Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Bunga Pohon Kehidupan


__ADS_3

Perayaan musim semi berlangsung selama berhari hari selama dua puluh empat jam setiap harinya, Rae kembali lagi ke tempat festival itu berlangsung, mendekat pada pohon kehidupan tanpa memperdulikan sekelilingnya, menyandarkan tubuhnya pada batang pohon utama, berharap dia mendengar lagi nyanyian yang ingin ia dengar. Rae tak lagi mendengar suara nyanyian pohon kehidupan, hanya getaran sihirnya yang halus dan bergetar lambat, melingkupinya dengan energy kehidupan.


Rae datang beberapa jam setiap hari, kadang Rae akan ikut para elf menari, tapi seringnya dia hanya duduk bertenger di atas pohon kehidupan menyandarkan bahu dan telingannya ke batang pohon utama, mencoba mendengarkan suara yang ada dari pohon kehidupan, mencoba meraba kesadaran sang pohon. Berharap mendengar suaranya di sela kegaduhan di sekelilingnya.


Saat Rae terkantuk-kantuk Frya akan menariknya turun dan menyuruhnya tidur di kamar. Tapi Frya sendiri akan segera kembali keperayaan atau itu yang Rae fikirkan tetang apa yang elf itu lakukan, menari dengan gairah mengebu. Saat pagi datang Rae akan terbangun dan mencari Frya. Para elf tidak hanya menyanyi mereka juga berpesta dengan makanan yang berlimpah, anggur yang mengalir seperti sungai.


Melihat para elf seperti itu merupakan pemandangan mengagumkan. Para elf melebur dalam kegilaan, membiarkan diri mereka lepas kendali. Pada hari terakhir seorang elf pria duduk di sampingnya. Tersenyum pada Rae dengan senyum menawan, memperkenalkan dirinya sebagai Drflyan, Rae tak dapat menebak umurnya mungkin lebih tua dari Frya tapi dia terlihat seperti manusia berumur dua puluh lima tahunan.


“Bukankan perayaan ini menarik Rae,” tanyanya dengan suara merdu memabukkan.


“Ya, sangat menakjubkan,” jawab Rae bersemangat, melihat kegilaan para elf membuat Rae lupa jika terkadang mereka bisa bersikap sangat kaku.


“Apa kau sudah cukup umur untuk….” Drflyan belum selesai berbicara ketika Frya menyerangnya. Drflyan melompat ke belakang dan mendarat dengan anggun, sementara Frya berlutut dengan kaki kanan di lipat ke dadanya di tempat Drflyan duduk sebelumnya. Sambil tersenyum Frya berbicara. “Carilah elf yang seumuran denganmu,” Drflyan tersenyum. “Jika putri berkenan,” katanya sambil tersenyum mengoda. Frya hanya berbalik dan duduk di sebelah Rae.


“Apa itu tadi?” tanya Rae.


Frya tertawa geli dengan suara merdu. “Sepertinya Drflyan mencoba mengajakmu untuk merayakan musim semi bersama.” Rae hanya tertawa, mengerti apa yang Frya maksud.


Pada awal perayaan musim semi tunas-tunas muda pohon kehidupan bermunculan, saat pertama kali datang pohon kehidupan terlihat kesepian tanpa daun-daunnya. Tapi sekarang pohon kehidupan itu berubah, Rae melihatnya tumbuh dan bersemi, penuh dengan bunga.


“Lihat,” kata Frya menujuk salah satu bunga yang mulai mekar. Sejenak Rae dan Frya terdiam takjub melihat bunga merah menyala yang memiliki semburat warna jingga itu mulai mekar. Dengan perlahan kuncup-kuncupnya merekah bermekaran, Rae terhipnotis menatapnya, matanya tak bisa beralih, di penghujung hari seluruh pohon telah lebat ditutupi oleh bunga berwarna jingga. Bau harum semerbak menguar, memabukkan, memenui udara.

