Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Terbalik


__ADS_3

Gadis itu ditinggal sendirian. Suara langkah kaki bergema di seluruh ruangan dari luar. Orang-orang mulai berteriak. Seseorang turun dan mematikan lilin di dalam sel gadis itu, lalu ia kembali naik. Sejenak kemudian semua terdiam. Tak ada suara apapun di kapal, seperti sebuah kaset film yang bergerak tanpa suara.


Gadis itu menunggu dengan kalut di kegelapan untuk waktu yang cukup lama. Hingga pada akhirnya dia merasakan getaran di ikuti suara benturan pelan terdengar. Dia merasakan gerakan-gerakan dalam kapal. Berharap mereka akan melupakannya, dan membiarkannya sendirian di dalam kegelapan. Tentu saja gadis itu tahu, harapannya tak mungkin terkabul.


Kapal kembali sepi, sejenak kemudian seseorang turun lagi. Gadis itu kembali tegang, pintu selnya di buka, lalu seseorang masuk.


“Bangun!” kata pria itu sambil menariknya, gadis itu didorong dengan kasar, keluar dari selnya menaiki tangga.


Udara laut yang bersih menerpa tubuhnya tapi sebelum dia bisa menghirupnya seseorang mengikatkan kain kotor di mulutnya. Rasanya sangat menjijikan, berminyak dan bau apak, membuatnya ingin muntah, dan kemudian seseorang menyampirkan sebuah mantel hitam panjang di tubuhnya dan membenamkan kepalanya di dalam tudung. Dia kembali didorong dengan kasar melewati palang kayu sempit yang menjadi jembatan penghubung turun. Seseorang memegangnya dari belakang. Bau dermaga yang amis menguar menerpang indra penciuman gadis itu.


Ia digiring mengikuti langkah kaki di depannya. Dia tak dapat melihat keadaan di sekitarnya karena tudung di atas kepalanya, ia hanya bisa melihat sedikit jalan yang tersingkap di bawahnya. Cahaya remang-remang sedikit


memberinya penerangan. Cahaya itu membuat bayangan pria di depannya menari.


Tak satupun dari mereka berbicara selama mereka berjalan, hanya ada suara siutan angin yang terdengar, dari ujung tudungnya, gadis itu melihat mereka berbelok di sebuah gang sempit, bau pesing menguar dari tempat itu.


Mereka berhenti sebuah pintu dari kayu di depannya. Gadis itu mendengar ketukan, tiga kali dengan jarak yang cepat dan yang terakhir memiliki selang waktu yang lebih lama. Dia mengulang beberapa kali, sebelum akhirnya


pintu mengayun terbuka.


Sekali lagi Gadis itu didorong, memasuki sebuah rumah.


Ruangan di balik itu memiliki penerangan yang buruk, Bau bacin menguar menusuk hidung gadis itu. Bau alkohol, dan bau sampah, sama buruknya dengan bau yang ada di kapal.


“Kalian datang tepat waktu. Kurirnya sudah menunggu. Dia bisa dikirim setelah lewat tengah malam,” suara seorang wanita berbicara, suaranya terdengar tegas. “Sini biar kulihat dulu wajahnya.” Gadis itu direnggut dengan paksa. Lalu tudungnya di tarik denga sama kasarnya.


Gadis itu tersentak, di hadapannya berdiri seorang wanita yang sangat cantik dengan caranya sendiri, dengan riasan tebal, dan bibir dipulas dengan lipstick warna merah menyala, sorot matanya dingin, mengawasi gadis itu


dengan tatapan menilai. Dia mengenakan gaun abad ke tujuh belas, berwarna merah membara, yang memberi kesan mencolok, dengan potongan dada rendah, korsetnya menyebapkan dada wanita itu membucah seakan ingin meloncat keluar, roknya mengembang di sekeliling kakinya sampai menyentuh lantai. Gadis itu kembali merasa dia


ditarik melintasi waktu dan terlempar ke masa lampau.


