Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Senjata Terbaik dan Ilmu pedang


__ADS_3

“Kau benar,” kata Frya akhirnya. Rae menarik nafas lega. “Darimana kau belajar trik itu?” tanya Frya beberapa saat.  Rae lalu menceritakan apa dan bagaimana ide itu muncul di benaknya.


“Karena Herados?” kata Frya akhirnya. Fhire muncul dan mendekat pada Rae, mengusap kepalanya ke betisnya. Rae mengangguk, Dia tak menyadari bahwa kucing tumbuh dengan begitu cepat.


“Ayo lanjutkan lagi, kau tetap belum berhasil mendarat dengan sempurna,” kata Frya.


Rae meninggalkan Fhire dan mulai berlatih kembali, kali ini ototnya tak terlalu sakit, tapi Rae merasa lemas sesudahnya. Setelah dua percobaan selanjutnya Rae berhasil mendarat sempurna di atas dahan.


“Bagus Rae,” kata Frya ketika Rae mendarat sempurna di hadapnya, setelah meluncur dari ketingian hampir lima meter. “Besok kita tidak akan lagi berlatih memanjat di sini, kita akan menjelajah hutan tapi dengan cara yang lebih extreme dari sekedar berjalan atau berlali.”


“Besok Master Azura tidak bisa mengajarku, jadi mungkin kita bisa mulai dari pagi,” kata Rae. Dia senang karena terbebas dari kelas Master Azura.


“Nae, aku masih ada urusan hingga setelah makan siang.”


“Okey,” Rae sedikit kecewa. Rae meraup Fhire dan merasakan beban Fhire yang lebih dari sebelumnya, dia melepaskannya lagi, dan membiarkan Fhire mengikuti dari belakang ketika mereka kembali ke kamar.


 


 


***


Rae tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah sarapan, kucingnya telah menghilang setelah menghabiskan susu paginya. Itulah sebabnya mengapa kakinya membawanya menjelajah kastil. Rae tak pernah melakukannya sebelumnya, Frya selalu memberinya kesibukan, atau dia terlalu sibuk mempersiapkan diri untuk kelasnya. Rae menelusuri lorong kastil. Rae menangguk pada beberapa penyihir yang berpapasan di jalan. Mereka pemandangan yang menarik, Rae seperti dibawa ke dunia yang ada di film, film fantasi lebih tepatnya. Dia berhenti di sebuah lorong dan memandangi lukisan yang ada di lorong itu. Lukisan itu membuatnya terpesona, lukisan itu bergerak, bercerita tentang perang besar. Setelah beberapa saat lukisan itu mengulangi gerakannya. Seperti gambar animasi pikir Rae.


Rae berpindah, dia menemukan perpustakaannya akhirnya. Di pintu masuk seorang penyihir duduk di belakang meja reseptionis, dia adalah pria paruh baya dengan jangut putih pendek menutupi wajahnya yang oval berkerut. Penyihir itu melambaikan tangannya ketika Rae hendak masuk. Pria itu tidak mengenakan jubah, dia hanya mengenakan kemeja putih bersih yang lenganya di gulung sampai ke siku dengan rapi. Matanya berwarna abu-abu terang, terlihat cerdas.


“Aku belum pernah melihatmu,” kata pria itu.


“Aku belum lama masuk sini,” Rae mendekat.


“Hybrid?” tanyanya. Rae mengangguk. “Well, jika mendaftar kau bisa pinjam buku di sini,” pria itu mulai menjelaskan . “Rentang waktu peminjaman satu minggu, jika dalam waktu satu minggu tidak di kembalikan bukunya akan secara otomatis kembali kemari, jika itu terjadi kau tak bisa lagi meminjam buku di sini setelahnya.” Pria itu berbicara dengan nada tenang yang menyenangkan untuk didenger.


“Jadi, apa kau mau daftar?” tanya pria itu, Rae menangguk. Pria itu menarik sebuah perkamen dan menyerahkan pena bulu kepada Rae. “Tulis namamu disini, lalu tanda tangan di sini,” kata pria itu sambil menujuk tempat Rae harus menuliskan nama dan tanda tangannya.


Ketika Rae mengisi formulir itu dia merasakan sihir mengalir dari tubuhnya.


“Rae,” kata pria itu membaca formulir yang di serahkan Rae. “Kau boleh masuk sekarang.”


“Maaf, mungkin terdengar tak sopan, tapi saya belum tahu nama anda, Master?”


“Callimachus, tapi jangan panggil aku Master. Aku bukan Master,” katanya.


Rae tersenyum. “termakasih Master Callimachus.”


“Tidak Rae, bukan Master,” koreksi pria itu. Rae tersenyum dan berlalu masuk ke perpustakaan. Perpustakan itu besar, benar-benar besar, begitu masuk Rae menemukan rak rak tinggi hingga langit-langit dan buku-buku berjajar rapi. Rae menatap terpesona.

