Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Benar-Benar Kelas Luar Biasa


__ADS_3

Hari berikutnya seperti biasa Rae dan Frya bangun untuk melakuan perengangan. Lalu sarapan di ruang makan seperti biasa, sekarang Rae menyadari bawah dia jarang melihat Herados maupun Denzel di ruang makan.


“Aku baru menyadari, aku tak pernah lihat Denzel ataupun Pangeran Zeine di ruang makan ini,” kata Rae.


“Mereka sarapan di kamar, putra bangsawan biasanya mendapatkan fasilitas seperti itu,” kata Frya.


“Kenapa kau tidak?” tanya Rae. Sambil mengunyah strawberrynya. Rasanya terlalu asam, dia takut perutnya akan sakit jika memakannya. Tapi tetap saja dia mengunyahnya.


“Eh.. aku pikir akan menarik bagimu untuk melihat penduduk asli Ar’chismaytopia. Dan aku butuh untuk terlihat dan berbaur.”


“Kenapa?”


Frya menghela nafas. “Sedikit sulit untuk menjalin diplomasi jika aku terus mengurung diri di kamar, Ljósaflar butuh dilihat di kerumunan.” Frya terlihat tak puas. “Para Ljósaflar belum bersedia untuk kembali menjalin persahabatan dengan dunia luar, mereka masih memendam dendam masalalu. Membuatku sulit untuk mencoba memperlihatkan pada Ar’chismaytopia bahwa Ljósaflar telah kembali.”


Setelah sarapan Rae berpisah dengan Frya. Dan menyeret kakinya ke menara utara. Ketika dia mencapati tangga yang akan membawanya ke kelas Rae menatap tangga melingkar di hadapannya itu dengan sebal. Dia harus menemukan cara agar sampai ke atas tanpa membuang tenaganya, seolah itu mungkin saja. Walaupun jika di pikir ulang tangga itu juga akan membantunya melatih kekuatan. Rae menghela nafas berat dan mulai menaiki tangga.


Hanya ada dirinya ketika ia membuka pintu ruang belajar. Rae mengambil salah satu sofa di sudut. Dan mulai membuka bukunya, mencari-cari mantra yang kemungkinan berguna.


“Mantra penyembuh, Mantra perintang, mantra..,” gumah Rae, ada banyak mantra yang bisa ia pelajari. Dia harus mengingat mantra perintang itu. Dia begitu asik dengan bukunya hingga dia tak menyadari ketika teman-temannya telah masuk kelas.


“Kemarilah Rae, bersosialisasilah dengan kami,” kata Pangeran Zeine. Rae mendongkak memandang pangeran Zeine. Senyum menghiasi wajahnya, sehingga dia tahu dia bermaksud ramah.


“Tentu,” kata Rae menutup bukunya dan bangkit, mendekati teman-temannya. Jika mereka ingin berkerumun dengan Rae, bukankah sebaiknya mereka berkerumun di dekatnya, mengingat dia yang datang lebih dulu. Tapi tentu saja dia adalah anak baru.

__ADS_1


Hanya ada dua tempat duduk kosong, di sebelah Denzel, dan di sebelah elf perempuan, tangannya tanpa sengaja menyengol lengan elf perempuan itu, “Gelombang sihir penyihir. Ah hybrid,” pikirnya. Dia tak ingin duduk di sebelahnya tapi jika dia duduk dekat Denzel itu akan memberi sebuah pernyataan. Dan dia tak ingin melakukannya. Jadi dia memilih untuk duduk di samping gadis itu dengan bijak sana atau mungkin bodoh.


Penyihir itu memandang Rae dengan tatapan tak suka.


“Rae,” sapa Rae tersenyum padanya sebagai balasan, dia hanya melambaikan tangannya di samping kepalanya sebagai sapaan. Takut jika mengulurkan tangan gadis itu tidak akan suka. Dan sepertinya itu pilihan yang baik.


“Di sebelahmu ini Darsillia Rae, dia hybrid sepertimu, Lalu ada Koraxis” kata Pangeran Zeine menunjuk anak berambut hitam di samping Darsillia. “Dan ini Feorox, dia juga hybrid tapi keturunan Svartalfar dan Doccione dia saudara tiri Feorox, dan tentu saja kau kenal Denzel,” sekali lagi Pangeran Zeine bercanda. Membuat Rae tersenyum. Selanjutnya, mereka terdiam dalam keheningan yang canggung. Rae merasa tidak berada di tempatnya.


