
Frya menghampiri Rae keesokan harinya dan mengajaknya untuk sarapan. Selama di istana Frya menyediakan pakaian khas elf, tunik panjang dengan warna lembut, dengan bahan ringan membuatnya berkibar setiap kali dia bergerak atau tertiup angin. Pakaian ini sangat khas elf, mereka halus, dan membungkus tubuhnya dengan sempurna.
Mereka makan di balkon, dimana pemandangan kota celestia di siang hari terhampar dihadapan Rae. Rae terkagum-kagum melihatnya. Dengan tergangah dia memandang ke sekeliling. Ketika dimalam hari tempat ini mengeluarkan aura mistis, di siang hari tempat ini menciptakan rasa kagum. Para Ljósálfar menciptakan tempat tinggalnya dengan detail yang mengagumkan.
“Tempat ini seperti dalam mimpi,” kata Rae. Frya tersenyum penuh kebanggaan. Dia membiarkan Rae sarapan dengan tenang. Para Ljósálfar telah mempersiapkan berbagai hidangan yang lezat. Sementara susu dalam mangkuk besar telah disiapkan untuk kucingnya.
“Ini sangat lezat,” kata Rae menaruh sendoknya. Sendok itu terbuat dari logam yang diukir dengan motif sulur yang sangat indah, motif khas elf.
“Aku senang kau menikmatinya,” kata Frya merdu, wajahnya membentuk senyum yang menenangkan. “aku ingin membicarakan tenang masa depanmu Rae,” lanjutnya, matanya yang berwarna biru terang mengamati Rae dengan hati-hati.
“Apa yang akan terjadi padaku?” jawab Rae dengan waspada.
Frya menepuk tangan Rae dengan gerakan menangkan, “Kita perlu menghapus bariermu, sudah lama kota kami tak dimasuki manusia fana. Bahkan penyihir, untuk itu kehadiranmu tanpa getaran sihir akan meresahkan para Ljósálfar . Tanpa barrier sihir kau akan lebih bisa berbaur.”
Rae mengangguk. “Ya, aku mengerti. Itu juga bisa membuktikan apakah benar aku memiliki sihir atau tidak, benar bukan?” tanya Rae.
“Kau memiliki,” jawab Frya kalem. “Sebagai seseorang yang memiliki kekuatan sihir, akan sangat berbahaya apa bila kau tak tahu cara mengendalikannya. Untuk sementara aku akan mengajarimu dasar-dasar sihir, tapi setelah bariermu hilang, kau akan pergi bersamaku ke Snitchopalace. Di sana kau akan mempelajari sihir lebih dalam.”
Sepertinya nasib Rae telah ditentukan. Banyak hal telah terjadi dalam waktu yang singkat. Sekarang Rae harus mulai membuat rencana, dia membutuhkan tujuan. Mengubah mimpinya semula. Tujuan adalah satu-satunya hal yang akan membuatnya waras dengan semua hal yang telah terjadi. Dunianya yang terjungkil balik, dia memerlukan tempat untuknya berpinjak dengan mantap. Dan tujuan adalah satu-satunya. Dia ingin terus berlari dan mengatakan bahwa dia bukan hybrid, tapi orang-orang ini yakin sebaliknya. Maka jika benar dia hybrid dia harus tau asal-usulnya. Rae menolak untuk percaya orang tuanya bukan orang tua kandungnya, maka dia harus mencari tahu, mengapa mereka bersembunyi dan menutupi jati diri mereka. Rae berharap dia masih berada dikamarnya, dan kejadian malam itu tak terjadi.
“Kami akan menghapus bariermu pada saat perayaan musim semi, sihir ini membutuhkan kekuatan yang cukup besar cukup sulit disembunyikan tanpa bantuan. Pada saat perayaan musim semi berlangsung, sihir akan sangat kacau untuk para Ljósálfar lain menyadari kita sedang melakukan sihir untuk menghapusnya. Dan kami juga bisa mengunakan kekuatan sihir yang dihasilkan perayaan musim semi untuk membantu menghapus bariermu.”
