
Sebelumnya….
Ryu tertangkap basah sedang merokok di Flower Base. Seharusnya itu tidak mungkin terjadi, namun sudah dipastikan oleh teman-teman Ryu ini adalah ulah Dicky meskipun belum ada bukti yang cukup. Lalu Ryu dibawa ke ruangan BK untuk disidang, ternyata disitu sudah terkumpul guru termasuk wali kelasnya, Pak Sani. Kemudian Ryu dicerca dengan tuduhan memang dia merokok di sekolah. Ryu yang sudah menyiapkan semua strateginya akhirnya mengeluarkan semua argumen yang malah menyudutkan Pak Yudi yang telah menangkap Ryu di TKP.
Karena sudah cukup mengenal Ryu, diam-diam Pak Sani memperhatikan seluruh perdebatan yang sedang berlangsung antara Ryu dan Pak Yudi. "Dengan ini pihak sekolah akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini…" ucap pak Yudi.
"Tunggu! Dia murid saya, jadi saya yang paling tahu bagaimana dia di kelas, meski memang dia telah melanggar peraturan di sekolah ini...tapi dia berhasil meraih nilai terbaik dalam beberapa mata pelajaran…" tutur Pak Sani membela Ryu. "Selain itu, kalau murid saya dikeluarkan dari sekolah ini, berarti guru lain yang merokok di kelas termasuk saya juga harus dikeluarkan dari sekolah," tambah Pak Sani.
...***...
Sementara di dalam kelas Mirhan, Arif, Obeng, dan Firman sedang khawatir dengan keadaan Ryu saat ini. Mereka sangat takut Ryu akan dikeluarkan dari sekolah. Kemudian Helena, Rasya, Agus, Dea, dan Adel berjalan berbarengan ke kelas 1A. Terlihat sekali mereka juga takut Ryu akan dikeluarkan dari sekolah. Hanya Heri yang terlihat tenang.
"Ini anak lama banget sih diperiksa…" keluh Arif yang mulai kesal.
"Jangan-jangan dia sudah dikeluarkan…" ucap Obeng ngasal.
"Ih…Obeng…Lo jangan bikin gue tambah khawatir dong Beng…" ucap Rasya memarahi Obeng.
"Tau nih anak...jangan ngomong yang aneh-aneh deh…" ucap Adel sambil memeluk Rasya.
"Ya...siapa tau kan?..." tanya Obeng masih tidak ngerti situasi.
"Eh! Sekali lagi lo ngomong kek gitu...mulut lo gue lakban...sumpah…" kali ini Arif juga ikut memarahi Obeng.
"Sudah berapa lama Ryu disidang?" tanya Dea dengan serius.
"Sudah sekitar tiga puluh menit…" jawab Heri sambil mengecek jam.
"Lo kok bisa santai gitu sih Her?" tanya Helena sangat bingung.
"Sebab gue liat Ryu tersenyum saat digiring…" jawab Heri dengan santai, tapi dia juga sedikit khawatir.
"Tersenyum?...maksud lo apaan sih Her?..." tanya Arif kebingungan.
__ADS_1
"Itu adalah senyuman yang sama ketika dia akan menjebak Dicky dan ketika dia berniat mengerjai lo…" jawab Heri menjelaskan dengan tersenyum.
"Jadi...maksud lo…pacar gue sudah merencanakan sesuatu...sebelum dia masuk ruang BK?" tanya Rasya bersemangat.
"Cowok lo itu...meski dia kelihatan tidak bisa merawat diri...tapi otak selalu jalan saat dia terdesak…" ucap Heri menjelaskan. "Dia adalah ahli strategi terhebat dari anak-anak seangkatan kita…" tambahnya menjelaskan.
"Untuk saat ini gue berharap apa yang lo ucapin itu bener bro…" ucap Arif menanggapi penjelasan Heri. Meski walaupun dia kadang kesal dengan sifat Ryu yang terakhir membuatnya malu, tapi dia juga kasihan dengan sahabatnya karena hanya gara-gara ketangkap merokok membuat sahabatnya itu dikeluarkan dari sekolah.
Mereka kemudian semuanya diam tanpa bicara. Mereka terlihat berpikir sangat keras saat ini. Saking fokusnya berpikir sehingga mereka tidak sadar, kalau Ryu sudah berdiri di sekitar mereka.
"Lo pada sedang mengheningkan cipta ya?..." Ryu bertanya tapi mereka tidak memperdulikannya. "Emang mengenang pahlawan siapa yang meninggal?..." kali ini Ryu bertanya sambil menengok wajah mereka satu-satu.
