
Mobil mereka akhirnya memasuki sebuah gedung ruko yang berjejer. Disana terdapat banyak sekali tempat billiard dan tempat karaoke. Arif tersenyum melihat teman-temannya terperangah melihat tempat itu.
“Kita mau ajujing Rif?...” tanya Agus yang tidak pernah ke tempat seperti itu.
“Ini namanya tempat karaoke… tempat buat nyanyi…” dengan sabar Arif menjelaskan.
“Oh…kayak karaoke di kondangan ya?...” dalam pemikiran Agus orang yang sering karaokean itu hanya di kondangan. “Berarti kita harus bawa amplop dong…”
“Aduh…ini anak polos banget…” ucap Obeng sambil menepuk jidat.
“Ini hanya tempat karaoke buat nyanyi aja Gus…” jawab Ryu berusaha menjelaskan. “Eh…bentar…kita karaokean disini siapa yang bayarin?...” tanyanya kemudian.
“Siapa lagi kalau bukan si Anak Sultan…” jawab Dea sambil tersenyum.
“Anak pinter…” gumam Ryu dengan kesal.
Dia tau Mirhan sendiri tadi baru saja meminjam uangnya sebesar 5 juta rupiah. Itu artinya Mirhan pinjam uang Ryu buat bayarin mereka ke karaoke. Ryu yang tadinya sangat bersemangat ke tempat karaoke ini menjadi sangat bete.
“Ini mah sama aja gue yang traktir mereka semua ke karaoke…” gumam Ryu dari dalam hati.
Tiba-tiba suasana hati Ryu langsung berubah menjadi lebih menyedihkan. Sementara Rasya, Dea, Adel, Firman, Obeng, Agus, Heri, Mirhan, dan Arif sangat bersemat ingin masuk. Dengan terlihat lesu, Ryu terpaksa mengikuti mereka masuk ke tempat karaoke.
Mereka kemudian memasuki sebuah area resepsionis. Disana sudah menunggu seorang cewek yang umurnya bisa dibilang seumuran Arif berdiri di depan meja resepsionis. Dia tersenyum menyambut kedatangan Arif dan Mirhan, sementara teman mereka yang lain duduk di sofa tunggu pengunjung.
“Iya pak…ada yang bisa saya bantu…” ucap resepsionis itu pada Arif. Mendengar itu Mirhan hanya bisa nyengir menertawakan sahabatnya. “Oh…jadi ini orang yang manggil gue bapak tadi?...” gumam Arif dari dalam hati.
“Iya…kami tadi sudah reservasi room karaoke yang paling besar…” jawab Mirhan dengan bergaya seperti selayaknya anak sultan.
“Oh…buat ultah temannya yang bernama mbak Ryu ya?...” tanya resepsionis itu dengan tersenyum.
"Pfff...Embak Ryu.." celetuk Heri dengan suara pelan sambil menahan tawa.
“Iya bener…” jawab Mirhan sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Untuk roomnya sudah kami persiapkan mas…” ucap resepsionis itu sambil tersenyum menggoda ke arah Mirhan.
“Tuh…kan…dia memanggil Mirhan dengan sebutan mas…” keluh Arif dari dalam hati. “Terima kasih, budhe…” ucap Arif dengan wajah yang kesal.
"Bwahaha…" ngakak Heri tidak bisa dibendung lagi saat Arif mengucapkan kalimat itu. "Parah si Arif." gumamnya.
Lalu mereka diminta oleh resepsionis untuk mengikuti penjaga room untuk menuju room mereka. Mereka memasuki lift untuk naik menuju ke lantai atas. Disini ada hal yang cukup konyol yang dilakukan oleh Agus dan Firman. Mereka terlihat kagok selama naik lift tersebut karena mereka baru pertama kali naik.
“Kita mau diangkat kemana nih?...” tanya Agus dengan histeris.
“Iya…kita bakalan diangkat ke akherat dah…” Firman lebih histeris dari Agus.
“Lo berdua gak pernah naik lift ya?...” tanya Heri yang kesel melihat temannya yang seperti udik banget.
Sementara Rasya juga ikut memegangi tangan Ryu dengan kencang. Ternyata Rasya punya trauma dengan lift karena pernah terkunci di dalam lift. Ryu sendiri dengan mesranya memeluk Rasya dengan mesra.
“Enak bener ya?...” ejek Adel sambil tersenyum
“Iya…Del…kayak dunia milik mereka berdua aja…” ucap Dea menyambung ucapan Adel.
"Hem…yang satu ini kayak di film drama yang judulnya Mister Potter aja, bikin iri aja…" ucap Obeng, tapi salah judul film.
“Itu bukannya film mengenai sekolah sihir ya?...mana ada romantisnya kali…” ucap Rasya memarahi Obeng.