Dengan kasar wanita itu merengut wajahnya, jemarinya panjang dan lentik, dengan kuku berwarna merah menyala, seperti gaunnya, dan juga rambutnya. Ia memegang dagu gadis itu dengan erat, hingga terasa sakit. Wajah wanita itu hanya beberapa senti terpisah dari wajahnya. “Ya dia cantik. Master pasti menyukainya. Sayang sekali. Dia bisa jadi primadona di sini,” senyum mencemooh mengembang diwajahnya.


Suara kekeh seseorang terdengar di belakangnya, Tod berbicara, “Ya, sayang sekali. Andai saja master tidak menginginkannya. Aku bisa coba dia sesekali.”


“Ya, mungkin jika master sudah selesai dengannya aku bisa memintanya, jika dia tidak cukup rusak setelahnya.” kata wanita itu acuh. Secepat ia merengut wajah gadis itu secepat itu pula wanita itu melepaskannya. Gadis itu terhunyung ke belakang. Kata-kata wanita itu membuat bulu kudu gadis itu berdiri.


“Hei kau, panggilkan Ed dan Phipps!” wanita itu berteriak pada wanita lusuh di depan tungku. Wanita yang di panggil berhenti dari pekerjaanya mengaduk kuali mendidih di atas tungku. Wanita itu mengenakan pakaian yang lebih lusuh.


“Setelah kau memanggil Ed dan Phipps kau bisa menemaniku,” kata si Tod senyum serigala menghiasi wajahnya.


Wanita lusuh itu menatap mereka dengan pandang benci. Tapi tetap melakukan perintah mereka. Dilihat dari pakaiannya sepertinya wanita itu adalah salah satu pelayan di tempat ini. Dia melemparkan pandangan mencemooh pada gadis itu, seakan ingin mengatakan nasibnya takkan lebih baik dari dirinya.


Tak lama kemudian dua orang pria masuk dari pintu lain bersama si gadis pelayan.


“Lama tak bertemu, kalian datang tepat waktu seperti biasa,” Pria dengan sinar mata cerdik berbicara.


Si tubuh gempal menangkap tubuh si pelayan, suara jeritan pelayan itu terdengar memekakan telinga, ia memekik dan memberontak, berusaha menendang pria itu, mencakarnya wajahnya, tapi si  tubuh gempat tak bergeming, bahkan terlihat puas, ia menariknya ke salah satu pintu di ruangan itu, lalu menutupnya dengan kasar. Semua orang menertawakannya melihatnya, gadis itu merasa muak melihatnya, itu mungkin nasib yang menantinya, dia harus bisa melarikan diri, tapi bagaimana, gadis itu merasakan airmata panas mengalir turun di wajahnya.


“Tod sudah terlalu lama sendirian, mana tahan dia liat gadis di dekatnya,” kata pria bertubuh kecil sambil tertawa. “apa lagi dengan bawaan secantik ini. Sementara dia hanya bisa memelototinya saja,” temannya terkekeh.


Si mata cerdik tertawa, dia berbalik pada kapten kapal. “Bagaimana? Apa semua lancar?” katanya sambil


mengulurkan tangan.


Mereka berjabat tangan. “Ya, kau tau akulah. Ini hanya perjalanan sepele bagiku. Kami di hadang badai besar tapi kau taulah aku.” Pria itu mulai membual. Mereka mengambil tempat duduk di sebuah bangku panjang berhadapan-hadapan di sebuah meja kayu berbentuk segi panjang. Meninggalkan si gadis dibiarkan tetap berdiri di tengah ruanganan.


“Aku akan cari hiburan,” si tubuh kurus menepuk bahu Ed dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


“Hei Phipps, kau siapkan kereta! Aku akan mengurus pembayarannya!” dia berbicara pada temannya.


Temannya mengangguk, wajahnya menatap gadis itu dengan padangan tertarik “tentu.” Kemudian dia berbalik dan keluar dari pintu dimana mereka datang sebelumnya.


“Kau sendiri tak ingin mencari hiburan?” goda si Ed pada Kapten.


Si Kapten mengelus belakang lehernya. “Tentu saja. Tapi kita harus menyelesaikan transksi dulu bukan. Aku yakin tidak hanya aku yang menginginkan hiburan.” Si Kapten menarik madam kepelukannya.


