Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 27 | Terciduk r̶a̶z̶i̶a̶ saat Merokok di Sekolah (Jin Botol vs Guru Killer)


__ADS_3

Mereka sudah menyelesaikan kelas di jam pertama pelajaran di hari itu. Ryu sebenarnya dari tadi sangat ingin merokok. Di kelas dia sangat iri dengan seorang guru yang merokok di kelas. 


Setelah bel berbunyi dia langsung berdiri dari kursinya lalu berjalan ke luar kelas. Dia sudah dari tadi menahan diri agar tidak merokok. Kali ini dia sudah tidak kuat lagi ingin sekali ke Flower Base. 


"Lo mau kemana Yu?" tanya Arif melihat Ryu yang sangat buru-buru. 


"Gue pengen ke Flower Base…" jawab Ryu sembari berjalan dengan cepat. 


"Pasti tuh anak pengen ngerokok…" Heri dengan mudah menebak. 


"Tau dari mana lo?..." tanya Mirhan kebingungan.


"Lo gak liat?...dari tadi tuh anak mengucapkan bibirnya...saat melihat pak Sani guru Ekonomi kita mengajar sambil ngerokok," Heri berusaha menjelaskan. 


"Pantes...tuh anak di bangku kayak cacing kepanasan…" tanggap Obeng lalu mengeluarkan rokok dan korek api. 


"Eh…kambing...kalau lo pengen ngerokok juga...jangan disini deh…" ucap Arif memarahi Obeng. "Tapi bagi rokoknya juga dong…" ucap sambil nyengir kemudian. 


"Yaelah...lo sok-sok an ngomelin si Obeng...lo sendiri juga ngerokok...kalau mau ngerokok modal dikit lah…" ucap Firman juga ikut mengeluarkan rokok dari tasnya. "Mending kita susul aja si Jin Botol ke Flower Base…" usulnya kemudian. 


"Wah...ide bagus tuh…" jawab Obeng bersamngat.


"Lo pada hati-hati...kalau pengen ngerokok…" ucap Heri pada mereka. 


Arif kemudian berhenti sejenak lalu bertanya, "Memangnya kenapa?..." 


"Gue denger selama seminggu ini...sekolah pengen melakukan sidak di seluruh sudut sekolah…" jawab Heri menjelaskan. 


"Lo tau dari mana Her?" tanya Obeng seolah tidak percaya. 

__ADS_1


"Gue dibilangin ibu Manda tadi malam…" jawab Heri kemudian. 


"Gue juga dibilangin…" Mirhan ikut mengiakan apa yang diucapkan Heri. 


"Waduh...bisa-bisa tuh anak terkena razia rokok dong?..." ucap Firman yang kelihatannya khawatir dengan Ryu.


***


Sementara Ryu sudah sampai di Flower Base, tempat dia biasanya ngerokok. Dia dengan santai mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang dia ambil dari kantong celananya. Kemudian dia menyalakan rokok itu dengan sebuah korek api. Setelah rokok itu menyala dia menghisap lalu mengeluarkan asapnya ke udara.


Begitu asyiknya dia menikmati rokok yang dihisap sehingga tidak sadar ada seorang murid yang mengawasinya. Murid itu tersenyum langsung mengadukan Ryu ke guru yang akan melakukan sidak hari ini. Ryu begitu nyaman merokok hingga dia terkejut saat seorang guru berteriak padanya.


"Apa yang kamu lakukan disana!..." teriak guru yang menghukum Ryu beserta teman-temannya saat mereka terlambat sekolah. 


"Oh...bapak…" ucap Ryu dengan cepat melempar rokok yang dari tadi dia pegang. 


"Kamu merokok ya?..." tanya guru itu. 


Tanpa aba-aba guru itu langsung berusaha menarik Ryu, tapi dia berhasil mengelak. "Saya bisa kok jalan sendiri pak…" ucap Ryu yang mulai kesal. 


Akhirnya Ryu hanya mengikuti guru itu dari belakang keluar dari Flower Base mereka. Ryu berjalan mengikuti guru itu melewati area kantin. Sementara Ryu melihat Dicky dan teman-temannya tersenyum seakan mengejek Ryu. Sementara itu Ryu membalas tersenyum pada Dicky dan teman-temannya.


Rasya yang melihat pacarnya digiring oleh pak Yudi, hanya bisa menyaksikan. Padahal di dalam hatinya sangat khawatir dengan dengan hukuman apa yang akan diberikan pada Ryu. Sedangkan Ryu hanya tersenyum pada Rasya seakan dia mengatakan, "Tenang...gue gak akan dikeluarkan dari sekolah ini."


