Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 16 | T e r t i l a n g


__ADS_3

Sepulangnya dari sekolah mereka seperti biasa naik mobil Mirhan ke asrama. Kali ini Ryu yang nyetir mobil, Mirhan duduk di belakang bareng Heri dan Arif, sedangkan Helena duduk di sebelahnya di depan. Ryu tersenyum bangga karena merasa rencananya kali ini akan berhasil.


"Mir, jadikan setelah ini kita ke tempat potong rambut?" tanya Ryu bersemangat.


"Jadilah…" jawab Mirhan dari belakang.


"Kalian pengen ke tempat potong rambut?" tanya Helena penasaran.


"Kecuali Heri, soalnya katanya dia pengen ngerjain sesuatu di kamar," jawab Ryu sambil nyetir. "Yang penting Arif ikut," ucap Ryu dari dalam hati.


"Lo mau ikut?" tanya Mirhan bersemangat.


"Salon apa dulu?..." tanya Helena ragu-ragu.


"Gue juga gak tau, soalnya ini ide Ryu tadi pagi…" jawab Arif yang duduk di sebelah Mirhan dekat jendela.


"Males ah...kalau bukan salon buat cewek, masa iya gue potong rambut di salon cowok," Helena terlihat kecewa.


"Kayaknya disana juga bisa motongin rambut buat cewek," Ryu menanggapi ucapan Helena dengan santai.


"Her, lo yakin gak mau ikutan?" tanya Arif sekali lagi pada Heri.


"Gue pengen buatin alat buat ngebantu kegiatan di warnet entar," jawab Heri dengan acuh.


"Oh…yaudah kalo gitu…" ucap Arif terlihat kecewa.


Akhirnya mobil mereka sampai di asrama Flower Garden. Heri setelah turun langsung masuk ke dalam asrama. Hari ini ibu Manda meminta warnet untuk tutup sementara. Itu sebabnya Ryu dan yang lain bisa jalan-jalan.


"Yo...biar gue yang nyetir…" ucap Mirhan saat mobil akan Ryu jalankan.


"Emang lo tau tempatnya?" tanya Ryu kemudian.


"Udah...lo tenang aja…" ucap Mirhan agak sedikit ngepaksa.

__ADS_1


Ryu sadar bahwa temannya itu pengen duduk di sebelah Helena, makanya dia langsung turun dan berpindah ke belakang. Belakangan ini Mirhan seperti cari perhatian sama Helena. Mulai dari pura-pura ke warnet Flower Garden tiap hari, sampai tiba-tiba beliin makanan buat Helena.


Sementara Helena hanya cuek aja mendapat perhatian lebih dari Mirhan. Dia tetap menganggap Mirhan seperti teman seasrama nya. Ryu sudah sadar itu dari lama, cuman dia tidak pengen ikut campur dalam urusan hati.


Mobil mereka melaju dengan santai ke daerah perkotaan. Mirhan kali ini membawa mobil lebih santai daripada kemarin waktu mereka telat ke sekolah. Ryu mulai khawatir rencananya akan gagal kali ini.


"Lo tau kan tempatnya dimana?" tanya Ryu kemudian memastikan pada Mirhan.


"Iya...gue tau...salon yang di daerah Sultan Adam kan?" tanya Mirhan dengan santai.


"Bukan di daerah sana..." Ryu kesal karena Mirhan pengen bawa mobil bukan karena hafal jalan, tapi karena duduk disebelah Helena saja. "Yang di daerah Sudi Mampir bro…" ucapnya lagi dengan kesal.


"Berarti kita salah jalan dong?..." tanya Mirhan langsung bergegas memotong untuk memutar balik mobilnya.


"Jangan disini bro…" ucap Ryu menahan Mirhan. "disini jalur satu arah…lo mau kita ditilang gara-gara ini doang?..." Ryu memarahi Mirhan. "Mending kita jalan terus aja…"


"Cerewet lo ah…" Mirhan menanggapi omelan Ryu dengan kesal.


Mobil melaju lurus terus sampai bundaran besar. Selama perjalanan tidak ada tempat untuk putar balik. Ryu tau di daerah itu sering razia dadakan.