“Tentu saja.” Wanita itu duduk di pangkuan si kapten. Sedetik kemudian mereka berciuman, ciuman yang basah dan ganas.


Ed terkekeh. “Tentu saja.” Gadis itu membuang muka.


“Dari mana kau dapat gadis itu, dia memang cantik,” pria bermata cerdik itu memandang gadis itu dengan kekaguman. Matanya menelusuri tubuh gadis itu dari atas kebawah.


“Ya aku beruntung,” Si kapten tersenyum puas. Gadis itu melihat tangannya merayap ke balik rok si Madam.


“Jadi kau tak membutuhkan uang dari master?” Ed nyengir.


“Apa kau pikir aku bodoh?” kata si Kapten santai menelusuri wajah Madam dengan hidungnya, si Madam menghadiahinya dengan senyum mengoda. “Aku bisa menyimpannya sendiri atau memberikannya pada madam. Kau pasti senang, bukan begitu sayang?”


“Tentu saja. Dia cantik, hanya perlu sedikit polesan dan aku bisa meraup banyak uang darinya,” wanita itu berkata dengan nada acuh. Si gadis begidik.


Ed tertawa, sambil mengeluarkan sebuah kantong. Ia melemparnya ke meja di iringi suara denting logam.


Si kapten mengambilnya, menuang isinya ke atas meja. Kepingan-kepingan emas meluncur dari dalamnya.


“Ini untukmu. Aku bukan orang yang pelit,” dia mengambil sebagian dari kepingan itu dan melemparkannya pada Ed.


“Kau benar-benar dapat untung banyak,” Ed menerima sambil senyum.


“Tentu saja.” Si kapten mengambil beberapa keping yang lain dan memasukannya ke belahan dada si madam. Dia mendapatkan ciuman basah sebagai balasannya.


Sebuah kereta sudah menunggu mereka di ujung gang.


***


“Masuk,” Ed mendorong gadis itu masuk kedalam kereta. Gadis itu berusaha masuk. Tapi kedua tangannya masih terikat. Dia kesulitan untuk naik. Ed menghela nafas. Lalu mengambil belatinya. Gadis itu mundur ke  belakang ketakutan. Tapi pria itu menarik tangannya dan melepaskan ikatannya.


“Terima kasih,” kata gadis itu lemah sambil mengosok-ngosok tangannya. Tali yang mengikat tangannya telah meningalkan tanda di tangannya.


Ed terlihat tertegun sejenak. “Masuk,” katanya lebih pelan.


Gadis itu melakukan perintahnya tanpa banyak bicara.


“Bagus, aku suka barang penurut seperti ini. Tidak merepotkan. Tahu bahwa dia tak bisa kemana-mana. Tidak banyak omong pula,” orang yang baru bicara itu baru saja keluar dari kedai. “kita akan melakukan pengiriman barang yang lancar.” Ed menutup pintu kereta.


Sesaat kemudian kereta sedikit terguncang. Lalu suara ed terdengar. “ya semoga saja.”


“Haa… ini akan menjadi perjalanan mudah. Sayang kita harus melewati hutan reokwood. Aku tak suka lewat tempat itu,” suara Phipps terdengar lagi.


Si gadis beringsut ke kursi yang berdekatan dengan kusir untuk bisa mendengarkan masak-masak.


“Siapa yang menyukainya. Aku juga tidak ingin lewat hutan itu, tapi kau tahulah bagaimana master menginginkan kehati-hatian,” kereta mulai bergerak. “Setidaknya kita akan melewatinya saat matahari sudah terbit. Kau bisa bayangkan kita malam melewati tempat itu.”


“Yeah. Aku ngak mau tersesat di sana, dengan para makhluk itu berkeliaran bebas. Tahu kau apa yang bisa mereka lakukan pada kita.” Phipps terdiam sejenak. “aku dengar mereka bisa sangat-sangat kejam.”


“Ya, aku juga dengar itu.”


