Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 21 | "Pemilihan calon ketua OSIS" (bagian kedua)


__ADS_3

Sebelumnya….


Ryu, Heri, Arif, Mirhan, Obeng, Firman, Agus, Helena dan Rasya sedang membahas tentang pemilihan calon ketua OSIS. Kemudian Mirhan memiliki ide untuk mengajak semuanya bermain monopoli. Namun semuanya menolak karena waktunya tidak tepat. Akan tetapi Ryu memiliki ide dari dadu monopoli tersebut. Lalu tibalah giliran Ryu melempar dadu, angka yang keluar adalah 11.


Ryu hanya berharap ada yang keluar angka lebih tinggi dari dia. Harapan Ryu sia-sia karena Heri, Arif, obeng, dan Firman mengeluarkan angka yang lebih kecil darinya. Harapan terakhir Ryu hanya Mirhan yang bersiap melempar dadu. Mirhan dengan santai melempar dadu, kemudian angka yang keluar adalah 12.


"Benar kata orang, orang kaya selalu beruntung," ucap Heri dengan sinis.


"Yes!..." seru Ryu sangat senang.


...*...


"Eh bentar, omongan lo kok kayak pengisi suara film kartun dimana episode sebelumnya dengan episode berikutnya berbeda dialog?" tanya Mirhan.


"Maksudnya kayak si Topi Jerami bilang 'Jeki… Lenganmu…' seharusnya 'Seng…Lenganmu hilang…' begitu?" tanya balik Helena yang cukup mengerti maksud Mirhan.


"Sudahlah…" lanjut Heri.


...*...


Oke kembali ke cerita.


Heri, Helena, dan Rasya terlihat kecewa, karena mereka tidak yakin Mirhan mengerti tugas menjadi ketua OSIS. Sementara Arif, Obeng, Agus, Firman, dan Ryu tidak masalah. Apalagi bagi Ryu, yang penting bukan dia yang menjadi calon ketua OSIS.


"Yu…" ucap Mirhan pada Rio. "Tugas ketua OSIS apa sih?" tanya Mirhan dengan polosnya. Wajar saja, waktu dia SMP belum tau apa itu ketua OSIS.


"Ketua OSIS itu tugasnya kayak gubernur, presidennya adalah kepala sekolah, dan guru-guru kayak anggota dewan," jawab Heri menjelaskan secara rinci. Mirhan sendiri sepertinya masih belum mengerti.


"Intinya ketua OSIS adalah siswa yang mengetuai Organisasi Siswa yang ada di sekolah, Misalkan mengadakan acara, perencanaan tim-tim cabang olahraga, dan apapun kegiatan siswa," ucap Ryu memberikan penjelasan.


"Oh...gitu…" Mirhan baru saja memahaminya. "Jadi apa yang harus gue lakuin buat kepilih?" tanya Mirhan lagi dengan polosnya.


"Ya tergantung...lo pengen cara bersih atau cara setengah kotor?" tanya Arif dengan tertawa licik.


"Eh, Aligator! Lo jangan ngajarin anak orang yang aneh-aneh ya?" ucap Obeng memarahi Arif sambil menepuk bahunya.


"Ya enggak lah. Maksud gue tuh, tinggal kita kasih uang aja satu-satu biar mereka milih lo, gitu…" usul Arif sambil tersenyum.


"Oh, oke…berapa duit?" tanya Mirhan sambil mengeluarkan dompetnya berisikan kartu debit.


"Hadeh…emang lo pikir ini pemilu di Wakanda?...yang apa-apa kalau mau terpilih harus ngasih uang dulu?" sekarang Heri yang memarahi Arif. "Kalau lo pengen terpilih cukup lo dengerin apa keinginan murid-murid di sekolah kita," ucap Heri sekarang memarahi Mirhan.


"Nah...Mudahnya kita deketin aja anak-anak kelas satu dan kelas tiga dulu, tanyain mereka apa yang masih kurang di sekolah kita," ucap Ryu memberi usul.

__ADS_1


"Oiya, kenapa lo gak coba sekalian aja deketin anak-anak kelas dua?" tanya Rasya pada Ryu.


"Yaelah...anak kelas dua ya sudah pasti memilih calon ketua OSIS dari kelas dan jurusan mereka lah," ucap Ryu menjelaskan. "Sementara kita, gue yakin pasti bisa dapetin suara dari anak kelas 1A, 1B, 1C, dan 1D," ucap Ryu menambahkan.


"Eh tapikan mereka gak mungkin juga semuanya milih Mirhan kan?" tanya Helena mematahkan teori Ryu.


"Hm...Iya juga sih…" Ryu sependapat dengan Helena. "Makanya kita cari cara buat deketin mereka dan deketin anak kelas 3 supaya mendapat suara dari mereka," ucap Ryu memberi arahan.


"Eh, beb… gimana kalau gue bisa dapetin suara untuk anak kelas 2 IPS?" tanya Rasya. "Lo mau lakuin apa yang gue mau?" tanya Rasya bersemangat.