Rasya yang paling pertama kali sadar bahwa Ryu ada disana. "Sayang!..." teriak Rasya karena kegirangan lalu memeluk Ryu. Setelah semuanya kaget melihat akan keberadaan Ryu, seluruh murid cowok di sekolah itu menatap Ryu dengan tatapan ingin membunuh. "Aku khawatir tau sayang?..." Rasya tambah erat lagi memeluk Ryu.
"Eeeeh...sialan…lo ya?..." kali ini Arif memiting leher Ryu sehingga temannya itu tidak bisa bernafas. "Bikin jantung gue mau terbang aja lo yak?..."
"Eh eh eh...ampun bro!...ampun…aduh!" ucap Ryu kesakitan.
"Buset! Lo sogok berapa banyak pihak sekolah sampe lo bisa selamat dari hukuman itu?" tanya Mirhan yang taunya apa-apa bisa diselesaikan dengan uang.
"Hadeh… Lo belajar dari mana skill itu?" tanya Heri. "Akhirnya ini anak udah berhasil menguasainya..." ucapnya dalam hati.
"Tapi lo gak semudah itukan selamat?" tanya Heri yang mengetahui seperti sesuatu.
"Benar bro…" jawab Ryu sambil mengeluarkan sebuah kertas.
"Apa ini?..." tanya Helena penasaran.
Heri langsung mengambil kertas itu dari tangan Ryu. Dia buru-buru membaca isi di dalamnya. Sementara sahabatnya yang lain ikut merapat pada Heri untuk membaca isi kertas itu, kecuali Rasya yang lebih memilih merapat pada Ryu, hadeh…meresahkan. Udahlah skip.
"Ini surat perjanjian tanda tangan diatas materai…" ucap Heri menjelaskan. "Disini tertulis bahwa Ryu harus masuk ranking tiga besar di kelasnya sampai lulus sekolah, kalau tidak maka dia akan dikeluarkan dari sekolah ini…" Heri membaca beberapa poin di kertas itu.
"Selalu masuk tiga besar!..." seru Dea terkejut. "Di sekolah ini sangat sulit mendapat nilai setinggi itu, apalagi setiap kali ulangan…" dia kemudian menjelaskan.
__ADS_1
"Lo gak minta ada keringanan?..." tanya Mirhan pada Ryu.
"HAH!...ini seriusan harus kayak gini?" tanya Obeng merasa ingin pingsan.
"Kalau gue kayak gini, mending gue pindah sekolah aja… Beng, gue ikut sandar di bahu lo yak?" sahut Firman yang seperti orang pusing karena belum sarapan.
"Iya...gue gak dikeluarin dari sekolah aja...udah syukur…" jawab Ryu dengan santai.
"Ini gak adil namanya mah…." ucap Arif seperti ingin menuju ruang BK.
"Bro, lebih baik jangan…udah cukup gue...lagian gue pasti mampu kok..." ucap Ryu buru-buru menahan Arif.
"Lo serius Yu?...Ini keterlaluan Lho?..." Arif terlihat kesal dengan sikap sahabatnya. Sementara Ryu hanya mengangguk menjawab pertanyaan Arif.
Sesaat kemudian wali kelas mereka pak Sani menghampiri Ryu. Beliau terlihat sangat serius sekali saat berjalan. Mereka takut kalau pak sani mendengarkan pembicaraan mereka, lalu memarahi mereka.
"Bagaimana Ryu?...kamu sudah siap untuk mendapatkan rangking tiga besar?" tanya pak Sani pada Ryu.
"Ya...gimana ya pak?...soalnya ini bakalan susah…" jawab Ryu terlihat ragu-ragu.
"Kamu mulai sekarang setiap pulang sekolah langsung ke rumah saya...kecuali sabtu sama minggu...agar kamu mendapat pelajaran tambahan di rumah saya…" ucap pak Sani memberikan usul.
"Waduh…Gimana ya pak?..." ucap Ryu merasa keberatan.
"Kamu santai aja saat belajar dengan saya, saya akan menyiapkan rokok untuk kita belajar…" ucap pak Sani seakan mengerti maksud Ryu.
"Oke deh pak…" jawab Ryu bersemangat.
"Dasar Jin Botol...bisa berubah pikiran hanya karena disuap rokok…" sindir Heri pada Ryu.
"Tanpa rokok, gak semangat belajar…" ucap Arif menambahkan.
"No rokok no life yah...hadeh..." sahut Heri sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Kok bersambung sih?...Nanggung banget nih!....