__ADS_1


“Ini menandakan akhir dari perayaan,” kata Frya, mengalihkan perhatian Rae. Rae begitu terpesona mengamati bunga-bunga yang mekar hingga tak menyadari bahwa matahari telah begitu condong ke arah barat. Bahkan para elf yang berada di dekat Rae sudah berhenti menari dan memandang pohon kehidupan sambil tersenyum cerah. Tapi mereka masih menyanyi.


Frya memetik dua buah batang bunga, lalu menyerahkan satu pada Rae dan menyimpan satu untuk dirinya. “Apa itu tidak apa?” tanya Rae khawatir ketika menerimanya.


“Ya, akan ada banyak bunga seperti ini, semua elf akan mendapatkan satu untuk diri mereka. Walaupun bukan dari pohon yang sama. Salah satu keuntungan menjadi putri raja adalah kau memiliki keistimewan, aku diperbolehkan memetik bunga dari pohon utama.” Frya tersenyum bersengkongkol. “Ayo aku tunjukan cara membuat bunga ini berguna bagi kita.” Frya meloncat turun dari tempat mereka bertenger. Rae mengikutinya. Gerakannya terlalu cepat, Rae harus menekuk salah satu lututnya agar ia tak terjatuh. Lalu perlahan menegakkan tubuhnya.


Frya telah lebih dulu berjalan menuju istana. Dan Rae harus sedikit berlari untuk mensejajari langkahnya.


“Aku hanya melihat raja dan ratu sebentar saat perayaan, apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Rae.


Frya tersenyum jengah. Pipinya sedikit memerah. “Sedang bersama” kata Frya singkat.


“Apa mereka baik-baik saja?” tanya Rae.


Fyra benar, Rae bertemu dengan dengan raja dan ratu ketika sedang menelusuri lorong istana. Mereka terlihat bersinar, lebih bersinar dari biasanya dan ceria. Rae membungkukan badannya untuk memberi hormmat. Raja dan ratu mengangguk sebagai balasan.


“Kau sudah mendapatkan bunga untukmu” kata sang ratu.


“Sudah yang mulia, apakah yang mulia akan memetiknya juga?” tanya Rae.


“Tidak, bunga itu hanya untuk mereka yang masih anak-anak,” kata sang ratu.

__ADS_1


“Ah…”kata Rae pura-pura paham.


“Pergilah. Kalian harus segera mengunakan,” kata sang raja.


“Apa kegunaan bunga ini?” tanya Rae pada Frya ketika mereka berlalu.


“Sebenarnya tidak ada, hanya kami percaya. Bahwa ini mengingatkan pada harapan. Bunga tumbuh bahkan lebih dulu dari daun. Memberi kita banyak kemungkinan apa yang akan terjadi padanya. Apakah dia akan tumbuh menjadi buah, atau di petik seseorang. Atau hanya layu begitu saja.”


“Berarti kita telah membunuh sebuah harapan dari sebuah bunga ketika kita memetiknya,” kata Rae sedih.


Frya mendengus geli. “Kenapa kau selalu melihat sisi buruknya Rae? Bunga ini akan menjadi pelindung harapan kita. Ketika segalanyanya berubah dingin dan pohon tak lagi bisa menumbuhkan apapun. Pada akhirnya bunga akan tumbuh ketika musim berubah. Bunga ini merupakan symbol bahwa Kehidupan akan terus berubah.”


Mereka telah sampai di kamar. “Apa yang harus aku lakukan dengan bunga ini?” tanya Rae.


Frya berbaring di tempat tidur Rae. “Kemarin,” kata Frya sambil menepuk matras disampingnya, menyuruh Rae berbaring disana. Rae menatap Frya sangsi. Tapi tetap melakukan perintahnnya.


“Lelah sekali. Rasanya aku bisa tidur selama dua hari.” Frya memegang bunganya diatas dadanya. “Ayo tidur,” Ucapnya.


Frya menguap dan seketika terdiam. Rae tak yakin apakah elf itu bener-benar tertidur atau dia hanya memejamkan mata. Rae mengeleng kepala dan mengikuti Frya. Tertidur pulas hampir sepanjang malam.


Bunga itu menghilang keesokan harinya. Rae mencoba mencarinya begitu bangun, tapi tak berhasil menemukannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2