
Teman-temannya yang mengintip dan mendengarkan hanya bisa menepuk jidat
"Emang gak ada pembahasan yang lebih penting lagi?..." tanya Arif yang masih mengintip Heri dan Masha.
"Ini anak perlu kursus sama lo Rif dalam hal percintaan…" ucap Ryu dengan tersenyum.
"Kan lo lebih jago Nyet…" ucap Arif sambil berbisik.
Saking asyiknya mereka ngobrol sampai-sampai tidak sadar Heri dan Masha sudah tidak ada di taman lagi. Mereka pun lalu celingukan mencari keberadaan sahabatnya itu. Mereka mengira Masha dan Heri pergi ke kamar Heri.
...***...
Saat Heri dan Masha sedang ngobrol di taman, tiba-tiba ibu Manda datang menghampiri mereka. Ibu Manda menggelengkan kepala melihat gelas dan piring berantakan disana. Dia bingung melihat hanya ada Heri dan Masha yang sedang duduk menghadap taman.
"Kok hanya hanya ada kalian disini?...yang lain mana?..." tanya ibu Manda tiba-tiba sehingga mengejutkan Heri dan Masha.
"Mereka tadi keluar asrama...katanya pengen beli bakso sih bu…" jawab Heri sambil menengok ke arah ibu Manda.
"Ya ampun...kebiasaan deh...bekas makanan dan minuman belum diberesin, sudah pergi aja…" ucap ibu Manda seperti sedang kesal.
"Yaudah...aku bantu beresin ya bu?…" ucap Masha sambil tersenyum.
"Harusnya ini tugas mereka sih Sha…" ucap ibu Manda merasa tidak enak pada anak muridnya. "Nanti kalau saya ketemu mereka...bakalan saya marahin…"
"Gak apa-apa kok bu...lagian Masha udah biasa bantuin mama nyuci piring di dapur…" ucap Masha sambil tersenyum.
"Yasudah kalau begitu...tapi kamu Heri...bantuin Masha di dapur ya?..." pinta ibu Manda pada Heri.
"Hedeh...kebiasaan deh...mereka bikin masalah terus…" keluh Heri sambil membawa beberapa gelas dan tempat air ke dapur.
Sedangkan Masha membawa beberapa piring ke dapur mengikuti Heri. Sementara Ryu, Rasya, Mirhan, Arif, Helena, Firman, dan Obeng yang sedang mengintip, tidak bisa menemukan Masha dan Heri lagi. Mereka merasa sudah gagal mendekatkan Heri dan Masha.
"Yaelah...rencana kita gagal…" keluh Arif dengan sangat kesal.
"Lagian Obeng sih...berisik bener jadi orang…" ucap Rasya memarahi Obeng.
"Lha...kok gue?...gue kan cuman nanyain kita jadi gak makan bakso…" tanggap Obeng berusaha mengelak.
"Padahal rencana kita hampir berhasil tadi…" ucap Helena juga ikut kesel.
"Rencana apa?..." tanya ibu Manda yang tiba-tiba ada di samping mereka.
"Eh mbak…" ucap Ryu sambil nyengir tidak jelas.
"Gak apa-apa kok bu…" jawab Rasya yang menarik pacarnya agar segera pergi. Dia merasa keadaan sudah tidak menguntungkan.
"Kami mau makan bakso dulu ya bu…" ucap Mirhan lalu menarik Arif dan Firman memberi kode agar cepat keluar.
__ADS_1
Mereka pun langsung pergi dari ruangan itu menuju pintu depan. Sementara Arif sempat mengedipkan mata pada ibu Manda sebelum dia pergi. Kemudian dia menarik Obeng yang masih tidak mengerti situasinya seperti apa sekarang.
Cukup lama ibu Manda terdiam karena kedipan dari Arif. Akhirnya dia teringat sesuatu yang ingin dia sampaikan pada anak muridnya itu, tapi mereka sudah pada pergi keluar asrama, "Eh...kalian harus beresin ulah kalian di dapur…"
Sesampainya di luar asrama mereka baru bisa bernafas lega. Mereka kemudian saling berpandang-pandangan. Mereka merasa konyol banget, karena kok bisa takut sama ibu Manda.
"Jadi gimana nih sekarang?..." tanya Arif yang tidak mungkin masuk ke dalam asrama lagi.
"Yaudah...mending kita makan bakso aja…" usul Mirhan kemudian.
"Gak ah...lo pada aja...gue ada kerjaan di warnet…" ucap Helena menolak.
"Iya...gue harus ke warnet juga...soalnya gue harus upload novel yang gue tulis dulu…" ucap Ryu juga tidak ikut.
"Kalau lo Sya?..." tanya Mirhan pada Rasya.
"Lo pake ditanyain juga...dia sudah pasti temenin cowoknya di warnet lah…" Firman menjawab pertanyaan Mirhan.
"Nah...tuh tau...lagian gue dan Ryu sudah makan tadi…" ucap Rasya sambil menggandeng Ryu.
