
Pagi di hari Minggu telah tiba, kicauan burung-burung seperti alunan nada yang indah. Membuat beberapa orang terbuai dalam mimpi. Begitu juga penghuni dari asrama Flower Garden.
Pagi ini suasana asrama Flower Garden sangat tenang. Tidak terdengar suara yang menyakitkan telinga seperti biasanya. Kemudian Hanna berjalan ke depan kamar Ryu.
"Sayang!...bangun!..." teriak Rasya tepat di depan kamar Ryu. Namun sepertinya Ryu tidak menunjukkan gelagat akan terbangun. "Sayang!...bangun!..." Rasya kembali memanggil Ryu tapi kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Ya ampun!...Sya!..." teriak Arif yang terbangun mendengar suara Rasya. "Ada apa sih!..."
"Emang di arama lo selalu begini Rif?..." tanya Obeng yang juga terbangun. Malam sebelumnya karena motor antik Obeng tidak bisa menyala, akhirnya dia memutuskan untuk menginap di kamar Arif.
Sementara itu Mirhan baru sampai di luar asrama Flower Garden. Tadi malam Mirhan pulang ke rumahnya untuk acara keluarga. Pagi ini dia baru sampai di asrama Flower Garden lagi.
"Heh...selamat datang bro...di kekacauan yang biasa terjadi di pagi ini…" ucap Mirhan yang sudah bisa menikmati keributan antar penghuni asrama.
"Lo ngapain Sya?..." tanya Heri pada Rasya.
"Gue pengen bangunin Ryu, soalnya hari ini dia harus ke rumah pak Sani untuk belajar…" Rasya menjelaskan pada Heri.
"Oh...Gitu…" ucap Heri dengan santai, kemudian dia mengeluarkan sebuah alat dari kantongnya. Alat itu selalu dibawanya setiap pagi untuk membangunkan orang yang bangun kesiangan. "Nih...pakai…" ucapnya sambil memberikan alat itu pada Rasya.
"Ini apaan?..." tanya Rasya setelah menerima alat pengeras suara dari Heri.
"Itu alat buat bangunin cowok lo…" jawab Heri sambil tersenyum.
"Oh…" ucap Rasya mengerti maksud dari Heri. "Her…" ucapnya kemudian.
"Iya apalagi sih?..." tanya Heri dengan kesal.
"Gimana cara pakainya?..." tanya Rasya dengan polosnya.
"Hedeh...lo tinggal pencet aja...tombol yang ada, terus deketin mulut lo ke bagian atas, itu micnya…" ucap Heri menjelaskan dengan sabar.
"Yang ini?..." tanya Rasya lagi sambil memperlihatkan tombol yang Heri maksud.
"Iya…" jawab Heri.
Setelah Rasya memencet tombol terdengar suara berdengung sangat kencang. "SAYANG!...BANGUN!..." teriak Rasya.
Suara teriakan Rasya mengagetkan setiap orang yang ada di asrama itu, termasuk Mirhan yang baru saja menaiki tangga asrama. Suara itu lebih keras dari suara jet tempur. Suara itu bisa mengalahkan suara mic dari mesjid-mesjid yang ada di sekitar mereka.
"Buju...buset!...suara apaan barusan!..." tanya Mirhan karena terkejut.
Dia kemudian memegang dadanya, dia takut jantungnya akan copot mendengar suara barusan. Obeng dan Arif juga keluar dari kamar mereka karena mendengar suara Rasya. Kemudian pintu kamar Ryu terbuka diiringi dengan hembusan asap tebal dari dalam kamar. Itu persis seperti Jin yang keluar dari botolnya. Cuman Ryu ternyata masih memakai boksernya, dia tidak memakai pakaian apapun.
Rasya yang tidak pernah melihat pemandangan itu sontak berteriak, "KKEEAAKK!..." tapi dia lupa mematikan alat itu, jadi semua orang mendengar suara teriakan Rasya dari pengeras suara.
Suara itu membuat orang-orang yang melewati asrama langsung terkejut. Helena kemudian naik ke atas tangga untuk mengetahui apa yang sedang terjadi disana. Sementara Ryu, Heri, Mirhan, Arif, dan Obeng terdiam seketika mendengar suara Rasya
"Teriakan cewek dari video hentai…" ucap Mirhan sambil terpana.
__ADS_1
"Suara cewek jepang…" ucap Arif berkomentar.
"Sama seperti suara dari video yang sering Arif putar di kamarnya…" ucap Heri yang kamarnya berseberangan dengan Arif.
"JAV…" ucap Obeng yang juga terpana.
"Eh...lo pada jangan mikir macem-macem...cewek gue nih…" tanggap Ryu dengan kesal. "Bentar dulu...gue pengen ganti pakaian dulu…" ucapnya kemudian masuk kamar.
Rasya masih terpana melihat pacarnya yang hanya memakai celana bokser. Dia baru kali ini melihat pacarnya hanya memakai bokser. Otak Rasya langsung traveling kemana-mana, karena kejadian barusan.
"Sya...boleh gue pinjem alat gue?..." ucap Heri pada Rasya kemudian.
"Oh...iya Her...ini…" ucap Rasya masih shock.
"Lo baru liat Ryu pakai bokser aja udah kayak gitu...apalagi liat dia gak pakai celana…" ucal Obeng ngejek Rasya.
"Apaan sih Beng?...kalau bercanda tau waktu dan tempat dong…" Helena marah-marah lalu memeluk Rasya. "Gue tau ini berat buat lo…"
"Ya ampun…gini amat punya asrama...pagi-pagi udah ada keributan..." gumam Ibu Manda yang baru saja pulang dari jogging baru menaiki tangga menuju ruangan muridnya.
