
Kemudian Handphone Ryu berbunyi seperti ada yang sedang menelponnya. Dia lalu mengecek siapa yang sedang menelponnya. Ternyata itu adalah telepon dari Heri yang dari tadi keluar asrama.
"Iya...ada apa Her?..." tanya Ryu setelah mengangkat telepon.
"Lo ada di rumah?..." tanya Heri lewat sambungan telepon.
"Ada…" jawab Ryu. "Emangnya ada apa?..."
"Buruan keluar bantuin gue…" jawab Heri terdengar kelelahan.
Langsung saja Ryu berlari keluar asrama untuk menemui Heri. Ternyata Heri sudah menunggunya di luar. "Apaan nih?..." tanya Ryu terkejut dengan barang yang Heri bawa. "Lo baru borong toko atau apa sih?..." ucapnya lalu mendekat ke arah Heri.
Heri terlihat kecapean diantar mobil dengan bak terbuka di belakang. Heri memilih tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dia kemudian membayar sejumlah uang untuk sopir yang menurunkan barang-barangnya.
Setelah membayar sejumlah uang ke sopir mobil bak terbuka itu, dia baru menghampiri Ryu. "Entar gue ceritain di dalam…" jawab Heri lalu mengangkat salah satu barang. "Sekarang tolong bantu gue bawa barang-barang ini ke kamar gue…" pintanya pada Ryu.
"Oke…" ucap Ryu lalu ikut membantu Heri mengangkat beberapa barang. Diantara barang itu ada layar LCD untuk laptop dan ada beberapa komponen-komponen yang tidak Ryu ketahui.
Ryu dan Heri masuk lewat pintu depan asrama. Membawa beberapa barang yang penting. Setelah meletakkan ke dalam kamar Heri, kemudian mereka balik lagi ke depan asrama untuk mengangkut papan yang kayu dan kaleng cat berwarna hitam.
Arif terlihat menggelengkan kepala saat dia keluar asrama. Melihat kedua sahabatnya sedang sibuk di luar. Dia lalu membantu Ryu buat mengangkat papan dan kayu. Sementara Heri membawa kaleng cat dan beberapa kabel.
"Bosiet…berat banget ini kayu papan..." tanya Arif yang menyadari benda yang dia bawa itu sangat berat. "Udah gitu warnanya gelap lagi gak kayak kayu biasanya…" dia mengeluh kemudian.
"Itu kayu ulin...kayu khas Kalimantan...memang berat, tapi awet sampai berpuluh-puluh tahun…itulah yang membuat kayu jenis ini cukup mahal..." ucap Heri menjelaskan sambil berjalan di belakang Ryu dan Arif.
"Kayaknya ini kita taruh di belakang asrama aja deh...soalnya kalau di taruh di kamar lo...udah pasti sempit...dan lagi suara bising lo saat mengerjakan ini bakalan mengganggu seluruh penghuni asrama…" saran Ryu pada Heri sambil berdiri menggendong kayu dan papan.
Heri terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab. Sedangkan Ryu dan Arif berdiri sambil menggotong kayu dan papan itu. Mereka menunggu tanggapan dari Heri atas ide yang Ryu sarankan.
"Hem...bener juga ya…" tanggap Heri sambil tersenyum.
"Bentar...bisa gak kita turunkan ini barang? Tangan gue udah pegel banget bro…" keluh Arif yang sudah tidak bisa menahan lama lagi untuk terus mengangkat.
"Oke…" jawab Ryu lalu menurunkannya. Sementara Arif terkejut yang membuat keseimbangannya hilang lalu terjatuh.
"Aduh!..." pekik Arif mendadak.
__ADS_1
"Lo kenape?..." tanya Ryu dengan seolah tidak bersalah.
"Eh Jin Botol, lain kali kalau lo mau nurunin kasih aba-aba dulu napa?..." Arif ngomel-ngomel pada Ryu sambil mengibaskan telapak tangannya, lalu dia berdiri kembali.
"Sorry bro...tangan gue sakit…" jawab Ryu beralasan.
"Ya tangan gue juga sakit kali…" tanggap Arif sambil mengurut tangannya yang sakit.
Sementara itu Heri tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ryu dan Arif menyadari ditertawakan Heri hanya diam lalu menatapnya dengan tajam. Menyadari sedang ditatap Ryu dan Arif, Heri pun langsung menghentikan tertawanya dengan pura-pura batuk.
"Jadi ini diletakkan dimana Her?..." tanya Arif kemudian lalu bersiap mengangkat lagi.
"Oh...iya...di belakang asrama aja…" jawab Heri lalu mendahului mereka.
Kemudian Ryu dan Arif kembali mengangkat kayu dan papan itu mengikuti Heri. Mereka berjalan melalui samping asrama. Disana ada jalan yang terhubung ke belakang asrama.
