
Dengan tersenyum Ryu berusaha membersihkan mulut Rasya dengan tangannya. Namun Rasya terlihat memejamkan mata, karena dia pikir Ryu akan menciumnya. Mereka terlihat sekali seperti ingin berciuman.
Tiba-tiba Ibu Manda dan Arif datang ke dapur. Melihat apa yang Ryu lakukan ke Rasya, mereka mengira Ryu akan menciumnya. Ditambah lagi Rasya yang menutup matanya seperti ingin dicium.
"Hei!...kalian mau ngapain?..." tanya ibu Manda terlihat salah paham pada Ryu dan Rasya.
"Hem...ternyata Ryu sudah mulai berani ya?...nyium cewek…" ucap Arif terlihat salah paham.
"Omong apa sih lo Rif?..." tanya Ryu yang merasa diciduk. "Gue cuman sedang makan sama Rasya...gak lebih…" ucapnya mencoba menjelaskan.
"Terus kamu mau ngapain tadi?..." tanya ibu Manda dengan serius.
"Ryu cuman pengen bersihin mulut Rasya yang masih ada bekas sisa nasi mbak…" jawab Ryu dengan sangat serius.
"Bilang dong?...kan mbak bisa salah paham…" ucap ibu Manda berusaha mengelak dari kesalah pahamannya.
"Gimana Ryu mau jelasin?...tiba-tiba mbak nuduh Ryu yang macem-macem…" tanggap Ryu dengan sangat kesal.
"Kirain lo sudah mulai berani nyium Rasya…" ledek Arif sambil nyengir.
"Enak aja lo...gue gak bakalan sampai sejauh itu kali…" ucap Ryu berusaha menyangkal.
"Ya bisa aja kalau kami nggak ada..." ibu Manda dengan tatapan mencurigai.
"Liat aja noh, Rasya kayaknya kesel sama lo..." oceh Arif sambil nyengir menggoda Ryu dan Rasya.
"Lagian kalau gue mau...gak bakalan gue ngelakuinnya disini…" ucap Ryu bersikeras.
"Langsung ke hotel kan yak? Sesuai ekspektasi pembaca cerita ini, hehehe." tambah Arif nyengir.
Tiba-tiba Ryu berpikir ini cerita bakalan berubah jadi 18+.
"Siyalan lo Rif!" kesal Ryu melempar sendok plastik.
Sementara itu terlihat kekecewaan dari wajah Rasya. Tadinya dia benar-benar mengira Ryu bakalan menciumnya. Ternyata itu Ryu lakukan hanya untuk membersihkan bekas nasi di bibirnya.
"Oh ya Sya...ikan patin tadi sudah dimasak?..." tanya ibu Manda pada Rasya yang kelihatannya sedang terdiam. "Halo…" ibu Manda mencoba menyadarkannya, "Wah…udah terlanjur terbang melayang kayaknya nih."
__ADS_1
"Sya, lo baik-baik aja kan?" tanya Ryu ikut membantu ibu Manda.
Ryu menepuk pundak Rasya membuatnya terkejut mendengar pertanyaan ibu Manda. "Ah...oh…sudah...sudah kok...Ryu baru aja makan lauk itu bu…" jawab Rasya dengan wajah yang masih terlihat kecewa.
"Bagus deh kalau gitu...tolong bantuin ibu masukin semua ini ke kulkas ya?..." pinta ibu Manda kemudian pada Rasya dan Ryu. Dia lalu meletakkan kantong belanjaan yang dibawakan Arif ke atas meja.
"Tumben bener mbak ke pasar bareng Arif...biasanya minta temenin Ryu…" tanya Ryu sambil mengeluarkan belanjaan dari kantong belanja.
"Abisnya...kamu susah bener dibangunin...daripada kelamaan mbak ke pasar...mending mbak minta tolong Arif aja…" ucap mbak Manda sambil ikut mengeluarkan belanjaan dari kantong.
"Kan Ryu udah bangun dari jam 6 mbak…" tanggap Ryu menyangkal.
"Jam 6 pagi?...lo liat aja...sekarang udah jam berapa?" tanya Arif sambil menunjuk jam dinding di dapur.
Ryu terkejut karena jam menunjukkan jam 12.00 siang. Kemudian dia melihat jam tangannya yang masih menunjukkan jam 06.30 pagi. Jam tangan Ryu ternyata sedang mati mendadak di jam 06.30 pagi.
"Aduh…jam tangan gue habis baterai lagi…" keluh Ryu setelah melihat jam tangannya.
"Mending lo kasih ke Heri jih...kali aja dia bisa ganti baterai jam tangan lo…" usul Arif kemudian pada Ryu.
"Emang si Heri bisa perbaiki jam tangan?..." tanya Rasya sedikit menyangsikan.
