
Hari ini keadaan di SMA Flower Garden 13 sangat ramai, karena sedang ada acara yang diadakan oleh para anggota OSIS. Masing-masing pendukung calon ketua OSIS meneriakan dukungan mereka pada calon mereka masing-masing. Sementara di tempat khusus Mirhan terlihat sangat serius membaca isi catatan yang ditulis oleh Rasya kemarin saat di asrama Flower Garden.
Disana sudah ada Ryu, Heri, Arif, Obeng, Firman, Agus, Helena, Rasya, Dea, dan Adel. Mereka menyiapkan semuanya agar acara hari ini berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan calon ketua OSIS yang lain juga menyiapkan diri untuk berorasi.
Kemudian Dicky dan teman-temannya datang melewati tim sukses Mirhan. "Oh ini calon para anak-anak yang bermasalah di SMA?..." ejek Dicky dengan sinis.
"Maksud lo apa?..." tanya Arif yang mulai tersulut emosinya.
"Udah Rif…" ucap Ryu dengan tegas. Dia berusaha menahan Arif agar temannya itu tidak terpancing emosi. "Mereka hanya memancing kita…" ucapnya lagi untuk mengingatkan.
"Apa?...lo takut?..." tanya Dicky dengan tatapan menantang.
"Suara siapa barusan?..." tanya Mirhan seolah dia hanya mendengar tapi tidak melihat Dicky.
"Gue rasa itu suara dari calon pecundang…" ejek Heri dengan frontal.
"Heh...ngapain lo pada ada disini?...ini bukan tempat kalian…" Obeng juga ikut bersuara menghina Dicky.
"Ayo kelapangan…" ucap Dicky yang ternyata terpancing dengan ucapan dari Mirhan dan teman-temannya.
"Ngapain?..." tanya Ryu meremehkan. "Kalau tim kami bisa ngalahin lo pada tanpa harus mengeluarkan keringat…" tambahnya lagi dengan tersenyum sinis.
"Oh ya...gue hanya pengen nanya ke lo pada…" ucap Arif sudah bisa mengontrol emosinya. "Apa lo pada sudah siap kalah?..." tanyanya sambil tersenyum.
Dicky dipaksa oleh teman-temannya untuk meninggalkan Mirhan dan teman-temannya. Sebelum pergi dia sempat berbalik pada mereka semua. Dengan wajah yang merah menyala dia mulai berbicara.
__ADS_1
"Gue pastiin lo bakalan tersiksa saat gue terpilih jadi ketua OSIS…" ancam Dicky dengan serius.
"Oke...gue tunggu…" Mirhan menanggapi ancaman Dicky dengan santai. "Tapi...lo yakin...bisa ngalahin Anak Sultan?..." kali ini Mirhan merasa bangga menyebutkan gelar yang diberikan oleh teman-temannya padanya.
Dicky tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah merasa kalah dengan Mirhan. Sementara Mirhan tambah semangat untuk pidato hari ini. Dia lalu menambahkan sebuah tulisan pada text pidato tersebut.
Akhirnya para anggota OSIS mulai memanggil calon-calon ketua OSIS yaitu Dicky, Mirhan, dan salah satu calon ketua OSIS dari kelas 2 IPA. Mirhan terlihat sangat yakin akan berhasil memenangkan pemilihan ini. Sementara Dicky ternyata sudah merencanakan sesuatu.
Pertama Dicky yang mulai berpidato di podium. Dia tidak membawa text sama sekali, "Saya disini akan menjabarkan visi dan misi saya apabila saya terpilih menjadi ketua OSIS," ucapnya dengan mantap. "Saya akan meningkatkan ekskul-ekskul yang selama ini tidak diutamakan di sekolah ini, salah satunya ekskul basket...karena sudah lama ekskul basket kita tidak memiliki gelar...jadi dengan dana OSIS yang ada akan saya manfaatkan untuk ekskul basket...dan begitu juga ekskul-ekskul lain yang ada tapi tidak diperhatikan oleh sekolah…" ucapnya berapi-api. "Saya akan membuatkan jadwal untuk setiap ekskul yang ada di sekolah ini…" itulah salah satu poin dari pidato Dicky. Dia turun dari podium dengan yakin akan terpilih.
