Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 20 | Ok gugel. "Tutor memilih ketua OSIS yang baik dan benar" (part 1)


__ADS_3

Sekarang Ryu, Mirhan, Heri, Arif, Helena, Rasya, Obeng, Firman, dan Agus berkumpul di Kamar Mirhan. Kamar Mirhan bisa dibilang kamar yang paling mewah di antara teman se asramanya. Kamar Mirhan diisi dengan Laptop, televisi LCD, kulkas, AC, dan banyak lagi barang mewah lainnya yang membuat mereka semua iri.


"Ini kayaknya bukan kamar asrama deh, ini lebih kayak-" ucap Obeng bengong melihat isi kamar Mirhan.


"Woah~ Ini Kamar Sultan! Berasa kayak lagi di kamar hotel berbintang lima," ucap Firman yang melihat berkeliling kamar Mirhan.


"Eh, kalau kamar Ryu dimana?" tanya Rasya penasaran kepada Helena.


"Kalau yang itu lebih baik lo gak usah tau, entar lo menyesal…" jawab Heri sambil menatap.


"Heh! Emang kamar gue seburuk itu…Her?" tanya Ryu tidak terima diledekin Heri.


"Buruk sih gak, tapi kalau masuk lo harus pake masker…" jawab Heri sambil nyengir.


"Emangnya yang mana sih kamar dia?" tanya Rasya penasaran.


"Itu tuh...Pintu yang ada tulisan Warning…" jawab Helena sambil tersenyum.


Kini pintu kamar Ryu tergantung tulisan "Warning! Ruangan ini berbahaya." dan "Gunakanlah masker sebelum masuk kamar ini."


"Eh sialan. Siapa yang ganti tulisan di pintu kamar gue?" kesal Ryu baru menyadari ada yang berubah dari pintu kamarnya. "Nambah satu pula papan tulisannya." Mendengar akan hal itu, Heri dan Helena menahan tawa nya saat Ryu memelototi wajah mereka berdua.


"Ehem!" Helena masih mencoba menahan tawanya.


"Uhuk uhuk!" tambah Heri yang mencoba mengalihkan pembahasan.


"Jadi lo semua pada Ngajakin kita kesini cuma buat omongin kamar?" tanya Firman sudah mulai kesal.


"Ya enggak lah..." jawab Ryu. "Kita mau ngebicarain masalah yang dibuat Arif tadi pas istirahat," tambahnya sambil menunjuk Arif.


"Lha, kok gue?" tanya Arif gak terima.


"Tapi kalau bukan karena Arif, kita gak bakalan bisa bebasin anak kelas satu dari Dicky dan teman-temannya," ucap Heri membela Arif.


"Cuman kalau diantara kita gagal menjadi ketua OSIS, kita bakalan jadi bawahannya Dicky," Ryu menanggapi ucapan Heri. "Saat ini kita gak punya calon yang cocok untuk menjadi calon ketua OSIS," tambahnya menjelaskan.

__ADS_1


"Kenapa bukan lo aja yang jadi calon ketua OSIS?" saran Arif langsung menunjuk Ryu.


"Gue?...Ya..Kalau gue-" tanya Ryu sambil terkejut.


"Eh! Kalau Ryu jadi ketua OSIS yang ada tuh ruangan bakalan ada asap yang melebihi mesin fogging di sekolah kita." potong Heri menjelaskan lebih lengkap.


"Ya tapi bagus kan? Tiap hari bebas nyamuk." jawab Obeng tanpa berfikir jernih.


"Ya nggak gitu juga kambeng!" tegas Heri dan Helena secara kompak.


"Mana ada ketua OSIS cara berpakaiannya kayak preman. Udah gitu nafas nya bau rokok lagi," tambah Helena menjelaskan lebih rinci.


"Iya nih. Ditambah jarang mandi pula. Pakaian jarang dicuci. Udah gitu sering kesiangan pula. Lalu-" tambahnya Heri lagi membuat Ryu cukup tertekan malu disini dikarenakan adanya Rasya didekatnya.


"EH! Lo pengen menentang gue buat jadi calon ketua OSIS atau mau buka aib gue?" potong Ryu. "Bro, plis jangan dilanjut…" bisik Ryu memohon kepada Heri.


"Iya. Rasya kayaknya udah mulai ilfeel deh tuh," tambah Arif menunjuk Rasya yang sudah menjaga jarak perlahan-lahan terhadap Ryu.


