Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 18 | Dicky Berulah Kembali


__ADS_3

Mobil Mirhan melaju menuju sekolah. Semua murid sudah tau kebiasaan Mirhan yang membawa mobil ke sekolah saat pagi hari. Mirhan setiap hari ngebut karena satu orang dari mereka selalu bangun kesiangan.


"Kalau mau balapan jangan di sekolah!..." seru salah satu murid meneriaki Mirhan.


"Oke!...entar gue suruh bokap gue bikin sirkuit!..." jawab Mirhan sambil teriak.


Dia keluar dari mobil diiringi Helena, Ryu, Heri, dan Arif. Mereka menjadi pusat perhatian seisi sekolah, karena penampilan baru rambut Ryu, Mirhan, Arif, dan Hanna. Itu membuat murid-murid dari kakak kelas mereka tambah iri kepada Mereka.


Mereka berjalan seperti artis yang melewati karpet merah. Selama di perjalanan menuju kelas setiap mata dari murid memperhatikan mereka. Bukan hanya para murid bahkan guru-guru pun ikut memperhatikan Mirhan dan teman-temannya.


Jelas saja Ryu memotong rambut dengan gaya seperti pemain bola CR 7. Arif memotong rambut seperti vokalis Peterpan. Mirhan memotong rambut seperti artis korea. Helena satu-satunya cewek di gang ini, memotong rambut seperti BCL itu membuatnya terlihat lebih cantik. Hanya Heri saja yang memiliki penampilan seperti biasa.


"Bentar, berarti gue kayak Andika Kangen Band donk?" ucap Heri menyeletuk dari dalam hati.



Mereka berkumpul di kantin untuk sarapan, karena pagi ini mereka tidak ada yang sarapan. "Bentar bro...gue pengen ke WC dulu…" ucap Ryu sambil memegangi perutnya.


"Yu...kepagian kalau lo pengen ngerokok di sekolah…" ucap Heri mengingatkan.


"Yaelah, Perut gue seriusan sakit nih, sumpah…" ucap Ryu lalu bergegas ke WC.


Kali ini dia benar-benar sakit perut ingin buang air besar di WC. Saat dia sedang berusaha mengeluarkan sisa bensin kotornya, dia mendengar suara rame di luar WCnya. Dia dengan pelan langsung membersihkan semua sisa bensinnya. Dia langsung mengintip dari ventilasi di atas pintu WCnya.


Dia melihat Dicky dan teman-temannya sedang membully salah satu murid. Ryu menebak murid itu bukan dari kelas mereka, walaupun anak kelas 1 juga. Ryu melihat Dicky mulai mendorong murid itu hingga terjatuh. Dia lalu meminta uang pada murid itu.


Akhirnya Ryu sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Dicky ke murid itu. Dia lalu memasang celananya dengan benar kemudian keluar dari WC. "Hei!...Lo pada mau ngapain sama dia!..." teriak Ryu dengan suara yang sangat keras.


Itu cukup membuat Arif, Mirhan, dan Heri nyamperin Ryu ke WC. "Ada apa Yu?..." tanya Arif yang datang bersama teman-temannya.


Dicky terkejut melihat Ryu dan teman-temannya sudah berkumpul disana. Terlihat dia sangat marah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena rahasianya ada di tangan Ryu. Dia menyuruh teman-temannya berhenti memukuli murid kelas 1 itu.

__ADS_1


Dicky lalu menatap dengan tajam ke murid itu, "Anggap aja sekarang lo lagi beruntung, tapi lain kali lo pasti habis di tangan gue," Dicky mengancam.


Dicky dan teman-temannya melewati Ryu, Heri, Mirhan, dan Arif dengan tatapan sinis. Terlihat sekali dia kali ini sangat marah karena digagalkan oleh Ryu dan teman-temannya. Dicky lalu meninggalkan WC diiringi teman-temannya.


Kemudian Ryu beserta yang lain menghampiri murid itu. Dia berusaha ngebantuin itu anak yang masih terduduk di lantai WC. Anak itu terlihat tidak suka dibantu Ryu dan teman-temannya.


"Kalian kenapa menolong gue?" tanyanya yang masih kesakitan.


