
Perjalanan mengunakan kuda memakan waktu lebih lama daripada saat ia berlari mengunakan kakinya. Ketika akhirnya mereka tiba senja telah turun, Frya dapat melihat hybrid itu takjub dengan kotanya, tak bisa di sanggah jika Celestia memang dibangun demi kepuasan penghuninya, tempat ini terus menerus berubah dari abad ke abad, walau kehidupan elf sangat lama dan perubahan mereka bisa di katakan lebih lambat dari penyihir. Ribuan tahun telah mengubah hutan Celestia yang semula hanyalah hutan biasa menjadi kota elf yang megah.
Dia telah mengirimkan pesan pada ayahnya dimana dia berada akan tetapi dia tak menjelaskan lebih lanjut alasannya. Takut jika pesan itu sampai ke tangan orang yang salah sebelum sampai ke tangan sang raja. Dia merasa harus berhati-hati dalam menangani situasi ini.
Saat memasuki aula, dia dapat merasakan ayahnya mengawasinya dengan tajam, Frya membungkuk memberi hormat, dari sudut matanya dia dapat melihat jika hybrid itu mengikuti gerakannya. Frya merasa puas melihat hybrid itu berusaha untuk berlaku sopan.
“Salam ayahanda, ibunda.”
“Bangunlah,” suara ayahnya mengalir dengan tenang, tapi Frya dapat merasakan kemarahan yang terkubur di dalamnya. “Aku lihat kau membawa seorang teman,” kesopanan elf mengharuskan ayahnya menyembunyikan kemarahannya.
“Ayah, ibu, mari aku perkenalkan, ini Rae.”
“Rae, perkenalankan, ini orang tauku Raja dan Ratu Ljósálfra, Raja Flaíthir dan Ratu Ävlór.”
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian Yang Mulia,” kata gadis itu dengan sopan. Ada getaran rasa takut yang membuat Frya merasa kasihan padanya. Caranya mendekap kucingnya memberlihatkan dia tak tenan dan mencari ketenangan dari hewan itu, membuat hati Frya terasa di remas.
“Semoga keselamatan menyertaimu, dan semoga cahaya senantiasa bersamamu,” kata sang raja. Sang ratu mengamati hybrid itu tanpa berkedip. Lalu senyum menghiasi wajahnya.
“Terimakasih Yang Mulia.”
Frya melangkah maju. “Ayah, Ibu, kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku membawa Rae kehadapan kalian. Rae,” dia menujuk rae dengan tangannya. “Aku menemukannya di tepi hutan Reokwood, Dia berasal dari dunia luar, dan di bawa kemari, dan sepertinya dia akan dijual sebagai budak. Untungnya dia berhasil melarikan diri dari mereka, tapi saat aku menemukannya dia tengah melompat dair tebing dan terluka sangat para.”
“Aku sangat sedih mengetahui musibah yang telah kau alami nak,” said the king.
Ibunya turun dari singgasanannya dan menghampiri si hybrid, tangannya yang panjang meraih tangan gadis itu yang mengenggam kucing apinya, dengan lembut sang ratu mengengamnya. Frya dapat melihat gadis itu berjengit jega sesaat, sebelum akhirnya dia bisa relaks “aku turut bersedih atas kemalangan yang menimpamu nak.”
“Terimakasih Yang Mulia,” jawab hybrid itu pelan.
“Dan bagaimana kau bisa bersama kucing api ini?” tanya sang ratu.
__ADS_1
Gadis hybrid itu melihat kepadanya sejenak sebelum akhirnya dia bercerita dengan rasa bersalah cerita yang sama yang ia ceritakan padanya beberapa saat sebelum dia melompat.
“Bayi macanmu bukanlah kucing biasa, dia adalah kucing api. Kucing api merupakan salah satu makhluk sihir langka yang ada di Ar’chismaytopia, hanya ada tiga elf yang pernah terikat secara sihir dengan mereka. Dan tak pernah sekalipun mereka mengikat diri dengan makluk yang tak memiliki kekuatan sihir,” kata sang raja. Dia berdiri dan mendekati Rae, mengamatinya dengan tatapan teduh tak terbaca.
