Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 39 | Cepat dan Ngedrift


__ADS_3

Akhirnya Ryu sudah turun dari tangga memakai pakaian yang sangat rapi. Dia bingung karena teman-temannya sudah berkumpul di ruang tamu. Dia bingung apa yang sedang direncanakan oleh teman-temannya itu.


"Akhirnya yang ditungguin turun juga…" ucap Mirhan sambil tersenyum menyambut Ryu.


"Emang kita mau ngapain sih?..." tanya Ryu sangat penasaran.


"Udah lo ngikut aja…" jawab Arif sambil nyengir.


"Ini kunci mobil BMW yang ada di depan...lo bawa…" ucap Mirhan sambil memberikan kunci mobil pada Ryu. "Jadi siapa aja yang ngikut dengan gue?..." tanya Mirhan kemudian.


"Mending para cewek ngikut Ryu dan para cowok ngikut Mirhan aja…" usul Rasya bersemangat.


"Kenapa gak ikut Mirhan?" tanya Arif kebingungan.


"Lo liat aja gimana Mirhan bawa mobil kesekolah…" jawab Helena dengan kesal. "Gue gak mau jantungan di perjalanan karena nebeng Mirhan."


"Lagian mobil yang Ryu bawa lebih keren dari mobil Mirhan…" ucap Dea karena dia tidak pernah naik mobil BMW sebelumnya.


"Ya udah...kalau gitu…" ucap Mirhan pasrah.


Akhirnya mereka berangkat dengan Ryu memakai mobil BMW dan Mirhan membawa mobil Daihatsu Xenia. Mirhan lebih dulu menjalankan mobilnya. Sementata mobil Ryu dan tim cewek mengikuti mobil Mirhan di belakang.


Mobil Mirhan melaju dengan kencang menembus mobil yang lalu-lalang di ibu kota. Mereka hampir tidak memiliki waktu untuk pergi berkeliling kota seperti ini. Sementara Ryu mengikutinya di belakang dengan sangat santai.


Ibu kota malam ini terlihat lalu-lalang kendaraan. Seperti biasanya ibu kota ini sangat ramai. Itu bisa dimaklumi karena banyaknya orang-orang yang memilih tinggal di kota ini. Diantara mereka ada yang bersekolah dan ada juga yang mengadu nasib.


Mereka berpikir bisa memperbaiki kehidupan mereka di ibu kota. Ada yang berhasil sukses di ibu kota dan ada yang hanya menambah jumlah pengangguran di ibu kota. Itu tidak bisa disalahkan karena banyaknya penggambaran yang berlebihan mengenai ibu kota.


Mobil Mihan tiba-tiba berhenti di lampu rambu lalu lintas yang menunjukkan warna merah. Sebagai warga negara baik, mereka harus mengikuti peraturan yang ada di kota ini. Meskipun masih banyak orang-orang bego yang tidak mematuhinya.


Tidak lama kemudian salah satu dari orang bego itu muncul juga. Ada beberapa anak yang membawa motor, tapi tidak memakai helm. Dia berhenti di samping mobil Mirhan dengan tatapan menghina. Dengan sengaja dia menggeber motornya di samping mobil Mirhan.


Arif terlihat sangat kesal melihat apa yang dilakukan anak-anak itu. Dia sangat ingin membuka kaca mobil Mirhan dan memarahi mereka. "Lo mau ngapain?..." tanya Mirhan pada Arif.


"Gue pengen ngasih mereka pelajaran…" jawab Arif dengan sangat marah.


"Udah...gak perlu…" ucap Mirhan dengan santai.


"Tapi ini keterlaluan bro…" ucap Arif yang masih marah.


"Ini di lampu rambu lalu lintas…lo bisa mendapat masalah kalau bikin onar disini…" ucap Heri yang duduk di belakang bersama Agus.


"Paling gak kita beri mereka sedikit pelajaran…" ucap Obeng yang juga ikut kesal. Dia duduk di bangku paling belakang bersama Firman.


"Iya...tapi gak disini…" ucap Firman mencoba menenangkan teman-temannya.


"Biar gue telepon Ryu…" usul Mirhan kemudian mengambil teleponnya.


"Mau ngapain?..." tanya Agus kelihatan sangat bingung.


"Tuh anak pasti punya ide…" jawab Mirhan sambil memasang headset.


