Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Hybrid


__ADS_3

Suara tangisan hutan memilukan terdengar di segela penjuru hutan, menghentikan langkah kaki Frya. Kepalanya menoleh ke segala arah, mendengarkan, salah satu makhluk sihir penghuni hutan ini pasti baru saja dibunuh, pikirnya marah. Sejenak kemudian suara tangis hutan berhenti.


 


 


Dia telah berlari sangat jauh. Dia hampir mencapai batas hutan Ljósaflar. Matahari telah menampakan diri. Berkas cahayanya jatuh ke atas tebing di sebelah barat. Saat itulah dia melihat gadis itu melemparkan diri ke udara, melayang di kehampaan dan meluncur turun dalam posisi bergelung.


 


 


Suara benturan keras terdengar ketika dia membentur tanah. Frya segera berlari menghampirinya. Dia takkan selamat, pikirnya. Dia melihat gadis itu tergeletak di tanah. Darah bersimbah di sekelilingnya. Di sampingnya seekor anak harimau api tergeletak tak bergerak.


 


 


Frya segera memeriksa tanda-tanda vitalnya. Dia masih bernafas dan nadinya bergerak pelan. Gadis itu bergerak, dia menoleh dan menatap Frya dengan mata hijaunya.


 


 


“Ouch...” Si anak harimau itu mengigit jarinya. “Apa dia terikat padamu?” tanya Frya menatap takjub, sambil mengibaskan tangannya yang berdarah, lalu menghisapnya, lukanya sembuh seketika. Dia pernah mendengarnya. Mitos tentang harimau api. Salah satu makhluk sihir yang tinggal di Ar’chismaytopia.


 


 


“Kau harus membiarkanku menyelamatkannya,” bisik Frya. Kucing itu mengeram. Frya mendekatkan tangannya, dan kucing itu mencakarnya, tak membiarkanya mendekati gadis itu.


 


 


“Maafkan aku,” katanya sambil merapalkan mantra tidur pada kucing itu. Mantranya membuat mata si kucing itu mulai terpejam, begitu kucing itu ambruk Frya kembali memeriksa gadis itu.


 


 


Baunya seperti dunia luar. Tapi bagaimana bisa gadis ini sampai kemari. Dia harus segera mengobatinya atau nyawanya tidak akan selamat.


 


 


Frya bersiul dan tiba-tiba seekor unicorn berderap kearahnya. Sebagai seorang Ljósaflar, Frya memiliki kemampuan untuk memanggil binatang gaip apa saja yang dia inginkannya dan menjadikannya sebagai hewan tunggangan.


 


 


Frya menaruh si kucing di atas tubuh gadis itu, sebelum meraup si gadis, dia menangkatnya seakan tubuh gadis itu seringan bulu. Lalu naik kepungung si unicorn, mengebah si unicorn.


 


 


Duduk diatas kuda tak berpelana merupakan salah satu keahlian para Ljósaflar. Dia tak perlu khawatir terjatuh. Bahkan ketika unicorn itu berderap dengan kencang. Satu-satunya tempat terdekat yang bisa dia tuju adalah rumah si ahli ramuan. Dia tinggal di pinggir hutan reokwood. Dibatas hutan elf. Semoga saja dia ada dipondoknya, pikirnya sambil terus menyanyikan lagu penyembuh.


 


 


Setelah berderap beberapa saat akhirnya dia melihat pondok si ahli ramuan. Pondok itu, terbuat dari batu dikelilingi oleh tumbuhan, yang menjadi pagar, dan membentuk lengkungan di atas gerbang. Hampir keseluruhan pondok itu di tutupi oleh tanaman. Jika saja tidak ada cerobong asap yang tengah mengepul akan sulit membedakannya dengan hutan disekelilingnya.


 


 


Si unicorn berhenti tepat di depan gerbang. Frya segera meluncur turun, dan berlari ke arah pintu masuk pondok, sementara gadis itu terdiam dengan nyaman di pelukannya. Sebelum dia sampai di depan pintu pondok, pintu itu mengayun terbuka dan seorang wanita berdiri di sana.


