Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 32 | Warung so baksooo...


__ADS_3

Saat ini di asrama sedang terjadi perdebatan yang sangat seru antara Arif dan Heri. Arif yang bersikukuh ingin mengutamakan ekskul untuk materi kampanye Mirhan. Sementara Heri lebih mementingkan untuk les tambahan untuk murid-murid bisa mengembangkan pemahaman mereka dalam mata pelajaran.


"Sekolah ini perlu ekskul agar mereka bisa lebih mengeksplorasi hobi mereka…" ucap Arif bersikeras.


"Tapi ilmu pengetahuan lebih penting Rif…sebab tanpa ilmu pengetahuan mereka gak bakalan bisa mencapai apa yang mereka mau, karena mereka gak lulus SMA…" ucap Heri lebih keras lagi menentang pendapat Arif.


"Mau sampai kapan kita biarin mereka berdebat gini terus Yu?..." tanya Mirhan pada Ryu yang sedang berpikir.


"Saat ini mereka sama-sama keras dengan pendirian mereka, kalau kita yang menengahi, bisa-bisa kita malah jadi pelampiasan mereka…" jawab Ryu sambil memutar-mutar pulpennya.


Mereka saat ini sedang berkumpul di kamar milik Ryu. Sejak kamar Ryu dibersihkan oleh Rasya, mereka lebih sering ngobrol di kamar Ryu. Sementara yang punya kamar terpaksa menerimanya dengan ikhlas saja, karena sudah disuap dengan sebungkus rokok oleh Mirhan.


Sebenarnya mereka hari ini ingin membicarakan mengenai isi pidato Mirhan untuk kampanye. Mereka juga meminta Helena untuk berorasi untuk mempromosikan Mirhan. Namun saat mereka sampai di bagian isi pidato Mirhan, Heri dan Arif malah berbeda pendapat.


Ryu menyadari dua-duanya memang penting di sekolah, tapi kalau kita memilih salah satunya, pasti ada yang akan dikorbankan. Akhirnya Ryu mempunyai sebuah gagasan yang akan disukai oleh murid-murid kelas 1. Hanya saja Ryu menunggu perdebatan antara Heri dan Arif berhenti dulu, baru dia berbicara.


"Oke…udah kelar berdebatnya?..." tanya Ryu dengan serius.


"Udah…" jawab mereka berdua beriringan.


"Sebenarnya ide kalian berdua memang benar, tapi untuk itu gue harus membicarakan dengan guru-guru kita, salah satunya pak Sani, dan ibu Manda…" ucap Ryu dengan serius. "Gue punya ide seperti ini, gue pengen memakai slogan Sekolah Asyik…" ucapnya kemudian menjelaskan idenya.


"Maksud lo kayak gimana sih Yu?..." tanya Arif seperti bingung.


"Menurut lo pada sekolah yang mengasyikkan seperti apa?..." Ryu balik bertanya pada mereka.


"Sekolah yang bebas," jawab Obeng ngasal.


"Maksud lo bebas kayak gimana Beng?..." tanya Ryu dengan serius.


"Gue pengen datang jam berapa pun gak dihukum dan gue mau pulang jam berapa pun gak dimarahin..." jawab Obeng dengan polosnya.


"Itu namanya bukan sekolah Beng...itu namanya lo mampir ke sekolah doang…" ejek Heri membuat yang lain tertawa.


"Ini nih akibat kalau sekolah sampai pamit…makanya umur segini masih kelas satu..." Arif ikut mengejek Obeng


"Lo kagak sadar diri Rif?..." tanya Adel menyindir Arif.


"Iya...nggak ngaca diri kah?" tanya Heri menambahkan.


"Kalau gue karena kerja…" jawab Arif dengan muka manyun.

__ADS_1


"Tapi...lo waktu di SD sama gue juga pernah ditinggal kelas satu tahun kan Rif?..." tanya Obeng sambil nyengir.


"Itu gara-gara lo ngasih contekan, tapi salah…" tanggap Arif dengan kesal.


"Lagian…lo tau aja gue saat itu bego...malah nyontek ke gue…" Obeng buka kartunya Arif waktu SD. "Jadi gimana Yu...dengan Ide gue?..."


"Itu tadi jelas gak bisa Beng...sebab kalau lo pengen seperti itu...lo bakalan mengganggu jadwal yang sudah diatur sekolah…" ucap Ryu dengan serius. "OSIS hanya organisasi...bukan kepala sekolah…yang bisa merubah kebijakan..." tambahnya melanjutkan jawabannya.


"Terus bagaimana lo bisa merubah peraturan sekolah yang membuat lo terbebas dari dikeluarkan sekolah?..." tanya Firman dengan serius ke Ryu.


"Gue jadi berhasil bebas dari hal itu karena gue berhasil mengeluarkan pemikiran gue yang cukup masuk akal untuk membatalkan hukuman gue dikeluarkan dari sekolah…" jawab Ryu menjelaskan secara rinci. "Terus bagaimana dengan yang lain?...ada yang bisa jawab?..." tanyanya kemudian pada yang lain.


"Gue kurang yakin sih...tapi menurut gue sekolah yang mengasyikkan adalah sekolah yang murid di dalamnya merasa nyaman," kali ini Agus mulai berbicara.


"Oke lanjutkan Gus…" ucap Ryu bersemangat mendengarkan. Sementara yang lain tidak pernah melihat Ryu sesemangat itu mendengarkan.


