Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 47 | Voting keanggotan OSIS


__ADS_3

Besok paginya mobil Mirhan melaju dengan cepat menuju ke sekolah. Para siswa seakan sudah biasa melihat pemandangan seperti itu. Mobil Mirhan terparkir dengan rapi di parkiran sekolah.


Tidak lama setelahnya datanglah Ryu bersama Rasya menaiki motor memasuki area parkir sekolah. Terlihat para cowok yang menatap tajam ke arah pasangan itu. Mereka cemburu melihat kemesraan Rasya yang memeluk pinggang Ryu dari belakang. Sementara para cewek pada baper melihat kemesraan itu. Mereka seakan juga ingin seperti pasangan Ryu dan Rasya yang romantis pergi ke sekolah.


Mirhan dan teman-temannya yang ikut menaiki mobil sudah keluar mobil. Terlihat sekali wajah mereka yang menahan muntah karena Mirhan membawa mobil selalu ngebut ke sekolah. Sementara Ryu dengan mesra melepaskan helm yang dipakai oleh Rasya.


"Pagi-pagi sudah panas aja ya ini sekolah…" ucap Arif menyeletuk menyindir dua sejoli itu.


"Kenapa lo?...iri bilang bos!..." ejek Helena yang baru bisa bicara setelah menahan mual karena nebeng mobil Mirhan.


"Panas kenapa Rif? Perasaan mobil gue ACnya nyala deh…" ucap Mirhan tidak mengerti maksud Arif.


"Hai Mirhan!..." tiba-tiba para cewek langsung mengepung Mirhan layaknya seperti artis dikerumuni fansnya.


"Gue gak iri...cuman agak panas aja…" jawab Arif beralasan.


Kemudian terdengar suara motor dari kejauhan yang sangat keras dari kejauhan. Itu adalah suara motor antik milik Obeng yang knalpotnya seperti suara orang batuk. Di belakangnya ada Firman yang sedang membonceng Agus yang juga menaiki motor.


Kemudian terdengar suara yang persis seperti orang batuk berdahak dari motor Obeng. Semua orang langsung memandang ke arah motor Obeng. Mereka merasa kasihan pada motor Obeng yang sakit, tapi tetap diajak majikannya untuk pergi ke sekolah. Benar saja saat motor itu sampai di dekat Mirhan dan teman-temannya, tiba-tiba motor itu mati seperti orang yang sudah tidak mampu menanggung derita dalam hidup.


"Ah, sial...mogok lagi…" keluh Obeng dengan kesal sambil mendorong motornya ke sebuah tiang.


Kemudian seperti biasa dia mengikat ban motor itu pake rantai kemudian dikunci dengan gembok. Teman-temannya melihat itu seperti Obeng sedang mengikat kuda atau kebo di tiang. Mereka tersenyum memperhatikan ulah temannya itu.


"Kayaknya motor lo itu harus lo bawa ke bengkel dah Beng…" saran Ryu pada Obeng yang baru selesai mengamankan motornya.


"Santai aja gue mah...entar pas pulang sekolah gue perbaiki sendiri…" jawab Obeng menghampiri teman-temannya.


Firman dan Agus baru sampai lalu memarkir motornya ke parkiran motor. Setelah melepas helm, kemudian mereka menghampiri Ryu dan teman-temannya. "Jadi gak kita rapat sama anggota OSIS yang lama?..." tanya Firman pada teman-temannya.


"Kata Masha kemarin sih entar pas jam delapan…" Heri menjawab karena dia yang paling lama ngobrol dengan Masha di dapur. "Oh ya...lain kali kalau pengen pergi...beresin dulu tuh piring yang tempat kue yang kalian makan...jangan malah ngerepotin orang…" kemudian dia memarahi teman-temannya.


"Hai Heri…" sapa seseorang dengan ramah pada Heri.

__ADS_1


Mendengar itu Heri langsung berbalik ke arah datangnya suara itu. Ternyata itu adalah suara dari Masha yang tersenyum ke arah mereka. Dia kemudian cupika cupiki ke Rasya dan Helena. Heri kembali tidak bisa berkata apa-apa karena ditegur Masha.


"Her…Heri..." ucap Arif pada Heri yang terdiam. "Yaelah...Hari!..." teriakan Arif baru bisa bikin Heri gak nge freeze lagi.


"Ah...apa?..." tanya Heri terkejut.


"Masha nyapa lo tuh...jawab napa Her...sombong banget lo…" ucap Rasya pada Heri.


"Hai...Sha…" ucap Heri sambil memaku kayak patung. Masha tersenyum melihat tingkah Heri seperti itu.


"Kalau gitu gue duluan ya?...soalnya gue harus nyiapin tempat buat rapat…" ucap Masha lalu meninggalkan mereka.


