
Kemudian Helena masuk ke dalam asrama menemui mereka di taman. Dia melihat pekerjaan mereka di taman yang tampaknya sudah selesai. Dia terlihat datang dengan seorang cewek yang sangat mereka kenal. Heri tidak terlalu memperhatikan mereka karena sibuk melihat hasil pekerjaan mereka.
"Her...ada Masha datang…" ucap Helena pada Heri.
"Alah...paling lo ngerjain gue lagi…" tanggap Heri yang tidak melihat Helena.
"Sibuk banget ya Her?...sampai gue dateng gak ditanggepin?..." tanya seorang cewek yang suaranya sangat Heri kenal.
Benar saja Masha tersenyum pada Heri yang melongo melihatnya. Kalian kalau pernah melihat momen ini dalam sinetron atau film romantis pasti tau apa yang sedang terjadi. Seperti biasa Heri saat ini tidak bisa berpikir apa-apa.
"Eh Masha...ada apa datang kemari?..." tanya Arif berusaha mencairkan suasana.
Sementara Heri masih saja terpaku tidak bisa berbicara apa-apa. Ryu, Rasya, Helena, Firman, dan Obeng tersenyum menertawakan tingkah Heri yang tiba-tiba mematung. Kemudian dengan keras Ryu menepuk pundak Heri dengan keras, membuat Heri terkejut.
"Au!..." pekik Heri kesakitan. "Sakit tau!..." teriaknya kemudian.
Marsha tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Heri yang menurutnya lucu.
"Gue pengen ketemu Mirhan, buat ngebicarain masalah calon anggota OSIS…" Masha menjawab pertanyaan Arif.
"Eh...perasaan waktu di sekolah lo gak se formal ini dah...kok disini tiba-tiba ngomong gaul gitu?..." tanya Firman pada Masha yang biasanya di sekolah kalem.
"Emang gue gak boleh ngomong kayak gini?..." tanya Masha dengan memandang tajam pada Firman.
"Santai bu...kami datang dengan damai…" jawab Firman berusaha menenangkan Masha.
"Ternyata Masha sama seperti Heri kalau ngomong menyakitkan…" komentar Obeng sambil berbisik pada Arif.
"Yaudah...biar pacar gue yang panggilin…" ucap Rasya memberi usul. "Panggilin jih sayang…" ucapnya pada Ryu.
"Kenapa Harus gue sih…" keluh Ryu tidak menerima perintah dari pacarnya. Tanpa menjawab Rasya hanya menatap pacarnya dengan tajam. Itu cukup membuat Ryu takut, "Iya...iya...gue naik…" ucap Ryu lalu akan naik ke atas tangga.
"Ada apa sih? Rame bener dah…" ucap Mirhan sambil menuruni tangga.
"Gue mau lo dan teman-teman lo datang ke rapat OSIS buat menentukan anggota OSIS yang baru buat SMA Flower Garden…" jawab Masha sambil tersenyum..
"Heri gak diundang Sha?..." tanya Obeng nyeletuk.
"Dasar Obeng...lo kagak denger ya? 'semua teman-teman Mirhan'...berarti kita juga harus datang…" jawab Arif menanggapi pertanyaan Obeng.
"Yaudah gue dan anak-anak kesana besok…" jawab Mirhan sambil tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Rasya seakan memberikan kode pada Ryu. Dia ingin memberitahukan mereka untuk meninggalkan Masha dan Heri. Awalnya Ryu terlihat tidak mengerti kode dari Rasya. Namun setelah Rasya mencubit pinggangnya, akhirnya dia mengerti juga.
"Eh...gue dan Ryu mau ke warnet dulu ya?..." ucap Rasya lalu menarik Ryu. "Soalnya ada tugas yang harus gue kerjain."
"Oh...iya...gue harus jaga warnet...soalnya banyak orang…" ucap Helena sambil menarik Mirhan.
"Lha...kenapa gue diajak juga?..." tanya Mirhan seakan tidak mengerti.
"Udah...ikut aja napa…" ucap Helena sambil menarik baju Mirhan.
"Firman, Obeng temenin gue beli bakso di sebelah yuk…" ajak Arif pada sahabatnya.
"Tapi lo bayarin ya?..." pinta Obeng sambil nyengir.
"Sialan lo...bayar sendiri lah…" tanggap Arif dengan kesal.
"Gak ah...kalau gak dibayarin…" ucap Obeng dengan kecewa.
"Lo gak ngerti situasi amat sih?..." ucap Firman lalu menarik Obeng keluar asrama.
Semua yang ada di asrama pada keluar asrama kecuali Heri dan Masha. Cukup lama mereka duduk bersebelahan tanpa berkata sepatah katapun. Sementara teman-temannya pada mengintip di balik pintu asrama.