“Aku tak menyangka, mereka bisa berubah seperti itu. Aku ingat dulu mereka sangat indah, tapi tak pernah sedikitpun aku ingat mereka bisa bertindak kejam,” kata Phipps.

__ADS_1


“Sudah,” kata Ed, “jangan bicara itu lagi, bawa sial saja.”


Kereta melaju dengan cepat, sementara Ed dan Phipps masih mengobrol. Tempat ini sangat sepi. Gadis itu tak mendengar deru mesin mobil di sekitarnya. Hanya suara kereta yang berjalan.


“Lihat tempat ini, bahkan pada siang hari tempat ini menakutkan,” kata Phipps lirih, tapi gadis itu masih


menangkap kata-katanya. Matahari telah terbit di kejauhan, menyinarkan semburat cahaya ke dalam kereta.


Gadis itu pelan-pelan beringsut ke tempat duduk di seberangnya. Dia harus sangat hati-hati dan tidak menimbulkan gerakan berlebihan, berharap kusirnya tidak curiga dan mulai menendang kursi di depannya. Mencari perhatian.


Mereka mengabaikan gadis itu. Tapi dia dengan gigih terus menendang.


Jendela yang menjadi sekat dengan kusir di buka dengan kasar.


“Apa!” bentak Ed.


Gadis itu berusaha menjaga agar raut wajahnya terlihat ketakutan.


“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menahannya lagi. Aku ingin buang air kecil,” kata gadis itu. “Aku mohon,” ia membuat dirinya sendiri terdengar takut dengan tergagap.


“Sial, apa kau tidak bisa menahannya. Aku akan berhenti segera setelah kita keluar dari hutan ini.”


“Aku mohon, aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah menahannya dari tadi. Bisakah kita berhenti sebentar.”


Ed terlihat berpikir keras, sementara gadis itu merapatkan kakinya agar terlihat lebih meyakinkan. Setelah beberapa saat Ed akhirnya menghela nafas menyerah.


“Ada apa?” tanya Phipps.


“Dia ingin kencing,” tungkas Ed.


“Sial, di tempat seperti ini.”


“Ya, hentikan keretanya.”


“Tidak bisakah gadis itu menahannya?”


“Tidak, jika kau ingin dia bau pesing saat master menerima. Hentikan saja keretanya,” tungkas Ed.


Kereta berhenti. Ed turun, lalu pintu dibuka dengan kasar.


“Baiklah, Turun!”


Gadis itu menatap ke sekitarnya, hutan ini memang gelap dan menakutkan, dia mencoba terlihat takut untuk menutupi gairahnya.


“Lakukan di semak-semak itu, jangan masuk terlalu jauh atau kau akan tersesat. Tempat ini sangat berbahaya. Kau mengerti!” gadis itu mengangguk. “Kau tidak mengenal tempat ini tapi kami paham setiap sudut gelap tempat ini. Jadi jangan mencoba melarikan diri. Kau hanya akan tertangkap atau mungkin nasib yang lebih buruk akan menimpamu, mengerti, jadi jangan coba!”


“Terima kasih,” kata gadis itu. Mati-mati menahan gejolak rasa senang. Gadis itu telah belajar, terlihat berani tidak menghasilkan apapun. Untuk kasus semacam ini terutama jika dia ingin melarikan diri.


Ia masuk ke semak-semak. Dengan hati-hati ia berjongkok, begitu ia yakin tubuhnya tertutup sepenuhnya, perlahan-lahan dia menyelinap.


Begitu dia melihat kesempatan dia berlari. Berlari secepat yang bisa dia lakukan.


Lari Rae lari… benaknya berteriak.


Di belakang ia mendengar teriakan Ed. Tapi tidak berani menoleh kebelakang untuk memastikan. Semakin ke dalam. Dia tak boleh menoleh. Dia membutuhkan segenap konsentrasinya untuk berlari, memastikan kakinya tidak tersandung akar pohon. Atau menabrak pohon. Dia harus masuk lebih dalam kedalam hutan. Semakin jauh semakin baik.


Lari sekencang-kencangnya… dan jangan menoleh ke belakang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2