"Iya...jadi semua murid merasa nyaman di sekolah, mereka gak merasa takut dibully kakak kelas, mereka gak merasa takut akan dijauhi teman-temannya, dan mereka tidak merasa takut untuk mengajukan pendapat…" jawab Agus dengan lugas.


"Oke...bagus juga…" komentar Ryu merasa sangat puas. "Tolong dicatat sayang…" pintanya pada Rasya.


"Cie…" ucap Dea dan Adel menyoraki Ryu dan Rasya.


"Mungkin itu tadi dibutuhin buat anak-anak kelas satu Yu…" ucap Helena berkomentar. "Tapi bagi anak-anak kelas dua yang sedang pusing-pusingnya dalam pelajaran yang PRnya menumpuk kayak gue, Rasya, Adel, dan Dea...kami butuh satu hari dalam satu minggu untuk refreshing otak…" ucap Helena mengajukan pendapatnya.


"Contoh...kayak nonton film waktu jam terakhir sekolah, atau pertunjukan dadakan dari murid seni...seperti drama, musik, atau Stand Up Comedy…" jawab Helena bersemangat.


"Wah...ide bagus tuh…" tanggap Dea bersemangat.


"Atau kita bisa membuat salah satu sudut sekolah menjadi taman...untuk bersantai…" ucap Adel menambahkan.


"Kalau gak salah… di area samping perpustakaan ada tempat kosong yang gak dibangun apa-apa...gimana disana kita bangun taman aja?..." usul Rasya pada pacarnya.


"Gimana ya?...gue perlu bicara sama mbak Manda dulu…" jawab Ryu menanggapi usul Rasya.


"Kalau soal biaya pembangunannya biar gue yang ngatur…" ucap Mirhan langsung menyanggupi.


"Sudah disusun sayang isi pidatonya buat Mirhan nanti?..." tanya Ryu pada Rasya.


"Sudah yang…" jawab Rasya sambil menyerahkannya pada Ryu.


"Nah...sudah kelar kan?..." tanya Obeng kemudian. "Mending kita beli makan dulu yuk?..." ajaknya bersemangat.

__ADS_1


"Yaelah Beng...lo itu pikirannya makan mulu…" ejek Dea pada Obeng.


"Kebetulan di samping asrama kita ada warung bakso yang baru dibuka…" ucap Arif bersemangat.


"Bentar dulu...tuh bakso enak gak?..." tanya Firman pada Arif.


"Iya...itu asli daging sapi atau ayam kan?" tambah Obeng menanyakan.


"Kayaknya baksonya...murah sih…" jawab Arif sambil tersenyum.


"Yakali kalau harganya murah itu pake daging sapi gelonggongan." jawab Heri dengan sinis. "Itu sudah pasti pake daging ayam titik!" katanya menjelaskan.


"Siapa tau abangnya punya ternak sapi?..." ucap Arif menyangkal ucapan Heri.


"Hadeh…ganti topik malah lanjut berantem lagi...dasar ini abang sama adik..." Ryu sambil geleng-geleng kepala.


"Hadeh….cape deh…" Helena juga merasa pusing dengan teman se asramanya tersebut.


"Yaudah...mending kita kesana aja...kebetulan perut gue udah demo kayak kenaikan harga BBM…" ucap Mirhan sambil ngelus perut.


Mereka pun langsung keluar dari kamar Ryu seperti kumpulan anak ayam keluar dari kandang. Sebelum meninggalkan kamar Ryu mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang masuk saat dia keluar. Mereka lalu keluar dari asrama lalu berjalan ke sebelah asrama.


Penjual bakso terkejut saat melihat kemunculan mereka mendatangi warung baksonya yang kecil. Dia merasa warung baksonya di datangi anak-anak SMA habis tawuran. Jelas saja pakaian Ryu yang berantakan dan ditambah lagi tampang Arif dan Obeng yang seperti preman pasar.


"Lo kenapa, Beng?" tanya Ryu pada Obeng yang terlihat celingak-celinguk di depan warung bakso. Dia kemudian duduk di bangku yang disediakan di warung bakso.


"Iya nih...daritadi kayak nyari sesuatu gitu..." ucap Arif sambil duduk di bangku yang berhadapan dengan meja.


Obeng sejak tadi memperhatikan warung baksonya. "Oh aman." gumam Obeng kemudian lalu dia ikut duduk.


"Aman apaan dah?" tanya Heri penasaran lalu duduk di sebelah Ryu.


"Nggak. Gapapa kok." Obeng dengan memberi kode berupa tangannya dimasukkan ke kantong belakang celana.


"Oh…Itu toh maksud lo beng?" tanggap Firman seakan mengerti. Lalu dia duduk di sebelah Arif.


"Iya...nanti gue jelasin pas makanannya datang..." ucap Obeng dengan serius.


Kemudian mereka memesan makan dan Obeng lalu bercerita mengenai apa yang dia cari. Semua temannya tertawa melihat tingkah aneh Obeng. Termasuk sang penjual bakso juga ikut tertawa melihat tingkah anak-anak SMA ini. Warung bakso ini kemudian menjadi langganan mereka saat mereka kebetulan lapar.


Roger...izin bersambung...enam-delapan...

__ADS_1


Siap komandan!


Note: Maksud dari 68 adalah buka dari jam 6 pagi tutup jam 8 malam WIB.


__ADS_2