Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Berkelahi


__ADS_3

Musim panas datang menyapa perlahan, hari-hari yang sejuk mulai tergantikan, bunga-bunga musim panas mulai merekah indah menghiasai taman. Rae perlu menyelamati dirinya sendiri, dia berhasil menghindari Herados dengan sangat baik. Dia telah mengembangkannya menjadi seni. Yang harus Rae akui itu bukan hal yang mudah, Dia hanya harus menghindari lapangan berlatih dengan begitu latihan fisiknya jadi berkurang,


Frya menyuruhnya berlatih menarik busurnya setiap hari sebagai gantinya ketika Frya sedang berpergian. Dia harus menghindari ruang makan alhasil dia harus mengendap-endap setiap kali makan siang, memastikan Herados tidak di sana, mengambil apapun yang bisa langsung dia makan dan melesat pergi secepatnya. Hanya keluar untuk ke kelas Master Azura, dan melesat ke kantor Master Mounchi untuk menyerahkan tugasnya, yang ternyata butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan semua rangkuman perang itu.


Sejarah perang Elf ternyata banyak sekali, dari mulai karena hal kecil seperti perseteruan sederhana perebutan pohon, yang menurut Rae konyol dan menyebapkan masalah perang besar antara dark elf dan kaum kurcaci, hingga perebutan daerah dan yang paling menakutkan adalah perang besar yang antara Ljósaflar, Svártálfar dan Penyihir yang hampir memusnahkan seluruh daratan Ar’chismaytopia, hanya karena hal sepele pula, karena seluruh ras merasa diri mereka lebih baik dari yang lain. Menjatuhkan kekuasaan Svártálfar yang saat itu menjadi penguasa tertinggi di Ar’chismaytopia.


Jadi ketika Frya sedang melakukan tugasnya yang entah apa itu, karena ketika Rae bertanya dia hanya menjawab, tugas diplomat seperti biasa, yang bisa Rae lakukan untuk menghabiskan waktunya dan bersembunyi dengan baik. Dan satu-satu cara paling baik untuk bersembunyi adalah dengan pergi ke perpustakaan Snitchopalace. Jelas Herados tidak akan menyentuh tempat itu, Herados takkan berfikir pula jika dia akan berada di tempat itu. Hal itu menjadikannya tempat yang cocok untuk bersembunyi. Dan Rae berhasil mengembangkan ilmu sihirnya berkat bantuan Master Callimachus, dia memberikan Rae buku mantra yang lebih mudah Rae mengerti, instruksi lengkap dan penjelasan detail. Dengan catatan “Tak ada sihir di perpustakaan ini, selain untuk mengambil buku dari rak yang paling tinggi, atau untuk mencatat, api dan air, serta pusaran angin yang terlalu kuat tidak diijinkan.” Dengan nada rendah yang menenangkan seperti biasa. Alhasil Master Azura tidak lagi memberengut, setidaknya tidak terlalu sering.


 


 


***


Hari itu hari yang cerah, Rae selalu mendapat hari libur untuk istirahat setiap minggunya, dua hari, sabtu dan minggu, seperti di dunia luar. Dan hari itu adalah hari sabtu yang cerah, Matahari musim panas bersinar terang, Musim panas mengingatkan Rae pada pantai, dulu dia sering kepantai. Setelah seminggu lagi terkurung di dalam kastil, bersembunyi dari Herados dia bosan tengah mati.


Frya merasa kasihan padanya. Sehingga dia tidak mengajaknya berlatih, biasanya. Dia mengunakan akhir pekan seperti ini untuk berlatih. Karena hari libur seperti ini adalah satu-satunya hari di mana Frya memiliki waktu luang.


Ljósáflar itu memutuskan untuk mengajak Rae bersantai di bawah pohon beech. Rae membawa buku sihirnya bersial dengan santai sambil membaca, “kesukaanmu pada buku sungguh sangat kontras dengan kepribadianmu yang lain Rae,” celuntuk Frya.


Frya duduk sambil membuat kerajinan tangan dari logam. Dia bernyanyi dan memijat logamnya seperti bermain dengan clay. Rae kagum bagaimana elf itu bisa membentuk logam yang sangat keras hanya dengan jari-jarinya dan jangan lupakan nyanyian.


“Emmm, apanya yang kontras Fry?” tanya Rae tetap tak mendongkak dari bukumu.


“Kau menodai profesi kutu buku,” celuntuk Frya sekenanya. Rae tertawa mendengarnya. Lalu menutup bukunya. “Kenapa kau bilang begitu,” tanyanya.


“Kau tak terlihat seperti kutu buku sama sekali,” kata Frya.


“Kau sedang bosan ya?” tanya Rae.

__ADS_1


Frya mengangkat bahu. Tiba-tiba Rae merasakannya, rasa tergelitik di punggungnya, Rae mulai memiliki kemampuan itu, dia dapat mendeteksi bahaya yang mengancamnya. Insting ini tumbuh dan menguat sejak dia sering berkelahi dengan Herados.


Rae segera membentengi tubuhnya dengan mantra pelindung. Rae mengumahkan mantranya, tangan kanannya mengengam pergelangan tangan kirinya. Dia merasakan sensasi tergelitik di tangannya. Tiba-tiba nafas Rae mulai tersengal, mantra itu menyedot sebagian tenaganya seketika.