"Rif…" ucap Obeng kemudian yang ikut mengintip.
"Katanya mau makan bakso…" Obeng benar-benar tidak mengerti maksud mereka ninggalin Heri berduan sama Masha. "Gue laper nih…" keluhnya sambil mengusap perutnya.
"Lo ngomong lagi...gue hajar sumpah…" ancam Firman dengan kesal.
Sementara Heri mulai berani menatap Masha yang duduk di sebelahnya. Masha merasa aneh diperhatikan oleh Heri. Dia lalu melihat ke arah pakaiannya, karena takut ada yang salah.
"Ada yang aneh ya sama gue?...kok lo memperhatiin gue gitu amat?..." tanya Masha pada Heri.
"Gak apa-apa…" jawab Heri dengan wajah yang memerah karena malu.
"Lo kenapa sih?...setiap ketemu sama gue langsung diam gitu?..." tanya Masha dengan serius.
"Gue grogi kalau kalau ketemu sama orang yang gue suka…" jawab Heri dengan jujur.
"Jadi lo suka sama gue?..." tanya Masha sambil tersenyum. Heri kemudian tertunduk malu karena sadar sangat konyol saat ini. "Kenapa lo gak ngomong?..." tanya Masha membuat Heri terkejut.
"Maksud lo apa?..." tanya Heri seolah tidak mengerti.
__ADS_1
"Kenapa lo gak ngomong suka sama gue?..." tanya Masha mengulangi.
"Tadi gue baru ngomong…" jawab Heri sekenanya.
Masha kemudian tersenyum memandangi Heri. Sementara Heri masih menunduk tidak berani menatap Masha. Dia benar-benar gugup duduk bersebelahan Masha saat ini.
"Tuh anak masih aja nunduk-nunduk gitu...gak ada pembahasan atau gimana sih?" hardik Rasya dengan kesal.
"Iya, gue sependapat sama lo, sya..." tambah Arif. "Bahas apa kek…Anjing tetangga misalnya."
"Cewek itu gak bisa memulai pembicaraan kalau gak ada yang mulai…" ucap Rasya menjelaskan pada sahabatnya.
"Emangnya Anjing tetangga abis lahiran ya?" tanya Obeng yang masih tidak mengerti situasi. Mendengar celotehan Obeng, semuanya kompak memintanya diam dengan meletakkan jari telunjuk mereka ke depan bibir.
Heri kemudian mulai berani bersuara, "Hari ini cuacanya cerah ya?..." tiba-tiba terdengar suara geledek yang sangat keras. Seakan hari ini akan turun hujan yang deras.
Mendengar akan hal itu dia lalu mencoba mencari pembahasan lain, "Eh, anjing tetangga itu imut ya?...Lucu banget..." bukannya tingkah lucu yang muncul dari anjing tetangga itu, malah gonggongan kasar. "Biasanya dia lucu kalau gak PMS…"
"Emang anjing itu cewek?..." tanya Masha pada Heri.
"Kemaren gue liat sih cewek…" jawab Heri sekenanya.
Terlihat di atas dinding pembatas asrama dan rumah tetangga, ada seekor anjir yang sedang memandangi Heri. Dia menatap Heri dengan wajah marah. Seakan dia tidak suka dibicarakan oleh Heri.
"Mungkin dia habis lahiran kali..." ucap Heri beralasan.
Teman-temannya yang mengintip dan mendengarkan hanya bisa menepuk jidat.
"Nah kan bener..." celetuk Obeng menyahut pembicaraan mereka, perhatian mereka semua tertuju kepada Obeng yang masih saja tidak memahami situasi, tetapi Obeng menggunakan gestur tubuh seakan berkata "Apa? Gue salah ya?" sontak membuat sebagian menepuk jidat lagi dan menggelengkan kepala.
"Emang gak ada pembahasan yang lebih penting lagi?..." tanya Arif yang masih mengintip Heri dan Masha.
"Ini anak perlu kursus sama lo Rif dalam hal percintaan…" ucap Ryu dengan tersenyum.
"Kan lo lebih jago Nyet…" ucap Arif sambil berbisik.
Saking asyiknya mereka ngobrol sampai-sampai tidak sadar Heri dan Masha sudah tidak ada di taman lagi. Mereka pun lalu celingukan mencari keberadaan sahabatnya itu. Mereka mengira Masha dan Heri pergi ke kamar Heri.
^^^Bersambung…^^^
*Tambahan, kalau ada kata-kata tersensor, tolong pencet kalimatnya yang ada dimana lalu tulis komentar disana, biar nanti diperbaiki, terimakasih.*
__ADS_1