
Sebelumnya…
^^^(kalau mau melewatkan ini, cari kata #skip setelah ini)^^^
Ryu, Heri, Arif, Mirhan, Obeng, Firman, Agus, Helena dan Rasya sedang membahas tentang pemilihan calon ketua OSIS. Kemudian Ryu memiliki ide untuk bermain dadu monopoli ide yang diusulkan Mirhan. Lalu yang terpilih adalah Mirhan.
Kemudian Heri dan Mirhan menuju ruangan OSIS untuk menemui Masha untuk mendaftarkan Mirhan sebagai calon ketua OSIS berikutnya. Heri yang awalnya bersemangat malah merasa gugup dikarenakan adanya Masha di ruangan OSIS.
Lalu karena Heri terlalu menghayal, setiap dia dikagetkan oleh temannya, maka terbukalah aib teman-temannya satu-persatu.
Heri dan Mirhan berjalan menuju ke tempat teman-temannya.
"Nah…Itu mereka!..." seru Arif kembali bersemangat setelah melihat Heri dan Mirhan.
Sementara itu Mirhan tidak henti-hentinya menertawakan Heri.
"Huh? Kenapa lo berdua?" tanya Arif penasaran.
"Lo tau gak?" tanya Mirhan sambil menahan ketawanya.
"Tadi pas gue daftar menjadi calon ketua OSIS ke ruangan OSIS, masa dia langsung gugup gitu saat berhadapan Masha…" lalu kemudian Mirhan dengan lancar menjelaskan.
Arif, Helena, Obeng, Firman, dan Agus tertawa menertawakan Heri begitu pula dengan Ryu dan Rasya juga ikut tertawa. Mendengar reaksi teman-temannya membuat Heri tambah malu.
"Haduh… Eh, lo kalau suka sama cewek, jangan diem aja," ucap Rasya dengan bijak. "Ya memang sih cewek itu gak suka dikejar-kejar cowok, tapi cewek juga seneng kalau lo ngasih perhatian," tambah Rasya lagi.
"Bener kata Rasya...memendam perasaan yang gak diungkapin malah akan bikin lo tambah gak nyaman," ucap Arif ikut menambahkan.
"Apa lo butuh bantuan kita buat ngedeketin Masha?" kali ini Ryu yang ikut berbicara. "Disini ada dua orang yang ahli dalam urusan cinta loh, ya..." ucap Ryu.
"Udah-udah...mending kita ke belakang sekolah yuk?..." ajak Ryu menengahi.
"Eh?Kalian pada mau kemana? Pengen mesraan sama Rasya di belakang sekolah Yu?" tanya Obeng yang tidak mengerti maksud Ryu.
"Astaga ni anak...Makanya pas mapel Biologi, lo jangan terlalu konsen ke materi proses reproduksi mulu Beng…akhirnya otak lo jadi gini kan…" ucap Ryu menanggapi celetukan Obeng. "Udah, mending kita bahas gimana biar Mirhan terpilih jadi ketua OSIS," dia kemudian menjelaskan.
"EH! Siapa bilang?..." tanya Obeng tidak terima.
"HEI...Udah-udah...jadi rapat gak nih?" tanya Helena yang mulai kesal.
"Tau nih cowok-cowok…" Rasya sependapat dengan Helena.
"Ya maaf sayang…" tanpa sadar Ryu keceplosan ngomong sayang ke Rasya.
"Aduh...panas...panas…" ucap Arif menanggapi ucapan Ryu ke Rasya.
"Wah...sudah saling memanggil sayang ya?" tanya Firman yang ikut meledek.
Ryu kemudian mendahului pergi ke tempat persembunyian Rasya dan teman-temannya. Disana sudah menunggu teman-temannya Rasya. Teman-temannya Rasya tersenyum melihat Ryu yang jalan bareng Rasya.
"Cie...udah pegangan tangan ya?" tanya teman-temannya Rasya. Teman-temannya Rasya ada Dea dan Adel.
"Sorry ya sis?...kami gak bisa bercanda sama kalian sekarang," ucup Arif sambil tersenyum.
"Ah...elah Rif…" ucap Dea dengan kecewa.
"Kami mau rapat, kalau lo pada mau ikut gabung hayu…" ajak Obeng bersemangat.
"Rapat apaan sih?...kayaknya serius banget dah…" ucap Adel tidak menanggapi ucapan Obeng.
...***...
^^^#skip#^^^
Di belakang sekolah ada tempat berkumpul anak-anak untuk bersantai. Mereka memilih tempat itu untuk berkumpul karena jarang ada guru yang mau kesana. Rasya dan teman-temannya menyebut tempat ini sebagai Flower Base yang berarti Markas Bunga.