__ADS_1


“Terimakasih,” bisik Master Callimachus berdiri di sampingnya, jelas merasa bangga melihat tatapan terpesona Rae pada koleksi perpustakaannya. Rae menoleh dan tersenyum. Suara Master Callimachus sangat tenang dan menyenangkan untuk di dengar.  Master Callimachus tersenyum. “Apa kau tau apa yang sedang kau cari?” tanyanya kalem masih sambil berbisik.


“Entahlah,” Rae mengeleng. “Aku hanya selalu suka perpustakaan,” kata Rae. “Di sini terletak kekuatan paling hebat yang ada di dunia,” kata Rae dengan nada di lebih-lebihkan.


“Ilmu pengetahuan?” kata Master Callimachus. Rae mengangguk. Senyum Master Callimachus menghangatkan Rae. “Kalau begitu, ayo, aku akan membawamu untuk tur ke dalam perpustakan terbesar di Archismaytopia.” Master Callimachus menawarkan lengannya. Lalu mengajaknya berkeliling, dan menjelaskan setiap bagian.


***


Rae menghabiskan setengah hari di perpustakan itu, tapi tak meminjam buku apapun.


“Tak meminjam buku Rae?” tanya Master Callimachus ketika Rae pamit padanya.


“Nae Master, selamat siang.” Kata Rae sambil melemparkan senyum termanisnya. Master Callimachus membuatnya ingin melakukan hal manis.


Rae kembali ke kamar untuk mengambil busur.


Untuk ke ruang makan Rae harus melalui taman, dengan terburu-buru Rae melintasinya. Herdos tiba-tiba muncul dihadapannya, menghalangi langkah Rae.


“Apa?” bentak Rae tak sabar, senyum menyebalkan menghias wajah svártálfar itu.


“Ck… ck… ck….” Herados berdecak tak sabar. “Lama tak jumpa hybrid, tidak kah kau senang melihatku?”


“Mengapa aku harus?” kata Rae acuh.


“Memanah?” kata Herados. Rae ingin sekali menghapus senyum di wajah Herados.


“Kau tak lagi berlatih menjadi monyet?” Herados telah berbalik, Rae berhenti tepat di sampingnya dan menatap Herados dengan sengit. Senyum Herados yang mempesona tak menghilang dari wajahnya. Rae benci sekaligus terpesona karenanya.


“Ck… ck… ck…. Kau tau apa yang perlu kau belajari?” kata Herados, Rae hanya memandangnya dengan tatapan tak tertarik dan terus berjalan. “Kau harus berlatih bermain pedang,” kata Herados expresif. “Seperti ini,” tiba-tiba Herados mengeluarkan pedangnya dan mengayunkannya pada Rae. Rae tak sempat menghindar dia hanya sempat berteriak, “Barier,” dan mengunakan busurnya untuk menangkis pedang Herados.


“Apa aku melihatmu menyerang temanku pangeran?” tanya Frya. Rasa lega mengalir di tubuh Rae begitu mendengar suara Frya di dekatnya. Rae tak melihat dari mana datangnya elf itu, ia tiba-tiba saja muncul di sampingnya.


“Hanya main-main putri,” kata Herados sambil menyarungkan kembali pedangnya dengan kalem. “Mungkin,” kata Herados kemudian dengan senyum jahat. “Mau aku ajari teknik pedang?” katanya pada Rae. Rae mengabaikannya.


“Ajari dia bermain pedang putri, lain kali mungkin aku tidak main-main!” perintah Herados lebih seperti ancaman. Rae menoleh dan mendelik padanya dan melihat Herados tengah membelai pedangnya dengan mesrah.


“Ayo fry,” Rae menarik Fyra menjauh dari Herados sebelum dia melakukan hal lain.


“Kau tahu, Herados ada benar,” kata Frya ketika mereka makan. Kucingnya muncul di ruang makan. Segera sebuah mangkuk penuh susu muncul di bawah kaki Rae. pemandangan yang dulu membuat Rae kagum tapi sekarang sudah mulai menjadi hal biasa.


“Apa yang benar?” tanya Rae tajam, mendongkak  ke arah Frya dengan curiga.


“Berlatih pedang, aku tak pernah memikirkannya,” dengan nada Frya mengantung. Rae menunggu Frya melanjutkan.


Setelah beberapa saat, akhirnya dia tak sabar. “Apa?”

__ADS_1


“Aku akan mengajarimu teknik pedang hari ini,” putus Frya.


“Eh,” Rae tersedak anggur yang di kunyahnya. Fhire yang menjilati susu di bawahnya berhenti menelengkan kepala natap Rae yang terbatuk. Hanya sejenak sebelum akhirnya dia kembali asik menjilati susunya mengacuhkan Rae yang terbatuk-batuk. Frya menepuk pungungnya.


“Ayo, selesaikan makan siangmu. Kita harus bekerja keras. Lupakan busurmu hari ini,” Frya mengambil busurnya lalu merapalkan sebuah mantra, busur itu melesat kemudian menghilang.


“Bukankah kita akan menjelaah hutan?” protes Rae.