Setelah Masha pergi Heri baru bisa bergerak seperti sebelumnya. Teman-temannya menatap Heri dengan tatapan Marah. Mereka sangat kesal pada Heri yang ngelewatin kesempatan buat ngobrol dengan Masha.


"Aduh...temen gue kok bego amat ya?..." keluh Ryu dengan kesal.


"Kayaknya ini anak harus gue beri kursus privat deh…" ucap Arif dengan kesal.


"Bener tuh Rif…" Firman ikut menyeletuk.


"Her...kalau lo suka sama tuh cewek...deketin...jangan sampai lo menyesal karena terlambat buat ngungkapin...lebih baik ditolak karena lo mencoba...daripada lo menyesal karena gak pernah ngungkapin…" saran Ryu membuat Heri berpikir.


"Hai ayo kita buruan masuk, bentar lagi bell bunyi lho…" ucap Helena mengingatkan sahabatnya.


...***...


Akhirnya bell sudah berbunyi Ryu, Arif, Heri, Firman, dan Obeng menemani Mirhan di ruang OSIS. Sementara Rasya dan Helena memang adalah anggota OSIS juga. Itu sebabnya saat MOS mereka ikut berpartisipasi.


"Jadi Mirhan bagaimana susunan keanggotaan OSIS yang sudah lo rencanain?..." tanya ketua OSIS yang lama yaitu anak kelas 3 IPA A.


"Gue minta Ryu menjadi wakil gue…" jawab Mirhan dengan mantap.


"Kenapa harus gue?...kan masih banyak calon yang lain..." Ryu langsung menolak keputusan Mirhan.

__ADS_1


"Sebab lo yang membantu gue mulai dari perencanaan sampai gue terpilih," ungkap Mirhan terlalu jujur. "Selanjutnya untuk anggota lainnya sudah ditulis di kertas ini…" ucap Mirhan sambil menyerahkan beberapa kertas pada mereka semua.


Lalu mereka membaca kertas yang dibagikan Mirhan pada mereka. Mereka membaca dengan detail setiap isi dalam kertas itu. Terlihat dari wajah mereka menolak dengan isi kertas itu.


"Lah, kok jadi gini?" tanya Rasya setelah membaca isi keanggotaan OSIS.


"Tunggu dulu, kok gue jadi sekretaris?..."tanya Helena terlihat tidak terima.


"Bentar, perasaan kemarin lo gak ngasih tau ini ke kita deh," ucap Ryu setelah membacanya. Kemudian terjadilah sedikit keributan disini permasalahan isi dalam kertas itu.


"Aduh ini anak masih aja ngelamun." ucap Arif memperhatikan Heri yang lagi tengah terdiam memperhatikan Masha. "Hoi! Sadar wei!"


"Eh! Apa?" tanya Heri sambil terkejut.


"Ngomong sesuatu kek," bisik Arif ke Heri.


Lalu Heri memukul meja dengan sangat keras, sehingga semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya. "Terlalu cepat, Mir..." jawab Heri dengan tegas. "Harusnya lo kasih tau ke kita dulu tadi malam, acara rapat internal kek…ini langsung ngasal masukin data keanggotaan aja ke OSIS….kalau sudah terjadi gini gimana lagi coba?"


"Nah, iya bener tuh apa yang diucapkan Heri!" sahut Arif malah membuat suasana menjadi hening.


"Kalau begitu, lo ada ide, Rif?" tanya ketua OSIS lama yang memang berteman baik dengan Arif waktu SMP.


"Nah, itu dia…gue juga bingung bro...soalnya gue baru juga ikut yang beginian…" jawab Arif yang benar-benar tidak mengerti.


"Yaelah…" ucap hampir semua yang ada di rapat itu kecewa atas jawaban Arif.


"Hadeh…" ucap Ryu menghembuskan nafas.


Masha lalu meletakkan kertas itu ke atas meja. "Mending kalian nentuin siapa wakilnya dulu, sebab ketua OSIS gak mungkin tanpa wakil, setelah itu lo pada deh yang nentuin anggota lain…" saran Masha cukup masuk akal buat mereka.


Kemudian Obeng mengangkat tangannya, "Gue ada ide," ucap Obeng kemudian. "Tapi mohon maaf nih sebelumnya, jujur gue gak ada pengalaman sama sekali ikut sebagai anggota OSIS…tapi gue ada pengalaman sih ikut sebagai kepengurusan RT di kampung gue...em, gimana kalau kita adakan voting aja buat nentuin wakil ketua OSIS gimana?...ini biar cepet aja…" Obeng tumben bener berpikirnya lancar.


"Terus votingnya gimana?" tanya Mirhan pada Obeng.

__ADS_1


"Yaudah...kita voting semua yang ada di rapat ini aja…" usul Ryu kemudian.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2