Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 49 | Malam Mingguan


__ADS_3

Kemudian Arif terlihat tidak terima saat membaca nama Dicky masuk dalam seksi Olahraga. Dia kemudian berjalan mendekati Ryu dan Mirhan. Begitu juga Firman yang tidak terima dengan keputusan itu.


"EH INI KENAPA NAMANYA DISINI?" tanya Arif dengan mimik wajah yang marah.


"Apalagi anggotanya ada nama Agus, lo udah gila ya?..." tanya Firman yang juga tidak terima.


"Itu permintaan dari Ryu buat masukin nama dia…" jawab Mirhan menjelaskan.


"Sayang...kamu yakin ini gak akan ada masalah?..." tanya Rasya kepada pacarnya.


"Itu anak memang gak bisa diatur, suka malak adik kelas, dan suka membully orang, tapi rencana untuk olahraga itu bukan hal yang buruk," jawab Ryu dengan santai.


"Tapi jangan lo masukin Agus di keanggotaannya juga dong…" ucap Arif dengan kesal.


"Lo mau dia kena buli lagi?" tanya Heri juga terlihat tidak terima.


"Tenang bro...soal itu gue punya rencana..." jawab Ryu kemudian.


Kemudian handphone Ryu tiba-tiba berbunyi dengan keras. Dia kemudian mengecek siapa yang menelponnya. Ternyata itu adalah panggilan dari ayahnya Mirhan. Dia lalu mencari tempat berbeda yang jauh dari yang lain.


"Halo ada apa pak?" tanya Ryu setelah mengangkat teleponnya.


"Ryu, saya ingin bicara sama kamu, " ucap Ayahnya Mirhan sepertinya itu adalah hal penting.


"Iya pak, kapan bapak ingin bicara dengan Ryu?" jawab Ryu menyanggupi.


"Kalau bisa kamu datang ke rumah saya malam ini, apa kamu bersedia?" tanya ayahnya Mirhan pada Ryu.


"Oke pak, sebentar lagi Ryu kesana," jawab Ryu menyanggupi.


Ryu kemudian menutup teleponnya sambil menghembuskan nafas panjang. Dia sudah tau ini pasti bakalan terjadi, sebab dia sangat sering dimintai tolong oleh ayahnya Mirhan. Dia pasti akan menyempatkan waktu untuk menolong Mirhan.


Kemudian dia bersandar ke dinding warnet sambil berpikir keras. Dia merasa ini pasti ada hubungannya dengan pembicaraan Mirhan dengan ayahnya di telepon. Namun bisa saja pak Meryady memintanya datang untuk masalah yang lain.

__ADS_1


Saat dia sedang bersandar dan menunduk, tiba-tiba Rasya datang menemuinya di luar warnet Flower Garden. Rasya tau pacarnya saat ini pasti sedang ada masalah. Dengan pelan dia mendekat ke arah Ryu yang masih menunduk.


Tangan Rasya mengelus pundak Ryu dengan sangat lembut. Awalnya Ryu terkejut karena menyadari ada tangan yang mengelus pundaknya. Rasya tersenyum pada Ryu seakan dia berusaha menyemangati kekasihnya.


"Udah, kamu gak perlu pura-pura tegar di depan aku," ucap Rasya pada kekasihnya.


Betapa bahagianya Ryu memiliki pacar yang sangat baik seperti Rasya. Sesaat bibir Ryu tanpa sadar ingin mendekat ke bibir Rasya. Dengan menutup mata Rasya menanti bibirnya bertemu dengan bibir Ryu.


"Yu! Lo mau makan gak?" tanya Mirhan membuyarkan usaha Ryu yang akan mencium Rasya. "Lo pada mau ngapain?" tanyanya kemudian.


Ryu langsung bertingkah seperti biasa saja sekarang. Sementara Rasya terlihat sangat kesal sekali. Sebab selama mereka pacaran, Ryu tidak pernah sekalipun menciumnya, tapi saat kesempatannya ada, malah teman-temannya mengganggu mereka.


"Iya Mir, gue kesana," jawab Ryu lalu menggandeng tangan Rasya yang masih terlihat kesal.


"Bisa gak lo gak perlu ganggu Mir?..." Rasya mengeluh pada Mirhan.


"Apaan sih? Memangnya kalian mau ngapain tadi?" tanya Mirhan terlihat sekali dia bingung dengan maksud ucapan Rasya.


"Gak apa-apa kok," jawab Ryu lalu tersenyum pada pacarnya. Kemudian dia berbisik ke telinga Rasya, "Lain kali ya sayang?" Rasya terpaksa hanya mengangguk tanda menyetujui permintaan Ryu.