"Oh...yang pake suap-suapan ya?..." tanya Arif tapi dengan nada mengejek.
"Suap-suapan?...emangnya acara hajatan?..." timpal Obeng sambil tertawa.
"Em...nyaut aja lo...Knalpot Racing…" ucap Ryu menanggapi ledekan Obeng.
"Kan masih ada Obeng, Firman, dan Arif...Nyet…" ucap Ryu lalu pergi ninggalin Mereka.
"Yaudah deh…" ucap Mirhan dengan terpaksa.
Akhirnya mereka pergi ke tempat penjual bakso yang ada di sebelah asrama mereka. Ternyata masih belum banyak orang yang makan disana. Mereka bisa dengan mudah memilih tempat buat duduk.
"Tumben hanya kalian yang datang...yang lain mana?..." tanya pemilik warung bakso.
"Mereka pada sibuk pakde…" jawab Arif sambil tersenyum.
"Oh gitu...mau pesan apa nih?..." tanya pemilik bakso kemudian.
"Seperti biasa aja pakde…" jawab Mirhan sambil melihat-lihat keadaan warung. "Tumben sepi pak?..." tanyanya kemudian.
Tiba-tiba semua orang melihat ke arah Mirhan. Begitu juga teman-temannya Mirhan yang ditraktir makan. Kemudian pemilik bakso hanya tersenyum pada Mirhan.
"Biasa den…jam segini masih belum ramai...kecuali ntar malam...soalnya kalau malam banyak yang nongkrong…" jawab pakde penjual bakso.
Kemudian Obeng baru menyadari ada yang berbeda dengan warung bakso tersebut, "Wah.. sekarang udah ada daftar harganya yah di menu," ucapnya sambil mengambil daftar daftar menu lalu membacanya.
"Oh iya den…itu yang bikin salah satu teman yang kalau gak salah namanya itu Naga…"
__ADS_1
"Naga? Naga hitam?" Obeng terlihat kebingungan.
"Bukan…yang sering makan sini sama pacarnya itu lho…" jawab pakde mencoba mengingat-ingat namanya.
"Oh…si Jin Botol…" ucap Mirhan menebak dengan tepat.
"Hah? Jauh amat…" komentar Obeng sambil menerima es teh manis pesanannya.
"Lah…Ryu itu dalam bahasa Jepang artinya Naga, beng…" sahut Mirhan menjelaskan.
"Hih…Wibu…" ejek Obeng sambil menyerngitkan dahinya.
"Entah kenapa jadi ingat iklan susu sapi tapi kalengnya gambar naga.." celetuk Firman mencoba mengalihkan pembahasan.
"Oh, yang mereknya beruang itu ya?..." tanya Mirhan melengkapi penjelasan Firman.
"Nah iya, itu..." jawab Firman.
"Ini gak mungkin Ryu yang bikin, pasti si Anak Jenius..." ucap Mirhan sambil memegang daftar menu.
...***...
Sementara di tempat lain yaitu di dapur tiba-tiba Heri bersin tidak jelas. Dia lalu menggosok hidung karena merasa gatal sekali. "Kenapa Her?..." tanya Masha kebingungan sambil mencuci piring dengan gelas.
"Kayaknya ada yang lagi ngomongin gue deh…" jawab Heri sambil mengelap hidung.
...***...
Kemudian kita kembali ke warung bakso. "Lah, gue kirain lo yang bikin Mir?..." Obeng menanggapi ucapan Mirhan.
"Nggak, desain gue gak kayak percetakan offset gini..." Mirhan mencoba menjelaskan.
"Bener, gaya desain lo lebih kayak anime-anime banget gitu kan? Entar gambar baksonya dibikin imut-imut gitu..." ucap Arif menyetujui penjelasan Mirhan.
Tiba-tiba Obeng mencari sesuatu. "Pakde, ada jual keruk?" tanya Obeng celingak-celinguk.
"ltu kerupuknya ada di toples sana…" jawab pakde sambil menunjuk ke arah sebuah toples yang ada di meja depan "Harganya lima ratus den.. " sahut pakde yang sedang mempersiapkan pesanan mereka.
"Yang ini ya, pakde?" tanya Obeng sambil menuju ke arah toples yang ditunjuk "Manteb jos…harganya segini, gedenya segitu..." ucap Obeng sambil meletakkan uang logam di atas meja dan mengambil kerupuknya yang sebesar kipas dayang di sebuah kerajaan film laga.
"Beng, lo ngomong kayak iklan minuman berenergi di TV..." ucap Mirhan mengomentari Obeng.
"Oh ya...pakde...ini daftar menunya aku Photocopy ya?..." tanya Arif sambil mengangkat kertas daftar menu.
"Boleh den...memangnya buat apa den?" tanya pakde merasa bingung.
"Entar mau aku tempel di mading sekolah…" jawab Arif sambil tersenyum.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^