memandangi Frya dengan tatapan waspada.
“Apa kau sekarang mulai menyadari bahwa aku menakutkan Rae,” kata Frya geli. Dengan kalem dia tetap memakan sarapannya.
“Tidak,” kata Rae cepat terlalu cepat.
“Aku tak tahu bahwa kejadiannya akan seburuk ini. Akan sangat sulit membuat keadaan menjadi normal sekarang. Aku tak menyadari jika tujuh belas tahun, adalah waktu yang sangat lama.”
Mereka meneruskan perjalanan segera. Frya membayar penginapannya dengan koin emas, yang di terima oleh pemilik penginapan dengan tatapan curiga. Dia terlihat begitu lega melihat kepergian mereka.
__ADS_1
Frya memutuskan untuk menghindari desa-desa selanjutnya, hanya melewati tanpa berhenti lagi. setiap kali mereka bertemu penduduk desa Rae dapat melihat ketakutan di wajah mereka. Mereka memandang Frya dengan tatapan waspada. Sementara itu wajah Frya terlihat datar tak terganggu. Mereka terpaksa makan siang di sebuah tanah lapang.
“Apa yang terjadi hingga mereka berfikir kalian menakutkan?” tanya Rae hati-hati.
“Selain bahwa kami memasang bendera perang, dan menutup hutan kami bagi penyihir?” tanya Frya kembali.
Rae menangguk, “tak mungkin mereka akan begitu ketakutan hanya karena kalian tak membiarkan mereka memasuki property kalian,” kata Rae sangsi.
“Aku tak tahu pasti, rumor berkembang, dan manusia memiliki ingatan yang sangat pendek seperti umur mereka, kebaikan menghilang dengan cepat di gantikan prasangka.”
“Setelah melewati gunung itu kita akan sampai di Snitchopalace. Ingat apa yang telah kita bahas sebelumnya, jangan pernah mengungkapkan siapa dirimu sebenarnya, orang-orang mungkin takkan bertanya-tanya, tapi untuk berjaga-jaga bilang saja bahwa Orang tuamu hidup mengasingkan diri di hutan Reokwood yang paling dalam jauh sebelum para Ljósaflar menarik diri eshingga mereka tak mengetahui situasi Ar’chismaytopia yang terakhir.”
Rae menanguk.
“Aku tak ingin ada perhatian tertuju padamu, dan mungkin para penculikmu masih menginginkanmu kembali.”
Sekali lagi Rae mengangguk menyadari, dan merekapun melanjutkan perjalanan.
__ADS_1