Kemudian dia menelpon Ryu yang mobilnya ada di belakangnya. Cukup lama sahabatnya itu tidak mengangkat telepon darinya. Setelah menunggu sangat lama temannya itu baru bisa mengangkat telepon darinya.


Saat ini di mobil yang ada Ryu, Rasya, Helena, Dea, dan Adel sedang asyik ngobrol. Para cewek ini sedang membicarakan mengenai drama telenovela dan drama mandarin yang sedang booming pada saat itu. Oh maaf, drama korea pada saat itu belum sebooming jaman sekarang*. Tiba-tiba handphone milik Ryu berbunyi dengan keras.


"Yang...tolong ambilin handphone gue dong…" ucap Ryu yang sedang merokok di mobil.


"Handphonenya dimana Yang?..." tanya Rasya yang duduk di sebelah Ryu.


"Bukannya lo yang megang tadi?..." tanya Ryu kebingungan. "Tadi lo pake buat foto-foto kan?..." tambahnya mengingatkan.


"Oh…iya ya?..." tanya Rasya kemudian dia mencarikan handphone milik pacarnya.


"Yaelah Sya...segitunya lo takut pacar lo selingkuh...sampai-sampai handphonenya disita juga…" ucap Dea menyindir Rasya.


"Ini masih mending…" tanggap Helena kemudian. "Di asrama dia selalu nempel sama Ryu...bahkan sampai makan diikuti…" ucapnya menambahkan.


"Untung gak ngikut mandi bareng…" ucap Adel berkomentar.


"Kami pacarannya masih sehat kok…" ucap Ryu menanggapi ucapan Adel.


"Ini Yang...handphonenya…" ucap Rasya sambil menyerahkan handphone Ryu.

__ADS_1


"Bisa pasangkan headset gak Yang?..." pinta Ryu yang lagi di depan kemudi setir mobilnya.


Saat Ryu akan mengangkatnya, tiba-tiba telepon dari Mirhan mati. Kemudian terdengar lagi panggilan telepon dari Mirhan. Kali ini Ryu sempat mengangkat telepon dari Mirhan.


"Iya...ada apa bro?..." tanya Ryu setelah dia memasang headset dan menerima panggilan.


"Bosiet...lo pada ngapain aja sih?...kok lama banget ngangkat telepon gue…" Mirhan terlihat marah-marah.


"Aduh...sorry bro...handphone gue ada di tas Rasya tadi…" jawab Ryu sambil merokok. "Ada apa emang?..." tanyanya kemudian.


"Ini...lo liat motor yang sedang ngegeber di samping mobil gue?" tanya Mirhan pada Dio.


Ryu kemudian melihat ke balik jendela mobilnya. "Iya gue liat...kenapa emang?..." tanya Ryu dengan santai.


"Gue pengen ngasih sedikit pelajaran tata krama sama tuh anak…" jawab Mirhan kemudian.


"Owh...gitu…" tanggap Ryu sambil membuang rokoknya. "Yaudah...kita pepet aja…" usul Ryu dengan santai.


"Gue punya ide gini...kita kejar tuh motor sampai mereka merasa terancam…" usul Mirhan pada Ryu. "Terus lo nyalain aja sirine polisi yang ada di pengaturan mobil lo…" perintah Mirhan.


Sesaat Ryu tersenyum setelah menemukan pengaturan sirine yang dimaksud Mirhan. "Ternyata lo kejam juga ya?..." ucap Ryu berkomentar.


"Anak-anak seperti itu harus dikasih sport jantung sekali-kali supaya gak sembarangan bawa motor…" jawab Mirhan sambil tersenyum.


"Oke...gue suruh para cewek-cewek ini pasang sabuk pengaman dulu bro…" Ryu terlihat tersenyum puas mendengar rencana dari Mirhan. "Ladies...pasang sabuk pengaman lo pada…" perintah Ryu kemudian.


"Lo mau ngapain Yu?..." tanya Dea merasa bingung.


"Jangan yang aneh-aneh ya Yu?..." Helena terlihat takut.


"Lo santai aja…" jawab Ryu yang juga memasang sabuk pengamannya. "Saatnya kita berpesta." kemudian dia mulai memasang sebuah kacamata yang sejak tadi menggantung di bajunya


"Wih...Udah kayak di film barat aja." ucap Rasya dengan terpukau.


"Mantab...kacamatanya kayak di film The Matrix..." seru Dea bersemangat


"Tapi gayanya kayak di film Fast Furious..." Helena menimpali.


