
Setelah keluar dari pos polisi mereka langsung berjalan menuju mobil Mirhan. Rio langsung menghampiri Mirhan karena kesal. Dia berniat ingin menyetir mobil Mirhan. Sedangkan Mirhan dan Helena dipinta duduk di belakang.
"Sini biar gue aja yang nyetir, lo bareng Helena duduk di belakang aja," ucap Ryu dengan kesal.
"Baru kali ini yang punya mobil diusir penumpang," ucah Arif meledek Mirhan.
"Masalahnya dia gak tau jalan bro…" ucap Ryu masih kesal.
"Iya...iya…" ucap Mirhan terpaksa berganti posisi dengan Ryu.
"Eh…Arif lo duduk di depan…" perintah Ryu dengan tegas pada Arif.
"Ya...ampun...santai aja napa Yu?..." tanggap Arif dengan santai.
Arif lalu duduk di depan di sebelah Ryu yang mengemudikan mobil. Ryu terlihat sangat santai membawa mobil Mirhan, sebab dia pernah menjadi sopir pribadi ayahnya Mirhan setelah dia lulus SMA. Dia mengambil pekerjaan itu agar dia bisa membeli komputer.
Saat ini Ryu menjadi penulis novel untuk beberapa website ternama. Novel yang dia tulis bahkan sudah terbit di toko buku yang terkenal di mall. Sebenarnya dia orang yang cukup terkenal diantara para penulis, namun dia kurang suka menjadi pusat perhatian.
"Emang kita mau kemana Yu?" tanya Mirhan yang duduk di belakang.
"Ke salon langganan mbak Manda…" jawab Ryu sambil fokus ke depan memperhatikan jalan.
"Emang gak bisa gitu kita ke salon yang lain aja?" tanya Helena yang juga duduk di belakang.
"Lo pada santai aja, gue janjikan lo pasti puas disana," jawab Ryu sambil tersenyum licik.
Akhirnya mobil mereka menepi di sebuah ruko yang berjejer. Ryu dengan sigap memasukan mobil ke parkiran pertokoan. Dia seperti sudah terbiasa memasuki area itu.
"Yuk...keluar…" ucap Ryu sambil tersenyum. "Kita sudah sampai…" dia lalu keluar dari dalam mobil.
"Tempat apa nih?" tanya Mirhan kebingungan. Dia belum pernah diajak Ryu pergi ke sana.
"Ya salon lah…" jawab Ryu sambil nyengir.
"Tapi ini kayak bukan seperti salon," ucap Helena ikut berkomentar.
"Mbak Manda sering potong rambut disini," ucap Ryu menjelaskan. "Gue juga sering memotong rambut disini, yang jaga orangnya baik," tambahnya.
Setelah mengunci pintu mobil Mirhan dia langsung masuk ke sebuah ruko. Seperti di warnet Flower Garden, pintu di ruko itu juga dipasang bel lonceng kecil. Disana mereka sudah disambut oleh cewek yang kalau dibilang seumuran dengan ibu Manda.
"Eh...Ryu…" ucapnya dengan ramah pada Ryu. Lalu dia menuju Ryu sambil cium pipi kiri dan kanannya.
__ADS_1
Wanita itu terlihat sangat cantik memakai mini dress bodycon sexy. Itu membuat wanita itu terlihat sangat seksi. Dia tersenyum pada Mirhan, Helena, dan Arif.
"Halo mbak…" ucap Ryu tersenyum.
"Manda mana?" tanyanya setelah melihat hanya ada Ryu dan teman-temannya.
"Sedang sibuk mbak…" jawab Ryu sambil tersenyum. "Oh iya mbak Siska, perkenalkan teman-teman Ryu," ucap Ryu sambil memperkenalkan Mirhan, Helena, dan Arif.
"Mirhan…" ucap Mirhan sambil tersenyum melihat aset mbak Siska. Dia lalu bersalaman dengan mbak Siska.
"Siska…" ucap mbak siska sambil menyalami Mirhan.
"Helena…" ucap Helena menyalami mbak Siska.
"Siska…" ucap mbak Siska sambil menyalami mbak Siska.
"Arif…" ucap Arif sambil menyalami mbak Siska dan melihat aset mbak Siska yang lumayan besar.
"Liat apa Arif?" tanya mbak Siska sambil tersenyum pada Arif.
Sementara Ryu hanya nyengir melihat tingkah temannya. Mereka lalu ditemani mbak Siska menuju tempat duduk di resepsionis. Disana ada sofa yang besar beserta meja untuk bersantai.
"Silahkan duduk…" ucap mbak Siska tersenyum ramah.
