Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Melarikan Diri


__ADS_3

Nafas Rae mulai putus-putus, tapi dia belum bisa berhenti. Dia tidak tahu di mana tepatnya Ed dan Phipps berada, tapi ia tahu mereka ada di belakan, mengejarnya. Tidak, dia belum bisa berhenti sekarang.


Sedikit lebih lama lagi, bujuknya pada diri sendiri.


Teruslah berlari.


Pepohonan di sekitarnya semakin rapat. Semakin sulit menemukan celah yang cukup datar untuknya menapakkan kaki. Akar-akar pohon menjalar menutupi jalur yang ia lalui.


Tiba-tiba saja pijakan di bawah kaki Rae merosot dan ia tergelincir jatuh. Rasa sakit menghantam di sekujur tubuhnya. Rae mengigit bibirnya, menahan teriakan yang akan keluar dari mulutnya. Mereka tak boleh mengetahui keberadaannya. Tidak…


Ia terperosok dan menghantam sebuah akar pohon. Dia mencoba bangkit tapi kakinya menjerit, dia pasti terkilir. Dengan bingung Rae menatap sekeliling.


Sayup-sayup ia mendengar langkah kaki mendekat.


Ed dan Phipps sudah dekat. Dia harus bersembunyi, semak di depannya cukup tinggi, tapi dia tak punya waktu untuk mencapainya. Mereka akan melihatnya. Rae melompati akar tinggi di hadapannya dan bersembunyi di baliknya. Merapatkan tubuhnya dengan harapan mereka takkan melihatnya.


“Sial anak itu, larinya cepat sekali,” samar-samar Rae mendengar suara Phipps yang terengah engah. Rae membeku, ia ternyata masih cukup dekat dengan para pengejarnya. “Kemana dia pergi!” katanya dengan kesal.


“Dengar nak,” Ed mulai berteriak. “Nasib apapun yang menunggumu di hutan ini akan jauh lebih buruk dari nasibmu saat bersama kami. Kembalilah! Dan aku akan mengangap ini tak pernah terjadi!”


“Gadis sial itu takkan mau mendengarmu, dia memilih membusuk di hutan ini daripada ikut kita. Sial, aku pikir ini akan jadi pengiriman yang mudah.”


Rae mendengar suara langkah kaki mendekat. Detak jantungnya berdetum keras. Mereka akan mendengarnya, pikir Rae kalut. Di tak boleh tertangkap sekarang. Tidak, dia hanya punya satu kesempatan untuk lari. Mereka takkan lagi melonggarkan pengawasan jika sampai ia tertangkap. Hanya ada satu kesempatan.


“Aku mohon,” batin Rae entah pada siapa.


“Kau akan mati di sini!” teriak Ed lagi, mencoba membujuknya.


“Dengar,” kata Phipps. Rae semakin membeku, dari suaranya dia tahu mereka tak jauh dari tempatnya bersembunyi. “Aku tak mau masuk lebih jauh lagi ke dalam hutan. Kita kirim pesan dan tunggu bantuan!”

__ADS_1


“Gadis sialan itu pasti sudah jauh.”


“Sial… sial.. sial… kita tak tahu batas hutan elf. Aku tak mau pertaruhkan hidupku hanya untuk anak sial itu. Jika dia ingin mati di sini biar saja, yang jelas aku lebih baik di hukum master daripada mati konyol di sini.”


Mereka terdiam sebenar.


“Kau belum tahu bagaimana kemarahan master,” kata Ed.


“Tidak, aku tak tahu. Tapi yang aku tahu, jika kita masuk lebih dalam lagi kita akan mati. Ayo kita kirim pesan. Mereka takkan lama mencapai tempat ini. Lebih banyak orang mencari lebih baik.” Langkah mereka terdengar lagi, Rae berharap mereka akan menjauh kembali ke kereta dan Rae siap untuk bergerak lagi.


“Tunggu,” kata Ed.


Rae membeku, sejenak semuanya hening. Semak semak di sampingnya bergetar. Di ikuti  dengan suara raungan harimau. Rae tak bisa lebih ketakutan lagi. Seekor harimau putih raksasa berdiri menjulang tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Dia muncul begitu saja.


Harimau putih itu bukan harimau biasa, bukan harimau sumeria, atau mungkin dia harimau sumeria. Ukurannya jauh jauh lebih besar dari harimau yang ada di kebun bintang di kota asalnya, mungkinkah harimau jadi lebih besar di alam liar? Ukurannya hampir seukuran badak dewasa.


