
Saat Ryu masih berada di sekolah. Mirhan, Arif, Heri, Helena, Rasya, Firman, Obeng, Agus, Dea, dan Adel sedang berada di warnet Flower Garden. Mereka berkumpul untuk mengadakan rapat disana.
"Ah…gue punya ide…" ucap Mirhan bersemangat.
Mirhan kemudian memberitahukan rencananya dengan serius kepada teman-temannya. Sementara yang lain mendengarkan arahan Mirhan dengan serius. Setelah Mirhan selesai mengatakan rencananya, mereka pun terlihat tersenyum mendengarkan idenya.
"Kayaknya kalau ide dari Anak Sultan bakalan gak tertebak…" komentar Helena bersemangat.
"Jangan yang aneh-aneh ya Mir?..." Heri mengingatkan Mirhan.
"Jadi kapan rencana lo dimulai?..." tanya Arif bersemangat.
"Kita tunggu sampai Ryu datang ke Asrama, lo pada bersembunyi aja dulu…" jawab Mirhan sambil tersenyum. "Sekarang gue nelpon bokap gue dulu...buat anak buahnya bawain mobil ke asrama…" ucap Mirhan sambil tersenyum.
***
Ryu baru bisa pulang dari sekolah karena membantu pak Sani. Dia terlihat sangat kecapean sekali dan sekarang ingin istirahat. Hari ini dia bukan hanya mengisi data nilai ekonomi untuk kelas 1A, tapi juga untuk kelas 1B dan 1C.
Dia pulang memakai motor milik Rasya, jadi pacarnya itu pulang bareng Mirhan naik mobil. Dia cukup terkejut saat sampai di asrama, karena ada sebuah mobil bermerek BMW berwarna biru. Itu adalah mobil yang ingin diberikan ayahnya Mirhan untuknya waktu SMP. Dia mengira ayahnya Mirhan datang ke asrama, tapi selama ini ayahnya Mirhan tidak pernah bepergian kemana-mana.
"Siapa yang bawa ini mobil?..." tanya Ryu kemudian saat melihat-lihat mobil itu.
Dia tidak terlalu banyak mikir karena matanya udah ngantuk. Dia langsung masuk ke asrama melalui pintu depan. Dia cukup kebingungan karena tidak ada siapapun di ruang tamu, padahal biasanya disini ada Rasya yang sedang ngobrol bareng Dea dan Adel.
"Ini terlalu tenang…" ucap Ryu mengomentari keadaan saat ini. Dia lalu berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya. Di lantai atas pun tidak terlihat siapapun. "Mereka pada ngapain sih?..." gumamnya saat melihat keadaan yang tidak biasa ini. "Ah...bodo amat lah...yang penting gue bisa istirahat…" ucapnya kemudian sambil tersenyum.
Dia kemudian berjalan menuju kamarnya untuk bersiap membukakan pintu kamar. Saat dia sedang fokus mencari kunci kamar. Tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang dari belakang.
Sontak saja Ryu terkejut karena itu, "EH COPOT!..."
Ternyata yang menepuk pundaknya adalah Mirhan yang sambil nyengir. "Kenapa bro?..." tanya Mirhan seolah tidak bersalah.
"Bisa gak sih sekali aja gak ngagetin orang gitu?..." tanya Ryu dengan sangat kesal sambil memegangi dadanya. "Untung aja gue gak punya riwayat serangan jantung…" tambahnya lagi.
"Sorry-sorry…" ucap Mirhan kemudian.
__ADS_1
"Eh, anak-anak pada kemana?..." tanya Ryu pada Mirhan karena hanya melihat Mirhan.
"Oh, mereka lagi di warnet Flower Garden...emang lo gak liat?..." tanya Mirhan bingung dengan pertanyaan temannya.
"Oh…" jawab Ryu lalu kembali membuka pintu kamarnya. "Oh ya...ngapain lo ngagetin gue tadi?..." tanyanya kemudian pada Mirhan.
"Em…mending kita ngomongin di kamar lo deh…" usul Mirhan pada Ryu yang sudah berhasil membuka pintu kamarnya.
Mereka kemudian masuk ke kamar milik Ryu di asrama itu. Kamar itu terlihat lebih bersih dari sebelumnya, karena selalu dibantu Rasya untuk membersihkannya. Ryu kemudian menggantung tasnya ke tempat gantungan tas di kamar itu. Lalu mereka duduk di sebuah tempat tidur milik Ryu.
"Jadi, ada apaan nih bro?..." tanya Ryu penasaran.
"Em...gue sebenarnya gak enak bilang ini ke lo sih…" ucap Mirhan terlihat ragu-ragu.
"Udah...ngomong aja…sekarang lo malah kayak orang lain…" ucap Ryu dengan kesal.
"Tapi lo jangan ngomong sama anak-anak yang lain ya?...gue malu nanget soalnya nih…" ucap Mirhan meminta Ryu untuk berjanji sesuatu.
"Iya...gue gak bakalan cerita…" ucap Ryu sambil tersenyum.
"Janji nih?" Mirhan ingin meyakinkan lagi.
"Hadeh…gini amat punya temen." ucap Mirhan. "Udah minum dulu bro...siapa tau tuh lidah langsung bener."