Mbak Siska lalu duduk di sebelah Ryu. "Mau minum apa?" tanya mbak Siska dengan ramah.
"Ah...gak usah repot-repot kok mbak…" jawab Ryu dengan tersenyum.
"Gak usah malu-malu, kamu kan sering nganterin Manda kesini, jadi anggap aja aku mbak kamu juga," ungkap mbak Siska dengan ramah pada Ryu.
"Kalau boleh Cola aja mbak cantik…" ucap Arif kembali mengeluarkan jurus andalannya dalam merayu cewek.
"Hem...Mulai…mulai...",keluh Helena sambil mencubit pinggang Arif. "Hedeh...ini anak malu-maluin aja…"
"Auw!...sakit Na…" ucap Arif dengan kesel.
"Yaudah Cola saja mbak…" ucap Mirhan yang juga tertegun melihat mbak Siska.
"Kalau kamu apa Ryu dan Helena?" tanya mbak Siska pada Ryu dan Hanna.
"Samain aja mbak…" jawab Helena sambil tersenyum imut.
__ADS_1
"Iya mbak...samain aja…" ucap Ryu sambil membuka majalah yang berisi foto-foto gaya rambut cowok.
"Sebentar ya?" mbak Siska lalu beranjak ke belakang.
"Mbak boleh bicara sebentar gak?" ucap Ryu lalu menghampiri mbak Siska.
Dia kemudian berbisik pada mbak Siska sambil menunjuk Arif. Mbak Siska lalu melirik ke Arif, kemudian dia mengangguk. Ryu kembali berbisik dengan serius pada mbak Siska. Mbak Siska lalu tersenyum ke arah Ryu.
"Ternyata jahat juga ya kamu Yu…" ucap mbak Siska pada Ryu.
"Sekali-kali mbak…" Ryu lalu tersenyum menanggapi pujian mbaknya itu.
Mereka menunggu mbak Siska membawakan minuman cola mereka. Arif dan Mirhan berkeliling melihat keadaan depan salon. Sementara Helena dan Rio duduk dengan santai membaca majalah.
Tidak lama kemudian mbak Siska datang dengan membawa minuman Cola. Arif gak henti-hentinya melihat body mbak Siska. Ryu tersenyum melihat tingkah Arif, sementara Helena sangat kesal melihat tingkah Arif. Dia kembali menginjak kaki Arif.
"Lama ya nunggunya?..." tanya mbak Siska dengan ramah. "Oke yu...tempat khususnya sudah siap…" tambah mbak Siska sambil mengedipkan mata pada Ryu.
"Lo aja yang masuk duluan Rif…" ucap Ryu sambil minum Colanya.
"Lo pada gimana?" tanya Arif kebingungan.
"Gue masih ada yang pengen gue omongin sama mbak Siska," ucap Ryu beralasan.
"Sari...tolong kamu antarkan anak ini ke room nomor 3," ucap mbak Siska pada karyawannya.
Tanpa berpikir macam Arif ngikut saja apa yang dibilang Ryu. Setelah Arif masuk ke room nomor 3, Ryu, Mirhan, dan Helena diantarkan mbak Siska ke ruangan lain. Di ruangan itu ada beberapa tempat duduk yang berjejer di depan cermin.
Mereka dilayani oleh pemotong rambut profesional yaitu cowok yang berbentuk fisik cewek. Mereka yang melayani mereka sama dengan yang melayani Arif. Ryu tersenyum puas membayangkan Arif di room nomor 3.
"Lo kenapa senyum-senyum sih Yu?" tanya Helena pada Ryu.
"Lo liat aja entar pas Arif keluar," jawab Ryu sambil tersenyum.
"Hem...gue jadi penasaran…" ucap Mirhan sambil dilayani orang yang memotong rambutnya.
Mungkin sekitar tiga puluh menit mereka dilayani. Ryu dan Mirhan bisa terbilang cepat selesai, karena mereka hanya memotong rambut. Sementara Helena memotong rambut dan beberapa perawatan wajah, makanya dia yang paling lama dibanding Ryu dan Mirhan. Setelah Helena Selesai perawatan wajah, mereka lalu keluar ke tempat mereka duduk tadi.
Disana Arif sudah menunggu mereka dengan tubuh yang gemetaran. Ryu tersenyum karena tau apa yang akan terjadi selanjutnya pada Arif. Kemudian banci yang melayani Arif melewati mereka.
"Dasar cowok lemah, masa baru dipegang kepala aja udah teriak-teriak, emangnya aku apaan?" banci itu seperti menghina Arif. Rio, Mirhan, dan Helena tertawa mendengar penjelasan banci itu.
__ADS_1
bersambung...