"Rasya, itu tadi cuma bercanda kok, yakan…Her?" ucap Ryu berusaha menjelaskan agar Rasya tetap tenang dan tidak menjauh darinya. Rasya hanya tersenyum melihat Ryu mulai salting.


"Mending kita main monopoli," usulnya kemudian.


"Mir...bisa gak kalau lagi pengen main Monopoli tahu waktu dan tempat?" Heri terlihat sangat kesal. "Kita lagi pusing nentuin siapa yang jadi calon ketua OSIS," tambahnya lagi.


"Ya siapa tau setelah main kita mendapat ilham…" ucap Mirhan dengan polosnya.


Ryu kemudian berpikir sejenak dengan yang Mirhan ucapkan. Kemudian dia membuka kotak Monopoli itu. Disana ada dua buah dadu yang berwarna putih dengan titik-titik hitam. Monopoli ini sering dimainkan saat dia dan Mirhan sedang bersantai.


"Gue pikir ide Mirhan gak jelek amat," ucap Ryu berkomentar sambil tersenyum.


"Maksud lo apaan sih Yu?" tanya Arif benar-benar tidak paham.


"Lo jangan ikut-ikutan gak nyambung kayak Mirhan deh Yu…" ucap Helena memarahi Ryu.


"Bukan itu maksud gue, memang ini ide sedikit goblok sih, tapi kenapa gak kita coba," Ryu terlihat sangat bersemangat. "Rasya, sekarang lo catet, siapa saja murid kelas satu disini," perintah Ryu pada Rasya.

__ADS_1


"Oke...sayang…" ucap Rasya sambil mengeluarkan pulpen dan buku.


Rio lalu mengambil 2 dadu yang ada di kotak game Monopoli. Kemudian dia keluar kamar Mirhan untuk mengambil sesuatu. Sementara teman-temannya hanya melongo dengan apa yang Ryu lakuin. Tidak lama kemudian Ryu masuk kamar Mirhan sambil membawa gelas.


"Sudah dicatat Sya?" tanya Ryu bersemangat.


"Sudah…" jawab Rasya sambil memperlihatkan bukunya yang bertuliskan nama-nama yaitu, "Ryu, Heri, Arif, Mirhan, Agus, Obeng, dan Firman."


"Lo mau ngapain sih Yu?" tanya Helena sudah mulai kesal.


"Gini...setiap nama yang ada di catatan Rasya harus melempar dadu ini, siapa yang angka dadu tertinggi, maka dia yang akan menjadi calon ketua OSIS," ucap Ryu menjelaskan.


"Lo gila ya?" Heri marah-marah ke Ryu. "Masa lo pengen nentuin calon ketua OSIS dengan cara seperti itu?" terlihat sekali Heri sangat kesal pada sahabatnya ini.


"Dengan begini kita biarkan tuhan yang menentukan siapa yang layak menjadi calon ketua OSIS," Ryu menanggapi Heri dengan santai.


"Menurut gue ide Ryu gak buruk," ucap Obeng sependapat.


"Gue juga setuju," Firman juga mendukung Ryu.


"Gak masalah sih," Helena akhirnya setuju.


"Gak ada pilihan lain," ucap Agus mengiakan.


"Gue mah ngikut aja…" ucap Arif.


"Hedeh...apa boleh buat…" ucap Heri dengan sangat terpaksa.


Akhirnya mereka semua setuju dengan ide konyol Ryu. Ryu, Heri, Mirhan, Arif, Obeng, Firman, dan Agus mulai mengocok dadu sesuai giliran mereka. Yang mendapat giliran pertama mengocok dadu adalah Ryu.


Ryu sebelum mengocok berdoa di dalam hati, "Semoga saja ini dadu sialan gak keluar nomor tertinggi." kemudian dia melempar dadu, ternyata yang keluar adalah 11. "Dasar dadu sialan…" maki Ryu dengan kesal.


Dia hanya berharap ada yang keluar angka lebih tinggi dari dia. Harapan Ryu sia-sia karena Heri, Arif, obeng, dan Firman mengeluarkan angka yang lebih kecil darinya. Harapan terakhir Ryu hanya Mirhan yang bersiap melempar dadu.


"Benar kata orang, orang kayak lo itu selalu beruntung," ucap Heri dengan sinis.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2