“Panggil bantuan,” teriak Ed, tapi terlambat harimau itu menghantam Phipps dan meremukan tubuhnya dengan kaki depannya. Rae melihat dengan tatapan ngeri saat harimau itu mencaplok kepala Phipps dan memutuskannya.


Ed meluncurkan cahaya putih ke harimau itu. Si harimau itu mundur sejenak. Kemudian berlari kepada Ed. Ed melontarkan cahaya putih dengan kalut, tepat menghantam sang harimau. Setiap kali harimau itu terkena hantamnya dia terlihat kesakitan tapi dia tetap maju. Dan mengantam kepala Ed dengan cakarnya. Menyebapkan luka parah. Ed tersungkur dengan darah yang sangat banyak. Wajahnya tergores sangat dalam.


Si harimau tidak membiarkannya sampai di situ. Dia mendekati Ed yang terkulai dan menerkam lehernya. Mengoyang-ngoyangkan badan Ed hingga Rae tak mampu lagi melihat.


Ia akan mati di sini.


Sama seperti Ed dan Phipps. Tiba-tiba Rae mendengar suara eongan kecil. Harimau itu punya anak, dia berdiri tak jauh dari tempatnya muncul tiba-tiba. Rae berbalik kearah sang induk. Induknya menoleh dan berjalan dengan terhunyun kearah Rae. Rae mundur ketakutan.


Si harimau kecil berlari menyambut induknya. Yang tiba-tiba tersungkur dihadapan Rae kelelahan.


“Tidak… tidak… tidak…” gumah Rae. Sambil merangkak mendekati si induk, ketakutannya menghilang seketika.

__ADS_1


“Aku mohon jangan mati,” gumahnya. Matanya mulai basah. Dia mengelus kepala sang induk. “Aku mohon,” bisiknya. Dia tahu bahwa jika induknya mati maka anaknya juga akan mati. Si induk melengkuh pelan.


Si anak kucing mendekat dan mengendus ibunya dengan mengeyong pelan memanggil induknya. Sementara mata si induk mulai merapat.


“Tidak,” bisik Rae mulai menangis. Tiba-tiba sebuah energy mengalir dari kepala si induk yang sedang di elus Rae. Dan sebuah suara terdengar di kepala Rae.


Dia yang terikat padamu, nyawa yang separuhnya menjaga nyawamu. Kau berhutang padanya sebuah kehidupan. Maka nyawamulah taruhannya. Jaga dia dan dia akan menjaga kehidupanmu.


Suara itu menghilang, bersamaan dengan sebuah cahaya meluncur keluar dari tubuh sang induk, menubruk dada Rae. Merambat menjalar ke seluruh tubuh. Kemudian berkumpul dan meluncur cepat kearah si anak kucing. Rae merasa kehilangan sesuatu ketika cahaya itu meninggalkan tubuhnya. Ia menatap anak kucing yang balas menatapnya. Seakan sebuah pemahaman menjalar diantara keduanya. Mereka terikat.


“Apa yang terjadi,” pikirnya linglung, menatap sang induk. Dengan terbelalak Rae menyaksikan tubuh si induk memudar seakan tak pernah ada. Berubah menjadi ribuan cahaya yang meluncur dengan cepat ke segala arah.


  Suara teriakan hewan-hewan mengagetkan Rae. Suara itu bersautan di sekelilingnya. Membuat Rae ketakutan. si anak kucing meloncat kepangkuannya. Membuat Rae melonjak. Tapi berat tubuhnya memberi rasa aman kepada Rae.


“Kita harus pergi dari sini.” Dia meraup kucingnya dan berjalan memasuki hutan lebih jauh.


Suara-suara itu tak berhenti membuat Rae gelisah dan ketakutan. Tiba-tiba suara itu berhenti membuat Rae waspada.


Dia menatap sekeliling seakan ada orang-orang yang sedang mengawasinya. Rae ketakutan dan berlari kencang. Dia menoleh tanpa melihat jurang dihadapannya.


Kali ini dia akan mati, benar-benar akan mati. Tubuhnya terlempar jauh. Dia melihat tanah dibawahnya yang akan menghantam tubuhnya. Seakan detik perlalu dengan lambat. Rae dengan sigap bergelung menempatkan anak kucing di dalam dekapannya.


Dia merasakan ledakan rasa sakit ketika kakinya mengantam tanah. Suara retakan tulang memekakkan telinganya. Dia jatuh bergulung sambil mendekap anak kucing di dadanya.


Lalu kegelapan dan rasa sakit membutakannya. Rae tenggelam dalam kegelapan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2