"Mungkin maksud lo kayak film My Heart yang pemainnya Acha dan Irwansyah itu ya?" tanya Adel.
"Nah iya, itu maksud gue." ucap Obeng.. "Mai hart…uhuk uhuk" dia mencoba menyanyi tapi dengan nada fals dan suara tenggorokan serak.
“Ini mah…lebih parah lagi dibanding si Jin Botol…” ucap Heri yang tidak bisa menjaga perasaan Ryu dan Obeng. Setelah mendengarkan ucapan Heri, Rio dan Obeng merasa insecure.
“Aduh…mereka berisik banget sih…” ucap penjaga room dengan kesal, tapi tidak ada yang mendengarkan, karena suaranya sangat pelan.
Akhirnya mereka diantarkan ke sebuah room karaoke yang sangat besar. Semuanya terpana melihat room karaoke yang sudah disulap menjadi tempat pesta ulang tahun, kecuali Mirhan dan Ryu. Mirhan karena sudah biasa melihat yang seperti ini, dan Ryu yang masih kesel karena room ini dibayar pake duitnya.
__ADS_1
Kemudian dia duduk dengan santai di sebuah sofa yang terlihat berkelas. Begitu juga teman-temannya yang sangat bersemangat. Tidak lama kemudian datang lagi penjaga room dengan membawakan sebuah kue ulang tahun yang terlihat sangat besar.
“Yah…paling gak…gue bisa meniup lilin dari kue ulang tahun gue…” ucap Ryu berusaha positif. Namun saat dia membaca apa yang tertulis di kue ulang tahun itu membuatnya terdiam.
“Selamat Ulang Tahun Untuk Mbak Ryu…” itulah yang tertulis di kue ulang tahun.
"Kok gue tambal kesel ya?" ucap Ryu yang terlihat sangat marah.
Teman-temannya lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan sangat bersemangat. Sementara suasana hati Ryu saat ini sedang kesal. Dia tidak merasa senang sama sekali dinyanyikan lagu selamat ulang tahun dikarenakan tulisan yang ada di kue ulang tahun itu.
Akhirnya lagu ulang tahun itu berakhir juga dinyanyikan. Ryu terlihat kesal sambil melihat wajah teman-temannya yang bersorak menunggunya meniup lilin di kue ulang tahun itu. “Ayo dong Yu…ditiup lilinnya…” ucap Firman bersemangat.
“Cepetan Yu...entar keburu lilinnya mati…” ucap Mirhan menyemangati Ryu.
Dengan terpaksa Ryu meniup lilin ulang tahun itu. Meskipun wajahnya masih menunjukan rasa tidak senang pada teman-temannya. semua teman-temannya bersorak dengan bersemangat.
Kemudian mereka bernyanyi dengan merequest lagu yang ada di komputer yang terhubung pada keyboard yang ada di meja. Mereka sangat senang sekali bernyanyi lagu-lagu yang populer di zaman itu. Ryu pun akhirnya ikut bernyanyi bersama mereka semua, hanya saja suaranya cukup membuat teman-temannya menutup kuping saat bernyanyi. Sedangkan yang memiliki suara bagus diantara mereka adalah Arif, Firman, Rasya, Dea, Adel, dan Mirhan.
Sementara Heri terus memperhatikan alat yang ada di room karaoke itu. Dia seperti sedang mencari sesuatu yang menarik dari alat itu. Saat dia melihat sesuatu itu, dia mulai tersenyum seperti menemukan sebuah harta karun.
“Oh…ternyata itu kelemahan alat gue…” ucap Heri dengan puas.
Akhirnya Heri mendapat giliran bernyanyi, untuk dia hanya bisa bernyanyi biasa saja dan jika diminta untuk bernyanyi lagu dengan nada tertinggi atau nada khusus suaranya seperti tidak bisa mencapai nada itu. Karena kasihan dengan Heri, mereka akhirnya mengganti lagunya dengan lagu yang nadanya lebih rendah. Itu cukup membuat Heri merasa tersinggung, karena dia anggap teman-temannya menghinanya..
"Eh kenapa diganti lagunya? Padahal lagi asik-asiknya nih..." Heri yang masih memegang mic, otomatis suaranya terdengar sampai keluar room karaoke itu.
"Lebih baik lo jadi biasanya aja, Her…daripada lo nyanyi, serius…" ucap Ryu memperingati.
"Lebih baik kami ganti lagunya daripada satu ruangan nangis denger lo nyanyi..." tambah Arif yang berada di depan keyboard.
"Sebenarnya bukan karena lagunya yang sedih, melainkan suaranya..." gumam Rasya yang baru bisa melepaskan kupingnya dari tangannya.
__ADS_1
Lha…Bersambung?...