
Ryu masih memandangi sebuah spanduk di atap sekolah dengan wajah masam. Spanduk itu sangat besar, bahkan lebih besar dari tulisan nama sekolah yang ada di depan pagar sekolah. Dia memiliki firasat buruk tentang ini semua, sebab dia sangat yakin bahwa mereka akan kena masalah setelah ini.
"Em…anak pinter…pinter banget," ucap Ryu yang masih melihat spanduk raksasa terpasang dengan indahnya di atas atap sekolah.
Seluruh murid dari kelas 1 sampai kelas 3 berdiri di depan atap sekolah mereka untuk membaca isi dari spanduk itu. Ini memang berhasil membuat Mirhan dikenal seisi sekolah tapi bagi Ryu dan Heri, tapi ini sangat berlebihan.
Sementara Mirhan dan Arif tersenyum atas hasil pekerjaan mereka. Mereka merasa bangga pekerjaan mereka mendapat perhatian dari banyak murid. Saat ini mereka sudah merasa sukses membuat Mirhan terkenal beserta visi dan misinya.
Kali ini mobil mirhan tidak bisa ngebut seperti biasanya, sebab seluruh murid berdiri menghalangi mobilnya di parkiran. Dia terpaksa membawa mobil dengan pelan. "Hadeh…Lihat! Lihat hasil kerjaan lo pada ini!" Ryu mulai mengomel. "Mobil kita gak bisa lewat karena orang berkumpul di parkiran…"
"Tapi dengan begini Mirhan jadi semakin diperhatiin kan?" Arif mencari pembenaran atas apa yang mereka berdua lakukan.
"Eh, lo sadar gak sih apa yang kalian lakukan tuh cuma buang-buang uang?" tanya Heri yang juga ikut kesal. "Kalau entar kepala sekolah liat ini...bisa-bisa kita berlima dihukum berdiri di lapangan lagi lo!" tambahnya lagi.
Setelah begitu lama mobil Mirhan terjebak di tengah kerumunan. Akhirnya mereka berhasil membawa mobil Mirhan ke lahan parkir sekolah. Mobil Mirhan diparkirkan di tempat yang masih kosong. Ryu, Heri, Helena, Mirhan dan Arif keluar dari mobil, saat itu juga Rasya, Adel, dan Dea menghampiri mereka. "Katanya mau bikin poster aja, kok malah bikin spanduk ukuran atap sekolah?" tanya Dea pada mereka.
"Lo tanya aja sama mereka si Anak Sultan dan Aligator berjalan…" Jawab Heri sambil menunjuk Mirhan dan Arif.
"Sayang...tadi pagi gue pengen cerita mengenai ini…" ungkap Rasya kemudian.
"Lha...kenapa gak cerita sayang?..." tanya Ryu karena terkejut.
"Abisnya...lo yang bikin gue marah pagi-pagi…" jawab Rasya dengan wajah yang memerah karena malu.
"Kalian berdua marahan kenapa sih?" tanya Adel penasaran.
"Bukan hal yang penting…" jawab Ryu dan Rasya berbarengan. Rasya kemudian langsung menggandeng tangan Ryu dengan mesra.
"Dramanya orang pacaran, niatnya mau ucapin selamat pagi sayang. Kenyataannya malah berantem karena kesalahpahaman." Heri menyeletuk.
"O… gitu..." ucap Adel seakan dia mengerti.
"Udah, jangan dilanjut." Ryu kesal dengan ucapan Heri.
__ADS_1
"Berita terkini pemirsa! Sepasang kekasih ini yang awalnya bikin iri satu asrama Flower Garden..ah maaf, tidak hanya asrama, bahkan satu sekolah ini ditemukan telah berkelahi sejak tadi pagi!..." Helena langsung memperagakan seorang pembawa acara gosip artis terbaru.
"Hadeh...masih aja dilanjutin..." ucap Ryu yang merasa capek.
"Baik, saudara Heri…coba jelaskan bagaimana kronologi kejadian lengkapnya kepada pemirsa di rumah," ucap Helena sambil mengacungkan buku yang dilipat seperti sebuah microphone.
"Eeee….jadi begini ceritanya…awalnya, ibu Rasya hanya ingin mengucapkan selamat pagi kepada ayangnya…" tutur Heri yang menirukan gaya seorang pelaku di acara investigasi kasus kriminal dengan suaranya juga, "Namun, setelah melihat-"
"Heh kalian!...bisa berhenti gak bercanda nya!..." teriak marah Ryu dan Rasya dengan kompaknya. Semua murid kembali memandang Ryu dan Rasya dengan tatapan cemburu.