Kemudian Ryu mengambil sebuah gelas untuk mengisinya dengan sedikit air panas dicampur dengan air dingin hingga menjadi air hangat. Sambil mengambil bungkus kopi "Kopi bro?"
"Nggak, gue udah tadi bikin cappucino tadi..." jawab Mirhan sambil sedikit menggosokkan perutnya.
"Wah, kebiasaan...lo gak bilangin gue buat beli kopi kapal pesiar...terpaksa deh tadi gue beliin coffemix doang..." ucap Ryu sambil menyeduh kopi dari dispenser yang dibelikan Mirhan buatnya.
"Yaudah, nanti lo bisa abisin punya gue, nanti gue beli sendiri lagi deh di minimarket..." Mirhan sambil tersenyum pada Ryu.
Ah iya, maaf kelupaan. Sekarang di asrama mereka yang memiliki dispenser tidak hanya di ruang makan atau dapur. Melainkan juga ada di kamar Mirhan, Arif dan Ryu, dikarenakan mereka pecandu kopi juga.
"Oke…jadi lo mau ngajak gue ngomongin apa nih?..." tanya Ryu kemudian sambil membawa gelas kopi yang dibuatnya.
__ADS_1
"Jadi gini bro…gue kan saat ini sedang kekurangan uang, dan bokap gue sedang ada kerjaan keluar negeri...tadi bokap gue bilang gak bisa mentransfer uang ke gue, padahal gue perlu banget…" ucap Mirhan mulai menjelaskan masalahnya pada Ryu.
Sebenarnya Ryu sedikit ragu-ragu untuk meminjamkan karena dia sendiri sedang butuh banget itu uang untuk acaranya besok. Namun dia merasa kasihan dengan sahabatnya itu, apalagi dia bilang bahwa perlu banget uang itu. Akhirnya dia mengeluarkan dompet dari kantong celananya.
"Gue cuman ada Lima juta Mir...ini kebetulan uang dari penulisan novel online gue cair…cukup gak?..." tanya Ryu sambil memperlihatkan uangnya yang ada di dompetnya.
"Itu cukup banget bro…" jawab Mirhan bersemangat.
"Ya udah...lo pakai dulu aja…" ucap Ryu sambil mengeluarkan semua uang di dompetnya.
Dia ngelakuin itu karena dia pikir nanti saat dia butuh makan bisa diambil dari upah dia bekerja di warnet. Mirhan terlihat sangat senang karena dipinjamkan uang oleh Ryu. Setelah itu Ryu memasukkan dompet yang sudah tidak ada uang sepeserpun itu ke kantong celananya.
"Wah...terima kasih banyak ya bro…" ucap Mirhan sangat senang. "Tapi lo jangan cerita ini ke anak-anak dan ibu Manda ya?...soalnya gue malu kalau mereka tau gue ngutang sama lo…" pinta Mirhan kemudian. "Entar uang lo secepatnya bakalan gue ganti…" ucap Mirhan kemudian keluar kamar Ryu.
Setelah keluar dari kamar Ryu, Mirhan langsung membuka pintu kamarnya. Disana sudah menunggu Heri, Arif, Helena, Rasya, Firman, Obeng, Agus, Dea, dan Adel. Mereka dari tadi bersembunyi di kamar Mirhan.
"Gimana?..." tanya Arif sambil berbisik.
Mirhan lalu menunjukkan uang yang dipinjamkan Ryu pada teman-temannya. "Sukses…" ucap Mirhan sambil tersenyum.
"Yes!..." seru Obeng dengan keras.
"Hus…" ucap teman-temannya sambil meletakkan telunjuk tangan mereka ke depan mulut mereka.
"Jadi sekarang rencana lo apa Mir?..." tanya Rasya penasaran dengan rencana Mirhan.
"Gue harus nyerahin uang ini ke ibu Manda, untuk serahkan uangnya ke Ryu besok…" jawab Mirhan dengan bangga. Setelah itu Mirhan menemui ibu Manda untuk menyerahkan uang yang Ryu pinjamkan tadi.
Oke…bersambung yah…segini aja dulu. kalau rame lanjut part 2.
Maka dari itu tolong favoritkan, komentar dan share ke temen-temen kalian ya.
Terimakasih.
Note dari Seryu: Gue juga pengen ngucapin terima kasih kepada teman-teman yang sudah setia membaca novel Asrama Flower Garden dan novel gue yang berjudul Mengubah Takdir Kita. Sebab novel Mengubah Takdir Kita sudah lulus kontrak di Noveltoon. Tetap dukung karya-karya terbaik kami ya teman-teman. Satu pesan saya jangan berhenti membaca, karena dengan kalian membaca kalian menyelamatkan karya-karya yang berkualitas.
__ADS_1
Note dari Ann-chan: Untuk jadwal perilisan bakalan dituker mulai besok, karena judul "Bereinkarnasi malah jadi smartphone" sedang debut. Jadi untuk cerita "Asrama SMA Flower Garden 13" akan dirilis setelah menyelesaikan 4 bab judul diatas. Detilnya akan diumumkan pada profil ini "ryu.maru.an" -> "Trending".
Mulai besok juga akan mengajukan formulir "Pengajuan Karya Baru" untuk judul cerita ini. Semoga berhasil dan lulus kontrak. Terimakasih atas dukungannya.