"Lo aneh...ditolongin malah marah-marah," ucap Heri dengan sinis.


"Lo tau?...setelah ini dia pasti malak gue dan menghajar gue," anak itu terlihat tambah marah.


"Lo jadi orang gak bisa bersyukur ya!..." teriak Arif lalu memegang kerah baju anak itu.


"Rif…" ucap Ryu berusaha menenangkan Arif. "Biar gue yang ngomong…" ucap Ryu menengahi sambil melepaskan tangan Arif dari anak itu. "Nama lo siapa?" tanya Ryu dengan suara lebih ramah ke anak itu.


Sebelum menjawab dia melihat Ryu yang ramah menatapnya. "Agus Mahendra," jawabnya singkat.


"Gue gak mungkin bisa melawan mereka, gue gak punya teman di sekolah ini, bahkan gue gak punya kekuatan buat ngelawan, gak seperti kalian, punya teman dan punya kekuatan," ucap Agus terlihat pasrah.


"Lo anggap aja kami temen lo," ucap Mirhan sambil tersenyum. Ucapan Mirhan ini membuat semua temannya tersenyum.


"Terus gue harus berapa membayar uang untuk kalian?" tanya Agus dengan polosnya.


"Ngapain lo nanyain uang buat bayar kami?...lo cukup berteman dengan kami, sudah…" ucap Arif yang memang tampilannya saat ini lebih mirip seperti preman.


"Walaupun tampilan kedua teman kami ini seperti preman, kami masih orang baik kok," ucap Heri mencoba meraih bahu Ryu dan Arif tapi dikarenakan tubuh mereka ini cukup tinggi, jadi tangan Heri tidak sampai ke bahu mereka.


"Sialan lo Her…" ucap Ryu dan Arif berbarengan.


"Iya, tumbenan banget muji gue." tambah Arif merasa ada yang berbeda dengan Heri.

__ADS_1


"Apa? Biasanya dia ngatain lo-" lanjut Ryu.


"...Playboy cap Aligator?" sahut Heri.


"Nah itu…" ucap Arif kemudian. "Eh? Bentar, Siyalan lo pada yak?…" Arif langsung ngomel.


Mendengar itu membuat Agus kembali tersenyum.


Agus berusaha berjalan sendiri keluar WC, tapi dia masih merasa kesakitan. Ryu dan Arif langsung bergegas menopang Agus "Lo gak apa-apa?" tanya Arif merasa khawatir.


"Biar kami mengobati luka-luka lo dulu," ucap Ryu sambil menopang Agus keluar WC.


Di luar WC anak-anak melihat Ryu yang menggotong Agus. "Ya ampun...dia kenapa Yu?" tanya Helena menghampiri Ryu. "Lo abis ngapain dia?" tanya Helena lagi.


"Tadi ini anak habis di-" spontan Heri menjawab pertanyaan itu namun mulutnya langsung ditutupi oleh tangan Arif.


"Dia terpeleset di lantai," jawab Ryu beralasan, karena dia tidak ingin memperpanjang masalah.


"Seriusan dia cuman kepeleset? Kok lukanya kayak habis digebukin gitu?" tanya Obeng penasaran.


"Lo diem…" ucap Arif sambil menatap Obeng dengan tajam.


Rasya tiba-tiba datang menghampiri Ryu yang menggotong Agus. "Sini biar gue bantu…" ucap Rasya sambil membantu Ryu menggotong Agus.


"Em...ada yang mulai PDKT tuh…" ejek Arif ke Ryu. Semua mata cowok kembali menatap Ryu dengan tatapan tidak senang.


Semua murid cowok melihat Ryu dan Rasya mengantar Agus ke UKS. Ryu dan Rasya tidak memperdulikan mereka. Sesampainya Agus ke ruangan UKS. Ryu dan Rasya menidurkan Agus ke tempat tidur UKS. Disana mereka mengobati Agus agar bisa berjalan dengan baik..


"Dia sebenarnya kenapa?" tanya Rasya pada Ryu.


"Dia abis digebukin Dicky," kali ini Arif tidak sempat menutup mulut Heri. Setelah bel berbunyi mereka kembali ke kelas masing-masing.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2