“Untuk ukuran manusia kau sangat beruntung bisa selamat tanpa luka yang parah nak,” kata sang ratu.
“Ini semua berkat putri Frya Yang Mulia, jika saja putri Frya tidak membawa ke tempak Kaltaria saya pasti tidak akan selamat Yang Mulia,” kata hybrid itu, dia melirik Frya saat mengatakannya.
“Sebenarnya,” Frya memilih kata-katanya dengan bijak, “ketika aku membawanya ketempat Kaltaria semua luka di tubuh Rae telah sembuh. Perlu di ketahui ayah, ibu, dia melompat dari tebing setinggi lima puluh meter, yang seharusnya membuat sebagian besar tulang tulangnya patah, akan tetapi ketika aku tiba di tempat kaltaria, semua tulang yang patah telah menyatu seakan tak pernah patah. Jika saja tulang itu tidak menyatu pada posisi yang salah, Kaltaria takkan tahu bahwa tulung itu pernah patah.”
Frya dapat merasakan perubahan raut wajah kedua orang tuanya yang halus, hanya sedikit orang yang dapat merasakan perubahan itu. Ayahnya kemudian menatap Rae dengan lekat. Frya dapat melihat pemahaman memasuki benak orang tuanya.
“Apakah ini seperti yang aku pikirkan?” tanya sang raja. Frya hanya menangguk.
“Istirahatlah nak, aku menawarkan keramahan dan perlindungan Celestia kepadamu. Frya antarkan tamu kita ke kamar. Aku ingin bicara padamu setelah kalian makan malam.”
“Tentu ayah.”
“Terimakasih atas kebaikan Yang Mulia,” kata hybrid itu. Mereka mengundurkan diri.
Rae merasa jantungnya di remas selama pertemuannya dengan orang tua Frya. Dia tek pernah menyangka sekalipun bahwa orang tua frya adalah Raja dan Ratu Ljósálfar.
Frya mengantar Rae ke kamarnya, setelah menaiki banyak anak tangga kayu mereka kahirnya tiba di ruanganya. Ruangan itu sangat indah dengan sebuah tempat tidur berkanopi yang besar, tempat tidur itu menjadi perhatian utama dari ruangan itu, dengan tanaman menjalar di setiap pilar, dan kelamb dari chiffon putih berdansa di setiap hembusan angin, menutupi tempat tidur, sangat menenangkan. Di bawah kakinya bunga-bunga bermerekaran dengan sangat indah. Kamar ini terasal lebih seperti taman daripada sebuah tempat tidur. Tak jauh dari temapt tidur terdapat sebuah meja rias berwarna coklat dengan cermin tiga sisi, frame cerminnya di ukir dengan motif floral. Sofa dari kayu di letakan di tengah ruangan menyatu dengan interior ruangan dengan serasi.
Setelah mereka masuk ke dalam, elf itu membiarkan Rae menjelajahi
Dia menurunkan kucingnya yang segera berlari dan melompat ketempat tidur, wangi bunga menguar di udara. Pintu kaca berbingkai kayu menghiasai dinding lainyang menhadap keluar, Rae dapat mengitip keluar dari sana. Mereka berada di kamar tertingi, dari balkoni rae dapat melihat pemandangan malam Celestia. Meskipun kegelapan telah turun kota itu tetap mempesona.
Rae menurunkan kucingnya. Kucingnya segera berlarian menjelajahi seluruh ruangan.
“Kamar ini sekarang milikmu. Kau bisa membersihkan dirimu sendiri di sana,” Frya menunjukan pintu lain yang sebelumnya tidak disadari rae ada di sana. Rae datang mendekat, dan menmukan sebuah ruangan kecil dengan kolam natural kecil di dalamnya, sebuah air terjun kecil mengalir dalam suara gemercik, dan airnya sangat jernih, terlihat sangat menakjubkan.
“Aku akan membawakan pakaian ganti untukmu dan kita bisa makan malam setelah kau membersihkan diri.” Frya meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Rae menghentikannya. “Terimakasih untuk segalanya putri,” katanya dengan malu-malu.