Ternyata lumayan susah membawanya lewat samping, karena jalannya cukup sempit. Ditambah lagi keadaan jalan yang kurang bagus untuk dilewati. Jadinya mereka harus ekstra hati-hati untuk lewat disana.
Di belakang asrama ini ada sebuah taman yang cukup luas. Disana ditanami beberapa bunga yang ditanam ibu Manda dan sebuah pohon mangga, ada juga kursi taman untuk bersantai. Kursi itu biasanya dipakai anak asrama untuk bersantai dan belajar, sebab suasananya lebih damai dan tenang.
Ada juga yang bercerita kalau pernah datang sekelompok bule yang sedang KKN di sekolah ini. Mereka terkejut melihat komplek ini saat mereka membicarakan drama mandarin "Meteor Garden". Lalu salah satu dari mereka berteriak "Flower…flower everywhere" lalu akhirnya jalan ini disebut dengan "Flower Garden".
Mereka akhirnya sampai juga di sebuah taman yang ada di belakang rumah. Arif dan Ryu terlihat sangat kelelahan membawa kayu dan papan yang Heri beli. Sementara Heri sudah duduk sambil minum cola dalam sebuah gelas yang berisi es.
"Ah sialan...dia udah santai aja sambil minum es cola…" keluh Arif sambil menyeka keringatnya.
"Oh, lo pada mau?..." tanya Heri sambil mengeluarkan dua gelas yang berisi es. "Colanya lo tuang sendiri ya?..." tambahnya sambil minum cola.
"Apa boleh buat?..." ucap Ryu lalu menuang cola ke sebuah gelas.
"Eh tunggu...gue juga mau…" ucap Arif menyusul sahabatnya, dia ikut menuangkan cola ke gelas yang berisi es miliknya.
Selesai meneguk cola Ryu bertanya, "Emang ini buat apaan sih Her?..."
"Gue pengen bikin ini…" jawab Heri sambil memperlihatkan sebuah kertas yang berisi rancangan alat.
__ADS_1
Ryu terlihat membacanya dengan serius sekali. Dia melihat rancangan ini seperti benda yang tidak asing lagi. Kemudian dia tersenyum seakan tahu apa yang akan Heri buat.
"Ini bukannya alat karaoke ya?..." tanya Arif kemudian saat dia melihat rancangan milik Heri.
"Ya emang...lo pikir kita mau bikin apaan?" tanya Heri dengan tersenyum.
"Gue pikir lo mau bikin peti jenazah...soalnya tuh kayu dan papan berat benget…" jawab Arif sambil nyengir.
Kemudian terdengar suara sirine ambulan lewat di sekitar jalan dekat asrama. Itu cukup membuat mereka bertiga terkejut. Mereka kemudian saling tatap-tatapan karena merasa akan nuansa film horor.
"Eh lo kalau ngomong suka bener ya Rif…" ucap Ryu memarahi Arif.
"Sorry...gue gak nyangka bakalan sehoror itu bro…" tanggap Arif yang juga ketakutan.
"Mending kita lanjut ke rancangan Heri yuk…" ucap Ryu berusaha mengembalikan keadaan.
Tiba-tiba datang sebuah mobil yang berhenti di depan asrama. Mereka sudah menebak itu adalah suara mobil milik Mirhan. Kemudian terdengar pintu depan asrama dibanting dengan sangat keras.
Sontak saja mereka yang sedang bersantai di taman belakang asrama terkejut. "Mir...kalau buka pintu pelan-pelan dong…" teriak Arif dengan kesal.
"Iya...sorry...lo pada lagi ngapain?..." tanya Mirhan berusaha santai.
"Ini si Anak Jenius mau bikin alat karaoke buat kita pakai entar…" ucap Ryu sambil senyum.
"Oh gitu...yaudah gue pengen ke kamar dulu ya?..." Mirhan lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kok gue merasa ada sesuatu yang aneh ya sama tuh anak?..." ungkap Heri sambil menatap Mirhan yang pergi meninggalkan mereka.
"Eh...bentar...gue mau nyusul dia dulu…" ucap Ryu lalu masuk ke dalam asrama.
Dia bergegas menyusul Mirhan untuk menanyakan kenapa dia pura-pura pinjam uang dirinya lalu memberikan uang itu pada ibu Manda. Dia lalu berjalan menaiki tangga untuk menyusul Mirhan. Kemudian dia tertegun saat mendengar Mirhan yang sedang menelpon seseorang.
Sepertinya dia sedang berbicara serius di telepon. "Mirhan kan baru aja masuk SMA...sementara kak Fikri sudah lulus sudah kuliah...kenapa bukan kak Fikri aja yang disuruh nerusin perusahaan?..." Mirhan terdengar sangat kesal.
Yah...bersambung…
Penasaran kan?....
__ADS_1