Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 44 | Kera sakti


__ADS_3

Sebuah mobil telah datang dan berhenti di depan asrama. Mereka sudah menebak itu adalah suara mobil milik Mirhan. Kemudian terdengar pintu depan asrama dibanting dengan sangat keras.


Sontak saja mereka yang sedang bersantai di taman belakang asrama terkejut. "Mir...kalau buka pintu pelan-pelan dong…" teriak Arif dengan kesal.


"Iya...sorry...lo pada lagi ngapain?..." tanya Mirhan berusaha santai.


"Ini si Anak Jenius mau bikin alat karaoke buat kita pakai entar…" ucap Ryu sambil senyum.


"Oh gitu...yaudah gue pengen ke kamar dulu ya?..." Mirhan lalu pergi meninggalkan mereka.


"Kok gue merasa ada sesuatu yang aneh ya sama tuh anak?..." ungkap Heri sambil menatap Mirhan yang pergi meninggalkan mereka.


"Eh...bentar...gue mau nyusul dia dulu…" ucap Ryu lalu masuk ke dalam asrama.


Dia bergegas menyusul Mirhan untuk menanyakan kenapa dia pura-pura pinjam uang dirinya lalu memberikan uang itu pada ibu Manda. Dia lalu berjalan menaiki tangga untuk menyusul Mirhan. Kemudian dia tertegun saat mendengar Mirhan yang sedang menelpon seseorang.


Sepertinya dia sedang berbicara serius di telepon. "Mirhan kan baru aja masuk SMA...sementara kak Fikri sudah lulus sudah kuliah...kenapa bukan kak Fikri aja yang disuruh nerusin perusahaan?..." Mirhan terdengar sangat kesal.


Mendengar akan hal itu, Ryu menahan dirinya agar tidak mengganggu perbincangan dalam telepon itu. Dia lalu berbalik dari kamar Mirhan karena tidak ingin ikut campur. Dia lebih memilih menunggu Mirhan sendiri yang bercerita padanya.


Kemudian kembali ke taman tempat Arif dan Heri yang sedang bekerja. Mereka terlihat sedang sibuk mengukur kayu dan papan dengan penggaris digital. Untungnya Arif sudah pernah membantu keluarganya di bengkel mebel, jadi dia cukup membantu untuk urusan tukang kayu. Sedangkan Rasya dan Helena sedang sibuk bekerja di warnet mereka. Kadang Rasya membawakan makanan untuk Ryu, Arif, dan Heri yang bekerja di taman.


"Sudah sampai mana sayang?..." tanya Rasya pada Ryu yang mengukur kayu dengan meteran digital milik Heri.


"Masih belum kelar sayang…" jawab Ryu sambil membantu Arif memasang.


"Hem…malah pacaran lagi..." keluh Heri yang sedang mengaduk cat dengan thinner sambil mendengarkan pembicaraan Ryu dan Rasya.


Mendengar akan hal itu Arif hanya bisa tersenyum lalu berkata, "Kayaknya ada yang panas nih?...udah entar lo gue bantu buat deket sama Masha…"


"Ngomong apa sih lo?...gak jelas ah…" tanggap Heri dengan cuek.


"Eh!...Masha!..." seru Arif kemudian. "Itu…dia lewat di sana!"


Mendengar itu Heri langsung berhenti mengaduk cat lalu melirik ke arah jalanan. Dia berharap apa yang diucapkan Arif beneran nyata. Sedetik kemudian dia menyadari ternyata Arif hanya menggodanya.


"Hei...nyari apa lo?..." tanya Arif sambil tertawa terpingkal.

__ADS_1


"Sialan...Playboy Cap Aligator…" ucap Heri dengan kesal.


Lalu dia mencelupkan kuasnya ke kaleng cat, dia berniat mengoleskan cat itu ke wajah Arif. Saat Heri mengejarnya Arif bersegera untuk melarikan diri. Melihat itu membuat Ryu dan Rasya tertawa terbahak-bahak.


"Lo pada kayak anak TK sedang prakarya dah…" ejek Rasya sambil tertawa.


"Ini bukan anak TK, tapi anak Paud yang…" tambah Ryu sambil tertawa.


Kemudian Obeng dan Firman masuk dalam asrama. Mereka terkejut melihat apa yang dikerjakan Ryu, Arif, dan Heri. Mereka tersenyum melihat apa yang dikerjain teman-temannya.


"Lo pada mau bikin peti jenazah?..." tanya Obeng asal nyebut.


"Iya...buat tempat tidur lho…" jawab Arif sambil membersihkan bekas cat yang ada di wajahnya di keran terdekat, lalu mengusapnya ke kain bekas.


"Bagus tuh...kalau bisa yang ada TV dan speakernya ya?..." ucap Obeng menanggapinya dengan bersemangat.


"Buat apa juga peti jenazah dipasangkan speaker dan TV?...lo pikir tu jenazah pengen dengerin musik di kuburan?..." tanya Ryu menanggapi ide konyol Obeng.


