Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 34 | Traveling otak di Warnet.


__ADS_3

Tidak seperti hari biasa warnet Flower Garden setelah pulang sekolah sudah di serbu oleh anak-anak SMA Flower Garden. Ternyata waktu di sekolah Mirhan dan Ryu menempel promosi warnet mereka. Akibatnya banyak sekali yang datang ke sana mulai dari murid sampai guru. Mereka bukan hanya untuk mengerjakan tugas sekolah, tapi juga untuk bermain game online.


Sementara gank Flower Garden juga berkumpul di sana buat membicarakan kejadian lucu di sekolah tadi. Ternyata Mirhan mulai terkenal di kalangan anak SMA Flower Garden. Banyak cewek-cewek yang sengaja ke warnet buat menemui Mirhan.


"Tuh anak baru sekali berpidato di kampanyenya aja udah mendapat banyak fans cewek…" ucap Arif yang terlihat cemburu.


"Makanya...lo perbaiki dulu tuh otak kotor lo...baru…" ucap Firman menyindir Arif.


"Baru dapat cewek?..." tanya Arif bersemangat.


"Baru ngaca...muka kayak gitu mau dapat cewek SMA…" lagi-lagi Heri mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain.


"Jadi gue gak pantes dapet cewek?..." Arif terlihat patah semangat.


"Santai bro…mungkin jodoh lo bukan cewek SMA…tapi cewek kuliahan atau yang sudah bekerja…" ucap Ryu berusaha menyemangati sahabatnya.


Kemudian ibu Manda masuk ke warnet itu untuk menemui murid-muridnya. "Yo...beliin mbak bakso yang di sebelah asrama dong…" pinta ibu Manda ke Ryu.


"Jangan gue deh mbak…yang lain aja...gue lagi sibuk…" Ryu berusaha menolak dengan alasan yang dia buat-buat.


Arif dari tadi memperhatikan ibu Manda dengan serius. Dia seperti melihat sesuatu yang berbeda dari ibu Manda. Sepertinya dia tertarik pada seorang cewek yang menjadi gurunya di SMA.


"Dialah jodoh gue…" uceh Arif sambil melirik ibu Manda.


"Lo ngomong apa sih Rif?..." tanya Obeng bingung dengan teman yang seumuran dengannya.


Ternyata Ryu menyadari bahwa Arif suka dengan mbaknya. Dia langsung mendapat ide untuk mendekatkan Arif dengan ibu Manda. Dia kemudian menepuk pundak Arif dengan keras.


"Mbak...katanya Arif mau beliin bakso…" ucap Ryu sambil tersenyum. Arif langsung menatap Ryu dengan tajam saat mendengar ucapan sahabatnya itu. "Benar kan Rif…" tanyanya sambil nyengir.


"Beneran Rif?..." tanya ibu Manda memandang tersenyum ke Arif.


Arif saat ini merasa seperti ditodong senjata softgun tepat di wajahnya. Dia terpaksa mengangguk pelan sambil berbicara, "Iya...bu…"


"Aduh...makasih banyak ya Rif…" ucap ibu Manda lalu menyerahkan uang ke Arif.


Arif langsung pergi keluar warnet untuk membelikan ibu Manda bakso. Setelah Arif keluar ibu Manda lalu melihat-lihat keadaan Warnet. Dia terkejut karena ada box warnet yang kosong.


"Eh, ngomong-ngomong ternyata lo licik juga ya Yu?..." sindir Heri pada Ryu.


"Itu bukan licik bro...itu namanya cerdas…" jawab Ryu lalu mengambil gitar.

__ADS_1


"Ini box kenapa kosong?..." tanya ibu Manda sambil menunjuk sebuah box.


"Oh...itu komputernya rusak bu…" jawab Helena yang duduk di OP warnet.


"Ya...benerin lah...pinta Heri buat benerin…" perintah ibu Manda.


"Hedeh...gue lagi…" keluh Heri sambil berjalan ke arah box warnet yang rusak.


"Gimana kalau gue nyanyiin sebuah lagu?..." usul Ryu kemudian sambil akan memainkan gitar.


"Gak ah...makasih…" ucap Helena sambil menutup telinganya.


"Suara lo itu jelek bro...sadar diri napa…" Heri juga mulai menutup telinganya.


"Perasaan gue suara cowok gue baik-baik saja...cuman dia salah pilih lagu aja...coba suruh dia nyanyi lagu bahasa inggris pasti bagus…" ucap Rasya membela pacarnya. Ryu bingung harus bagaimana menanggapi ucapan dari Rasya.


"Iya sih...masalahnya kalau dia nyanyi, suaranya yang cadel itu ganggu banget…" keluh Mirhan yang berhasil terbebas dari para cewek.