Heri, Mirhan, Arif, Firman, Obeng, Helena, dan Agus hanya terdiam tidak bisa berbuat banyak. Dalam pikiran mereka hanya satu yaitu Ryu pasti akan dikeluarkan dari sekolah ini. Semua pikiran mereka itu hilang saat Ryu tersenyum santai saat melewati mereka. 


"Apa yang sebenarnya akan lo lakukan bro?" tanya Heri setelah Ryu meninggalkan mereka yang sedang berdiri mematung. 


Akhirnya Ryu masuk di ruangan BK (Bimbingan Konseling) di sana sudah menunggu beberapa guru termasuk pak Sani guru wali kelas Ryu. "Kamu duduk di kursi itu…" ucap pak Yudi dengan ketus sambil menunjuk sebuah kursi yang berada di tengah. Ryu dengan tenang mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru yang mendapati dia merokok. "Apakah kamu tidak membaca peraturan di sekolah ini?...bahwa murid dilarang merokok di area sekolah," ucap pak Yudi mulai menyidang Ryu. 

__ADS_1


"Ya...saya tau…" jawab Ryu dengan tenang. 


"Terus kenapa kamu masih melakukannya di sekolah?" tanya guru itu dengan tegas. 


"Sebab saya merasa apa yang saya lakukan bukan seperti membully, memalak, dan menghajar murid lain…" jawab Ryu dengan mantap. 


"Maksud kamu apa?" tanya pak Yudi tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. 


"Saya tidak akan menyebutkan siapa yang melakukan itu selama ini, tapi saya hanya meminta bapak untuk memperhatikan hal yang lebih serius ketimbang hanya menghukum anak yang merokok," Ryu menjawab dengan tegas.


"Kamu berani mendekati saya?...selama ini di sekolah ini tidak ada yang mengadukannya ke pihak sekolah," ucap pak Yudi dengan tegas. 


"Tidak mengadukan bukan berarti tidak ada kan pak?...atau...pihak sekolah sendiri yang tidak ingin masalah seperti ini mencuat, sehingga membuat malu sekolah ini," Ryu lebih tepat disini mengajak gurunya ini berdebat, ketimbang disidang. 


"Kamu tau merokok akan membuat kamu menjadi murid yang kurang konsentrasi di kelas dan menghambat menyerap ilmu yang diberikan di kelas…" ucap pak Yudi berusaha memperkuat argumennya untuk mengeluarkan Ryu. 


"Kalau begitu bagaimana dengan murid korban pembulian?...mereka tertekan di sekolah karena merasa selalu tidak aman, menjadi orang yang susah bergaul dengan murid lain, bahkan ada yang sampai bunuh diri," kali ini ucapan Ryu sama tajamnya seperti ucapan Heri. 


"Kalau ada...coba kamu buktikan pada saya…" pinta pak Yudi menantang. 


"Sayangnya saya bukan murid yang suka mengadu pak…" ucap Ryu menanggapi tantangan pak Yudi dengan santai. 


"Berarti omongan kamu hanya omong kosong...tidak ada bukti…" pak Yudi terlihat merasa menang. 


"Percuma...seperti yang saya perkirakan...sekolah tidak akan mau bertindak dengan sesuatu yang akan membuat malu sekolah," Ryu menanggapi dengan tersenyum. 


Diam-diam pak Sani memperhatikan perdebatan Ryu dan pak Yudi dengan serius. Dia sadar bahwa diperdebatkan ini Ryu lah yang menguasai jalannya perdebatan. Dia sangat yakin bahwa pak Yudi sudah kalah telak dengan murid yang akan menjadi murid kesayangannya itu. 


"Dengan ini pihak sekolah akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini…" ucap pak Yudi dengan tegas. 

__ADS_1


"Tunggu…" ucap pak Sani mulai bersuara. "Dia murid saya, jadi saya yang paling tahu bagaimana dia di kelas, meski memang dia telah melanggar peraturan di sekolah ini...tapi dia berhasil meraih nilai terbaik dalam beberapa mata pelajaran...contohnya pelajaran Olahraga, pelajaran Ekonomi, pelajaran Sosiologi, Geografi, bahkan sampai pelajaran PKN," pak Sani menjelaskan berusaha membela Ryu. "Selain itu, saya sendiri jujur saja sebagai guru di kelas juga merokok, dan murid-murid saya sudah tahu hal itu, kalau murid saya dikeluarkan dari sekolah ini, berarti guru lain yang merokok di kelas juga harus dikeluarkan dari sekolah," mendengar ucapan pak Sani semua guru yang merasa merokok di kelas mulai takut. 


Lah...bersambung?... (lagi?)


__ADS_2