"Oh, bagus tuh…sekalian yang nyanyi nya Kuburan Band..." sambung Firman sambil nyengir. "🎶 A minor D Minor ke G ke C lagi...🎶" tambahnya sambil nyanyi


"Emang Kuburan Band...band dari kuburan bro?..." tanya Obeng dengan polosnya.


"Woi!...lo pada mau bantuin gak sih!..." teriak Heri dengan kesal.


"Santai bro...bercanda dikit doang kok…" ucap Obeng sambil nyengir. "Buat ngehibur lo pada…"


"Lo bukannya menghibur...tapi memicu perkelahian…" ucap Heri dengan marah.


"Iya...kita bantu…" jawab Firman sambil membantu Ryu dan Arif memegangi kayu.


Sementara Obeng membantu menempelkan kayu ke papan. Setiap papan dan kayu sudah dikasih tanda oleh Arif, jadi dia hanya perlu memasangnya. Heri kembali mengaduk cat yang berwarna hitam untuk dioleskan ke papan.


Kemudian ibu Manda datang membawakan beberapa roti buat mereka. "Lha...ada Obeng dan Firman ternyata?..." tanya ibu Manda yang melihat Firman dan Obeng disana.


"Iya bu…" jawab Obeng sambil tersenyum.


"Yaudah ibu buatkan es jeruk dulu ya buat kalian…" ucap ibu Manda lalu kembali ke dapur.

__ADS_1


Melihat akan ada roti diatas meja, Obeng lalu menyerbu namun ditahan oleh Firman. Dia sudah tahu kalau dimana Obeng melihat ada makanan gratis, dia pasti akan menghabiskannya tanpa sisa. Ditambah lagi mereka baru saja datang, sementara Ryu, Arif, Heri belum memakannya sama sekali.


Kemudian Firman mempunyai ide untuk bermain suit, jadi siapa yang menang dia yang akan lebih duluan memilih roti dengan isi kesukaan mereka. Itu menurutnya cukup adil agar semuanya kebagian. Itu juga agar Obeng tidak menghabiskan roti itu.


"Akhirnya selesai juga..." ucap Heri setelah menyelesaikan pengecatan kayu yang dirakit tersebut.


"Jadi ini udah kelar?" tanya Ryu sambil menyeka keringat menggunakan kaosnya.


"Belum, tunggu kering dulu..." jawab Heri yang sudah menyelesaikan mengecat bagian luar.


"Kalau gitu kita bawa aja kipas angin gede yang ada di asrama, biar cepet kering..."usul Ryu lalu berniat ke atas.


"Eh, Jin Botol! Kalau di kipasin yang ada tuh cat nyiprat kemana-mana..." tanggap Arif mencegah Ryu. "Mending dijemur dibawah terik sinar matahari, mumpung panas banget nih…lalu kipasnya kita pake buat dinginin badan aja."


"Bener juga ya..." tanggap Ryu kemudian. "Eh lo pada...makan bae...lo ya?...ambilin kipas angin di kamar gue…" lalu dia memerintah ke Obeng dan Firman yang sedang memakan roti.


Terlihat sekali mulut mereka berdua penuh dengan roti. Mereka seperti gerombolan monyet yang sedang makan pisang. Seandainya saat ini Ryu punya kamera, dia pasti memfoto mereka berdua untuk bahan di mading.


"Uu aa…" celetuk Obeng menirukan suara monyet, "Raja Monyet gagah siap berangkat."


"Siap pak!" sahut Firman. "🎶Kera sakti….Kera sakti…🎶" dilanjutkannya sambil nyanyi.


Lalu mereka berdua berangkat mengambilkan kipas angin.


"🎶Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati 🎶 Menjadi pengawal mencari kitab suci🎶" sahut Arif secara spontan menyambung nyanyian Firman.


"Malah ikutan nyanyi…" kesal Heri sambil menggelengkan kepalanya, "Mending bantuin gue masang kain ini ke kayu itu."


Kemudian Helena masuk ke dalam asrama menemui mereka di taman. Dia melihat pekerjaan mereka di taman yang tampaknya sudah selesai. Dia terlihat datang dengan seorang cewek yang sangat mereka kenal. Heri tidak terlalu memperhatikan mereka karena sibuk melihat hasil pekerjaan mereka.


"Her...ada masha datang…" ucap Helena pada Heri.


"Alah...paling lo ngerjain gue lagi…" tanggap Heri yang tidak melihat Helena.


"Sibuk banget ya Her?...sampai gue dateng gak ditanggepin?..." tanya seorang cewek yang suaranya sangat Heri kenal.


Benar saja Masha tersenyum pada Heri yang melongo melihatnya. Kalian kalau pernah melihat momen ini dalam sinetron atau film romantis pasti tau apa yang sedang terjadi. Seperti biasa Heri saat ini tidak bisa berpikir apa-apa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2