"Santai sayang…ini mungkin akan sedikit terasa pusing..." jawab Ryu sambil tersenyum puas. Dia kemudian menutup kaca mobilnya.


Di dalam mobil Mirhan saat ini juga sudah memakai sabuk pengaman mereka. Mirhan dan Ryu masih terhubung dalam sambungan telepon. Mereka dengan sabar menunggu lampu rambu lalu lintas berganti warna hijau.


Tidak berapa lama kemudian lampu rambu lalu-lintas berubah warna hijau. Mereka membiarkan motor itu melaju lebih dulu. Mereka sengaja membiarkan motor itu jalan terlihat dahulu. Setelah mereka merasa sudah jauh motor itu berjalan, dengan sigap Ryu dan Mirhan menyalakan sirine polisi di mobil mereka masing-masing.


"Mulai!..." seru Mirhan dengan suara memberi aba-aba.


Meski mobil Mirhan hanya berjenis Daihatsu Xenia, nyatanya dia berhasil mengejar motor itu. Begitu juga Ryu yang memakai mobil BMW sudah pasti bisa mengejar. Anak-anak yang sok jagoan mengendarai motor itu langsung terkejut menyadari motor mereka dikejar oleh 2 mobil yang memasang sirine polisi.


Arif dan Obeng terlihat sangat puas melihat kejadian itu. Mereka tertawa puas melihat pengendara motor yang sok jago itu gelagapan dikejar mobil Mirhan dan mobil milik Ryu. Sementara Firman, Agus, dan Heri berpegangan sangat kuat di dalam mobil. Mereka terlihat sangat takut duduk di dalam mobil yang dibawa oleh Mirhan.


Begitu juga penumpang di mobil yang Ryu kemudikan. Semua wanita yang ada di mobil Ryu sangat ketakutan. Meski Ryu dan Mirhan adalah anak kelas 1 SMA, mereka berdua pernah diajak ayahnya Mirhan untuk membawa mobil balap di sirkuit Sentul Bogor. Itu sebabnya mereka sangat mahir dalam mengendalikan mobil yang cukup cepat.


Mobil yang dikemudikan Mirhan dan Ryu terus mengejar motor itu kemanapun motor itu pergi. "Aa!...ampun!..." teriak pengendara motor itu dengan keras.


"Hahaha...mampus lo…" ucap Arif sangat puas.


"Yu...kita kejar terus mereka sampai bensin mereka abis…" ucap Mirhan yang masih terhubung dengan telepon Ryu.


"Oke...santai...bensin di mobil gue masih banyak…" ucap Ryu sambil tersenyum. "Bensin mobil lo aman gak?..." tanya Ryu kemudian.


"Santai...bensin mobil gue full…" jawab Mirhan kemudian.


Mobil mereka terus mengejar pengendara motor yang sudah mulai oleng membawa motor. Cukup lama mereka mengejar motor itu sampai keluar masuk kota. Mobil Mirhan dan Ryu sengaja tidak menyusul motor itu. Mereka hanya ingin memberi pelajaran ke pengendara motor itu.


Akhirnya setelah sangat jauh mereka mengejar motor itu. Pengendara motor yang sok jago itu akhirnya mulai menurunkan kecepatan. Motor itu kemudian berhenti di tengah jalan. Mobil Ryu dan Mirhan kemudian menghalangi motor itu.


Arif langsung keluar dari mobil Mirhan dengan penuh emosi. "Kapok gak?...Kapok gak?..." tanya Arif dengan suara membentak.


"Ya kapoklah!…masa nggak sih?" tambah Obeng yang tiba-tiba ikut berteriak juga dari dalam mobil dengan jendela terbuka.


Kemudian Mirhan, Ryu, Obeng, Heri, dan Firman juga ikut keluar dari mobil. Mereka berusaha menenangkan sahabatnya itu. "Udah Rif…" ucap Mirhan menenangkan.


"Mereka sudah mendapat hukumannya…jadi gak perlu lo menghajar mereka…" ucap Heri juga ikut menahan Arif.

__ADS_1


"Ampun bang...ampun bang…" ucap Salah satu dari mereka yang membawa motor tadi.


"Lo pada gak bakalan kita apa-apain…" ucap Ryu terlihat tau situasi saat ini. "Cuman lo harus ingat...jangan sok jagoan kalau bawa motor...untung lo bertemu dengan kami...kalau lo bertemu dengan yang lain...kemungkinan lo bisa mendapat yang lebih parah dari ini…" Ryu terlihat memarahi.