__ADS_1
"Oh...jadi lo pengen mencalonkan diri sebagai ketua OSIS?" tanya Dea pada Mirhan. "Terus alasan lo mencalonkan diri karena taruhan dengan Dicky?" tambahnya lagi bertanya.
"Semua ini karena kami sudah kesal dengan kegiatan Dicky dan teman-temannya memalak anak kelas satu," ucap Ryu menjelaskan.
Dea dan Adel kemudian melihat Mirhan dengan teliti. Mereka terlihat kurang yakin Mirhan bisa menjadi ketua OSIS, sebab mereka menganggap Mirhan tidak memiliki jiwa kepemimpinan.
"Kayaknya sulit deh…" ucap Adel berkomentar.
"Iya Del…" Dea setuju dengan pendapat Adel.
"EH!...maksud lo apa?" tanya Mirhan terlihat kesal.
"Yah...paling gak muka lo harus tegas...nah yang ini udah kurus, lembek, mukanya planga-plongo kayak gak serius lagi...aduh…gimana orang mau milih lo jadi pemimpin?" ucap Adel berkomentar.
Mendengar ucapan Adel membuat Ryu berpikir sangat keras, lalu berdehem "Mir...lo jago ngapain?" tanya Ryu dengan serius.
"Eeeee...gue jago mendesain gambar, menulis komik dan menggambar karakter anime…" jawab Mirhan kemudian.
"Oke...kalau gitu lo bikin karakter anime cewek untuk promosikan lo sebagai calon ketua OSIS," ucap Ryu pada Mirhan.
"Nah…untuk modelnya kenapa ga gue aja?" tanya Dea mengajukan diri dengan bersemangat.
"Wah…ide bagus tuh!..." ucap Adel bersemangat
"Eit!...kalau lo yang jadi modelnya yang ada malah cowok doang yang tertarik," ucap Arif ledekin Dea.
"Eh...enak aja lo Rif…"tanggap Dea tidak terima.
"Hm…gimana kalau dia aja yang jadi modelnya?" ucap Ryu sambil tersenyum berdiri dibelakang Rasya.
"Aduh sayang…kamu ih…" ucap Rasya merasa dipilih Ryu.
"Lah-" sontak mereka yang disana melihatnya kaget.
Ternyata Ryu menepuk pundaknya Helena.
"Oh iya bener," seru Heri.
"Si Helena kan jago!..." tambah Mirhan melanjutkan pernyataan Heri.
"HAH! Lo gila Yu?..." tanya Arif tidak sependapat. "Wajahnya dia tuh biasa aja…" tambahnya menjelaskan.
"Napa, Rif? Ada masalah?" tanya Helena seakan menantang.
"Eng…Anu…" Arif membisu.
"Akhirnya, ini yang kedua kalinya melihat playboy cap Aligator terdiam..." bahas Heri mendetail sambil tersenyum menahan tawa.
"Maksud lo setelah kata kunci 'bencong' kemarin ya?" tambah Mirhan kompak, mendengar akan hal itu. Wajah Arif kembali pucat dan semakin terdiam membisu. Membuat semua yang ada disana tertawa.
"Ya ampun…bisa serius gak?" tanya Ryu yang kesal.
"Kenapa bukan gue sih?" suram Rasya setelah mengetahui kebenarannya.
"Hadeh...menurut gue… justru cewek yang biasa itu yang mencerminkan murid SMA pada umumnya," Ryu lalu menjelaskan. "Gue yakin, Mirhan pasti bisa membuat Helena menjadi karakter yang akan dikenal seluruh sekolah," ucap Ryu bersemangat.
Sementara Helena hanya bengong karena dipilih Ryu menjadi model anime. Dia bingung pengen senang atau tidak dengan keputusan Ryu. Sementara itu banyak orang yang tidak sependapat dengan Ryu.
"Yu..." Heri mulai bersuara.
"Iya...ada apa Her?..." tanya Ryu lalu tersenyum pada Heri.
"Lo memang sering bikin ide yang gak pernah kepikiran oleh orang lain, tapi kali ini ide barusan menurut gue gak ada gunanya," Heri berkomentar tentang ide Ryu.
"Lah…gak ada gunanya gimana?" tanya Ryu.
__ADS_1
"Ya…Helena kan jago tuh ngomong sama akting," ujar Heri menjelaskan. "Apalagi saat-saat tertentu di asrama kan dia sering tuh mencairkan suasana."
"Iya...gue juga tau kok, dia sering kan mendadak mengomentari gue sama Rasya akhir-akhir ini." ujar Ryu. "Yah…walaupun bikin rese juga sih..." ungkap Ryu. "Lalu, yang bikin gak ada gunanya itu dimana?"
"Kenapa dia nggak dijadikan juru bicara Mirhan atau apalah gitu kek!" ungkap Heri dengan serius. "Kalau karakter anime doang mah siapa aja bisa kali!" Heri sangat antusias sekali membahas ini.