Master Mounchi datang beberapa saat kemudian menyelamatkan Rae, “Sekarang mari kita mulai. Siapkan ruangan.”


Anak-anak melambaikan tangannya, menyebapkan kursi-kursi menyingkir ketepian.


Mereka mempelajari mantra-mantra biasa, cara memindahkan benda. Hanya saja mereka melakukan dengan cara lebih kreatif, bertujuan untuk melatih ketangkasan dan imajenasi mereka.


“Dulu aku dilatih Ljósáflar ketika aku masih di Snitcoplace sebagai murid. Tapi sejak para Ljósáflar menarik diri aku di minta kembali ke Snitcopalace untuk mengajar.”


“Aku dengar kau selama ini tinggal dengan para Ljósáflar, tapi terampilan memanahmu masih perlu di asah, mungkin karena kau masih muda, para elf terkenal dengan cara mereka yang lamba dalam mengajar dan hidup. Wajar jika mereka tak buru-buru dalam melatihmu.”


Rae hanya nyengir mendengar cercaan Master Artha karena dia memang baru belajar beberapa minggu ini dengan Frya. Tapi Rae suka memanah, itu membuat pikirannya fokus, tanpa harus berusaha dan berfikir. Selama dua jam mereka latihan memanah hingga tangan Rae kebas.


***


“Kelas kita belum usai?” tanya Rae tak percaya ketika malam telah tiba, sudah waktunya makan malam dan dia sudah lelah. Dan Pangeran Zeine menyeretnya kembali ke menara timur untuk makan malam.

__ADS_1


“Kelas kita sudah usai Rae, ini waktunya makan malam.” Pangeran Zeine adalah satu-satunya anggota kelas khusus yang memperlakukannya dengan ramah.


“Tak bisakah kita makan malam di ruang makan saja.”


“Ayolah ini akan asik,” kata pangeran Zeine. Jadi Rae terpaksa mengikutinya. Dan Rae menyesal, selama makan malam mereka berdiskusi tentang semua yang hari ini mereka pelajari, seakan Rae mengulang kembali hari ini.


“Yah benar sekali ini sangat menarik,” kata Rae pada pangeran Zeine di akhir diskusi mereka. Pangeran Zeine nyengir mendengarnya. Mereka kembali ke asrama yang searah, Rae tak tahu dimana asrama mereka tapi sepertinya satu sayap dengan asramanya. Atau entahlah.


Dia baru kembali pukul delapan dan mendapati Frya sedang duduk di kamar, dengan prakrayannya lagi sambil bernyanyi dengan meredu.


“Kelas ini melelahkan,” kata Rae sambil ambruk di samping Fhire. Ranjangnya berderit protes ketika dia menjatuhkan diri. Kucingnya semakin lama semakin besar saja. Lalu beringsung pada Fhire. Detik berikutnya Rae sudah tertidur pulas. Begitulah hari pertama Rae di kelas khusus berakhir.


Hari-hari berikutnya dilalui dengan sangat sibuk, terlampau sangat sibuk.


Kelas pedang di latih oleh Master Lugarth, dia adalah Svartálfar dengan rambut panjang warna putih terang, dari penampilannya dia seperti pria berumur akhir tiga puluhan, tapi Rae tak pernah benar-benar bisa membaca umur elf. Mungkin dia berumur dua ratus atau bahkan lebih. Matanya kelam seperti Herados, dan dia tak memancarkan cahaya.


“Jadi…,” kata Master Lugarth lambat-lambat begitu semua anak berdiri di hadapannya. “Master Mounchi telah mengatakan padaku bahwa kita mendapatkan tambahan anggota baru, satu… dua… tiga… empat… lima… enam…” dan mulai menghitung dengan lambat dan bosan. “dan tujuh…” mengakhirinya dengan dramatis.  Darsillian dan Feorox cekikian di sudut. “Ganjil,” Master Lugarth menelengkan kepalanya.


“Saya dan Denzel akan bergantian menjadi lawan Rae master,” kata Pangeran Zeine.


“Begitu,” katanya lambat-lambat. “Baiklah kalau sudah di putuskan, Jadi mari kita mulai saja. Siapkan peralatan kalian, pasang perisai di pedang kalian dan kita bisa mulai berlatih.”


 

__ADS_1


*** Maaf reader kemarin aku salah aploud bab jika ada yang bingung maafkan aku. selamat menikmati.


__ADS_2