"Paling gak...kita tonjok sekali aja bro…" ucap Obeng yang juga panas seperti Arif. "Gue juga lumayan kesel daritadi…" ucapnya sambil mengepalkan tangan.


"Gak usah woi…segini aja udah cukup…" ucap Mirhan menenangkan Obeng.


"Sekarang lo pada lebih baik pergi buruan…" ucap Firman menyuruh mereka pergi.


Mereka terlihat akan mendorong motor mereka pergi dari Mirhan dan teman-temannya. "Tunggu bentar…" ucap Mirhan menahan mereka pergi. "Ini buat gantiin bensin motor lo…" ucapnya sambil memberikan uang seratus ribu pada mereka.


"Gak usah...gak usah bang…" ucap salah satu dari mereka menolak.


"Udah…lo ambil aja…" ucap Arif agak membentak.


"Oh...iya...terima kasih bang…" jawab salah satu dari mereka lalu mengambil uang dari Mirhan.


Yang anehnya mereka semua mencium tangan Ryu, Mirhan, Heri, Firman, Arif, Obeng, dan Agus. Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat itu sambil mendorong motor. Kemudian Ryu tertawa melihat kejadian itu.


"Kenapa lo Yu?..." tanya Firman bingung.


"Umur kita kan seumuran..lah kok mereka mencium tangan kita?…" jawab Ryu sambil tertawa.


"Oh...iya ya…" Heri juga tertawa terbahak-bahak.


Sementara yang lain bingung melihat Heri tertawa. Selama ini mereka tidak pernah melihat Heri tertawa. Mereka pikir Heri selalu serius dalam segala hal.


"Lo kenape Her?..." tanya Arif bingung. "Lo gak salah minum obat kan hari ini?..." tanyanya lagi.


"Emang gue gak boleh ketawa?...gue juga ngerespon dengan hal yang lucu…" ucap Heri menanggapi pertanyaan Arif.


"Woi...kita lanjut gak nih?..." tanya Obeng yang kesal dengan teman-temannya yang memperlambat waktu.


"Bentar...ini kita ada di daerah mana nih?..." tanya Mirhan yang baru sadar mereka sudah berjalan sangat jauh.


"Ini sudah masuk kota bogor Nyet…" jawab Ryu yang melihat papan nama jalan.


"Lha...buruan…" ucap Firman kemudian. "Jangan sampai kita telat ke tempat karaoke…"


"Jadi lo pada pengen ke tempat karaoke?..." tanya Ryu yang baru tau tujuan teman-temannya.


"Anjir...ini anak kok bisa remnya blong…" ucap Heri memarahi Firman.


"Sorry bro…" ucap Firman merasa sangat bersalah.


"Yasudah...ayo...kita buruan kesana…" ucap Ryu bersemangat karena tahu tujuan mereka ke tempat karaoke. Ditambah lagi dia sangat senang bisa menunjukan suara hancurnya di depan umum.


Bersambung…


Ann-chan note:


*Telenovela yang mereka maksud diantaranya: Rosalinda, Maria Mercedes dsb.


Sedangkan drama mandarin yang mereka maksud salah satunya: Meteor Garden (versi F4, tahun 2001).


Ya kalian benar, Flower Garden mungkin namanya terlihat seperti Meteor Garden. Selamat Anda telah menemukan salah satu easter egg yang kami buat.


Oh iya, kalau kalian menemukan penulisan yang salah pada salah satu bab yang kami tulis sejak bab 1 hingga sekarang, silahkan klik tulisan itu hingga popup "Tulis Komentar" muncul lalu beritahu kami bagian mana yang salah dalam tulisan tersebut. Gak usah malu juga kali, kalau gatel pengen nulis curhatan setelah membaca di salah satu paragraf pada tulisan itu juga gapapa.


Berikut gambarnya dari official



Seryu Nagami note :


Sekilas info, Author sudah menemukan kaos yang bertuliskan Aku Benci Kalian Semua. Kayaknya pas lebaran author bakalan memakainya. Dan untuk novel Mengubah Takdir Kita juga sudah diupload yah?...


Info aja sih...kalau gak penting skip aja...


Tapi kalau kalian baca sampai ini…


Artinya kalian gak skip info diatas...

__ADS_1


__ADS_2