Tidak berapa lama kemudian Obeng, Agus, dan Firman menghampiri mereka. Firman datang naik motor membonceng Agus ke sekolah. Sementara Obeng membawa motor antiknya. Mereka kemudian memarkirkan motor mereka di parkiran, kemudian menemui Rio dan teman-temannya yang masih di parkiran mobil.
"Yu...ini ide lo?" tanya Firman ke Ryu yang berdiri dengan tangannya digandeng Rasya.
"Hadeh...pagi-pagi udah panas aja nih sekolah…" ucap Arif mengipas-ngipas bajunya berusaha menyindir Ryu yang sebelumnya terdiam memperhatikan saja.
"Yaelah...Sya…gak bakalan kabur juga kok pacar lo…segitu banget dah..." sindir Helena sambil tersenyum.
"Biarin...cowok gue ini…" ucap Rasya sambil menjulurkan lidahnya meledek Helena.
"Eh...kambing...pertanyaan gue belum lo jawab…" ucap Firman dengan kesal.
"Oh...sorry bro…" ucap Ryu menyadari Firman yang kesal padanya. "Lo nanyain apa tadi?" tanyanya kemudian ke Firman.
"Hedeh…" keluh Firman mengatur nafasnya. "Spanduk itu ide lo?" Firman kembali mengulang pertanyaannya.
"Oh…" tanggap Ryu dengan singkat. "Aduh Sya...bisa gak usah pake pegang tangan gue…" dia kembali tidak memperdulikan Firman.
"Punya temen kayak bangke…punya temen kayak bangke…" Firman bernyanyi tidak jelas. "Kok gini amat punya temen…" Firman bergumam.
"Kenapa sih Fir?..." tanya Mirhan bingung pada sikap Firman.
"Gak kok Mir…cuman gue ngerasa temen gue yang satu ini kayak ****** aja…" jawab Firman dengan kesal.
__ADS_1
"Oh…sorry Fir…" ucap Ryu yang sudah berhasil melepaskan pelukan Rasya di tangannya. "Jadi lo mau tanya apa tadi?" tanya Ryu pada Firman.
"Gak jadi...lo urus aja tuh...cewek lo…" tanggap Firman dengan kesal.
"Yaelah...Fir…lo gitu aja kok ngambek…" ucap Dea ledekin Firman.
"Yang bikin tuh spanduk Arif sama Mirhan, tanpa pemberitahuan dulu sama kita," ucap Adel menjelaskan.
"Denger tuh Yu…kalau orang nanya langsung lo jawab...jangan lo biarin dia kesel…" ucap Heri memarahi Ryu.
"Yaelah Her...kayak lo gak pernah aja bikin kita kesel…" tanggap Ryu dengan santai seolah tidak berdosa.
"Eh...ke kelas dulu yuk?..." tanya ajak Helena yang dari tadi diam.
"Tau…lo pada pengen berapa lama disini?" tanya Arif mulai bersuara.
"Eh...Aligator...Kalimantan...masalah mengenai spanduk belum kelar…" ucap Ryu marah-marah.
"Iya…iya…entar setelah pulang sekolah bakalan dilepas lagi kok...lagian izin kita masang tuh spanduk hanya sampai pulang sekolah," ucap Arif menjelaskan.
"Bentar…izin?...maksud lo apa?..." tanya Heri bingung.
"Jadi Gini...tadi malam bokap gue sudah minta izin ke kepala sekolah buat masang tuh spanduk di atap sekolah, terus kepala sekolah langsung mengiyakan," Mirhan menjelaskan secara rinci semuanya mengenai spanduk itu.
"Pantes...Sultannya sendiri yang turun tangan…" ucap Helena sambil geleng-geleng kepala.
"Ternyata bokapnya Mirhan bukan hanya bisa beli barang buat anaknya, tapi juga sampai bisa beli perizinan…" kembali Heri mengeluarkan kata-kata yang menyindir.
"Emang bokapnya Mirhan sehebat itu ya?" tanya Firman, sebab selama ini yang dia tau Mirhan hanya anak orang kaya. Dia tidak tau apa yang pernah Mirhan buat untuk asrama Flower Garden waktu pertama kali dia pindah kesana.
Kembali mereka tidak merespon pertanyaan dari Firman. Ryu, Heri, Mirhan, Arif, dan Obeng malah berjalan menuju kelas mereka meninggalkan Firman yang kesal. Sementara Rasya, Helena, dan Agus masuk ke kelas mereka masing-masing.
"Kok gue kesel ya?" gumam Firman lalu menyusul teman-temannya.
__ADS_1
Bersambung?...