“Sepertinya itu sihir yang rumit,” kata Rae.
“Ya, tapi kau tak perlu khawatir, kami akan mempersiapkan segala sesuatunya.”
***
Segera setelah mereka selesai sarapan Frya membawa Rae ke taman kecil yang ada di salah satu balkon istana. Tempat itu sangat cantik, gadis itu terpesona, ia terus saja menemukan keajaiban di Celestia.
__ADS_1
“Tempat ini salah satu tempat tersembunyi di istana Celestia, tak ada yang datang kemari, sangat cocok untuk berlatih sihir, kita punya air, tanah, dan tentu saja udara,” Frya mengibaskan tangannya dalam gerakan lembut seakan menari.
Musim dingin telah usai, tapi di sebagian tempat es masih menutupi. Rae dapat melihat, tunas-tunas baru berjuang untuk menembus lapisan es tersebut.
Frya berdiri di tengah taman. “Sebelum kita mulai belajar sihir aku akan mengajari gerakan perengangan, untuk membuat tubuhmu fleksibel.” Frya menyuruh Rae mengikuti gerakannya. Hampir seperti yoga, selama hampir satu jam lamannya. Selanjutnya,
“Setiap makhluk sihir memiliki karakteristik sihir yang berbeda-beda. Seperti elf, sihir kami berasal dari diri kami sendiri. Sementara penyihir membutuhkan media untuk memunculkannya, beberapa makhluk sihir lainnya tidak mampu menghasilkan sihir diluar dirinya, seperti kurcaci, mereka memiliki sihir dalam diri mereka tapi hanya yang di berkahi yang mampu melakukan sihir di luar tubuh mereka.”
Frya menangkat tangan kanannya, dalam kibasan lembut tiba tiba muncul sebuah mawar. “Kami tidak membutuhkan mantra, atau pun tongkat. Seperti sihir penyembuhanmu.”
“Sihir sendiri merupakan sebuah manipulasi energy, kau bisa membentuknya, kau bisa mengubahnya, dengan kehendakmu, dengan pikiran dan imagenasimu.”
“Walaupun kami bisa melakukan sihir akan tetapi sihir lebih mudah dilakukan dengan mantra. Mantra menegaskan makna, memberi arti, memunculkan kehendak, dan membuatnya jadi ada. Dengan mantra kita bisa menfokuskan benak kita, mengikat sihir. benak kita adalah lautan luas terbentang, mudah terdistrub. Ketika kita melakukan sihir, benak kita harus selalu focus, sehingga rentangan energy yang kita gunakan tidak melebar dan menghabiskan tenaga sang perpal.” Mawar di tangan Frya meleleh menjadi butiran air jernih, meluncurke bahwa, tanpa benar-benar menyentuh tanah, dan menghilang ke udara bebas.
“Dan kau harus ingat, bahwa sihir memakan energi lain untuk mewujudkannya.”
“Adakah batasan untuk sihir itu sendiri?” tanya Rae.
“Tidak, tak ada batasan kecuali kekuatan sang penyihir itu sendiri. Untuk itu kau sendiri yang harus bisa mengetahui batas kekuatanmu,”
“Kau sudah melakukannya, demi menyembuhkan tubuhmu sihir mengambil alih seluruh tenagamu. Kau beruntung terikat pada kucing api, dia yang mempertahankan nyawamu.” Frya berjalan dalam gerakan anggun, mendekatik kucingnya, yang sekarang mulai terbiasa dengan keberadaan elf itu. “Dalam kasus lain, nyawa bisa jadi taruhannya.”
“Apakah kita bisa menghidupkan kembali orang mati” tanya Rae.