 


 


Usianya terlihat masih belia, tapi Frya tahu pasti bahwa umurnya lebih tua dari dirinya, jauh lebih tua. Dia mengenakan baju berwarna putih, dan kedua tangannya memakai gelang yang di hubungkan dengan rantai satu sama lain seperti seorang tawanan, tapi Frya tahu pasti dia bukan. Rantai itu cukup panjang untuk membuatnya bisa bergerak bebas, Frya tak tahu mengapa dia mengenakannya. Dan tak ada yang pernah menanyakan hal itu padanya, bagi bangsa elf menanyakan hal pribadi merupakan tindakan yang sangat tidak sopan.


 


 


“Frya, apa yang terjadi?” tanyanya sambil menyingkir membiarkan Frya masuk.


 


 


“Maafkan aku menganggumu pagi-pagi, Kaltaria, tapi aku butuh bantuanmu,” kata Frya dengan nada khawatir. Dia menatap gadis di gendongannya, “Dia terjatuh dari tebing, hanya ada dirimu, tempat paling dekat yang bisa ku mintai bantuan.”


 


 

__ADS_1


“Tentu saja, cepat bawa dia masuk. Baringkan dia di kamar lantai dua. Aku akan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan,” kata Kaltaria memberi jalan pada Frya. Wanita itu dengan sigap mulai bergerak keseluruh ruangan, mengumpulkan bahan-bahan ramuan, rantainya bergerincing setiap kali dia bergerak.


 


 


Frya membopong gadis itu ke lantai atas dan membaringkannya di tempat tidur di salah satu kamar dengan sangat hati-hati. Gadis itu mengerang, dia membuka mata sebentar sebelum kembali tengelam ke dalam ketidak sadaran. Frya menangkat kucingnya dari atas tubuh gadis itu, dan membaringkannya di lantai di bawahnya.


 


 


Beberapa saat kemudian Kaltaria masuk dengan nampan penuh ramuan di tangannya. Dia menaruh ramuannya di meja buffet di sebelah tempat tidur, lalu mulai memeriksa gadis itu. “Siapa gadis ini, Frya?” tanya Kaltaria dia dengan cekatan mulai memeriksa gadis itu.


 


 


“Aku tak tahu, aku tak pernah melihatnya sebelumnya.” Frya mundur untuk memberi ruang pada Kaltaria. Kaltaria memeriksa nadinya. Kemudian melihat kedua tangan dan kakinya mencari luka.


 


 


“Tak ada goresan satupun,” gumahnya heran. “Bantu aku melepaskan seluruh pakainya,” kata Kaltaria, mulai membalik tubuh gadis itu, Frya dengan sigap membantunya. Darah di sekeliling tubuh gadis itu masih segar, tapi luka-lukanya entah bagaimana telah menghilang. Mereka berdua tertegun.


 


 


Sebuah pendal berbentuk simbol Ar’chismaytopia menjuntai di lehernya, sebuah pohon berbentuk lingkaran, dengan berberapa hewan di sekelilingnya.


 


 


“Apa menurutmu dia anggota kerajaan sihir?” tanya Kaltaria.


 


 


“Aku meragukannya, apa anda tak menciumnya, baunya seperti berasal dari dunia luar,” kata Frya.


 


 


Kaltaria menghidu udara di sekitar gadis itu. “Kau benar,” Kaltaria memeriksa tubuh gadis itu dengan teliti.


 


 


 


 


“Tidak, aku hanya menyanyikan lagu penyembuh agar lukanya berhenti mengeluarkan darah.”


 


 


Dia mengumamkan beberapa mantra. Beberapa saat kemudian “dia jelas bukan manusia walau dia tak punya getaran” kata Kaltaria kemudian membuat Frya memandang wanita itu lekat-lekat. Wanita itu tertegun.


 


 


“Apa maksud anda?” tanyanya.


 


 


“tak ada jejak sihir, seorang penyihir tidak dapat menyembuhkan lukanya sendiri secepat ini, mereka perlu kesadaran untuk menyembuhkan dirinya dan mantra penyembuh,” Kaltaria mulai membersihkan lukanya.


 


 


“Dia terikat dengan kucing api mungkin itu yang membantunya menyembuhkan diri dengan cepat.”