Kemudian giliran kakak kelas 2 IPA yang mulai berpidato. Intinya dia berjanji untuk meningkatkan penyerapan murid pada setiap mata pelajaran. Dia berharap setiap murid bisa memperoleh nilai yang memuaskan di sekolah. Isi pidatonya sama seperti rencana isi pidato dari Heri.
"Her… rencana isi pidato lo sudah disampaikan oleh kakak kelas 2 IPA…" ucap Arif menyindir Heri.
Kemudian giliran Mirhan yang mulai naik ke atas podium dengan santai. "Selamat pagi teman-teman…" ucap Mirhan membuka pidatonya.
"Weh…Anak Sultan juga ikut mencalonkan menjadi ketua OSIS…" ejek salah seorang murid menyindir Mirhan.
"Terima kasih dukungannya…" Mirhan menanggapi ejekan itu sambil tersenyum. "Kali ini saya akan menyebutkan beberapa visi dan misi saya kalau menjadi ketua OSIS…" dia kemudian berhenti sejenak untuk mendengar respon dari murid yang lain. "Sekolah kita ini adalah salah satu sekolah yang sangat besar...segala fasilitas sudah tersedia mulai dari gedung serba guna dan lapangan...tapi...kenapa disekolah sebesar ini masih ada beberapa murid yang tidak merasa nyaman bersekolah disini?..." tanya Mirhan pada murid yang lain.
"Karena di sekolah banyak pemalakan dan banyak pembulian…" jawab salah seorang murid dari kelas satu.
"Benar sekali...sebab percuma ekskul yang ditingkatkan dan pendidikan yang ditingkatkan...kalau murid-muridnya tidak merasa aman di sekolah...maka dari itu misi saya yang utama adalah untuk agar murid-muridnya merasa nyaman bersekolah disini…" ucap Mirhan berorasi. "Terus untuk ekskul saya sudah meminta sebuah tempat ke pihak sekolah untuk tempat kalian berlatih khususnya ekskul drama dan musik...dan setiap minggu akan ada pentas seni akhir pekan untuk panggung anak drama dan anak musik...yang sebagai penontonnya adalah murid-murid dari sekolah ini…" ucapan Mirhan yang terakhir disambut meriah oleh murid-murid dari ekskul seni. "Untuk iuran OSIS dipungut setiap minggunya dengan nominal iuran terendah dari OSIS sebelumnya…"
"Perasaan ini gak ada di teks deh…" keluh Ryu mengingat-ingat. "Ini anak pasti ngide nih…" dia terlihat kesal mendengar pidato Mirhan yang ini.
__ADS_1
"Aduh…mulai lagi…" inilah yang sangat dikhawatirkan Heri.
"Waduh...diborong semua dong..." ujar Arif yang heran dengan apa yang temannya ucapin.
"Hadeh…si Anak Sultan, nggak di asrama nggak di sekolah sama aja..." gumam Helena menggeleng-gelengkan kepala.
"Hm? Anak Sultan?...maksud lo siapa Len?" Masha bingung dengan ucapan Helena.
"Eh...A-anu...aduh…gak apa-apa kok " Helena terlihat bingung mau jawab apa.
Kemudian Mirhan turun dari panggung sambil tersenyum puas. Dia yakin bisa mendapatkan suara terbanyak di pemilihan calon ketua OSIS. Kemudian Ibu Manda sudah menunggunya saat Mirhan akan melewatinya.
"Yang barusan tadi itu ide kamu semua Mir?"
"Eh...hehehe..." kesan Mirhan bingung menjawab harus menjawab apa.
"Jadi ini adalah rencana dadakan dari kamu Mir?" Ibu Manda.
"Hehehe…iya bu." Mirhan menggaruk belakang kepalanya dia, merasa seperti seseorang yang sudah terciduk mengambil mangga tanpa izin di rumah orang sekarang.
Ibu Manda menggeleng-gelengkan kepala karena bingung dengan muridnya yang satu ini. Dia lalu memandang ke arah Ryu, Heri, dan Arif seperti bertanya tapi dengan kode. Ryu meresponnya dengan mengangkat kedua bahu dan tangannya. Untuk Heri dia memijat kepalanya atas kelakuan Mirhan. Lalu si Arif malah melongo kebingungan terheran-heran melihat kelakuan Mirhan diatas panggung tadi. Setelah itu mereka mulai menunggu masa tenang setelah kampanye.
Eh? Bersambung?
Hehehe...
__ADS_1