"Gak apa-apa, gue tadi pengen niup mata Rasya yang kelilipan, gara-gara lo, akhirnya gue malah salah tiup," jawab Ryu beralasan. Seandainya jawaban itu dia lontarkan ke Arif dan Firman, mereka pasti tidak akan mempercayainya, tapi kalau Mirhan sepertinya lurus aja.


Mereka akhirnya makan-makan di dalam warnet Flower Garden. Ternyata Mirhan tadi sore sempat memesan bakso yang jualan di sebelah asrama mereka. Jujur saja Ryu kesal dengan Mirhan yang begitu mudahnya buang-buang uang. Seandainya mentraktir seluruh organisasi OSIS aja mungkin tidak masalah, sedangkan ini mentraktir hampir satu sekolah, kecuali anak kelas 3.


"Mir, uang di dompet lo sebanyak apa sih? Sampai-sampai lo bisa traktir satu SMA," tanya Soni penasaran.


"Iya, perasaan lo ada terus deh uang buat traktir orang," Obeng ikut menyahut sambil memakan bakso yang dia pegang.


"Iya, apa gak abis tuh uang lo?" tanya Dea yang juga penasaran.


"Soal itu lo pada gak usah pikirin, dia kan punya kartu kredit di dompetnya, paling yang bayarin utang kreditnya bokapnya entar," Ryu menjawab sambil tersenyum. Kemudian dia berpikir sejenak, seperti menyadari sesuatu yang tidak beres. "Eh, bentar," ucapnya kemudian sambil berpikir. "Kalau lo punya kartu kredit, kenapa lo pinjem uang sama gue?" tanyanya dengan sangat kesal.


Mendengar pertanyaan itu Arif, Firman, Helena, Rasya, Obeng, Agus, Dea, dan Adel tertawa terpingkal-pingkal. Mereka mengingat Ryu yang dikerjain Mirhan di hari ulang tahunnya. Sementara Heri hanya tersenyum karena tidak ingin terlihat ikut bekerjasama mengerjai Ryu.

__ADS_1


"Jangan-jangan lo pada ngerjain gue ya?" tanya Ryu lagi dengan kesal. "Ah, sialan," makinya dengan kesal.


"Walaupun telat, selamat ulang tahun ya wakil OSIS," ucap mereka serempak.


"Eh, Nyet, gue udah ulang tahun dari dua hari yang lalu!" teriak Ryu dengan kesal.


"Yasudah ayo kita lempar Ryu dengan telur dan tepung!" seru salah satu siswa.


"Ngapain lo cari tepung sama telur? Mau bikin kue?" tanya Heri dengan kesal.


"Selamat ulang tahun mbak Ryu," ucap Arif sambil nyengir.


"Hehehe, Mbak Ryu," ngakak Heri dengan sedikit mencibir.


Sebenarnya Mirhan dan yang lain sudah bercerita bahwa kemarin Ryu ulang tahun pada seluruh anggota OSIS. Itu sebabnya Ryu terpilih menjadi wakil ketua OSIS. Itu karena voting dari mereka semuanya.


"Eh? Kuenya mana?" ucap Obeng dengan tersenyum


"Lo minta duitnya ke Mirhan gih buat beli di cake Shop," jawab Arif dengan sedikit mengejek.


"Kalau beli sekarang keburu bubar kali," ucap Firman mencegah Obeng pergi ke toko kue.


"Iya, lagipula kami sudah tiup kue ulang tahun dengan tulisan 'Selamat Ulang Tahun, mbak Ryu' kemarin," jawab Arif sambil tersenyum.


Kemudian datang ibu Manda membawa kue ulang tahun yang kecil dengan lilin diatasnya sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun buat Ryu. Semuanya lalu ikut bernyanyi dengan meriah. Ryu terharu melihat semua yang dipersiapkan teman-temannya. Setelah berdoa Ryu lalu meniup lilin kue ulang tahun itu. Semua bertepuk tangan dengan sangat meriah.


"Kok kecil banget kuenya? Ini kalau buat semua orang disini pasti gak cukup." ucap Obeng setelah melihat kue itu.


"Yang penting ada, daripada beli lagi," jawab Firman dengan santai.


"Eh, tapi kan gue juga mau makan kuenya," ucap Obeng bersikeras.


"Ya kan lo bisa beli pas pulang nanti, Beng," tanggap Firman mencegah Obeng.

__ADS_1


"Bener juga ya," Obeng lalu tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Semuanya tertawa menertawakan Obeng yang sangat polos.


Bersambung...


__ADS_2