Polisi itu lalu mengetuk pintu mobil Mirhan. Mirhan lalu bergegas membuka kaca mobilnya. "Selamat siang dek, bisa menepikan mobilnya?" tanya polisi itu dengan ramah pada Mirhan.


"Bisa pak…" jawab Mirhan sambil tersenyum ramah.


Polisi mendahului Mirhan menuju pos polisi yang berada tepat di samping lampu merah. Mirhan memarkirkan mobilnya di depan pos polisi. Di sana sudah terparkir beberapa motor dan mobil. Mereka semua keluar dari dalam mobil menuju pos polisi.


Ryu sebenarnya sudah merasakan ada yang tidak beres disini, tapi dia tidak tahu apa kesalahan mereka. Selama di perjalanan dia merasa Mirhan membawa mobil biasa saja. Mirhan tidak melakukan kesalahan apapun saat membawa mobil sebelum di lampu merah tadi.


Seorang polisi tersenyum saat mereka memasuki pos polisi. Di dalam pos itu ada seorang polisi yang duduk menghadap sebuah meja. Di meja itu terdapat beberapa buku besar dan beberapa surat tilang.


"Silahkan duduk dek," ucap polisi itu dengan ramah. Dari emblem nama yang tertempel di dadanya bisa ditebak nama polisi itu adalah Agung Gunawan. Mereka langsung duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Kalian tau kesalahan kalian apa?" tanya polisi itu dengan ramah.

__ADS_1


"Ya gak taulah pak, soalnya bapak gak bilang kesalahan kami," jawab Mirhan dengan polosnya.


"Ya sudah...mana surat-surat kalian?" tanya polisi itu dengan tegas.


Ryu lalu mengeluarkan SIM A mereka masing-masing. Mirhan mengeluarkan SIM A miliknya dan STNK mobilnya. polisi itu terkejut melihat mereka berdua memiliki SIM A.


Polisi bertanya, "Kamu dapat SIM ini dari mana?"


"Ya bikin di SIM Corner lah pak, masa mungut dari laundry," jawab Mirhan dengan santai.


"Kamu jangan bercanda ya!?" polisi itu terlihat kesal mendengar jawaban Mirhan. "sudahlah, sekali lagi saya tanya, kamu dapat SIM ini dari mana?" tanya polisi itu berusaha menahan emosinya.


"Begini pak, tadinya...saya kan pengen bikin SIM C buat motor aja, tapi kata om saya sekalian aja bikin SIM A buat mobil," Mirhan menjelaskan terperinci.


"Lalu, om kamu memangnya siapa? Kok kamu berani bilang seperti itu." tanya pak polisi dengan sikap tidak percaya.


"Itu tuh pak...yang tandatangani SIM nya," jawab Mirhan sambil menunjuk bagian tandatangan.


"Oooh..." tanggapnya seolah biasa saja, namun. "Eh?" kagetnya setelah menyadari yang menandatangani SIM itu adalah Komandan mereka.


Pak polisi itu langsung pucat setelah mengetahui itu semua. Sementara polisi yang meminta mereka hanya diam tanpa bicara. Mereka berdua berpikir sejenak sambil melihat SIM yang dia pegang.


Polisi yang memanggil mereka ke pos lalu berbisik ke pak Agung, "Kalau kita menilang mereka, kita bisa-bisa mendapat masalah."


"Baiklah...kalian silahkan pergi, tapi hati-hati membawa mobil, dan lain kali kalau membawa mobil jangan memakai seragam SMA," ucap pak Agung dengan ketus.


Mirhan dan Ryu lalu mengambil SIM dan STNK mobil mereka. Sementara Helena dan Arif hanya tersenyum menyaksikan apa yang mereka lihat. Ryu, Mirhan, Arif, dan Helena keluar dengan santai dari pos polisi.


"Selamat siang pak…" ucap Ryu sebelum mereka meninggalkan pos polisi.


"Siang...cepat kalian pergi…" ucap pak Agung dengan ketus.


"Yah…" hardik polisi yang satunya karena kesal gagal menilang mereka.

__ADS_1


"Soo.... Baksooo...." terdengar seorang penjual bakso melewati pos polisi.


bersambung…


__ADS_2