"Eeeeyak….Kok mulai panas ya?" Arif sambil mengipas-ngipas bajunya.


Mendengar akan kode Arif, Helena melanjutkan dengan teknik pengisi suara nya, "Sepertinya lawan mulai menyerang saudara-saudara…"


"Apa sih kalian ini?" Rio mulai kesal dengan teman-temannya.


"Ayolah Yu…" ucap Arif memaksa Ryu. "Ini demi Mirhan mendapat suara di kelas 2 IPS," tambah Arif memaksa Ryu.


"Heh…oke deh...gimana caranya lo bisa dapetin suara dari anak kelas 2 IPS?" tanya Ryu pada Rasya.


"Gampang lah...tapi lo harus temenin gue ke kelas 2 IPS…" pinta Rasya bersemangat.


"Daaan Goooooool….akhirnya bung...teman kita menerima tawaran dari Rasya," ucap Helena dengan antusias.


"Benar sekali...akhirnya Rasya bisa dekat dengan Ryu…" ucap Arif menimpali.


"Eh… Kalian berdua kenapa? Kok bahagia banget sampe bikin selebrasi seperti itu?" tanya Obeng.


"Huh? Gapapa kok!" ucap Helena.


"Iya, biasa aja kali." balas Arif sambil bersiul.


"Eh, tapi untuk kelas 2 IPA kayaknya sulit deh Yu…" ucap Helena. "Soalnya anak IPA sepakat pengen dukung Widya tuh…" tambah Helena menjelaskan.


"Widya? Hm...anak IPA yang menjuarai Olimpiade Sains Fisika itu ya?" tanya Firman karena terkejut dengan penjelasan Helena.


Sontak saja mereka memandangi muka Mirhan yang bloon. Mereka sadar Mirhan sulit sekali untuk mendapat suara terbanyak. Heri pun merasa kurang yakin dengan Mirhan.


"Anak kesayangan bapak ini….-" dalam hati Ryu meragukan Mirhan.


"Apakah punya peluang?" dalam hati Heri dan Helena meragukan si anak sultan.


"Mir, besok traktir gue makan bakmi di kantin ya?" tawar Obeng kepada Mirhan. Mirhan mengacungkan jempol kepada Obeng sambil tersenyum sejak tadi melihat keseruan teman-temannya membahas hal ini.

__ADS_1


"Hadeh…Duo bloon ini…" Firman menggelengkan kepala menanggapi kelakuan mereka dari dalam hati.


Sepertinya Ryu, Heri, Helena, dan Firman meragukan Mirhan dalam hal pemilihan ketua OSIS ini.


"Tapi gue punya teman anak kelas 3 IPS dan IPA," ucap Arif bersemangat.


"Kenal dari mana lo?" tanya Rio bingung.


"Mereka semua bekas adik kelas gue," jawab Arif dengan santai.


"Pasti adik kelas cewek." jawab spontan Heri ngasal.


"Ya enggak lah, mbing!" balas Arif.


"Oh iya….gue lupa…lo kan seharusnya sekarang sudah lulus SMA," ucap Obeng menyindir Arif.


"Eh...lo juga seangkatan sama gue jir…" ucap Arif memarahi Obeng.


"Anak kelas tiga IPA dan IPS juga sering main game online ke Warnet kita," ungkap Helena menjelaskan.


"Yaudah kita deketin aja mereka," ucap Ryu bersemangat.


"Mereka main game online Dotha Yu…" ucap Rasya menjelaskan.


"Kok lo tau Sya?" tanya Obeng bingung.


"Soalnya gue sering main game online bareng mereka," jawan Rasya menjelaskan. "Kalau lo mau gue kenalin sama mereka, lo harus belajar main game Dotha," ucap Rasya pada Ryu.


"Sebelumnya yang daftarin Mirhan menjadi calon siapa nih?" tanya Helena kemudian. "Kan gak mungkin dia daftarin sendiri," tambah Helena.


"Sama lo aja Na…" ucap Ryu pada Helena.


"Kalau gue yang anterin...nanti anak-anak IPA pada marah sama gue," Helena menanggapi Ryu.


"Bener juga," ucap Rio kemudian berpikir keras. "Her...lo aja gimana?...lo lumayan kenal kan sama Masha," ucap Ryu pada Heri.


"Yaudah sini…lha…Kok gue?..." tanya Heri dengan kesal.


"Kalau kita gak terlalu akrab sama anak OSIS, jalan satu-satunya hanya lo…" Ryu menjawab sambil tersenyum.


"Hehe…lo gugup ya Her kalau harus ketemu Masha?" tanya Arif sambil nyengir.


"Si...siapa bilang?..." Heri berusaha menutupi kegugupannya. "Oke...besok gue temenin…" ucap Heri dengan mantap.

__ADS_1


Entah mengapa terdengar suara tukang sate di luar teriak "Teeee….sateeee…."


Bersambung...


__ADS_2