
Pagi hari di hari minggu ini terasa lebih berbeda dari biasanya. Seluruh isi asrama sepertinya masih terlelap karena pesta di tempat karaoke tadi malam. Bahkan Heri yang biasanya sudah bangun jam segini, jaga masih berada di dalam kamarnya.
Namun ada sesuatu yang sangat aneh dari biasanya. Seorang anak yang sering diberi gelar sebagai Jin Botol ternyata sudah bangun. Dia terlihat sedang duduk di jendela kamarnya. Dia menyaksikan orang yang lalu lalang di depan asrama Flower Garden.
Dia lalu mengambil sebatang rokok yang tersisa dari dalam kotak rokok yang tersisa tiga batang lagi. "Sial...pertahanan gue cuma tinggal tiga batang lagi…" keluh Ryu sambil melirik isi kotak rokoknya. "Moga aja tuh anak bayarin uang yang dipinjamnya kemarin di pagi ini…" dia berharap sambil mengepulkan asap rokok.
Ryu sangat sering ngutang uang ke Mirhan saat dulu dia di SMP. Itu dia lakukan hanya untuk membeli rokok. Mirhan sendiri tidak pernah menagih dan mempermasalahkan, karena dia menganggap setiap uang yang dikeluarkannya hanya sedikit. Itulah yang membuat Ryu merasa tidak enak untuk menagihnya ke Mirhan.
"Huh…kayaknya gue harus meminjam uang ke mbak Manda dulu…" gumamnya kemudian. Bagi kalau urusan makanan dia bisa saja menahannya, tapi kalau berhubungan dengan rokok, dia tidak akan kuat menahan. "Mending gue ke warnet aja deh...sekalian mengecek jumlah pembaca dari novel yang gue tulis…" Dia lalu memakai pakaiannya dengan kaos berwarna biru yang bertuliskan "Rokok ini milik Tuhan" dengan gambar sebungkus rokok di atas tulisannya dan celana jeans berwarna hitam.
Kamar Ryu sekarang lebih bersih dari sebelumnya. Semua barang-barang miliknya tersusun rapi lemari. Pakaiannya dengan rapi diletakkan di dalam lemari pakaian. Sepatu diletakkan di tempat sepatu yang dibelikan Rasya. Itu membuat Ryu sangat bersyukur memiliki pacar seperti Rasya.
Hubungan mereka berdua selama ini cukup lucu sekali. Awalnya Ryu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Rasya. Bahkan dia ingin putus dengan Rasya setelah mengerjai Dicky dan teman-temannya, tapi karena Rasya yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian Ryu, akhirnya Ryu luluh juga. Meskipun Ryu masih terlihat cuek pada Rasya.
Ryu berniat ingin mengenalkan Rasya pada keluarganya. Ini dia lakukan untuk membuktikan bahwa dia serius dengan Rasya. Mbak Manda sudah jelas mendukung hubungan mereka berdua, tapi dia berpesan agar Ryu dan Rasya lebih fokus ke pendidikan mereka dibanding ke hubungan mereka.
Dia cukup terkejut saat keluar kamarnya, "Pada kemana sih?...apa mereka benar-benar masih molor?..." tanya Ryu dari dalam hatinya.
Dia lalu lanjut berjalan menuruni tangga asrama yang langsung menuju ke ruang tamu. Disana pun tidak ada orang yang biasanya bersantai menonton televisi. Dia kembali merasa semua ini tidak seperti biasanya.
Dia kembali lanjut berjalan ke luar asrama untuk menuju warnet Flower Garden. Dilihatnya di luar warnet sudah terparkir beberapa sepeda motor dan sepeda. Wajar saja hari minggu sudah pasti banyak orang yang ke warnet mereka. Dengan susah payah dia melewati sepeda yang tersusun berantakan di depan pintu warnet.
Setelah masuk ke dalam warnet ternyata sudah dipenuhi beberapa orang yang mengantri. Di depan meja operator warnet ada Helena yang sedang sibuk melayani pengunjung yang ingin mencetak file. Dia tidak terlalu memperhatikan Ryu yang dari tadi berdiri di depannya.
"Eh...Na...yang lain mana?..." tanya Ryu pada Helena yang sedang sibuk mencetak file.
__ADS_1
"Ibu Manda sama Arif ke pasar, Mirhan pulang ke rumahnya naik mobil, Heri lagi keluar karena ada urusan...dan cewek lo ada di dapur buat melayani pengunjung yang minta buatin mie...mending lo bantuin dia...dari pada lo melongo disini…" ucap Helena sambil terus fokus ke depan komputer.
"Hedeh...iya...iya…" ucap Ryu dengan terpaksa.
Ryu terpaksa keluar dari warnet karena merasa diusir oleh Helena. Wajar saja saat ini Helena sangat sibuk di depan komputer. Terlebih lagi dia kasihan dengan Rasya yang mungkin sedang sibuk di dapur.