Arif yang melihat ibu Manda memakai pakaian jogging langsung tercengang. "Melon besar…" gumam Arif sambil melotot melihat ibu Manda.
"Hm? Ada apa, Rif?" tanya Ibu Manda sambil menyeka keringatnya.
"Ng-nggak...nggak ada apa-apa kok bu..." jawab Arif dengan grogi. "Cuman tadi Ryu susah dibangunin...seperti biasa..." ucap Arif lalu kembali menuju ke kamarnya.
Heri yang memperhatikan keadaan ini setelah turun dari tangga menuju pintu keluar langsung berhenti lalu mau putar balik naik ke lantai 2. "Her, lo mau kemana?" tanya Helena yang masih menenangkan Rasya.
"Mesinnya mau lo masukin ke kamar lo?..." tanya Helena memeluki Rasya yang sudah mulai tenang.
"Iya...gue lupa soalnya..." jawab Heri sambil menuju ke lantai 2 ruangan kamar laki-laki.
Mesin karaoke yang dimaksud Heri adalah alat yang biasanya dipakai teman-temannya untuk keperluan acara pesta dan bernyanyi. Bentuknya memiliki 2 buah roda dan satu pegangan seperti koper tarik yang dipakai para wisatawan.
(sudah pernah disebut pada bab 6 chat story "Flower Garden 13")
Setelah memakai pakaiannya Ryu langsung membuka pintu kamarnya. Kemudian Heri berjalan menuju kamar Ryu. "Yo...alat gue tadi malam ada di kamar lo kan?..." tanya Heri dengan serius.
"Oh ada...nih di samping lemari…" jawab Ryu sambil menarik alat itu. "Ya ampun...ini alat berat bener...banyak dosa ya?..." ucap Ryu berusaha mencairkan suasana. Setelah itu Heri ikut menariknya dengan susah payah bersama Ryu keluar dari kamarnya dan menuju kamar Heri.
"Her, gue ada ide nih buat mesin karaoke." ucap Mirhan sambil melihat temannya yaitu Ryu dan Heri menarik alat itu.
"Ya?" jawab Heri dengan kepayahan.
"Kan ini benda masih prototipe…" Mirhan mulai memberi ide.
"Terus?" Heri menjawab dengan wajah yang berkeringat.
"Gimana kalau layarnya ganti jadi LCD? Diatasnya ini kan masih menggunakan layar seperti monitor atau TV tabung." ucap Mirhan yang tidak sadar temannya sedang kelelahan.
__ADS_1
"Ide bagus." Heri lalu mulai mendorong lagi bareng Ryu.
"Bener tuh, biar lo gak keberatan pas menarik atau dorong benda ini." Obeng mulai memberi ide, terpaksa Heri dan Ryu berhenti lagi.
"Hadeh…capek juga...oke deh, saran dari Mirhan bakalan gue terapin buat prototipe berikutnya..." ucap Heri lalu melanjutkan mendorong bersama Ryu.
"Eh...lo pada cuman ngasih ide doang? Heri capek-capek narik-dorong tuh mesin portable ga dibantu apa?" ucap Ryu karena kesal dengan sikap temannya yang tidak peka.
"Ah elah...lo juga bantu kali..." ucap Obeng menanggapi omelan Ryu.
"Emang lo pikir gue ngapain?..." tanya Ryu dengan kesal. "Main gundu?..." tanyanya lagi.
"Eyak!...terus...terus…dorong…" Helena jadi seperti tukang parkir bawa peluit. "Stop..."
"Hadeh…Inii cewek-cewek cuman bisa suruh doang kah?" Obeng
"Fiuh…nih bu, dua ribu rupiah...Inikan yang lo mau?" ucap Heri sambil seperti mengeluarkan uang parkir.
"Malah jadi tukang Parkir." ucap Rasya geleng-geleng kepala
"Tapikan ini uang 20 ribu…ga ada kembaliannya." ucap Helena sambil senyum.
"Udah. Ambil aja kembaliannya." ucap Mirhan sambil tersenyum. "Her, nanti gue ganti uangnya."
"Si Anak Sultan ikutan juga." Rasya menepuk dahinya. "Ini kapan mau belajar ke rumah pak Sani...ntar lo pada kena masalah lagi?..." omel Rasya pada mereka yang kebanyakan bercanda.
"Ya habis ini lah…" jawab Ryu setelah memasukkan tuh alat kekamar Heri.
"Eh tunggu...lni duitnya beneran buat gue?" tanya Helena kepada Mirhan masih kebingungan yang tadinya hanya untuk bercanda.
"Iya...udah buat lo aja..." ucap Mirhan. "Anggap aja gue bersedekah…"
"Eh...lo pada diam baek...buruan berangkat!.." teriak Arif yang ternyata sudah di lantai 1.
...***...
Akhirnya bersambung…
Capek juga nulisnya, kerjanya juga.
Untung masih sempet.
Hehe. Maaf curhat.
Benda yang dimaksud Heri dan teman-temannya adalah diatas, tapi yang ini yang sudah pakai LCD dan baterai. Mic nya pun sudah wireless (tanpa kabel). Ukuran pada gambar inipun sudah mengecil daripada versi prototipe yang dimaksud Heri.
Sudah ya… Ide lo udah kami realisasikan, Anak Sultan!
__ADS_1
Buat temen-temen punya ide lain, silahkan aja chat ke Noveltoon author Seryu Nagami atau Author Ryumaru.