“Benar-benar menghidupkannya,” kata Frya. “Tidak,” dia mengeleng dengan gerakan anggun. “Mereka yang sudah mati sudah tidak berada di dunia yang sama dengan kita. Kita bisa menghidupkan tubuhnya, tapi mereka tidak benar-benar ada disana, kita bisa memberikan mereka kenangan yang sama, tapi mereka takkan pernah sama. Dan itu adalah sihir hitam, hanya mereka yang sangat putus asa yang melakukannya, Dahulu pernah ada, seorang elf yang sangat mencintai pasangannya, tapi pasangannya meninggal karena penyakit. Kemudian elf itu mencoba menghidupkan kembali pasangannya. Tapi dia tak benar benar kembali. Elf itu frustasi dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”
“Sekarang kita akan mulai,” Frya memberikan membungkuk memunggut batu dari tanah. Menaruhnya ditangan Rae satunya. “Kau harus mengangkat batu ini dari tanganmu mengunakan sihir.” Frya memberinya sebuah mantra. “Ingat mantranya, sekarang rasakan energy batu ini.” Rae menatap batu di tangannya dengan bingung.
Frya berdecak. “Ingat sihir yang kau rasakan, ketika kau menyentuhku?” tanya Frya. Rae menangguk. “Kau memiliki energy dalam tubuhmu juga, rasakan energy itu dan raihlah. Gunakan imajenasi dan keinginanmu untuk membentuknya, lalu arahkan energy itu untuk mengangkat batu di tanganmu. Kau harus berkonsentrai!” perintah Frya.
Rae memfokuskan pikirannya. Dia memejamkan mata, ketika matanya terbuka ia menatap batu di tangannya dengan konsentrasi penuh. Dia mulai mengucapkan mantra yang Frya berikan padanya. Aliran energy hangat mengalir dalam tubuhnya, beriak, melenguh, membuat tubuhnya terasa bergejolak. Lalu tak terjadi apapun.
__ADS_1
Rae menatap Frya sesaat.
“Coba lagi Rae,” perintah Frya.
Seperti yang Frya perintahkan dia mencoba lagi. Dan lagi. Tapi tetap tak terjadi apapun. Frya mengelengkan kepalanya tak mengerti.
Setelah mencoba beberapa saat yang cukup lama Frya menghela nafas. Apakah mungkin ini karena bariernya. Tapi barrier itu tak menghentikan sihir penyembuhan gadis itu.
“Setiap benda memiliki getaran energy,” Frya menaruh batu di tangannya, “Tutup matamu, perintahnya. “Setiap benda memiliki getaran yang berbeda, fokuskan pikiranmu pada batu di tanganmu.”
Rae memejamkan matanya. Dia mencoba memusatkan pikirannya ke batu di tangannya. Mencoba merasakan batu itu dengan tangannya. Dia mencoba merasakan energi batu itu, keras, dan kasar. Dalam benaknya dia mencoba mengangkatnya. Tak terjadi apapun, dia mencoba meluruskan energi yang kasar itu melunakkannya.
Rae memekik kaget, batu di tanganya meleleh, meluncur di antara jemarinya. Sebelum akhirnya mengeras seketika begitu dia memekik.
“Apa yang terjadi,” katanya shock. Frya memandangnya dengan pandangan kaget. Ia mengamati Rae selama beberapa saat.
“Apa yang kau pikirkan ketika itu terjadi?” tanya Frya.
“Tak ada,” jawab Rae cepat. Frya mengeleng anggun.
“Aku hanya mencoba merasakan batunya, aku mencoba mengangkatnya tapi tak terjadi apapun, kemudian aku mencoba meluruskannya, melunakkan batu itu, karena dia kerasa dan kasar.”
Frya mentapnya dengan tatapan menyelidiki.
“Ayo kita coba lagi,” katanya.
Rae memejamkan matanya dan mencoba merasakan kembali batu di tangannya.
Tak terjadi apapun.
Rae membuka matanya, menatap Frya dengan pandang bertanya.
__ADS_1
“Coba lagi Rae,” katanya.
Butuh waktu beberapa saat akhirnya Rae mengerti apa yang harus ia lakukan.