Detik berikutnya Rae merasakan benturan menghantam perisainya, seluruh udara di paru-parunya keluar, seakan seseorang mengebuk dadanya.


Di kejauhan ia mendengar suara seseorang terlempar dengan suara gedebuk pelan. Rae memandang Frya dengan tatapan menuduh, dia membiarkan Herados menyelinap, Hanya ada satu orang yang akan dengan iseng menyerangnya, Frya hanya mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.


Rae berdiri, berputar untuk melihat apa yang terjadi dengan penyerangnya. Rae nyengir mendapati Herados terpental jauh. Berusaha berdiri dengan raut muka memberengut.


“Sangat tidak sopan mengendap-endap di belakang orang. Apa kau tahu itu Pangeran?” tanya Rae kalem.


“Herados,” kata Herados mengkoreksi panggilan Rae. “Reflekmu semakin hari semakin bagus saja Hybrid,” celuntuknya, saat bangkit dan mengibaskan kotoran yang tak tampak pada bajunya.


“Terimakasih,” jawab Rae sekenanya.


“Kau tahu, aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi padamu.”


“Selamat pagi,” kata Rae dengan nada mengucapkan salam yang paling ramah. “Itu baru yang aku sebut sebagai ucapan selamat pagi. Apa kau tak tahu itu Pangeran!” Rae dengan sengaja mengucapkan kata pangeran dengan tekanan, senang melihat raut muka Herados memberengut sebal. “Aku heran bagaimana populasi Snitchopalace tetap bertahan melihat caramu mengucapkan selamat pagi.”


Herados hanya nyengir sebagai jawaban. Dia mulai berjalan mendekati Rae. “Hanya padamu Rae, hanya padamu. Aku ingin menujukan sesuatu padamu,” kata Herados ceria.


“Aku tidak tertarik,” tungkas Rae.


“Ayolah Rae, aku baru saja mempelajari tehnik baru. Apa kau mau mencobanya?” tanya Herados seperti menawarkan makanan pada Rae, tak mengubris jawaban Rae.


“tidak, terimakasih,” jawab Rae tak acuh. Tapi dia menyiapkan diri menahan serangan.


Herados merapalkan mantra, perlahan-lahan mendekati Rae sambil mengeluarkan pedangnya, Rae samar-samar mendengar mantra itu dan tidak mengenali mantra yang sedang dirapalkan Herados.

__ADS_1


“Gunakan pedang Rae!” teriak Frya memperingatkan, dia melemparkan pedangnya pada Rae, yang di tangkap Rae dengan sigap. Ada nada khawatir dalam suaranya. Dengan cekatan Rae menangkapnya.


Herados menyabetkan pedangnya pada Rae, dengan segera Rae menangkisnya. Suara berdesing membelah udara, logam beradu logam berdenting memekakan telinga. Herados adalah pemain pedang yang handal, Rae baru menyadarnya, dia pernah dua kali mengeluarkan pedangnya, dulu, dulu sekali. Dan permainan pedangnya saat itu hanya main-main jika dibandingkan sekarang. Herados sepertinya benar-benar mengerahkan kekuatan dan keahliannya. Dalam beberapa detik dia tahu dia akan kalah.


“Apa masalahmu!” raung Rae, di tengah gempuran Herados. Ia mulai merapalkan mantra perlindungan, dan satu persatu mampu ditembus Herados.


Herados hanya tersenyum sebagai jawaban seakan menikmati kemarahan Rae. Posisi mereka segera berubah, Rae tidak lagi dalam posisi bertahan, tapi menjadi penyerang.


“Jika ini ekspersi rindumu pangeran, sungguh aku tidak tersanjung,” kata Rae bengis.


“Kau tak seharusnya menghindari aku Rae!” kata Herados santai, membuat amarah Rae berkorbar.


“Itu… bukan uru… sanmu…,” kata Rae menekankan setiap kata di setiap tebasan pedangnya. Mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan Herados.


Di sisi lain Herados bahkan tak terlihat berusah payah sama sekali menangkis serangan Rae. Dia mengibaskan pedangnya seperti menangkis serangan kupu-kupu.


Dengan cepat Rae kewalahan. Lalu Herados memutar pedangnya ke bawah pedang Rae dan menguncinya. Membuat Rae melepaskan pedangnya hingga terpental jauh. Rae kehilangan pedangnya. Herados tersenyum, senyum menakutkan. Untuk sesaat Rae merasa Herados tidak lagi sedang bermain-main. Dia akan mati hari ini ditebas Herados.


Frya mengucapkan mantra, dan pedang yang terpental meluncur ke tangan Frya dengan mulus, dia segera mengambil alih keadaan memukul mundur pedang Herados. Lalu mengacungkan pedangnya pada Herados. “Sudah tidak lucu lagi pengeran!”desisnya.


Frya tak pernah sekalipun ikut campur dalam pertarungan Rae dan Herados.


Senyum kejam Herados tadi menghilang dan digantikan dengan senyum jahil yang biasa. “Hanya sedikit kelewat batas putri,” jawab Herados tanpa rasa bersalah.


“ASTAGA, RAE! APA YANG KAU PIKIR SEDANG KAU LAKUKAN!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2