"Si Heri nya aja lagi keluar…" ucap Ryu sambil melepaskan jam tangannya lalu meletakkannya ke atas meja.
"Tumben bener deh tuh anak keluar asrama...biasanya kan dia ada di asrama mulu…" ucap Arif lalu membantu ibu Manda memasukkan belanjaan ke kulkas.
"Emang gak boleh dia keluar asrama?..." tanya Rasya juga ikut memasukkan belanjaan ke kulkas. Ryu yang tadinya ingin ngebantu, tapi dilarang oleh Rasya. "Habiskan dulu makanannya...gak baik ngerjain yang lain tapi makan belum habis…" ucap Rasya memarahi Ryu. Itu cukup membuat ibu Manda dan Arif tersenyum.
"Tapi gak enak kalau aku gak bantu ibu Manda…" Ryu berusaha berdiri.
"Abisin dulu…" ucap Rasya sambil mata yang melotot ke arah Ryu. "Lagian belanjaannya gak banyak amat juga…"
"Iya...iya…" Ryu lalu kembali melanjutkan makanan.
Ibu Manda dan Arif hanya nyengir melihat Ryu yang kicep dimarahin Rasya. Ternyata Rasya bisa juga marah ke Ryu, karena mereka pikir Rasya sayang banget sama Ryu. Sementara Ryu berusaha menghabiskan makanan yang ada di piringnya secepat mungkin.
"Kalau makan yang pelan aja kali Yu...kamu makan kayak dikejar setan aja…" ejek ibu Manda sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya...cerewet bener sih…" keluh Ryu lalu memelankan makanannya.
Akhirnya karena dibantu oleh Arif dan Rasya, semua belanjaan sudah masuk ke dalam kulkas. Sisanya seperti beras dimasukkan ke alat penyimpan beras agar tidak berkutu. Ryu pun akhirnya sudah menyelesaikan makannya.
Rasya pergi ke warnet untuk mengantarkan pesanan mie goreng. Arif ke kamarnya untuk siap-siap berangkat kerja. Saat ini hanya Ryu dan ibu Manda yang ada di dapur.
"Mbak…" ucap Ryu dengan ragu ke ibu Manda.
"Ada apa Yu?..." tanya ibu Manda sambil mengambil sesuatu dari dompetnya.
"Em…" Ryu masih ragu.
"Ada apa sih Yu?..." tanya ibu Manda lagi dengan serius.
"Mbak punya uang lebih gak?...soalnya Ryu pengen minjem…Ryu butuh banget buat uang bulanan Ryu…" ucap Ryu dengan malu-malu pada mbaknya.
Ibu Manda kemudian tersenyum mendengar ucapan Ryu. "Uang kamu dipinjam Mirhan ya?..." tanya ibu Manda.
"Kok mbak tau?..." tanya Ryu sangat bingung karena setahunya tidak ada yang tau Mirhan pinjam uang ke dia.
Ibu Manda lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. "Ini…" ucap ibu Manda sambil menyerahkan sejumlah uang.
"Waduh...makasih banyak ya mbak…entar Ryu ganti…" Ryu terlihat sangat senang menerima uang dari ibu Manda. Kemudian saat dia memegang dan menghitung jumlah uang itu, tiba-tiba dia merasa tidak asing dengan uang yang dia pegang. "Bentar...ini bukannya uang yang gue pinjemin ke tuh anak Sultan?..." tanya Ryu kemudian sebab uang itu cirinya sama kayak uang yang dia pinjamkan ke Mirhan. "Kok bisa uang ini di mbak?..." tanyanya kemudian.
"Oh...itu...kemarin Mirhan nitip uang itu ke mbak...katanya dia ngutang ke kamu, tapi gak sempat bayar…emang kenapa?..." tanya ibu Manda terlihat bingung.
"Sialan…" keluh Ryu sambil memasukkan uang itu ke dompetnya. "Berarti dia minjem uang gue buat ngerjain gue doang…" tambahnya lagi dengan sangat kesal.
Kemudian Handphone Ryu berbunyi seperti ada yang sedang menelponnya. Dia lalu mengecek siapa yang sedang menelponnya. Ternyata itu adalah telepon dari Heri yang dari tadi keluar.
"Iya...ada apa Her?..." tanya Ryu setelah mengangkat telepon.
"Lo ada di rumah?..." tanya Heri lewat sambungan telepon.
"Ada…" jawab Ryu. "Emangnya ada apa?..."
"Buruan keluar bantuin gue…" jawab Heri terdengar kelelahan.
__ADS_1
Langsung saja Ryu berlari keluar asrama untuk menemui Heri. Ternyata Heri sudah menunggunya di luar. "Apaan Nih?..." tanya Ryu terkejut dengan barang yang Heri bawa.
Ehe, bersambung…