 


 


Kaltaria terdiam, menatap kucing api yang tertidur di karpet di bawah ranjang. Hanya ada satu cara untuk seekor kucing api bisa terikat pada seseorang, induknya pasti mati di dekat orang tersebut, maka induk kucing api akan mengikat anaknya pada orang terdekat dengannya. “Kucing itu hanya akan menjaganya tetap hidup. Tapi tidak akan membuat lukanya sembuh dengan sendirinya. Hanya elf dan makhluk sihir yang mampu menyembuhkan diri mereka sendiri. Atau seorang…. Hybrid…,” katanya pelan.


 


 


Seperti dirinya, dalam benak Frya menyelesaikan kalimat Kaltaria

__ADS_1


 


 


Kaltaria membalikan tubuh gadis itu. Dia meraba punggungnya mencoba menemukan tulang yang patah. “Lihat tak ada luka goresan sama sekali, seluruh tulangnya yang patah sudah menyatu. Dia pasti pingsan karena seluruh energinya digunakan untuk menyembuhkan.”


 


 


“Mereka menyatu pada posisi yang salah. Kita harus mematahkannya kembali dan membetulkan posisinya,” kata Kaltaria penuh penyesalan.


 


 


“Tapi dia tak memancarkan energi sama sekali,” kata Frya sambil menyentuh tangan gadis itu.


 


 


“Seseorang pasti memblokir pancaran energinya, mungkin mereka ingin menyembunyikan jati dirinya.”


 


 


“Tapi mengapa?”


 


 


“Hanya gadis ini yang tahu. Aku akan membetulkan tulang-tulang yang salah. Ini akan memakan banyak waktu. Tapi sebelumnya aku butuh ramuan penguat, atau dia akan sangat kelelahan dan kehabisan tenaga untuk menyembuhkan dirinya sendiri.”


 


 


Frya hanya menangguk. “Apa anda membutuhkan bantuanku,” dia melepaskan tangan gadis itu yang terasa dingin, seperti manusia biasa tanpa sihir.


 


 


“Nae,” kata Kaltaria. “Aku akan baik-baik saja.”


 


 


“Aku akan memeriksa tempat gadis itu dia jatuh. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu.” Kaltaria menangguk dan mulai membuat ramuan untuk menguatkan gadis itu, dan memperbaiki tulang gadis itu.


 


 


Frya keluar dari pondok dan berlari kembali kearah dia menemukan gadis itu.


 


 


***


Frya menemukan darah berserakan dimana-mana, dua penyihir mati tergeletak bersimbah darah. Tubuh mereka tercabik-cabik. Baju mereka yang kumal hampir tak  dapat di kenali. Mereka mungkin mengetahui asal dari gadis itu, tapi dari bahu mereka Frya yakin mereka adalah penduduk Archismaytopia. Dia mulai meraba-raba badan mereka dengan teliti  mencari bukti yang mungkin berhubungan. Setelah tidak menemukan apapun dia mulai menyanyikan mantra sihir pembalik untuk mengetahui mantra yang di gunakan sebelumnya. Hanya mantra biasa, mantra pembunuh, mantra penidur, tidak ada yang special, tentu saja mereka tidak akan menang dari pertarungan itu.


 


 


Dia harus membereskan kekacauan ini, segera sebelum ada yang datang dan menyadari ada sesuatu yang terjadi disini, dan menguburkan mayat para penyihir itu. Dia menyisir lebih jauh dan menemukan sebuah kereta tak bertuan. Frya melepaskan kuda yang menariknya. Membisikan mantra agar mereka tidak kembali pada tuannya. Kemudian membakar kereta itu.


 


 


Setelah selesai melakukannya dia berlari menuju post penjagaan terdekat untuk mengetahui apa yang para penjaga tahu tentang kejadian ini.


 


 


Pikirannya melayang pada hybrid di tempat kaltaria, Hybrid dari dunia luar, dengan pancaran energy yang disembunyikan. Siapa gadis itu. Itu menganggunya.  Kenapa pancaran energinya disembunyinya.


 


 


Kaltaria mungkin benar, seseorang ingin menyamarkan jati diri gadis itu. Mungkin gadis itulah yang melakukannya. Dia harus menunggu gadis itu sadar untuk mengetahuinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2