"Cie...yang baru mendapat fans cewek…" ledek Dea ke Mirhan.


"Mereka ngedeketin gue hanya karena bokap gue Sultan…" ucap Mirhan terlihat lesu. Dia lalu menaruh beberapa surat yang didapatnya tadi.


"Wih...ini surat cinta bro?..." tanya Obeng sambil mengambil salah satu surat yang Mirhan terima berwarna pink.


"Ya...sorry bro...gue kan gak pernah ditaksir cewek…" ucap Obeng yang merasa bego.


"Gue juga gak pernah dikirimin surat cinta surat yang kayak beginian…" ungkap Ryu sambil akan membuka salah satu surat.


"Jangan dibuka!...itu surat pribadi...jangan kepo deh…" Adel menahan Ryu.


"Lagian lo minta noh pada cewek lo kirimin surat cinta…" ucap Dea meledek Ryu.


"Kita tinggal satu asrama...ngapain harus pake surat-suratan segala?..." tanya Ryu terlihat kesal diledekin teman-teman Rasya.


"Ya udah nanti gue kirimin surat buat kamu…" ucap Rasya sambil mengedipkan mata.


"Ngapain Sya?..." tanya Ryu pada Rasya. "Kan kamu bisa aja ngomong langsung ke kamarku…" ucap Ryu keceplosan.


"Oh...jadi Rasya pernah masuk kamar Ryu?..." tanya Firman sambil senyum-senyum.


"Setiap hari gue masuk ke kamar Ryu…" jawab Rasya kembali tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Ngapain aja Sya di kamar Ryu?..." tanya Dea bersemangat.


"Cuman main aja kok…" jawaban Rasya sedikit ambigu.


"Main?..." tanya Firman dan Obeng diiringi. Dengan otak mereka yang traveling kemana-mana.


"Iya...ternyata Ryu sangat lemah bermain bentar aja udah nyerah…" ungkap Rasya tanpa menjelaskan permainan apa yang mereka mainkan dengan wajah tersipu malu. Itu membuat otak Dea, Mirhan, Heri, Helena, Obeng, Firman, Dea, dan Adel mikir kemana-mana.


"Main game konsol!..." teriak Ryu berusaha meluruskan pembicaraan ini dengan tangannya memperagakan bentuk konsolnya.


"Hm...enak tuh main pake konsol…" tanya Obeng yang dia pikir itu sebuah alat bantu.


"Lo mikir apa sih Beng!...maksud gue game konsol!...NineTenDo!…" Ryu berusaha meluruskan dan memperagakan bentuk konsolnya lagi.


"Iya...iya…kami percaya kok... " ucap Adel sambil tersenyum.


"Hm...kayaknya enak nih jadi OP warnet…" ucap Mirhan dengan santai "Eh, gimana kalau hari ini gue coba jaga ini warnet seharian…"


Semua teman-temannya memandang Mirhan dengan tatapan seolah menolak. Sementara Mirhan tidak mengerti dengan sikap mereka. Mereka langsung saling berpandangan agar ada yang ngomong buat menentang rencana Mirhan.


"Jadi… Gak boleh ya?" tanya Mirhan dengan polos.


"Lo kalau mau ngide lagi jangan disini lah…udah cukup waktu pidato itu terakhir." ucap Heri yang sambil memperbaiki box.


Kemudian pintu warnet berbunyi suara lonceng dengan keras. Itu menunjukkan ada yang masuk ke dalam warnet. Ternyata Arif datang membawa bungkusan yang sangat banyak.


"Waktunya makan!..." seru Arif bersemangat sambil menunjukan bungkusan yang dia bawa. Semua temannya kecuali Mirhan terkejut karena bingung siapa yang membelikan makanan.


"Siapa yang beliin bro?...perasaan mbak Manda minta lo beliin satu aja deh…" ucap Ryu kebingungan.


"Tadi si Anak Sultan ngasih uang ke gue buat beliin kita bakso…" jawab Arif sambil mengedipkan mata ke Mirhan.


"Si Pinter...buang duit lagi…" keluh Ryu sambil menepuk kepalanya.


Eit. Bersambung…


Akhirnya…


Capek tau nulis arc pemilihan OSIS ini.


Semoga cepat kelar lah arc ini. Ditambah lagi salah satu author yang bernama Seryu Nagami ini sedang sibuk-sibuknya membuat novel yang berjudul "Mengubah Takdir Kita" untuk kompetisi event, jadi mohon maaf kalau novel ini uploadnya agak keteteran… Doain aja semoga dia cepat melamar pacarnya, eh, maksudnya dia dapat juara hehehe.

__ADS_1


👀Dasar ngide👀


__ADS_2