Benar saja saat ini Rasya terlihat sangat sibuk di dapur menyiapkan 5 mangkuk mie kuah. Dia terlihat sangat kelelahan sekali menyiapkan pesanan-pesanan itu. Wajahnya yang tadinya terlihat kecapean sekali, langsung saja berubah ceria ketika melihat Ryu masuk ke dapur.
Dengan sigap Ryu langsung mengambil pisau dan bayam. Rasya tersenyum dengan sikap pacarnya yang tanpa diminta langsung berinisiatif membantunya. Sekarang dia cukup fokus ke mie yang akan dia siapkan.
Karena dibantu Ryu akhirnya dia bisa dengan cepat menyelesaikan semua pesanan. "Makasih ya sayang?...udah bantuin di dapur…" ucap Rasya walau terlihat kecapean, tapi tetap tersenyum di hadapan.
"Cowok bego mana yang gak bantuin pacarnya yang sedang kecapean di dapur…" ucap Ryu berusaha tetap cool.
Tiba-tiba terdengar suara berdesis dari HT yang diletakkan di dapur. "Hei kalian berdua...jangan berpacaran di dapur...lima mangkuk mie kuah harus diantar ke box warnet…" ucap Helena dari sambungan HT. Itu cukup merusak keromantisan antara Ryu dan Rasya.
"Makanya buruan diantar…" jawab Helena juga kesal.
Rasya lalu mengambil HT dari tangan Ryu. "Oke...bakalan gue anter…" ucapnya lalu mengambil tempat saji untuk membawa mangkuk.
Namun Ryu langsung menaruh mangkuk itu ke tempat saji, lalu dia langsung mengangkatnya. "Biar gue yang mengantar...lo istirahat dulu aja...lagian lo udah cape kan?..." ucap Ryu lalu mulai membawanya ke warnet.
Terlihat Rasya tersenyum melihat pacarnya yang ternyata sangat perhatian. Cukup lama Ryu mengantarkan mangkuk-mangkuk itu ke warnet. Dia terlihat capek yang membawakan pesanan mie kuah yang diantar ke warnet. Kemudian dia duduk di meja makan di sebelah Rasya.
Tanpa direncanakan oleh Ryu, tiba-tiba perutnya berbunyi dengan keras, sampai terdengar oleh Rasya. Sontak saja Rasya tertawa mendengar suara perut Ryu yang bunyi. Wajah Ryu langsung berubah merah karena malu.
__ADS_1
"Sayang laper ya?..." tanya Rasya pada Ryu sambil tersenyum.
Meski Ryu hanya bisa diam mendengar pertanyaan Rasya. Sambil tersenyum Rasya lalu mengambilkan nasi dengan lauk ikan patin panggang. Dia tau Ryu sangat menyukai ikan patin, makanya dia menyempatkan membuatnya. Terlebih lagi dia juga tau semua uang Ryu habis karena dipinjam Mirhan.
"Ayo sayang...makan dulu…" ucap Rasya sambil menyerahkan makanan yang dia siapkan.
Awalnya Ryu ingin menolak, tapi karena perutnya kembali berbunyi dan dia benar-benar sedang lapar, makanya dia terpaksa menerimanya. "Makasih…" ucapnya lalu meletakkan makanan itu ke atas meja.
Awalnya dia hanya memakan satu sendok, untuk meyakinkan makanan yang dibuat pacarnya enak, beracun atau aman. Setelah dia mencoba makanan itu, ternyata Rasya sangat pintar memasak makanan. Makanan itu sangat enak, bahkan lebih enak dari makanan yang dibelinya di warung.
"Kamu kenapa gak cerita bahwa kamu pinter masak?..." tanya Ryu ke Rasya.
"Dulu waktu SMP...aku sering bantuin pembantu untuk masak di dapur," terlihat sekali dia sangat senang dipuji oleh orang yang dia sayang.
"Kamu mau makan juga?..." tanya Ryu kemudian.
"Suapin…" ucap Rasya bermanja pada Ryu.
"Manja banget sih…" ejek Ryu, tapi dia mau saja dipinta Rasya menyuapinya makanan.
Satu sendok nasi dan ikan patin diarahkan Ryu ke mulut Rasya. Dengan tersenyum Rasya menyambut sendok yang Ryu arahkan ke mulutnya. Di samping bibir Rasya tertinggal bekas nasi karena Ryu menyuapinya dengan sendok.
Dengan tersenyum Ryu berusaha membersihkan mulut Rasya dengan tangannya. Namun Rasya terlihat memejamkan mata, karena dia pikir Ryu akan menciumnya. Mereka terlihat sekali seperti ingin berciuman.
Bersambung ya?...biar penasaran…
__ADS_1
Note Seryu Nagami : Ternyata gue jago juga ya bikin cerita romance?
Note Ann-chan : lah, "Aku bukan diriku" emangnya bukan romance?"