Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 22 | Heri PDKT ("Pemilihan Calon Ketua OSIS" bagian Tiga)


__ADS_3

^^^Sebelumnya….^^^


Ryu, Heri, Arif, Mirhan, Obeng, Firman, Agus, Helena dan Rasya sedang membahas tentang pemilihan calon ketua OSIS. Kemudian Ryu memiliki ide untuk bermain dadu monopoli ide yang diusulkan Mirhan. Lalu yang terpilih adalah Mirhan. Semuanya meragukan Mirhan saat menatap wajah bloonnya. Mereka sadar Mirhan sulit sekali untuk mendapat suara terbanyak.


"Sebelumnya yang daftarin Mirhan menjadi calon siapa nih?" tanya Helena kemudian. "Kan gak mungkin dia daftarin sendiri," tambah Helena.


"Her...lo aja gimana?...lo lumayan kenal kan sama Masha," ucap Ryu pada Heri.


"Lha…Kok gue?..." tanya Heri dengan kesal.


"Kalau kita gak terlalu akrab sama anak OSIS, jalan satu-satunya hanya lo…" Ryu menjawab sambil tersenyum.


"Hehe…lo gugup ya Her kalau harus ketemu Masha?" tanya Arif sambil nyengir.


"Eh? Si...siapa bilang?...Gue…Ng…Nggak gugup kok ." ucap Heri. "Oke...besok gue temenin…" Heri memantapkan diri untuk bertemu dengan Masha.


...***...


Pagi harinya seperti biasa mobil Mirhan melaju memasuki area parkiran sekolah. Semua siswa memperhatikan mobil itu dengan tatapan marah. Sementara Mirhan, Rio, Heri, Arif, dan Hanna keluar dari mobil Mirhan dengan santai.


"Bokap lo sultan ya!...sembarangan banget bawa mobil!…" teriak salah seorang siswa.


"Kok tau!..." jawab Mirhan sambil berteriak. Kemudian mereka berjalan dari parkiran sekolah menuju ke koridor sekolah.


"Lo kebiasaan deh nanggepin mereka," ucap Helena mengomentari Mirhan.


"Santai aja kali...anggap aja mereka semua penggemar gue," ucap Mirhan sambil nyengir.


"Lo jawabin orang yang kesal udah kayak orang lagi ngegombal." ucap Heri seakan menyindir. "Belum jadi ketua OSIS aja lo udah punya banyak orang yang gak suka sama lo," tambahnya.


"Biarin aja…semakin sering Mirhan dibicarakan, semakin terkenal dia…" ucap Ryu sambil tersenyum. "Oh iya, tumben banget Heri terlalu detail hari ini. Biasanya kan-"


"Singkat, padat, tapi nusuk banget?" sahut Rasya.


"Nah, iya… Itu." jawab Ryu sambil menunjuk ke Rasya.


"Hai sayang…" ucap Rasya yang tiba-tiba sudah ada di depan Ryu menggandeng tangannya ketika mereka berjalan menuju ke kelas.


"E-anjir!" Ryu terkejut. "Sya, Plis deh. Bisa gak lo gak gini-gini amat? Risih tau!" mengetahui dia terlambat menyadari keberadaan Rasya, justru membuat dia merasa tidak nyaman diperlakukan Rasya seperti itu.


"Lha? Lo kan pacar gue…ya wajar dong gue kayak gini…" jawab Rasya tambah menggandeng Ryu lebih mepet lagi.

__ADS_1


"Udahlah Yu…nikmati aja…anggap aja dunia serasa milik lo berdua, kami ini cuman obat nyamuk… " ledek Arif yang nyengir melihat Ryu. "Udah, ga usah malu-malu kucing..."


"Hai semuanya…" sapa Agus pada mereka.


"Eh Gus...gimana lo hari ini?" tanya Heri dengan ramah pada Agus.


"Hari ini hidup gue udah aman...makasih banyak ya?" ucap Agus dengan tulus.


"Tapi ini hanya sementara bro…" jawab Ryu sambil berpikir serius. "Kita harus berusaha agar Mirhan terpilih…" ungkap Ryu menambahkan.


"Santai bro…kita bantuin kok," ucap Obeng yang datang bareng Firman.


"Jadi rencana lo gimana nih?" tanya Firman pada Ryu.


"Entar kita omongin di kelas…" jawab Ryu yang masih dipegangin Rasya.


"Yaudah kalo lo pada ingin omongin itu, lo ke tempat kumpul gue aja, ya kan sayang?..." senyum Rasya sambil memeluk lengan Ryu lebih erat.


"Cieee…mesra banget...takut ngilang ya bu?..." tanya Obeng ngeledek Rasya dan Ryu. Rasya hanya menjawabnya dengan mengangguk sambil nyengir, kini pelukannya semakin erat.


"(bersiul) tekan terus…" celetukan Arif sambil bersemangat. "jangan sampe lolos."


Semuanya tertawa melihat Ryu yang merasa tidak nyaman didekati Rasya. Setelah itu mereka kembali ke kelas 1A, sedangkan Rasya, Helena, dan Agus kembali ke kelasnya masing-masing. Hari itu Mirhan dapat giliran piket kelas, jadi dia harus membersihkan kelas bareng murid yang dapat jadwal piket yang sama dengan dia.


Tidak lama kemudian bel berbunyi tanda sudah saatnya masuk kelas. Hari ini adalah jadwal guru olahraga yaitu pak Ibnu Arsyad, murid-murid biasanya memanggilnya pak I'ib. Beliau hari ini mengajari murid kelas 1A lari menggunakan aba-aba suara. Ini adalah jenis lari berlevel, jadi semakin tinggi levelnya semakin cepat suara aba-aba berbunyi.