“Aku Frya Rae, kau boleh memanggilku Frya saja,” katanya dengan senyum menawan, sambil melangkah meninggalkan Rae.
Setelah Frya meninggalkannya Rae kembali ke kamar yang ada kolamnya, pelan-pelan dan sangat hati-hati dia mencelupkan kakinya kedalam kolam. Tanpa di sangka air kolam itu terasa hangat, Rae melepaskan semua pakainnya, kemudian dengan berani menyelam kedalam air dan berendam. Air hanya menyelimuti seluruh tubuhnay hingga ke bawah dagu. Sementara pikirannya terus berkelana, penuh dengan semua hal yang telah terjadi, dari penculikan hingga tahta Ljósálfar. Tempat ini terasa tak nyata, semua yang terjadi padanya juga. Tak satupun terasa nyata, semua ini terasa seperti mimpi buruk yang datang lagi dan lagi. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rae tersentak kaget, nafasnya tercekat, dia sepertinya katuh tertidur, dan terbangun karena mendengar pintu terbuka. Ini bukan mimpi, pikir rae. Dia segera bangun dan mengunakan jubah yang tergantung di salah satu diding kamar mandi itu. Saat dia keluar dari kamar mandi dia menemukan Frya tengah meletakan pakaian di punggung kursi, sementara kucingnya tengah asik meminum susu di mangkuk. Makan malam sudah terhidang di meja di depan sofa.
“Aku sepertinya tertidur dalam kolam,” kata Rae. Dia menyadari bahwa elf itu berganti baju juga. “Kamar mandi itu menakjubkan. Tempat ini…. Aku tidak percaya tempat ini benar-benar ada.” Elf itu tersenyum.
“Setiap kota elf memiliki ciri khas masing masing, tapi aku tak bisa tidak setuju, harus akui bahwa Celestia merupakan kota elf yang paling indah.”
“Masih ada banyak lagi kota elf yang indah?”
“Ya, masih banyak lagi kecil lain, Celesita adalah ibu kota kerajaan Ljósálfar. Kau bisa mengunakan ini,” dia menunjuk pada baju di kursi. “Setelah kau berpaikan kita bisa makan sebelum aku berbicara dengan orang tuaku.”
Rae mengangguk, dia mengambil tunik biru muda di kursi, kainnya terasa sangat halus di tangannya. Tunik itu memiliki aksen ungu yang samar. Rae membawanya ke kamar mandi dan mulai memakainya. Kain itu sangat ringat dan menari di ujung kakinya. Membuat Rae merasa cantik.
Mereka duduk di atas osfa untuk makan malam. Menu mekan malamnya berupa buah dan bebrapa daging, ada juga bunga, yang terlihat terlalu cantik untuk di makan. Rae berfikir jika elf tidak makan daging, sepertinya angapan itu salah. Frya terlihat sangat menikmati makanannya, sehingga Rae tersetimulasi untuk ikut makan. Makananya sangat enak dan harum sekali.
“Fry….,”
“Aku perlu berbicara dengan orang tuaku sekarang,” kata frya memotong kata-kata Rae. “Jita bisa berbicara besok. Kau tak perlu khawatir di sini Rae, keselamatanmu di jamin di sini. Kau harus beristirahat, ini adalah perjalanan yang panjang dank au telah kehilangan banyak tenaga. Istirahatlah yang baik, aku harus pergi sekarang. Besok pagi aku akan mencarimu.”
Rae mengangguk, menatap punggung frya ketika elf itu menginggalkan ruangan. Sekarang dia sendirian, dia berbaring di tempat tidur dengan tatapan menerawang. Memikirkan apa yang sedang elf itu bicarakan sekarang, apa yang akan terjadi padanya? Sepertinya kucingnya menyadari kekhawatiran rae, dia melompat ke atas tempat tidur dan bergelung di sampingnya, dia merebahkan kepalanya di dada rae dan melihatnya dengan tatapan yang mengemaskan. Rae mengeluskepalanya, perlahat mata kucingnya menutup.
“Aku harus memberimu nama,” pikir Rae sebelum jatuh tertidur.
__ADS_1