"Oke...gue ngerti kok pendapat lo…tapi, kampanye dengan menggunakan karakter anime belum pernah dilakukan dimanapun, dijaman sekarang! Awal mula mungkin murid disini pada merasa aneh, tapi setelah itu mereka akan tertarik buat membaca apa yang disampaikan oleh gambar anime itu dengan serius, setelah mengetahuinya mereka akan penasaran dengan siapa yang membuat gambar karakter anime itu, kemudian mereka lebih tertarik dengan yang menggambarnya," Ryu menjelaskan secara rinci.
"Gue bersyukur lo menjadi orang yang baik, seandainya lo menjadi orang yang jahat, kejahatan lo akan setara dengan Profesor Moriarty…" ucap Heri memuji Ryu.
"Gue lebih suka disebut Sharlock Holmes sih..." ucap Ryu dengan bangga.
"Gue pernah merasakan saat Ryu tiba-tiba berubah menjadi orang yang jahat," merinding Arif teringat saat dia dikerjain Ryu di salon.
"Oh? Yang 'bencong' itu ya?" tambah Heri dengan sinis.
"Sudah…sudah…berikan Arif jeda nafas dulu…kasian dari tadi sesak denger sindiran sinis lo pada..." Ryu menengahi. Mirhan dan Helena hanya menahan ketawa saat mereka teringat tentang itu.
Kemudian ketika melihat Rasya daritadi terlihat murung, "Sayang…" hibur Ryu pada Rasya. Mendengar akan hal itu, Rasya yang tadi terlihat kecewa karena tidak dipilih Ryu, kini mulai terlihat kembali bersemangat.
"Cie...sudah gak malu manggil sayang…" ledek Dea pada Rasya.
"Hus…" ucap Rasya menyuruh temannya itu diam, padahal dia senang banget dipanggil sayang oleh Ryu. "Iya…ada apa sayang?..." jawab Rasya sambil tersenyum.
"Tolong Makeover Helena ya?" pinta Ryu pada Rasya.
"Iya sayang…" Rasya dengan senang hati menyanggupi.
"Makasih sayang…" ucap Ryu sambil tersenyum. "Selanjutnya kita harus mengumpulkan keinginan dari anak kelas 1 sampai kelas 3," ucap Ryu kemudian.
"Anak band pengen ada tempat latihan buat mereka bermain band," ucap Firman yang ikut dalam ekskul band.
"Anak drama perlu tempat untuk mereka berlatih drama," ucap Helena kemudian bersuara karena dia termasuk dalam ekskul drama.
"Lah kok lo kenal sama anak-anak drama?" tanya Firman.
"Ya iyalah gue kan masuk eskul drama." jawab Helena dengan santai.
"Oalah, pantesan si ibu ini jago sekali menjadi siapa saja." sahut Arif yang bangkit dari kemurungannya.
"Oke...ada lagi?" tanya Ryu sambil mencatat.
"Anak basket pengen ada tempat untuk mereka berlatih basket…" ucap Obeng yang memang tergabung dalam ekskul basket.
"Sudah gue catet semuanya…" ucap Ryu kemudian.
"Emang sayang mau ngapain dengan ini?" tanya Rasya penasaran pada Ryu.
"Ini bisa kita pakai buat menambah tulisan di poster Mirhan," jawab Ryu dengan tersenyum.
"Emang ini bisa berguna agar Mirhan bisa terpilih Yu?" tanya Arif kebingungan.
"Murid pasti memilih calon pemimpin yang bisa menyanggupi keinginan mereka, tapi usahakan jangan berlebihan, sebab mereka cukup cerdas buat tau yang mana yang berlebihan dan yang beneran…" Ryu menjelaskan dengan serius.
"Maksud lo yang berlebihan seperti apa?" tanya Firman kebingungan.
"Contoh...kayak menjanjikan mentraktir murid setiap hari, kayak meniadakan pembayaran OSIS…" jawab Ryu secara rinci. "Sebab dalam OSIS kita belajar menjadi sebuah organisasi, bukan untuk mendapat kekuasaan di sekolah," tambah Ryu lagi.
"Yah…batal dong setelah kepilih mentraktir semuanya makan di kantin nanti." Mirhan terlihat sangat kecewa.
"Mir, sudah cukup, iuran asrama aja udah kebanyakan menurut gue, ini lo mau traktir sama bayarin SPP semua murid di sekolah?...hadeh…" Heri mengungkapkan sesuatu yang Ryu tidak ketahui.
"Lah, jadi selama ini iuran asrama dia yang bayarin?" tanya Ryu karena baru tau sekarang.
"Iya. Tanya aja sama tuh anak sultan." ucap Helena dengan santai.
__ADS_1
"Em...anak pintar…duit orang tua dibuang-buang..." ucap Ryu dengan kesal.
bersambung…