Semua murid sudah mendapat giliran kecuali Ryu, Arif, Obeng. Ryu sebenarnya bingung kenapa dia mendapat giliran paling ujung. Dia tidak mau banyak membahas guru olahraganya. Akhirnya dia mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh guru olahraganya.


Saat dia, Arif, dan Obeng mulai lari, saat itu juga bel istirahat berbunyi. "Kalian jangan istirahat dulu, sebelum kalian menyelesaikan berlari," ucap pak I'ib membuat Ryu, Arif, dan Obeng kesal, tapi mereka tidak ingin membuat masalah dengan guru mereka.


Akhirnya mereka bertiga berlari, sementara teman sekelas mereka sudah diizinkan untuk istirahat. Mereka mulai berlari dari level terendah. Awalnya Ryu santai saja, tapi lama kelamaan waktu istirahat sebelum aba-aba semakin singkat.


"Ryu sayang!...semangat ya!..." teriak Rasya yang ternyata memperhatikan Ryu berlari. Mendengar itu wajah pak I'ib semakin memerah karena marah. Sedangkan Ryu berusaha sekuat mungkin berlari. Awalnya Obeng yang sudah menyerah, kemudian disusul oleh Arif yang berhenti, sementara Ryu terus berlari sampai level 10.


Akhirnya Ryu tumbang juga, melihat hal itu Rasya langsung menghampiri Ryu membawakan sebotol cola. Melihat perlakuan spesial Rasya pada Ryu membuat seluruh siswa dan guru olahraga cemburu pada Ryu. Sedangkan Rasya dengan Mesra memberikan minum pada Ryu.


"Kalian berdua, kalau mau pacaran bukan disini tempatnya," ucap pak I'ib dengan tegas.


"Iya. Semak-semak disana luas noh!" sahut salah satu anak-anak yang iri dengan mereka.


"Nah, ke semak-semak aja. Ga ada yang liat kalau kesono tuh!" sahut satunya lagi.

__ADS_1


"Kok jadi ingat berita tv tengah malam ya?" sahut Heri teringat sesuatu.


"Kita pacaran ke kantin aja yuk sayang…" ajak Rasya sambil membantu Ryu berdiri. "Disini banyak nyamuk yang iri."


Keringat bercucuran dari wajah Ryu. Keadaan Ryu seperti ini membuatnya terlihat lebih keren dari yang lain. Level lari Ryu adalah level tertinggi di sekolah, bahkan anak kelas 3 sendiri tidak ada yang mencapai level setinggi itu.


...***...


Heri dan Mirhan saat ini sedang bersiap untuk menuju ruangan OSIS untuk menemui Masha. Heri yang awalnya bersemangat kali ini dia merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Apalagi saat mereka sudah berada di depan ruang OSIS.


"Bro?...masih disana?" tanya Mirhan sambil menepuk pundak Heri dengan keras. Heri melamun karena salah tingkah akan bertemu Masha.


"Gue belum pernah sedekat ini sebelumnya sama cewek…" jawab Heri dengan wajah datar.


"Udah...sini gue bantuin...eh bentar…harusnya gue kan yang dibantuin buat daftar jadi calon ketua OSIS," ucap Mirhan baru nyadar.


Mereka lalu memasuki ruang OSIS yang disana ada Masha sedang mencatat. Masha tersenyum saat melihat Heri dan Mirhan masuk. Dia langsung menghentikan kegiatannya sekarang.


"Eh...Heri...ada apa kesini?" tanya Masha dengan ramah.


Heri sama sekali tidak merespon apa yang ditanyakan Masha. Heri saat ini sedang menghayal Masha seperti sosok bidadari yang turun dari langit. Mirhan melihat keadaan Heri sekarang hanya nyengir.


"Hem…mulai…" ucap Mirhan dari dalam hati. Kemudian Mirhan mulai mengagetkan Heri. "Woi!...Her!..." seru Mirhan dengan keras.


"Eh!...Arif kalau lagi gak ada kerjaan telepon cewek dari acakan nomor handphonenya." kali ini celetukan Heri lebih panjang dari biasanya.


"Hm? Kenapa Her?" tanya Masha kebingungan dengan Heri.


"Oh?...eng-enggak...gak papa...kok..." jawab Heri dengan gugup. "Oh iya. Ini," sambil menarik si Mirhan, "Mirhan mau mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS…"


"Tunggu sebentar ya?" ucap Masha sambil tersenyum. Heri kembali melongo lagi liatin Masha.


"Wah gawat nih anak...kalau sampai Heri melamun, kayaknya satu aib temannya terbongkar lagi." dalam hati Mirhan berasumsi. "Bro...bro...Masha mau kesini...jangan sampai lo buka aib kita lagi…" ucap Mirhan gelagapan.


"Oh…oke sip…" jawab Heri seolah tidak terjadi apa-apa.


Masha kemudian kembali menemui mereka. "Nama kamu sudah masuk di daftar calon ketua OSIS, nanti kami akan memberi kabar mengenai penjabaran visi dan misi kamu kenapa ingin menjadi ketua OSIS," ucap Masha menjelaskan.


Heri yang sudah tidak kuat lagi berada disana langsung menarik lengan Mirhan untuk pergi. "Bentar...woi...lo gak bilang terima kasih sama Masha dulu?" tanya Mirhan karena terkejut. Sementara Masha hanya tersenyum.


^^^bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2