“Ya, dan berlatih pedang,” Frya merapalkan mantra dan makan siang mereka menghilang seketika. Rae menatapnya dengan terpana. Fhire mendengking marah melihat mangkuk susunya yang masih sedikit menghilang dari hadapannya. Dia menoleh pada Frya dengan tatapan mencela.


Frya mengacuhkan tatapan kucing Rae, sejenak kemudian Frya merapalkan mantra lagi, dan sepasang pedang muncul di hadapannya. Frya berputar dan menangkapnya dengan anggun.


Frya bergegas ke arah hutan meninggalkan makan siang mereka. Mereka berhenti berdiri di tepi hutan.


“Kita harus lebih cepat sampai ke tempat kita biasa berlatih. Bagaimana jika kau coba kejar aku?’ kata Frya lalu tanpa peringatan mulai berlari.


“Ya...!” Rae shock melihatnya melesat dengan cepat. “Tunggu aku!” ia mulai berlari mengejar Frya.  Elf itu bergerak gesit di antara pepohonan, kakinya lincah bergerak, seakan memiliki mata tersendiri. Rae berlari dan hampir terjerambat jatuh ketika kakinya tersandung akar pohon.  Rae berkelit gesit.


“Gunakan imajenasimu Rae,” teriak Frya suaranya bergema di seluruh penjuru ruangan. Elf itu telah berada jauh di depan.


Frya meloncat mengapai sebuah dahan pohon, lalu mengayunkan tubuhnya dan meloncat ke pohon lain. Gerakananya angun hampir terlihat seperti terbang melesat di udara.


Rae mengibaskan kepalanya frustasi. Belum pernah dia melihat elf itu bertingkah sedemikian bersemangat.


“Udara ikuti perintah pikiranku,” Rae mengulangi perintahnya. Ia memikirkan udara mendorongnya, Rae berhasil melompat lebih tinggi.


Dia berhasil sampai ke tempat latihan memanah mereka yang biasa dalam jangka waktu setengah dari waktu biasa ia gunakan. Frya telah menunggunya di pinggir kolam. Tangannya di taruh di belakan pungungnya. Dia berbalik ketika Rae keluar dari rindangnya pepohonan, nafasnya tersengal memburu. Tangan kanannya bertumpu pada pohon, sementara tangan kirinya di tumpukan pada paha.


Dengan terhuyung dia mendekat, tanpa menunggu Rae mengumpulkan nafasnya Frya melempar salah satu pedang yang di pegangnya, yang dengan sigap berhasil Rae tangkap meski nafasnya masih memburu, tangan Rae mengengam tepat di pangkal sarung pedang, yang terbuat dari berbahan kulit.


Pedang itu cukup berat di gengaman Rae. Ia segera melepaskan sarungnya.


“Saat bertarung mengunakan pedang, caramu berdiri, bergerak dan memegang senjata menentukan seberapa banyak control yang kamu milik, seberapa cepat kamu bergerak dan seberapa cepat kamu kelelahan. Kau harus berdiri dnegan kaki selebar bahu, kaki utama,” Frya menunjukan kaki yang sejajar dengan tangan yang memgang pedang. “Kaki yang sama dengan tangan yang kau gunakan untuk memegang pedang sedikit ke depan, Relax Rae, berdiri dengan telapak kaki sebagai tumpuan, dan lutut sedikit di tekuk. Posisi ini mudah dipertahankan dan menjaga pusat grafitasimu tetap rendah dan terpusat, menjagamu tetap seimbang saat bergerak,” Rae mengikuti instruksi Rae.


Frya mengacungkan tangan yang memegang pedang. “Pusatkan pegangan mengunakan jempol dan dua jari pertama, dua jari selanjutnya lingkarkan dengan posisi lebih longar, pergelangan tangan relax dan segaris dengan lengan, sesuaikan sudut tanganmu dan sendi, rasakan berat dari pedang itu di ambil alih oleh otot tricep,” Frya menuju bagian dalam lengan Rae. “Kau takkan mudah lelah jika mengunakan otot ini sebagai tumpuan beban. Sekarang serang aku,” kata Frya. Rae mengibaskan pedangnya, Frya menangkisnya dengan mudah.


“Gunakan gerakan kecil pada siku atau bahu untuk mengerakan pusat keseimbangannya Rae!” Frya berteriak.  “Serang,” perintah Frya. Suara besi beradu terdengar membelah hutan. Berdenting dengan suara memekakan.


Frya terus mengempur Rae. melatihnya berbagai gerakan dan cara untuk menangkisnya. Dia tak mengendurkan latihanya meski Rae sudah mulai kelelahan.


Mereka berlatih hingga langit merekah merah membara dan kembali untuk makan malam.


 


Hi reader..... salam kenal. Aku harap kalian menyukai petualangan Rae. please untuk kasih like dan komen ya.. Aku tunggu feed back kalian jadi aku bisa terus semangat untuk melanjutkan karya ini.

__ADS_1


Terimakasih untuk yang sudah baca.


__ADS_2